
Kinan yang saat itu duduk menangis tiba-tiba menghapus air matanya dan mengejar laki-laki itu.
"Pak, Pak, tunggu! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku takut," teriak Kinan sambil berlari dan memeluk laki-laki itu dari belakang.
Laki-laki itu melihat tangan Kinan yang memerut erat tubuhnya dari belakang dan menangis tersedu-sedu. Dia membalikkan tubuhnya dan mereka saling berpelukan. Kaki Kinan lemas dan jatuh ke lantai, laki-laki itu masih tetap memeluknya sambil mengelus kepala Kinan.
"Jangan tinggalkan aku sendiri Pak! Aku akan menulis namamu sebagai satu-satunya laki-laki berperan protagonis dalam cerita hidupku," ucap Kinan sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku harus pergi pekerjaan menungguku, kamu akan aman disini. Percayalah!" ucap laki-laki itu sambil menghapus air mata di pipi Kinan.
"Aku akan sering menghubungimu. Soal Risa aku akan mencari cara lagi bagaimana bisa melepaskanmu darinya. Tapi saat ini aku tidak bisa menemanimu."
Laki-laki itu pergi meninggalkan Kinan, dia mengendalikan mobilnya begitu cepat. Di dalam mobil laki-laki itu terlihat cemas. Dia mencoba mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo Rey, datanglah ke rumah pribadi ku! Lihatlah dia sesekali pastikan keadaannya baik-baik saja. Els sedang sakit aku harus buru-buru pulang ke rumah."
Laki-laki itu menutup teleponnya. Tidak di sangka dari arah yang berlawanan ada sebuah truk yang melintas. Karena kecepatan mobil yang tinggi laki-laki itu tidak bisa mengendalikan mobilnya, dia membanting setirnya ke kiri untuk menghindari tabrakan tapi mobilnya keluar jalur.
Braaak.
Mobilnya menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Mobil ambulans datang menjemputnya. Dilarikannya laki-laki itu ke rumah sakit dengan segera.
...****************...
Ting tong.
Suara bel berbunyi. Kinan kebingungan biasanya laki-laki itu langsung masuk ke rumahnya tanpa memencet bel. Dengan berani dan membuang rasa takut nya Kinan mengintip dari balik gorden jendela. Terlihat seorang laki-laki seumuran dengan laki-laki itu berdiri di depan pintu. Dibukalah pintu itu.
"Halo Kinan ya?" tanya laki-laki itu.
"Kenalkan aku Rey temen Kevin." laki-laki itu menyodorkan tangannya ke Kinan.
"Kevin siapa ya? Aku tidak kenal Kevin." Kinan kebingungan karena dari awal bertemu laki-laki itu dia tidak menanyakan siapa namanya.
__ADS_1
"Kevin yang punya rumah ini." Rey keheranan mendengarnya.
"Jadi namanya Kevin?" tanya Kinan.
"Bagaimana bisa kalian tinggal serumah tapi tidak tau namanya? Oh iya panggil aku Rey! Aku kesini disuruh Kevin untuk melihat mu apakah baik-baik saja."
"Oh iya masuklah!"
Mereka berdua duduk di kursi tamu. Kevin telah menceritakan semua kepada Rey.
"Dimana Kevin?" tanya Kinan. Rey menunduk termenung, perasaannya sebenarnya tidak tenang melihat sahabatnya kecelakaan dan di rawat di rumah sakit. Tapi Kevin melarangnya untuk bercerita kepada Kinan tentang keadaan.
"Em, dia lagi ada urusan. Dia harus ke luar kota ada kerjaan penting yang harus dia kerjakan ."
"Oh iya aku tidak bisa seharian penuh menemanimu, karena aku ada kerjaan juga di kantor. Aku setiap hari akan kesini tenang saja. Kalau ada apa-apa kamu bisa meneleponku saja. Ini kartu namaku dan itu nomor teleponku," ucap Rey sambil mengalihkan pembicaraan agar Kinan tidak terus bertanya tentang Kevin.
"Aku ada nomor telepon Kevin juga kok."
