Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 20


__ADS_3

"Tidak, aku tidak mau. Apa keuntunganku#! menolongmu? Kenal juga tidak mengenalmu. Lagian dapat uang dari mana kamu bisa mengembalikan uangku. Kerja saja tidak dibayar Risa."


"Percayalah padaku Pak. Bapak boleh menjadikanku pembantu, *baby si**er*, tukang kebun, atau apapun tanpa digaji tidak apa-apa Pak."


Mereka berdua terdiam, "Bagaimana ceritanya kamu bisa seperti ini?" laki-laki itu duduk menemani Kinan yang menangis.


"Aku datang ke kota untuk mencari pekerjaan, karena Nenekku terlibat hutang rentenir. Jika aku tidak bisa membayar maka rentenir itu akan menikahiku secara paksa. Tiba-tiba Risa menghampiriku saat dia mendengar aku bertanya kesana kemari lowongan kerja. Dia memberikan bilang akan memberikan aku pekerjaan, dia juga meminjamkan uang kepadaku. Awalnya aku juga ragu pekerjaan seperti apa, ternyata dia menjadikanku model. Tapi semakin kesini aku baru sadar dia telah menjualku ke kamu."


"Haduh sial banget ya nasibmu!" ejek laki-laki itu.


"Nasibku memang tidak seberuntung orang lain. Dari kecil aku sudah ditinggalkan oleh Ayahku dan selesai SMA Ibuku juga meninggalkanku. Pacarku juga sudah menghamiliku dan menjadikanku bahan taruhan dengan teman-temannya. Aku diperkosa sampai bayi di kandunganku meninggal. Mereka membuangku begitu saja, aku tidak tau dipikiran mereka itu apa. Mungkin mereka mengira aku sudah mati. Tapi Tuhan masih memberiku napas, wanita tua dikirimkan untuk menolongku saat itu."


Laki-laki itu memeluk Kinan terenyuh mendengar semua cerita hidupnya. Mulai sedikit demi sedikit terketuk hatinya untuk menolong. Dia ingat salah satu rumahnya ada yang kosong dan berniat membawa Kinan kesana.


"Oke aku akan menolongmu. Ayo hapus air matamu! Ikuti Amaku sebelum Risa datang! Karena aku tadi meneleponnya saat kamu pingsan."


"Tapi sopir itu menungguku dibawah Pak?"


"Tenang saja ada aku. Mana tanganmu?"


"Buat apa?" Kinan terlihat berpikir panjang.


"Buat ngajak kamu berdansa. Ya buat gandengan lah. Atau kamu ingin digandeng sopir itu? Ingat kamu harus tersenyum supaya dia tidak curiga!" bentak laki-laki itu sambil menggandeng tangan Kinan dan bergegas keluar kamar hotel.


Bertemulah mereka berdua dengan sopir Risa. Laki-laki itu menyuruh Kinan untuk masuk dulu ke dalam mobilnya. Laki-laki itu berbicara sedikit kepada sopir Risa dan mengizinkan nya pergi begitu saja.


"Secepat itu dia mengizinkan kita pergi? Jadi aku sudah bebas dari Risa kan sekarang?"

__ADS_1


"Ya tapi kamu tak akan bebas dariku."


"Iya aku tau itu, mungkin aku akan jadi pembantumu seumur hidupku. Tapi setidaknya kau lebih baik daripada Risa," ucap Kinan sambil menundukan pandangannya.


"Mendengar cerita hidupmu dan ekspresimu saat melihatku di awal Kita ketemu tadi sepertinya kamu mempunyai trauma berat ya dengan laki-laki?"


"Iya mereka seperti buaya kecuali,"


"Kecuali aku?" jawab laki-laki itu dengan percaya diri.


"Almarhum Ayahku."


"Kamu tau kenapa aku buaya?"


"Kenapa?"


"Salah sendiri wanita punya lubang buaya. Ha, ha, ha."


...****************...


Pagi pun tiba, Kinan terbangun dan bertanya-tanya dimana dia sekarang. Semalam dia di dalam mobil bersama laki-laki itu tiba-tiba sekarang dia tidur di kamar yang tidak dia ketahui.


