Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 28


__ADS_3

"Huuuff.." Kinan mencoba menarik napas dan mengeluarkannya pelan-pelan.


Mencoba menengok ke arah Kevin, dilihatnya dia melambai-lambaikan tangannya ke Kinan. Ini semakin membuatnya bertambah malu. Wajahnya bertambah memerah, pandangannya menunduk seolah-olah ingin berlari dari kenyataan ini.


Dia membalikkan badannya berjalan pelan menghampiri Kevin dengan menyembunyikan wajahnya dari orang-orang yang melihatnya saat itu. Tanpa ada rasa malu sedikit pun, Kevin hanya senyum-senyum memandang Kinan yang menghampirinya.


Dengan sigap Kinan mendorong kursi roda Kevin dan berjalan cepat pergi menjauhi peristiwa yang memalukan ini. Didorongnya Kevin ke salah satu taman di rumah sakit itu yang hijau dan lumayan luas itu. Saat tidak ada orang lain yang melihat Kinan pun berhenti.


"Kamu tidak malu apa? Ini rumah sakit kenapa Kamu teriak-teriak seperti itu?" tanya Kinan dengan wajah cemberut.


"Kenapa harus malu? Jadi gimana? Kita nikah saja ya!"


"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki mesum sepertimu. Lagian kita kenal itu juga baru beberapa hari ini, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?" jawab Kinan geram melihat tingkah Kevin. Tangannya menggenggam seperti ingin memukul laki-laki dihadapannya itu.


"Laki-laki itu hanya perlu 15 detik untuk jatuh cinta, pelan-pelan pasti kamu akan mencintaiku juga," goda Kevin dengan mata genitnya.


"Percuma bicara dengan laki-laki buaya sepertimu. Aku mau pergi." Kinan berjalan meninggalkan Kevin dengan perasaan jengkel.


"Tunggu! Kinan ya aku salah, Aku minta maaf!" Kevin mendorong-dorong kuat kursi rodanya dengan kedua tangan mengejar Kinan.


"Kamu mau pergi kemana? Bagaimana kalau ada yang mencoba memperkosamu lagi?"


Kinan menghentikan jalannya dan menatap tajam Kevin, "Aku akan membunuhnya, bahkan kalau kamu berani menyentuhku aku juga akan membunuhmu."


"Oh Aku takut. Ha, ha, ha."


"Ya sudah begini kalau kamu ingin pergi terserah, Aku percaya kamu bisa jaga diri. Tapi bawa ponsel ini!" Kevin terlihat mengambil hp di saku celananya. Mencopoti kartu SIM di hp itu. Menyisakan satu kartu sim dan memberikannya ponselnya pada Kinan.


"Aku tidak butuh ponsel," ucap Kinan sambil membuang mukanya.


"Tapi aku butuh kamu. Ha, ha ...."


"Sudahlah aku cuma ingin kamu membawanya. Kamu kan masih punya hutang padaku bagaimana aku mencarimu jika tidak ada penghubung antara Kita. Disitu ada satu kartu SIM yang masih aktif kamu bisa meneleponku kapan pun kamu kangen aku. Rawat ponsel itu baik-baik! Sama seperti kamu merawat hatiku. Ea ha, ha, ha." Kinan terlihat tidak memperdulikannya.


Setelah bicara seperti itu Kevin terlihat berbalik arah pergi meninggalkan Kinan yang masih dongkol. Kinan pun juga pergi dari situ. Kevin kembali ke kamar perawatannya dan Kinan mulai bertanya kesana kemari mencari pekerjaan.


Ditengah teriknya matahari siang itu, secara kebetulan Rivan melintas dengan mobilnya di depan Kinan sedang kelelahan duduk termenung di pinggir jalan. Dengan sigap dia memarkir mobilnya dan pelan-pelan memantaunya dari jauh. Kinan yang saat itu duduk lumayan lama melepaskan lelahnya berdiri kembali dan berusaha bertanya lowongan pekerjaan dari satu toko ke toko lain.


Dilihatnya ada sebuah toko kue yang berada diujung jalan itu. Dia berjalan cepat ke arah sana dan menyembunyikan mukanya mendahului Kinan yang sedang sibuk dengan pertanyaan pekerjaan di setiap toko.


