Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 38


__ADS_3

"Stela memecatmu? Wanita itu benar-benar gila. Ya sudah cepat bereskan semua baju-bajumu! Kita harus segera pergi dari sini," seru Kinan.


Sekitar sepuluh menit mereka membereskan semua pakaian dan dengan segera berpamitan kepada Ibu pemilik kos. Kinan berjalan dengan cepat dan terburu-buru membuat Wina tersandung.


"Aduh Kinan sakit nih, tungguin kenapa!" ucap Wina. Kinan membantu Wina yang terjatuh dan membersihkan celananya yang kotor.


"Cepat dong Win! Aku tidak punya waktu banyak untuk pergi dari sini."


"Ya tapi kan,"


"Kinan." Rey berlari menghampirinya.


"Wina ayo cepat!" Kinan berbisik di telinga Wina. Dan tidak mengindahkan kedatangan Rey.


Mereka berjalan cepat meninggalkan Rey, "Kinan kamu mau kemana bawa tas sebesar ini? tanya Rey.


"Itu bukan urusanmu, untuk apa kamu kesini. Disuruh temanmu itu?" Kinan memalingkan mukanya.


"Kinan dengarkan aku dulu! Dua wanita tadi itu hanya masa lalunya Kevin."


"Oh iya? Kenapa tidak dia sendiri yang datang menjelaskan padaku? Dia pasti sedang bertemu pacarnya yang lain iya kan? Kamu kira aku tidak tau itu semua?" Kinan melanjutkan perjalanannya kembali.


"Kinan dia tidak punya pacar," tegas Rey.


"Segitunya ya kamu membelanya. Dia memang mengajimu berapa?"


"Dia itu sahabatku, Kevin itu orang baik dia sering menolongku dan aku sangat senang dia menemukan wanita yang dicintanya."


"Basi." Kinan langsung menggandeng Wina saat melihat ada bus lewat di depan mereka. "Wina ayo cepat!" mereka berdua langsung menaiki bus itu.


"Kinan, Kinan tunggu! Kamu mau pergi kemana." Rey berusaha mengejar-ngejar bus itu. Karena kelelahan dia berlari menuju mobilnya dan berusaha mengejar bus tadi tapi terhalang oleh lampu merah yang menyala di perempatan jalan itu.


"Huuufff." dia terlihat kecewa dengan memegang dahinya.


Diperjalanan Kinan menghabiskan waktu dengan melamun melihat ke arah luar dari kaca bus itu. Wina kali ini tidak berani mengganggu Kinan.


"Maaf ya Win tadi aku agak kasar padamu!" ucap Kinan membuyarkan keheningan diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Ya aku ngerti kok, ini rumah Tantemu masih jauh tidak?" Wina mencoba mengalihkan masalah yang dihadapi Kinan.


"Tidak kok bentar lagi sampai. Habis ini kita naik ojek saja ya!"


"Heem." Wina menganggukan kepalanya.


Sekitar setengah jam melalui perjalanannya. Sudah nampak di depan mata rumah penuh kenangan itu. Terlihat Kinan mulai meneteskan air matanya. Tubuhnya seperti tidak sabar untuk memeluk Tante kesayangannya. Sampai membuatnya tidak menyadari keadaan rumah yang sangat kotor penuh dengan sampah dedaunan kering yang berguguran. Dia berlari menuju pintu rumah itu. Dan mengetuk-ngetuk pintunya.


Tok tok tok


"Tante, Tante Kinan pulang." Kinan masih meneteskan air matanya.


"Kinan bener ini rumah Tantemu? Tapi terlihat seperti rumah kosong. Coba lihat halamannya seperti tidak pernah disapu." tanya Wina.


"Mungkin Tante belum sempat menyapunya Win."


"Tante, Tante." teriak Kinan. Beberapa kali berteriak tidak ada respon sedikit pun.


Wina menyarankan Kinan untuk bertanya pada salah satu tetangga.


"Permisi Bu RT, Saya Kinan apa Ibu masih mengingatku? Saya keponakan Tante Ina," ucap Kinan dengan wajah sendu.


"Tante mencariku. Sekarang Tante dimana Bu?"


Bu RT menundukan pandangannya. "Ina diusir oleh mantan suaminya Nak. Para warga juga tidak tau sekarang dia berada dimana. Dan rumah itu sudah tidak berpenghuni sejak Ina pergi. ucap Bu Rt jarinya menunjuk ke arah rumah Tantenya.


