Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 11


__ADS_3

Mereka duduk di dalam angkot yang penuh penumpang. Els kala itu terasa tidak nyaman sekali dengan keadaan di angkot.


"Sepertinya dia tidak terbiasa naik angkutan umum. Mungkin aku harua membuatnya senyaman mungkin agar tidak mabuk perjalanan," ucapnya dalam hati sambil memandangi anak itu.


"Sayang sini Ibu pangku ya!" Tante Ina berusaha menghiburnya dengan memperlihatkan pemandangan di luar angkot.


"Ibu itu rumahku. Iya itu rumahku." Els menunjuk rumah mewah di sebelah sana.


"Oh iya. Berhenti Pak!" ucap Tante Ina.


Mereka berjalan menuju rumah Els.


Ting tong.


Bel dibunyikan oleh Tante Ina. Sambil bertanya "Benar yang ini rumahmu Nak?"


"Iya Bu, itu Pak Amir, Pak Amir." teriak Els memanggil.


"Nona Els, Nona kemana saja Tuan mencari Nona kemana-mana tadi?" tanya Pak Amir satpam rumah.


"Om Kevin, Om Els pulang." Berlarilah Els ke pelukan seorang laki-laki.


Kevin adalah Om Els, dia laki-laki berumur 25 tahun, tampan, kaya, tapi susah mengendalikan emosinya. Dia bekerja di kantor milik keluarganya. Namun sayang Ayahnya berada di luar negeri dari kecil dia hidup bebas. Sedangkan Ibunya sudah meninggal sejak dia berusia empat belas tahun.


Els dia keponakan Kevin, Anak dari kakak perempuannya. Kakak perempuan dan kakak ipar Kevin atau orangtua dari Els meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu. Dia meminta Kevin untuk merawat Els. Kevin terlihat begitu sangat menyayangi keponakannya itu.


Kevin kebingungan mencari pengasuh keponakannya. Sudah lima pengasuh yang membantu Kevin merawat Els tapi tidak ada yang bertahan lama karena Els tidak menyukai mereka.


"Syukurlah Els sudah bertemu keluarganya. Saya mau pamit pulang dulu," pamit Tante Ina.


"Tunggu Saya berterimakasih sekali Ibu telah menolong keponakan Saya. Saya tidak tau bagaimana nasib Els jika tidak ada Ibu," ucap Kevin


"Sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong, ya sudah Pak saya permisi dulu. Da, da, Els." Tante Ina beranjak pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Kevin bertanya, "Tunggu dulu Ibu bawa tas besar mau kemana? Biar sopir saya mengantarkan Ibu sampai tujuan.


"Tidak usah pak, Saya diusir dari rumah karena tidak membayar sewa. Jadi Saya tidak tau harus kemana," ucapnya sambil menenteng tas besarnya kemudian dia pergi meninggalkan mereka.


Kevin mengejarnya, "Bu ... bu bisa tinggal di rumah Saya. Kebetulan Saya lagi mencari pengasuh untuk Els. Itu pun kalau Ibu bersedia."


"Benarkah itu Pak, Saya mau Pak. Terimakasih banyak," ucap Tante Ina dengan senyum lebarnya.


"Baiklah kalau begitu Saya tunjukkan kamar Ibu, agar Ibu bisa segera beristirahat. Ibu terlihat lelah sekali."


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, "Nah ini kamarnya Bu, oh iya tugas Ibu cukup menjaga Els saja kok. Karena disini semua orang mempunyai bagian masing-masing. Els ini Papa Mama nya sudah meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu, jadi saya mohon Ibu bersabar menghadapinya," ucap Kevin.


"Iya Pak saya mengerti bagaimana sedihnya Els, saya akan berusaha sebaik mungkin membantu menjaga Els."


...****************...


Els sangat menyukai Tante Ina, dia sangat bahagia tidak seperti pengasuh sebelum-sebelumnya. Kevin sedikit lega untuk meninggalkan Els kerja. Dia bisa bebas kapan pun akan pulang.


"Om berangkat kerja dulu ya Els, kamu baik-baik sama Bu Ina. Da, da ... Els muaah," pamit Kevin sambil mencium kening Els.