Sesampainya di toko kue itu, "Mbak mau tanya disini ada lowongan pekerjaan?" tanya Rivan dengan tidak tenang, sesekali matanya melihat ke arah pintu takut akan kedatangan Kinan.

__ADS_1


"Maaf Kak kita untuk sementara belum perlu tambahan karyawan." jawab salah satu karyawan di toko itu.


"Huuufff. Boleh bertemu dengan pemilik toko kue ini?"


Salah satu karyawan itu terlihat berjalan ke dalam dan keluar dengan seorang wanita, seperti pemilik dari toko kue itu. Rivan terlihat sibuk berbicara serius dengannya. Sebelum pergi dia memberikan sejumlah uang dan berjabat tangan dengan wanita itu.


Tak lama kemudian Kinan tersenyum melihat toko kue didepannya tersebut. Dia mencoba masuk dan menghirup dalam-dalam menikmati aroma vanila yang menyebar disetiap ruangan itu.


"Tante Ina aku merindukanmu, aku merindukan saat kita memasak kue bersama. Maafkan aku belum bisa menemuimu," ucap Kinan dengan lirih yang tak terasa air matanya jatuh.


"Permisi Kak mau cari kue apa?" Seorang wanita cantik yang baju dan penampilannya berbeda dengan semua karyawan disana datang menghampirinya.


"Saya mau cari pekerjaan. Apa disini ada lowongan?"


"Oh tentu kebetulan kami sedang membutuhkan satu lagi. Mari kita bicara disana!" ucap wanita itu sambil berjalan menunjuk ruangannya.


Sekitar lima belas menit mereka berbincang-bincang. Wanita itu keluar bersama Kinan dan menunjukkan satu persatu ruangan lain di toko kuenya.


"Terimakasih Bu, Saya sudah boleh kerja disini dapat tempat tinggal pula." Kinan tersenyum lebar dan terlihat sangat bersyukur dengan keadaan ini. Dia berganti baju dan langsung melakukan tugas-tugasnya. Rivan yang saat itu mengintipnya dari luar ikut tersenyum melihatnya.


Di lihatnya jam tangan di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Dia berlari menuju mobil yang diparkirnya tadi. Masuk kedalam dan mencoba menelepon seseorang.


"Halo Ma ... Maaf Rivan tidak jadi ikut pulang. Rivan disini dulu ya." lalu dimatikan teleponnya dan lanjut berjalan mengendarai mobilnya.


...****************...


"Woy!" Rey berteriak mengagetkannya.


"Apa? Diamlah disitu jangan menggangguku!" ucap Kevin sambil sibuk menelepon dan menunjuk tempat Rey yang seharusnya dia berdiri.


"Aaaahhhkk tidak dijawab sama sekali." wajahnya terlihat lesu.


Di lain tempat Kinan telah menyelesaikan semua pekerjaannya dan mencoba membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang diberikan pemilik toko kue itu. Dia lupa telah diberi ponsel oleh Kevin. Teringat seketika dan mengambil hp itu.


"Astaga terdapat 20 panggilan tak terjawab dan 33 pesan." Kinan kaget menutup mulutnya.


"Calon suami?" Kinan teriak terheran-heran dengan nama kontak di ponselnya. Ternyata Kevin menulis nama di hpnya dengan nama itu. Dengan cepat Kinan merubahnya.


"Aku sudah bekerja di salah satu toko roti dekat rumah sakit, dan Aku boleh tinggal dan tidur disini juga." pesan Kinan pada Kevin.


Hp Kevin berbunyi tanda ada pesan masuk. "Woi Rey dia membalas pesanku." wajahnya terlihat berseri-seri.

__ADS_1


"Woi dia cuma membalas pesanmu, bukan membalas cintamu." Rey berteriak pas di depan kuping Kevin. Kevin tidak memperdulikan Rey berbicara dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat membalas kembali pesan dari Kinan.


...****************...




Kinanti Putri (22 tahun)





Kevin Arkananta (28 tahun)





Rivan Wijaya (22 tahun)





Reyhan Winata (28 tahun)



***Visualnya terserah sama imajinasinya kalian saja ya!


Maaf kalau gantengan ini gantengan itu.


Yang lebih suka visualnya reyhan bisa lihat di novelku yang kedua. Yuk baca maraton novel ini!

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan votenya***!


__ADS_2