
"Kevin cukup! Aku lagi menstruasi." Kevin berhenti dan melepaskan tangannya. Kinan mulai merapikan bajunya yang sudah sedikit terbuka. Dia melihat ke arah mata Kevin yang terdiam memandanginya terlihat ada kekecewaan di dalam matanya. Kinan menundukan kepalanya merasa sangat bersalah.
"Lalu biasanya kapan selesai?" tanya Kevin dengan wajah datar.
"Tujuh hari bahkan bisa lebih," ucap Kinan dengan lirih. Kevin memegang dahinya dan melirik tajam ke arah Kinan.
"Ya sudah, tidurlah!" Kevin berbaring disampingnya dan mulai memejamkan matanya. Kinan mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya tak terkecuali kepalanya hanya memperlihatkan wajahnya saja.
...****************...
Pagi-pagi sekali Kinan sudah bangun. Dia merasa tidak nyaman dengan tanda merah di lehernya yang diberikan Kevin semalam. Sering kali berusaha menghapus tanda itu dengan menggosok-gosokan tangan ke lehernya. Walaupun itu hal yang sia-sia belaka.
"Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?" tanya Kevin yang sedari tadi memperhatikannya.
Dengan tangan yang masih menggosok-gosokan ke lehernya dan muka yang cemberut dia menjawab seadanya, "Ke toko kue."
"Kamu tidak apa-apa kan?"
"Kenapa seperti menghindariku?"
"Tidak," ucap Kinan dengan memalingkan mukanya. Kevin berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan mendekatinya masih dengan sehelai handuk yang menutupi bagian tubuh bawahnya.
Cup
Dia mencium pipi Kinan. Dengan cepat Kinan menggosok-gosokan lagi tangannya ke pipi yang dicium suaminya itu. Kevin mengerutkan dahinya melihat tingkah Kinan yang sepertinya sangat tidak nyaman.
"Aku ini suamimu," ucapnya dengan lirih dan mengangkat kedua alisnya, matanya terus menatap tajam ke istrinya. Sepertinya dia lupa jika istrinya itu masih trauma.
Kinan bergegas mengambil tasnya dan berjalan keluar. "Tunggu!" Kevin memegang tangannya dan memeluk tubuhnya dari belakang. "Aku akan mengantarmu," bisik ditelinga Kinan. Kinan berusaha lagi melepaskan pelukannya.
Dia duduk terdiam di tepi tempat tidur menunggu suaminya mandi. "Kinan tolong siapkan bajuku dan bawalah kesini!" teriaknya dari kamar mandi. Matanya membulat, jantungnya berdegup lebih kencang, pikiran buruk sudah penuh di otaknya.
__ADS_1
Dia dengan cepat mempersiapkan baju ganti suaminya, "Aku taruh bajunya di atas tempat tidurmu. Aku kebawah dulu," teriaknya.
Tak lama kemudian Kevin keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangganya. Matanya berkeliling mencari istrinya tapi tidak kunjung iya temukan. "Kinan," panggilnya dengan lantang. Suaranya menggema di seluruh ruangan tapi tidak mendapatkan balasan dari istrinya itu.
Kevin berjalan keluar rumah, "Kinan, Kinan." Dia kembali lagi ke depan pintu dan menguncinya. Lalu berjalan menuju mobilnya.
"Kamu sudah disini? Dipanggil-panggil tidak menjawab." Wajahnya berubah mengeras.
"Maaf, a-ku buru-buru. Wina membutuhkan bantuanku. Dan nanti malam aku akan tidur di toko ku saja." Kinan menatap Kevin dengan rasa takut yang terlukis diwajahnya.
"A-pa?" Kevin mengerutkan dahinya. Keputusan Kinan membuatnya kecewa. Bagaimana bisa pengantin baru sudah tidur berpisah. Kevin menginjak pedal gasnya dengan cepat tanpa menanyakan maksud Kinan.
Wuuuuusss
Sesampainya di toko kuenya, Kinan langsung berlari kedalam tanpa sepatah katapun pamit pada suaminya. Kevin mengikutinya dari belakang.
"Eh, eh pengantin baru pagi-pagi sudah datang," ucap Wina dan Kinan tetap berjalan kedapur tanpa memperdulikannya. Wina kebingungan dengan sifat sahabatnya kali ini. Dia juga melihat Kevin yang sedari tadi datang dengan muka yang sepertinya menyimpan masalah.