Kinan merasa kebingungan, wajah Rey sangat nampak sedang menyembunyikan sesuatu. Tak lama kemudian Rey pamit untuk pulang. Kinan mengantarkannya sampai pintu depan. Dan berterima kasih kepada Rey.
Setelah melihat Kinan, Rey langsung ke rumah sakit melihat keadaan sahabatnya. Disana terlihat Kevin tidak baik-baik saja. Tubuhnya terbaring lemah. Dokter berkata tulang kaki Kevin patah akibat kecelakaan itu. Dan butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh kembali.
...****************...
Keesokan harinya Kevin tersadar, Rey yang mendapat kabar seperti itu langsung menemui sahabatnya di rumah sakit.
"Rey, bagaimana Els? Bagaimana Kinan?" tanya Kevin dengan lirih.
"Kamu tenang saja Els sudah membaik kok tadi Bu Ina meneleponku, dan Kinan aku sudah menengoknya kemarin dia baik-baik saja. Cepatlah pulih agar kamu bisa menjaga mereka!"
"Makasih Rey. Apa hari ini kamu sudah melihat Kinan? Apa dia menanyakanku? Aku harap kamu jangan cerita yang sebenarnya itu akan menambah beban hidupnya!"
"Tenang saja, aku bilang kamu keluar kota. Tapi sebaiknya kamu ceritakan yang sebenarnya pada Kinan agar tidak salah paham. Kata dokter kakimu patah dan butuh waktu paling tidak sekitar enam bulan untuk sembuh. Tidak mungkinkan kamu bersembunyi selama enam bulan. Aku lelah jika selama itu setiap hari harus bolak-balik menengok Kinan yang ada dia jatuh cinta nya padaku. Haa... Haa.." ucap Rey.
__ADS_1
"Aku akan menceritakan yang sebenarnya saat keadaanku sedikit membaik nanti. Apa hari ini kamu sudah menengoknya?" tanya Kevin.
"Ya setelah ini aku akan kesana. Ya sudah aku berangkat dulu. Kamu cepat sembuh."
Setelah berpamitan pada Kevin, Rey keluar dari kamarnya dan cepat-cepat mengendarai mobilnya untuk bisa memastikan keadaan Kinan baik-baik saja. Tapi dia tidak sadar dia diikuti mobil lain dari belakang.
Ting tong.
Kinan membukakan pintu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rey.
"Ya aku tidak apa-apa. Masuklah!" ucap Kinan.
Ditaruhlah ponsel dan kunci mobilnya di meja tamu. Rey berbincang-bincang sebentar dengan Kinan. Setelah itu Rey buru-buru pamit pulang yang diambil hanya kunci mobilnya saja.
Ting tong.
Tanpa melihat siapa yang datang Kinan langsung membukakan pintu, dipikirnya Rey mengambil ponsel nya yang ketinggalan.
Tapi ternyata bukan, dua orang laki-laki berotot mereka memaksa Kinan untuk ikut dan masuk di dalam mobil. Kinan berteriak-teriak tapi tidak ada satu orang pun disitu. Mobil itu telah membawa Kinan jauh dari rumah Kevin.
Ditengah jalan Kinan melihat mobil Rey berjalan berbalik arah dia pasti ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan. Tapi percuma Kinan berteriak-teriak minta bantuannya karena di dalam mobil tidak akan terdengar oleh Rey.
"Kalian mau apa?" tanya Kinan dengan marah-marah di dalam mobil.
"Mau membawamu ke bos Risa. Ha, ha, ha."
"Apa? Lepaskan aku! Lepaskan!"
Usaha Kinan untuk memberontak seperti sia-sia. badan Kinan yang kecil tidak sanggup melawan dua laki-laki berotot itu.
Sesampainya Rey di rumah Kevin, dia memanggil-manggil Kinan tapi tidak ada jawaban. Pintunya pun terbuka, ponselnya juga tergeletak jatuh di lantai. Rey semakin panik melihat keadaan ini. Dia teringat berpapasan dengan mobil tadi. Satu-satunya mobil yang dari arah rumah Kevin. Apa Kinan dibawa oleh mobil itu?
__ADS_1