Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 14


__ADS_3

"Hidupku memang selalu menyusahkan orang lain, betapa tidak bergunanya aku ini. Mengapa engkau masih memberiku napas Tuhan. Mengapa tak kau izinkan aku bersama Ayah dan Ibu disana?" seketika kakinya lemas jatuh dilantai. Kepalanya menunduk, air mata mulai mengalir deras di pipinya. Tiba-tiba sentuhan lembut tangan wanita tua itu membuatnya mengangkat kepalanya yang tertunduk saat itu juga.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu Nak!" ucap wanita tua itu sambil menghapus air matanya.


"Harusnya Nenek tidak usah menolong ku waktu itu, jadi nenek sekarang tidak mendapatkan masalah seperti ini. Hari tuamu yang indah terganggu dengan kedatangan ku. Aku minta maaf Nek!" Wanita tua itu menyapu air mata yang terus mengalir di pipi Kinan.


"Nenek menyayangi Nak, dengan adanya Kamu disini hidup Nenek menjadi lebih semangat. Nenek tidak akan membuatmu pergi jauh dari Nenek. Bahkan Nenek tidak akan membiarkan rentenir itu membawamu menjauh dari Nenek," ucap wanita tua itu dengan memeluk erat tubuh wanita cantik yang seperti sudah tidak ada lagi semangat untuk menjalani hidupnya.


...****************...


Dua tahun yang lalu seorang wanita tua menjalankannya aktivitas rutinnya berjalan menelusuri hutan, mencari ranting pohon yang berjatuhan dan kayu bekas penebangan yang berserakan. Ranting-ranting pohon dan kayu-kayu itu dia kumpulkan untuk membantu membuat nya menjadikan makanan. Hidup sebatang kara tanpa keluarga tak lantas membuat wanita tua itu mememinta-minta. Dengan sekuat tenaganya dia menjalani beratnya hidup tanpa suami.


Semakin dalam dia menelusuri hutan, pandangan matanya terhenti, jantungnya berdebar kencang, keringat nya bercucuran. Kaget sekaget kagetnya dilihatnya seorang wanita yang tertidur di hutan.


"Apa Aku mimpi ada manusia tidur di hutan seperti ini?"


Langkah kakinya dipercepat untuk segera melihat sosok tersebut. Dilemparlah semua ranting-ranting pohon dan kayu-kayu yang dia kumpulkan.


"Oh tidak. Dia manusia."


"Bangun! Bangun Nak ini sudah pagi!" tangannya menepuk-nepuk pipi wanita itu. Dia melihat dari ujung rambut sampai kaki. Dan baru tersadar jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Matanya lebam, pipinya merah seperti bekas tamparan, rambutnya berantakan, bibirnya juga terluka, dan nenek kaget melihat rok wanita yang penuh darah.


"Wanita ini sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana ini? Apa dia masih hidup? Aku harus pergi mencari pertolongan." berlarilah dia menuju perkampungan dengan perasaan cemas.

__ADS_1


"Tolong-tolong!" teriak Nenek itu sesampainya di perkampungan.


"Ada apa Nek?" tanya para warga.


"A-da mayat di hutan!" Nenek menjawab dengan gemetaran sambil menunjuk ke arah dalam hutan. Tangan dan kakinya terasa dingin. Mulut serasa susah untuk digerakkan.


Semua warga yang saat itu ada segera berlari menuju dalam hutan. Semua terheran-heran siapa yang melakukan perbuatan setega ini. Mereka mendekati sosok wanita itu.


"Hei dia masih hidup." sontak membuat kaget para warga disitu.


"Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit! Denyut nadinya masih ada." Dengan sigap mereka bersama-sama membawa wanita itu ke luar dari hutan.


"Cepat telepon ambulan!" perintah salah satu warga.


Dibawanya wanita itu di dalam ambulan, yang mengantarkan hanya ada 3 orang warga dimana salah satunya si Nenek.


