Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Pertunangan


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Nayla tengah duduk termenung di bangku taman depan kampusnya.Sebenarnya demam Nayla belum sembuh sepenuhnya.Tapi ia tetap memaksa untuk pergi ke kampus.Tentu saja alasannya adalah untuk sedikit menenangkan hatinya karena perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tuanya.Apa lagi kini pertunangannya di percepat menjadi hari ini.Mengingat hal itu Nayla merasa sedikit frustasi.Rasa kecewa kembali muncul ketika ia tahu,kedua orangtuanya merencanakan pertunangannya tanpa meminta pendapat darinya.Terlebih lagi ia sendiri tidak tahu siapa yang akan menjadi calonnya.Apakah ia baik atau tidak.


Kini Nayla hanya bisa pasrah mengikuti kehendak dari kedua orangtuanya.Dia hanya bisa berharap semoga kedepannya nanti, semua akan baik-baik saja.


Semenjak kejadian itu pun Nayla berubah menjadi pendiam.Seorang Nayla yang biasanya ceria kini seolah tak pernah ada.Perubahannya itu pun juga dirasakan oleh sahabatnya Rita.Tentu saja perubahan Nayla itu membuat Rita heran.Ingin ia bertanya kepada Nayla.Tapi ia urungkan.Mengingat Nayla yang tidak pernah menceritakan masalah yang ia hadapi kepada orang lain dan lebih memilih untuk dipendam sendiri.Bukan karena ia tidak percaya siapa pun.Tapi karena Nayla bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah,apalagi masalah yang bersifat pribadi.Dan Rita dapat memakluminya,karena menurutnya setiap manusia memiliki pemikirannya masing-masing.


Seperti sekarang ini.Rita bahkan tidak bertanya apapun kepada Nayla.Ia terlihat setia berada di samping sahabatnya yang terlihat seperti mayat hidup itu.Kadang Rita membanyolkan beragam candaan kepada Nayla meskipun tak mendapatkan reaksi apapun.


"Malam ini gue mau tunangan"ujar Nayla akhirnya.Namun pandangannya terlihat kosong menatap ke depan.


"Haah…"Rita terbengong mendengar perkataan Nayla.


"Maksud lo…"tanya Rita memastikan takut bahwa ia hanya salah dengar.


"Malam ini gue mau tunangan"ulang Nayla masih dengan raut wajah yang sama.


"Jangan lupa dateng jam 8 nanti"ujar Nayla sambil berlalu meninggalkan Rita yang terlihat sedang mencerna apa yang dikatakan olehnya.


"Bentar Nay"


"Lo berhutang penjelasan sama gue"ujar Rita sambil memegang tangan Nayla.


"Gue gak ada waktu"


"Gue harus cepet-cepet pulang"jawab Nayla sambil melepaskan tangannya dari genggaman Rita.Lalu berjalan pergi meninggalkan Rita yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya"gumam Rita pada diri sendiri.


"Gue harus tanya sama bang Nathan"ujar Rita sambil berlari menuju mobilnya.


Malam harinya.Acara pertunangan pun di laksanakan di kediaman Adinata.Halaman belakang rumah kini telah di sulap dengan berbagai dekorasi bunga mawar berwarna pink.Di tambah perpaduan warna putih menjadikan suasananya terasa manis.Acaranya pun hanya di gelar secara sederhana.Dan hanya mengundang beberapa sanak keluarga dan beberapa kolega bisnis dari kedua belah pihak.


Kini Nayla sedang berada di kamarnya.Ia sedang di dandani oleh penata rias yang sudah di siapkan oleh sang bunda.Gaun malam setinggi lutut berwarna putih terlihat sangat pas di tubuh Nayla yang mungil.Make upnya yang natural membuat Nayla terlihat bak seorang putri.Rambutnya yang panjang pun kini di gelung dan meninggalkan sedikit anakan rambut di bagian depan untuk menambah kesan naturalnya.Tak lupa sepasang sepatu hak tinggi dengan warna senada membuat Nayla terlihat lebih tinggi dari biasanya.

__ADS_1


Melly masuk ke dalam kamar Nayla di ikuti oleh Rita di belakangnya.Setelah mendengar cerita dari Nathan.Rita sedikit memahami permasalahan yang sedang di hadapi oleh sahabatnya itu.


"Gimana mbak udah selesai"tanya Melly kepada si penata rias.


"Ohh iya Bu udah selesai semua"jawab penata rias itu.