Kinan meneteskan air matanya. Wina mencoba memapahnya kembali ke rumah itu.


"Sabar ya Kinan, pasti suatu saat kamu bertemu dengan Tantemu." ucap Wina sambil memeluknya.


"Win, Tanteku itu satu-satunya saudara yang ku punya. Aku cuma punya dia Win, aku tidak punya siapa-siapa lagi."


"Kan masih ada aku Kinan. Apa kamu tidak menganggapku?"


Kinan tersenyum mendengar ucapan Wina, "Makasih ya Win." mereka berpelukan kembali.


"Eh mumpung rumah ini kosong sementara apa kita tinggal disini saja dulu Kin?"

__ADS_1


"Iya, boleh juga untuk menghemat pengeluaran. Nanti kalau Om ku kesini kita baru pergi."


Mereka berusaha membuka pintu itu setelah beberapa kali berusaha mencongkelnya. Kinan dan Wina memasuki rumah itu. Membuka semua pintu, dan semua ventilasi yang ada di rumah itu. Mereka berdua mencoba membersihkan seisi rumah agar bisa mereka tinggali.


Mereka melihat seluruh isi rumah itu, penuh dengan debu, tikus, dan kecoa yang membuat Wina menjerit ketakutan. Kinan mengecek semua peralatan dapur Tante Ina masih tersimpan rapi di sana tak terkecuali baju-baju Kinan juga tidak ada yang mengusiknya.


Kinan berencana membuka usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup mereka saat ini dengan modal uang yang dia kumpulan dari hasil kerja dengan Stela dulu. Wina sepakat untuk ikut membantunya.


Bekerja di toko kue Stela sedikit banyak membuat pengalamannya bertambah dan dia belajar banyak dari itu semua.


Ditempat lain Rey memberitahu Kevin dengan usahanya mencegah Kinan pergi tidak ada hasil. Kevin yang saat itu disamping Els merasa tidak dapat berbuat apapun. Kali ini Els benar-benar membutuhkan sosok dirinya.


Beberapa kali Kevin menelepon Kinan tapi nomor itu tidak aktif. Pikirannya benar-benar kacau untuk hari ini.


...****************...


Hari berganti hari keadaan Els semakin membaik. Hari ini Kevin bisa untuk meninggalkannya sejenak untuk mencari Kinan. Dia mencoba mencari di tempat kosnya walaupun sebenarnya dia yakin pasti tidak ada disana.


Dia bertanya pada Ibu pemilik kos namun tidak ada hasil. Tidak ada yang mengetahui dimana Kinan dan Wina pergi. Belum putus asa Kevin beberapa kali mengirim pesan dan menelepon nomor Kinan tapi juga masih belum aktif. Kinan seperti sengaja untuk benar-benar menjauh dari Kevin.


Dia menyusuri semua jalan di kota itu berharap menemukan Kinan tapi tidak pernah muncul sosok wanita itu, "Dimana Aku harus mencarimu?" wajahnya terlihat sangat putus asa.


Kevin kembali pulang dengan membawa kekecewaan terhadap dirinya sendiri.


"Om, Om Kevin kenapa?" tanya gadis kecil nan cantik itu.


"Tidak apa-apa sayang? Bagaimana keadaanmu sudah membaik?" Els hanya menganggukan kepalanya sembari memeluk Kevin.


"Maafkan Els ya Om, Els sudah membuat Om Kevin susah seperti ini."


Kevin mengerutkan keningnya, "Hei sayang, kenapa harus minta maaf. Kamu tidak salah."


"Om Kevin cerita ke Els mungkin Els bisa membantu." Kevin terkekeh mendengar ucapan anak kecil itu.


"Jadi begini Om lagi mencari calon istri Om yang hilang entah kemana."


"Om Kevin akan menikah? Hore Els akhirnya punya Tante." wajah Els terlihat berseri-seri. Lalu menciut kembali, "Eh tapi calon Tanteku menghilang." dia tertunduk lemas.

__ADS_1


"Om Aku boleh lihat foto-fotonya, mungkin saja Els bertemu calon Tante Els dijalan." Kevin terkekeh lagi mendengarnya.


__ADS_2