Kevin memejamkan matanya, "Tanya saja sama sahabatmu. Memang cewek kalau lagi menstruasi bawaannya mau makan orang gitu ya?"
"Menstruasi?" Wina mengerutkan dahinya. "Eh Kinan kan kalau menstruasi biasanya barengan sama aku. Setauku dia sudah menstruasi bulan ini," ucap Wina.
Mata Kevin membulat mendengar ucapan Wina. "Tapi semalam dia bilang ...." Kevin memegang dahinya.
"Coba nanti aku bicara padanya Vin,"
"Ya sudah, aku pulang dulu Win." Kevin pergi dari sana dengan membawa rasa kecewa. Tidak menyangka Kinan telah berbohong padanya. Dengan cepat dia kembali pulang ke rumahnya.
Kinan yang terlihat dengan wajah cemberut terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Wina yang menghampirinya pun tidak dianggap. Seharian ini dia seperti memfokuskan diri dengan semua pekerjaan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, dan Kevin sudah bersiap menjemputnya.
__ADS_1
"Kinan, suamimu sudah menjemput itu. Buruan sana pulang! Biar semua aku atasi," ucap Wina. Tangannya sibuk menghitung uang dari penjualan hari ini.
"Tidak, aku akan tidur sini saja."
"Eh, dosa kamu pengantin baru suami tidak dilayani malah ditinggal." Mata Kinan membulat mendengar ucapan sahabatnya.
"Ta-pi Win." Kinan mengelak dan bersikeras untuk tidak pulang bersama Kevin tapi Wina memaksanya untuk pulang dengan suaminya. Mendorong-dorong badannya agar mau masuk ke dalam mobil Kevin yang telah menunggunya sedari tadi.
Di dalam mobil, Kevin hanya terdiam melirik Kinan. Lagi-lagi suasana di situ hening tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua.
Sesampainya di rumah, Kinan langsung menaiki anak tangga dan masuk ke kamar mandi. Kevin terlihat tengah siap berada di depan pintu kamar mandinya dengan tangan kanan bersandar di tembok dan tangan kiri memegang pinggangnya.
"Aaaahhhkk," teriak Kinan dengan raut wajah ketakutan.
"Kamu sudah membohongiku," ucap Kevin dengan mengerutkan dahinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan, yang membuat jantung Kinan berpukul kencang dan tangannya menjadi dingin.
"A-ku," Kevin lebih mendekatkan wajahnya dan semakin dekat sehingga membuat Kinan susah untuk berbicara dan bernapas.
"Sekarang tidak ada lagi alasan. Kita malam ini harus menikmati hubungan sebagai suami istri," Kevin menatap matanya tajam. Kinan masih kebingungan bagaimana suaminya tahu jika dia sedang berbohong.
"Bagaimana? Kamu sudah siap?" Kevin memiringkan wajahnya dan mengejar wajah Kinan. Dia tidak dapat menolaknya dan hanya menganggukan kepalanya. "Tunggulah disana! Akan segara percepat mandiku," bisiknya lirih ditelinga Kinan yang membuat jantung Kinan semakin berdegup kencang.
Tak selang beberapa lama, Kevin keluar dari kamar mandi dan lagi-lagi hanya mengenakan sehelai handuk. Mata Kinan membulat melihatnya, kali ini dia benar-benar tidak bisa menolak. Dia hanya bisa menunduk dan meremas-remas tangannya kembali.
"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini Kinan?" Tiba-tiba ucapan itu mengejutkannya.
"Bu-kan begitu Vin, a-ku hanya masih takut mengingatnya," ucap Kinan dengan gugup dan masih meremas-remas tangannya yang semakin dingin.
Kevin memegang kedua tangannya dan berusaha meyakinkannya. "Aku janji tidak akan kasar, tidak akan sakit pelan-pelan saja," ucapnya. Kinan hanya menganggukan kepalanya.
Dengan lembut Kevin mendorong tubuh Kinan agar jatuh ke atas tempat tidurnya dan dia menciumi kening, pipi, dan bibir Kinan. Tangannya mulai menyusup ke dalam baju yang Kinan kenakan.
__ADS_1