"Nayla sayang"


"Kita turun sekarang ya"


"Bentar lagi acaranya di mulai"ujar Melly kepada Nayla.Nayla hanya membalas dengan anggukan.Ia lalu berjalan keluar diapit oleh sang bunda dan juga Rita sahabatnya.Pandangannya terlihat kosong kedepan.Ia tidak menyesali keputusannya.Tapi lebih pada rasa kecewa.Kecewa kepada orangtuanya.Mereka bahkan tidak bertanya bagaimana perasaan Nayla mengenai perjodohan ini.Sedangkan Rita hanya bisa memandang iba kepada sahabatnya itu.Ia dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Nayla.Tapi ia tak bisa melakukan apa pun untuk membantu sahabatnya itu.Ia hanya bisa berdoa semoga Nayla bisa mendapatkan kebahagiaannya nanti.


Mereka bertiga memasuki tempat acara.Tatapan penuh kekaguman menyambut Nayla yang terlihat menundukkan pandangannya.Penampilan Nayla yang biasanya tomboy kini berubah drastis.Dan kini ia terlihat sangat cantik dan feminim.Bahkan penampilannya tak luput dari pandangan seseorang orang menatapnya tanpa berkedip.Yang tak lain adalah calon tunangan Nayla.Ia begitu terpesona dan tanpa sadar ia mengulas senyuman tipis di bibirnya.


Rita yang tengah mengantar Nayla pun di buat terkejut oleh seseorang.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang terlihat tampan.


"Loh kok pak Zain bisa ada disini"


"Apa dia keluarga dari calon tunangan Nayla ya"tanya Rita pada diri sendiri.


"Samperin ah siapa tau jodoh…Hihi…"


"Hallo Pak Zain"sapa Rita dengan nada gembira.


Mendengar ada yang memanggilnya.Zain menoleh kesamping dan terlihat Rita yang tersenyum ke arahnya.Zain hanya menatap datar kepada mahasiswinya itu.


"Kok Bapak bisa ada disini"


"Bapak keluarganya calon tunangan Nayla ya"


"Atau salah satu kolega bisnis mereka"tanya Rita kepada Zain.Namun tidak di hiraukan olehnya.Pandangannya kembali tertuju pada sosok Nayla.Merasa tidak dihiraukan sama sekali.Rita merasa sedikit kesal.Ia mengerucutkan bibirnya.Lalu mengikuti arah pandangan Zain yang ternyata sedang menatap Nayla.Melihat hal itu timbul rasa ingin menggoda Zain yang terlihat sangat terpesona kepada sahabatnya itu.


"Nayla cantik banget ya pak"ujar Rita kepada Zain dan dibalas anggukan.


"Tapi sayang bentar lagi jadi calon orang"ujar Rita sambil tertawa.Zain hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Rita.Bukan karena merasa sedih tapi merasa lucu.Karena Rita tidak tahu siapa yang akan menjadi calon dari tunangan Nayla.Ia jadi berpikir apa Nayla juga tidak tahu siapa yang akan menjadi calonnya.

__ADS_1


"Perhatian semuanya"ujar Wira kepada para tamu undangan.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada semuanya karena sudah mau datang keacara pertunangan putri saya Nayla"


"Perkenalkan ini putri saya Nayla shafira Adinata dan dia akan bertunangan dengan salah satu putra dari keluarga Robert"ujar Wira sambil memperkenalkan Nayla dan di beri tepuk tangan oleh para tamu undangan.


"Tuhkan bener dugaan saya"


"Calonnya Nayla itu keluarga bapakkan"


"Buktinya marga kalian sama"ujar Rita tanpa menoleh ke arah Zain.


"San bisa kita mulai sekarang"tanya Wira kepada Santi.


"Iya Kak,bentar aku panggil anakku dulu"


"Nak…Sini…Acaranya mau di mulai"panggil Santi ke arah sang putra.


"Itu pasti camernya Nayla"


"Kayaknya lagi manggil anaknya tuh"


"Tapi kok arahnya kesini"


"Apa jangan-jangan di belakang ya"ucap Rita sambil menoleh kebelakang.


"Gak ada siapa-siapa di belakang"


"Pak Zain bapak liat…"


"Ehh…Kemana pak Zain"ujar Rita sambil menoleh kesana-kemari mencari keberadaan dosennya itu.Lalu matanya tertuju pada Zain yang terlihat berjalan ke arah Nayla berada.


"Loh pak Zain ngapain kesana"


"Ehh…Bentar-bentar"

__ADS_1


"Jangan-jangan pak Zain…"


"Pak Zain tunangan Naylaa…"Rita menutup mulutnya tak percaya.


__ADS_2