Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 7


__ADS_3

Kesehatan Kinan semakin hari semakin menurun, dia tidak bersemangat untuk melakukan semua pekerjaannya.


"Kamu sakit Kinan? Kita ke dokter ya? Aku minta bantuan Rivan ya. Dimana dia sudah lama tidak pernah main ke rumah?" tanya Tante Ina keheranan.


Sambil memegang kepalanya yang pusing, "Jangan tante, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kecapekan. Jangan hubungi Rivan kita sudah tidak ada hubungan lagi."


"Loh kenapa? Kalian putus?" Tante Ina penasaran apa yang membuat mereka putus. Sudah lumayan lama pacaran, apa gara-gara jarak. Kinan diam saja, dia tidak ingin Tante Ina tau yang apa dia alami kemarin karena itu akan membuat Tante Ina bersedih.


"Hari ini seharusnya aku menstruasi tapi dari bulan kemarin aku belum menstruasi. Apa jangan-jangan a-ku." ucapnya lirih dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.


Karena penasaran di saat itu juga Kinan pergi ke apotek membeli tespeck. Masuklah dia ke kamar mandi. Tangannya gemetar, air matanya terus mengalir dan yang benar saja.


"Tidak, tidak." Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia melihat garis merah dua di alat itu. Dia ingin menjauhi Rivan tapi dia bingung siapa yang akan menjadi Ayah dari Anaknya.


"Aku harus menemui Rivan, aku mengenalnya dia pasti akan bertanggung jawab dengan perlakuannya terhadapku dulu. Mungkin kemarin dia hanya sedang emosi." Kinan cepat-cepat mengganti baju dan menuju kos Rivan.


Sampai di kos, dia sebenarnya masih trauma dengan kejadian kemarin. Dia mengetuk pintu kamar Rivan.


Tok tok tok


Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya sambil berkata, "Cari Rivan Nak? Saya yang punya kos disini?"


"Oh i-ya Bu, Rivannya ada saya kesini izin ingin berbicara sebentar saja. Saya tidak akan masuk kamarnya cuma diluar sini saja" jawab Kinan sambil gugup.


Ibu kos melihat mata Kinan yang bengkak dan wajah yang pucat, "Kamu lagi sakit Nak? Rivan sedang kuliah baru saja dia berangkat."


Tak menjawab pertanyaan Ibu kos Kinan langsung lari mengejar Rivan. Sampai di kampus, Kinan bingung dimana harus mencari Rivan. Apa dia sudah masuk kelas apa belum? Saat itu kebetulan dia bertemu Clara.


"Clara, Ra ini aku Kinan, kamu masih ingat aku?"


"Kinan? Ada perlu apa kamu disini. Mau cari Rivan ya?" tanya Clara.

__ADS_1


"Iya kamu tau dimana Rivan. Aku ingin bertemu dengannya ini penting. Aku tidak bisa menghubunginya." tatapan Kinan saat itu penuh dengan kesedihan, dia sangat berharap Clara mau membantunya.


Clara merasa terheran-heran ada masalah apa diantara mereka berdua. "Kamu tunggu sini ya aku akan mencari Rivan, dia pasti bersama Dino!"


Yang benar saja Rivan lagi tertawa terbahak-bahak bersama Dino dan teman-temannya.


"Rivan, aku mau bicara sama kamu!" ucap Clara sambil menggandeng tangan Rivan dan menjauh dari Dino. Sontak Dino marah dan menggeprek meja membuat Ale dan Tio kaget.


Braaakkk


"Sial berani-beraninya dia menggandeng tangan Rivan di depanku. Tio, Ale ikuti mereka! Katakan padaku apa yang mereka lakukan. Aku tidak sanggup lagi menahan emosiku untuk memukulinya jika aku ikut kalian." kata Dino dengan penuh emosi di raut wajah nya.


"Siap bos" jawab Ale.


Mereka berdua mengikuti Clara dan Rivan diam-diam dan ternyata disitu ada Kinan. Mereka keheranan karena Clara langsung pergi setelah mengantarkan Rivan.