Kinan mencoba keluar kamar, turun ke bawah mencari tau dimana laki-laki itu. Kesana kemari tidak diketemukannya laki-laki itu. Dia bahkan tidak tau namanya siapa. Baliklah dia ke kamar, diketemukan kertas yang berisi "Tetaplah disana tunggu aku pulang!"


Waktu sudah pukul 19.00 WIB tapi laki-laki itu belum datang juga. Kinan merasa sangat bosan. Dia mencoba melihat-lihat isi dapur. Jiwa memasaknya muncul kembali melihat bahan-bahan dapur.


"Kenapa tidak dari pagi aku menemukanmu? Sudah lama rasanya ingin memasak. Wah lengkap sekali peralatan dapurnya. Oke kalian akan menemaniku malam ini."

__ADS_1


Dengan cepat dia memasak. Semua makanan hasil masakannya sudah tersaji rapi di atas meja. Tak sabar Kinan untuk memakannya. Tiba-tiba dia mendengar suara dari arah pintu. Dan ternyata laki-laki itu pulang. Dari raut wajah nya seperti kelelahan. Jas dan tas nya dilempar ke sofa begitu saja. Dia melihat Kinan di ruang makan dan melihat semua makanan yang Kinan buat.


"Kamu bisa masak?" tanya laki-laki itu keheranan, wajahnya berubah menjadi ceria.


"Aku hanya bosan di rumah sendirian, aku melihat ada bahan makanan di dapurmu jadi aku memasaknya. Maafkan aku sudah lancang! Tapi aku sudah membersihkan isi rumah ini kok." ucapnya sambil menundukan pandangan ke bawah.


"Bagus kalau kamu sudah tau semua tugas-tugasmu. Aku sudah tidak sabar memakannya." Diambillah sendok piring dan semua makanan-makanan itu. Dengan cepat laki-laki itu menghabiskannya.


"Pintar masak ya kamu. Oke sekarang ayo kita ke kamar!"


"Ke-ke kamar?" ucap Kinan gugup.


"Iya."


"Aku tidur di kamar pembantu saja. Kan Aku pembantu disini."


"Kata siapa? Aku menyuruhmu ke kamar ya ke kamar! Atau ku suruh saja Risa datang kemari untuk menjemputmu? Dan kamu dijual pada laki-laki buaya, bos-bos gak jelas, atau aki-aki keriput. Masih untung kamu ketemu laki-laki tampan dan kaya sepertiku."


Matanya mulai berkaca-kaca, "Tidak usah nangis! Orang miskin mentalnya kuat."


Mereka berdua menuju kamar. Dengan perasaan takut Kinan menuruti perintah laki-laki itu. Masuklah laki-laki itu ke kamar mandi. Sekitar 15 menit Kinan menunggu. Akhirnya keluar laki-laki itu dari kamar mandi. Lagi-lagi dia telanjang dada dan menggunakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Kamu harus terbiasa melihatku seperti ini. Awas saja kalau kamu pingsan lagi akan ku kerjain habis-habisan!" ancam laki-laki itu sambil tersenyum licik.


"Kamu menyuruhku ke kamar untuk apa?"


"Aku kan sudah berjanji akan membayar uang ganti rugi, tolong jangan lakukan ini!" Kinan terlihat sangat ketakutan.

__ADS_1


Laki-laki itu hanya terdiam dan menatapnya tajam, sehingga membuat Kinan semakin risih. Kinan hanya tertunduk dan berusaha untuk menjauh. Tapi semakin bergerak menjauh laki-laki itu semakin mendekatinya.


"Pak maafkan Aku, sebelum Bapak khilaf aku sebaiknya melarikan diri. Permisi Pak!" Kinan lari terbirit-birit menuju bawah mencari tempat persembunyian yang aman. Kecepatannya berlari tak sebanding dengan kecepatan laki-laki itu. Dengan sigap laki-laki itu menangkapnya dari belakang dan menggendongnya paksa ke dalam kamar. Kinan berusaha memberontak tapi percuma tenaganya tidak sekuat laki-laki itu.


__ADS_2