"Tolong selamatkan dia dokter! Saya yang akan bertanggung jawab." Tanpa berpikir panjang, dan tidak ingin membebani para warga dengan biaya rumah sakit wanita itu. Karena nenek itu tau bagaimana perekonomian keluarga para warga di kampungnya. Jangankan tabungan, untuk mencari makan saja mereka susah.


"Baiklah, kalau begitu Saya tinggal dulu." dokter itu pergi melanjutkan tugasnya.


"Nenek benar akan bertanggung jawab dengan wanita itu? Nek biaya rumah sakit itu mahal. Nenek mencari uang dari mana?" tanya seorang warga yang ikut mengantarkannya.


"Nenek tau itu tapi kasihan wanita itu. Wanita yang malang. Sudah hamil, diperkosa, hampir dibunuh pula. Sudah-sudah kalian tenang saja Nenek masih punya sedikit simpanan uang. Nenek tau kalian kan masih muda masih mempunyai kebutuhan banyak. Lagi pula kalian kan kadang kerja kadang tidak."

__ADS_1


"Ya sudah tapi kalau Nenek kalau perlu apa-apa kita siap membantu Nek," ucap para warga itu.


"Tentu saja, sekarang kita pulang dulu ya. Nanti nenek akan kembali kesini lagi. Nenek harus mengambil sedikit pakaian agar nenek tidak bolak-balik. Nenek akan menunggu dia sampai sadar. Setelah sadar nenek akan bantu mencari orangtuanya. Tugas kalian nanti antar nenek kesini lagi ya! Karena Nenek takut nyasar, rumah sakit ini begitu besar."


"Siap Nek ayo kita pulang dulu!"


Semakin hari semakin menumpuk tunggakan biaya rumah sakit itu. Terkuras sudah tabungan sedikit demi sedikit yang dia kumpulkan bertahun-tahun setelah suaminya meninggal.


"Bagaimana ini, uang Ku habis. Sedangkan dia belum tersadar juga. Bagaimana Aku harus mencari keluarganya?" bisik Nenek itu dalam hati sambil mondar-mandir terkadang melihat wanita itu dari balik pintu.


Dokter pun datang dari kejauhan, si Nenek menghampirinya, tidak sabar untuk segera bertanya "Bagaimana perkembangannya? Mengapa dia belum sadar juga?"


"Sabar ya Nek, Kami sudah melakukan tindakan semaksimal mungkin. Nenek berdo'a saja semoga ada keajaiban datang padanya." kata dokter itu dengan nada suara lemah lembut.


Nenek selalu berpikir bagaimana dengan biaya rumah sakitnya? Akhirnya mau tidak mau harta satu-satunya yang masih ada hanya sertifikat rumah. Dia berusaha meminjam uang dengan jaminan sertifikat tanahnya.


Dia mondar-mandir kesana kemari meminta bantuan untuk mengantarkan nya ke salah satu Bank tapi kebetulan para warga tidak ada yang lewat.


"Bagaimana ini? Bank itu terlalu jauh dari sini. Lagi pula aku tidak tau apa syarat meminjam uang di Bank. Semua surat-surat penting juga hilang entah dimana." Wanita tua itu terlihat cemas di depan rumahnya.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan rumahnya. Sosok laki-laki yang tinggi, hitam, berotot, memakai kalung dan jam tangan dari emas menghampirinya.


"Nenek aku kesini ingin menjadi dewa penolongmu. Kata para warga kamu sedang kebingungan mencari uang ya untuk wanita yang kamu temukan di hutan itu? Tenang saja aku akan membantumu. Berapa yang kamu butuhkan Nek akan aku beri. Tapi sebagai jaminannya aku ambil sertifikat rumahmu ya?"

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang si Nenek memberikan sertifikat itu dan meminjam uang 20 juta untuk biaya rumah sakit.


Nenek Nikmah dahulu mempunyai suami yang sangat mencintainya. Kejadiannya 6 tahun yang lalu suaminya meninggal dunia karena penyakit paru-paru. Hartanya terkuras habis untuk pengobatan suaminya. Hanya tinggal sebuah rumah petak kecil yang penuh kenangan yang tersisa. Nenek Nikmah juga tidak mempunyai anak.


__ADS_2