Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 30


__ADS_3

Tak selang lama Kevin dan Kinan pergi dari toko kue itu. Datanglah Rivan, dia terlihat bersembunyi dibalik pintu toko itu. Mencari-cari keberadaan Kinan. Tapi tidak kunjung dia temukan, semua terlihat sibuk membungkus semua kue yang ada disana.


"Dimana Kinan? Mungkin aku telepon Stela dulu." ucap Rivan di balik pintu itu. Dia mengambil ponsel dari saku celana. Tapi sebelum dia pencet tombolnya, Stela datang menghampirinya.


"Rivan? Sejak kapan kamu ada disini? Ayo masuk aku sudah menunggumu daritadi!" wajah Stela terlihat sangat berseri-seri.


"Ssssstttt nanti ketahuan Kinan, jangan keras-keras!"


"Tenang saja dia sudah pulang, tadi ada laki-laki tampan yang menjemputnya. Dia juga memborong semua kue yang ada disini."


"Apa?" Rivan berpikir pasti laki-laki yang dulu mengejar Kinan. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Wajahnya terlihat lesu.


"Hei Van, kenapa malah melamun? Yuk masuk!" ajak Stela.


"Apa laki-laki itu sering menjemputnya?" dia memejamkan matanya, menggenggam tangannya dan sekarang wajahnya terlihat sangat berapi-api.


"Tidak dia baru kali ini, aneh ya Kinan itu punya calon suami kaya raya, tampan seperti dia kok masih kerja di toko kue kecilku ini?"


"Apa? Calon suami?" seketika Rivan berdiri dan mendobrak meja Stela. Membuat Stela dan semua karyawan menjadi takut.


"I-ya dia tadi memanggil Kinan dengan sebutan calon istri, tapi Kinan bilang dia hanya temannya," ucap Stela dengan gugup dan tangannya memegangi dadanya.


"Teman? huuufff, huuufff. Maafkan Aku Stela sudah emosi." Rivan terlihat sedikit lega dan berusaha untuk duduk kembali.


"Lagi pula kenapa kamu seperti ini Van? Sebenarnya Kinan itu siapamu? Saudara, teman, atau pacar?" tanya Stela penasaran.


"Dia dulu pacarku, tapi kami sudah putus. Sudahlah ini rahasia aku mohon kamu simpan rapat-rapat! Ya sudah aku pamit pulang dulu ya!" Rivan pergi begitu saja meninggalkan Stela. Kembali ke mobilnya dan pulang.


Sepanjang perjalanan pulangnya pikirannya terlihat kacau saat mendengar cerita Stela. Ingin meluapkan amarahnya tapi dia sadar, dia bukan siapa-siapa Kinan. Jangankan cemburu, melihatnya dari kejauhan pun rasanya sudah tidak pantas.

__ADS_1


Nampak terlihat jelas wajah lelah dari perjalanan lumayan jauh dari rumahnya ke kota ini. Hasil yang dia inginkan juga tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.


Di tempat lain Kevin dan Kinan masih berada di dalam mobil. Mereka tidak terlihat sering berbicara. Kevin terlihat sangat canggung dengan pertemuan pertamanya setelah berbulan-bulan bergelut dengan sakitnya sehingga tidak bisa bertemu Kinan.


Kinan terlihat menikmati pemandangan kota, sesekali dia tersenyum sendiri dengan kebebasannya dari pekerjaannya yang melelahkan. Tidur di tempat toko kue itu membuatnya tidak bebas melakukan sesuatu yang dia sukai, bahkan libur setiap satu Minggu sekalipun dia masih tetap bekerja.


Terdiam dan masih terdiam membuat mereka berdua bosan. Sesekali Kevin menatap Kinan, Kinan pun demikian.


"Kamu semakin cantik saja," ucap Kevin untuk mengusir ketegangan diantara mereka.


"Basi, kamu mau mengajakku jalan-jalan, memang kakimu sudah sembuh?" tanya Kinan.


"Sudahlah. Makanya Aku suruh dokter untuk cepat-cepat nyembuhin. Aku tidak bisa LDR kayak gini. He, he, he." goda Kevin.


Kinan terlihat hanya tersenyum dan memalingkan mukanya melihat kembali pemandangan di luar kaca mobil Kevin. Mereka masih saja begitu canggung.