"Bu Ina nanti waktu pulang sekolah tolong Els dijemput tepat waktu ya! Saya takut kejadian kemarin terulang lagi. Sopir Saya telat jemput akhirnya Els pulang sendiri."


"Baik pak," kata Tante Ina


Kevin bergegas masuk mobil dan berangkat menuju kantornya. "Untung Els cocok sama pengasuhnya yang sekarang jadi malam ini aku bisa sedikit bebas bersenang-senang sebentar,"


Di kantor sosok Kevin ini hampir ditakuti oleh semua karyawannya. Karena dirinya pimpinan yang tegas, galak, dan susah sekali untuk tersenyum.


"Pagi pak Kevin. Pagi Pak, pagi Pak"


semua karyawannya menyapa sambil menunduk.


"Pagi." jawab Kevin dengan ketus.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dia melihat salah satu karyawannya berdiri sambil tersenyum-senyum melihat ponsel.


"Eh kamu iya kamu," Dia menunjuk-nunjuk karyawannya itu. "Apa kamu tidak melihat Aku disini? Berani-beraninya di jam kerja mainan ponsel. Apa yang kamu lihat sampai seperti orang gila senyum-senyum sendiri seperti itu?" suara Kevin menggelar di dalam kantor, semua karyawan tertunduk berusaha membungkam mulut mereka masing-masing.


"Ma-af Pak, Saya sedang melihat video. Sa-ya siap dihukum Pak, tapi tolong jangan pecat Saya Pak. Kalau Bapak memecat Saya nanti calon mertua Saya pasti juga akan memecat Saya Pak!" jawab gugup karyawan itu.


Di dalam kantor semua karyawan menahan tawa. Edo ya karyawan itu bernama Edo. Dia akan menikah dalam waktu dekat ini. Edo karyawan yang jujur, dia sudah dipercaya Kevin. Namun Kevin tetap berlaku adil dengan karyawan siapa pun yang keliru akan dia beri teguran keras.


"Video apa? Video panas iya? Apa disini kamu kedinginan? Apa perlu aku matikan semua AC disini?"


"Jangan Pak!" semua karyawan kompak menjawab pertanyaan Kevin kepada Edo.


"Hey, aku tidak tanya kalian. Aku tanya Edo kenapa kalian yang jawab? Edo diam saja berarti dia benar-benar sedang kedinginan," ucap Kevin sambil mencari remot AC.


"Jangan Pak! Jangan! Saya tidak kedinginan." jawab Edo dengan polos dan malu-malu.


Semua karyawan lagi-lagi menahan tawa. Kevin pun sebenarnya juga ingin tertawa tapi takut tidak terlihat wibawa. "Ya sudah Edo kamu sekarang masuk ruanganku!" perintah Kevin.


"Mati." jawab Edo dengan suara kencang yang ternyata terdengar Kevin dan semua karyawan satu kantor.


"Ha, ha, ha."


semua karyawan seperti nya sudah tidak bisa menahannya dari tadi.


"Woy diam! Kenapa kalian semua tertawa? Apa aku suruh kalian tertawa sampai pulang kerja mau?" Dia melotot ke arah Edo, "Heh Edo apanya yang mati? Kamu nyumpahin aku mati?" tanya Kevin sambil marah-marah.


"Ti-dak Pak, ka-lau Bapak mati sa..ya akan kerja dimana Pak? Yang mati itu sa-ya. Eh-eh bukan maksud saya ponsel saya Pak." jawab gugup Edo.


"Bagus kalau ponselmu mati, jadi tambah rajin bekerja nya. Masuk ruanganku!" Kevin berjalan sambil melototi semua karyawan nya yang menahan tawa. Edo berjalan dibelakang Kevin dengan gugup.


"Do'ain aku Ya! Do'ain ya teman-teman!" Edo berjalan memohon ke teman-teman nya sambil berbisik. Ternyata di dengar oleh Kevin.


"Do'ain apa ha? Do'ain aku mati iya?" tanya Kevin dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


"Tidak Pak. Do'ain agar saya tidak dipecat maksud Saya Pak!" jawab Edo sambil menunduk dan mereka berjalan ke arah ruangan Kevin.


__ADS_2