"Itu siapa Rivan? Wah Dino harus tau soal ini." ucap Tio sambil berlari memanggil Dino.


Semakin bertambah banyaknya air mata yang keluar dari mata Kinan. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Rivan ternyata tidak berubah sama sekali.


Kinan menunjukkan tespecknya kepada Rivan tangannya gemetar. Wajahnya memucat.


"Apa ini? Kamu sekarang hamil?" teriak Rivan dengan kencang seolah-olah dia tidak percaya.


"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin." ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ta-pi ini A-nak ka-mu Van. Aku mohon kamu tanggung jawab terhadapnya" ucap Kinan sambil menangis tersedu-sedu.


Rivan tersenyum kecut "Oke begini saja kita ambil jalan tengah nya. Aku tidak mungkin menikahmu. Orangtuaku pasti marah dan lagi pula aku laki-laki aku masih muda, masa depanku masih panjang, banyak yang ingin aku lakukan. Begitu juga dengan kamu. Begini aku akan memberikanmu uang untuk menggugurkan kandunganmu. Lagi pula kamu juga butuh modal banyak kan untuk membuat toko kue impianmu?" ucap Rivan sambil mengecilkan suaranya.


Plaaakkkk

__ADS_1


Kinan tidak bisa menahan emosinya. Bagaimana bisa dia sudah memperkosa dan sekarang dia ingin membunuh anaknya sendiri.


Rivan semakin marah. "Berani-beraninya kamu menamparku." Tangan Rivan ingin menampar balik tapi Kinan menangkisnya.


"Kamu pikir aku ini apa? Aku juga punya impian, aku juga mempunyai masa depan sama sepertimu. Apa kamu lupa? Apa perlu aku ingatkan janji-janjimu dulu kepadaku. Kamu telah berubah kamu benar-benar berubah. Kamu jahat Rivan aku membencimu." ucap Kinan dia lari meninggalkan Rivan sambil menangis. Perjuangan nya kali ini percuma hanya menambah beban hidupnya.


Rivan tidak memperdulikan Kinan pergi. Tiba-tiba Dino dan teman-temannya datang. Ternyata mereka mendengar semua pembicaraan mereka. Dino pura-pura perhatian terhadap Rivan.


"Sudah lah Van! Kita sudah mendengar semuanya. Apa kamu perlu bantuan kita?" tanya Dino sambil memberi kode ke Ale dan Tio.


"Iya Van sudah jangan sedih, jika cewekmu tidak mau menggugurkan kandungannya ya biarkan saja. Biar dia tanggung sendiri." ucap Tio.


Rivan sedikit lega ada yang mendukung dirinya. Mereka berempat kembali berjalan di tempat mereka duduk tadi.


"Eh nanti malam kemana nih enaknya?" tanya Dino kepada Ale dan Tio.


"Berhubung mobilmu baru Din, gimana kalau kita coba buat balapan. Sejauh mana kecepatan mobilmu?" ajak Ale yang melihat ke arah Rivan yang sedang termenung memikirkan masalahnya dengan Kinan.


Tio merangkul Rivan sambil berkata "Mobilmu sama mobilnya Rivan masih bagusan mobilnya Rivan Din? Pasti menang mobil Rivanlah." Rivan disitu hanya memberi setengah senyumnya. Dia tidak terlalu memperdulikan omongan mereka.


"Enak saja, mobilku ini juga bagus. Yang penting itu pengendaranya." ejek Dino.


"Ya sudah begini saja, bagaimana kalau mobil kalian kita adu?" Tio menunjuk Rivan dan Dino.


"Oke ayo siapa takut!" jawab Dino.


"Bagaimana nih Van mobilmu lebih bagus, aku yakin kamu yang menang Van? Masak tidak berani lawan mobil Dino yang levelnya dibawah mobilmu." Tio berusaha membuat Rivan mau.


"Gini saja, kalau aku kalah aku akan memberikan mobilku kepadamu Van." ucap Dino.


Sontak membuat Rivan kaget. Rayuan Tio pun juga susah untuk ditolak. Akhirnya Rivan menyetujui tawaran Dino.

__ADS_1


__ADS_2