"Kamu tidak trauma kan kalau masuk rumahku? Ini kan kelak jadi rumah Kita juga. Ha, ha." Lagi-lagi Kevin berusaha mencairkan suasana yang tegang.


"Sedikit. Oh iya kamu tinggal disini sendiri terus? Keluargamu dimana?" tanya Kinan. Mereka berdua terlihat masuk ke dalam rumah.


"Mama sudah meninggal sejak aku SMP dan Papa dia sibuk dengan bisnisnya diluar negeri. Sebenarnya ini rumah pribadiku. Rumah keluargaku ada di daerah sana."


"Sebenarnya aku jarang menghabiskan waktu dirumah ini. Rumah ini sering kosong, kamu tidak mau menempatinya. Malah lebih memilih tinggal di toko kue itu. Apa kamu bahagia disana?"


"Oh maaf. Sebenarnya aku ingin mencari tempat kos, tinggal disana seperti aneh saja begitu. Bu Stela seperti memperlakukanku berbeda dengan karyawan lainnya. Dia juga tidak pernah membentakku saat aku melakukan kesalahan, Aku menjadi tidak enak di anak emaskan seperti ini."


"Kamu harus hati-hati saat bosmu memperlakukan seperti itu! Kenapa kamu tidak tinggal di rumahku sini saja. Lagi pula aku juga jarang tempati kok. Jadi kamu tidak perlu keluar biaya untuk membayar kos."


"Aku takut jika tinggal di rumah sebesar ini sendiri. Eh kamu mau mengajakku jalan-jalan kemana?"

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Kevin.


"Ke pantai?" ucap Kinan dengan senyuman manisnya.


"Oke, aku mandi lalu ganti baju dulu. Kamu mau ikut? Ha, ha, ha."


"Aku teriak nih!" ancam Kinan.


Kevin terlihat naik ke atas menuju kamarnya. Kinan masih belum puas rasanya mengotak-atik dapur Kevin yang penuh dengan alat-alat masak yang canggih. Dia melihat ada beberapa bahan makanan ada di kulkas dua pintu yang besar itu. Menunggu Kevin yang lumayan lama membuatnya bosan dan ingin memasak semua bahan makanan itu.


Kesenangannya memasak membuat dia tidak menyadari Kevin ada di belakangnya. "Ehm butuh bantuan tidak?" bisik Kevin lirih di dekat telinga kanan Kinan. Membuat bulu kuduknya berdiri.


"Memang kamu bisa masak?" Kinan berbalik badan dan menatap mata Kevin dalam-dalam.


"Tentu saja tidak. Ha, ha, ha." Mereka tertawa lepas, suasana tegang sedikit demi sedikit mulai mencair. Kevin terlihat membantu Kinan memasak walaupun sering kali dia melakukan kesalahan dan membuat baju Kinan kotor. Tak lama kemudian mereka makan siang bersama.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Mereka bergegas untuk segera ke pantai.


"Kinan sebaiknya kamu mengganti bajumu dulu! Akan ku pesankan baju untukmu, atau kita langsung beli saja?" ucap Kevin.


"Tidak perlu, itu hanya membuang-buang uang. Aku pinjam kaosmu saja!" ucapan Kinan membuat Kevin tertawa. Membeli satu baju tidak akan membuatnya miskin. Tapi dia terlihat senang saat Kinan memakai kaosnya.


Mereka terlihat berjalan menuju mobil dan segera pergi ke pantai sebelum matahari tenggelam.


Sesampainya di pantai, keindahan itu sudah terlihat dari jauh. Rasanya Kinan sudah tidak sabar untuk berlari kesana. Lembayung senja itu benar-benar sangat sayang untuk dilewatkan. Suasana syahdu ditambah angin sepoi-sepoi menambah kenikmatan pergantian sore ke malam. Tenggelamnya matahari ini benar-benar bisa dilihatnya dengan leluasa.


Mungkin baru kali ini dia merasakan kebahagiaan dari semua masalah yang dia hadapi dalam hidupnya. Kevin terlihat sangat bahagia melihat tingkah Kinan. Mereka berlari-lari, bermain air dan pasir bersama di pantai itu.


__ADS_1


__ADS_2