Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Terciduk


__ADS_3

Sekitar 25 menit mereka bertiga pun sampai di kampus.


"Bang,Nay ke dalam dulu ya"ujar Nayla seraya mencium punggung tangan Nathan.


"Belajar yang rajin,jangan bikin ulah terus"ujar Nathan menasehati Nayla.


"Iya abaang…"jawab Nayla sembari keluar dari dalam mobil.Di ikuti oleh Rita yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.


"Ekhemm"


"Baby…"panggil Nathan kepada Nayla.


"Kenapa bang"tanya Nayla yang terlihat kembali menoleh ke arah Nathan.


"Kamu gak ada yang kelupaan gitu"tanya Nathan kepada Nayla.Nayla mengerutkan keningnya bingung.


"Kayaknya gak ada deh Bang"


"Semuanya sudah Nay bawa dalem tas"jawab Nayla sambil memeriksa tasnya kembali.


"Ck…Maksud Abang ketinggalannya yang ini nih"ujar Nathan sambil menyodorkan pipinya ke arah Nayla.


"Hehe…Bilang dong dari tadi"


"Nay mana paham kalo cuma di kasih kode doang"ujar Nayla sembari mencium pipi Nathan.


"Kalian sweet banget sih,Rita kan jadi iri…"ujar Rita sambil memanyunkam bibirnya.


"Kenapa Rit"


"Kamu mau juga"tanya Nathan kepada Rita.


"Mauu…"jawab Rita sembari mendekat ke arah Nathan sambil memajukan bibirnya.


Huuff…


"Jangan ngarep"ujar Nayla membungkam mulut Rita menggunakan tangannya.


"Iihh…Rese banget sih lo"


"Fuihh…Mana tangan lo asin lagi"ujar Rita cemberut.


"Hehe…Tadi gue ngupil,makanya asin"seloroh Nayla sambil tertawa.Lalu berlari meninggalkan Rita yang terlihat mengamuk.


"NAYLAAA…"teriak Rita sambil mengejar Nayla yang berlari ke dalam kampus.Sedangkan Nathan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik dan sahabatnya itu.


Nathan menjalankan mobilnya menuju kantor.Namun baru beberapa meter.Tiba-tiba…


Brukk…


"Astagfirullah"Nathan mengerem mobilnya mendadak karena merasa telah menambrak sesuatu.Dengan sedikit khawatir Nathan keluar dari mobil.Terlihat seorang gadis berpenampilan culun yang sedang mengelus lututnya yang terluka.


"Kamu gak papa"tanya Nathan khawatir kepada gadis itu.


"Iya gak papa kok"jawab gadis itu sambil tersenyum ke arah Nathan.Nathan begitu terpesona melihat senyuman gadis dihadapannya itu.


"Cantik"ucap Nathan tanpa sadar.


"Ehh…"ucapan Nathan membuat gadis itu salah tingkah.


"Eh…Maaf…Maksudnya itu…Anu…emm…"

__ADS_1


"Duh…Ngomong apa sih gue "ujar Nathan salah tingkah.Baru kali ini ia merasa grogi ketika berhadapan dengan seorang perempuan.


"Anu…Saya minta maaf udah nabrak kamu "


"Saya gak sengaja"ujar Nathan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya gak papa,saya juga yang salah nyebrang sembarangan,gak liat kanan kiri"jawab gadis itu sambil tersenyum.


"Lutut kamu luka"


"Sini biar saya anterin ke rumah sakit"ujar Nathan kepada gadis itu.


"Ehh…Gak papa kok"


"Ini cuma luka kecil"


"Dikasih obat merah juga bakal sembuh nanti"jawab gadis itu.


"Beneran gak papa atau saya anterin ke apotik aja"tawar Nathan lagi.


"Nggak…Gak usah"


"Saya punya kok obatnya"


"Nanti saya obatin sendiri"jawab gadis itu sungkan.


"Beneran nih gak papa"tanya Nathan lagi.Ia merasa tidak enak.Gadis itu hanya mengangguk tanda mengiyakan.


"Yaudah saya permisi dulu"ujar gadis itu berpamitan kepada Nathan.


"Iya"


"Sekali lagi saya minta maaf"ujar Nathan sambil menangkup kedua tangannya di dada.


"Dia Cantik"


"Tapi sayang penampilannya menutupi kecantikannya"gumam Nathan pada diri sendiri.


'Kenapa gue ngerasa gak asing ya sama senyumannya'tanya Nathan dalam hati.


"Senyumannya mirip sama si gadis loli itu"gumam Nathan.


"Haah…Mikir apa sih gue"


"Itu gak mungkin dia"ujar Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya.Ia lalu masuk kedalam mobil dan menjalankanya.


Sementara itu…


"Naylaa…Sini lo…"teriak Rita kepada Nayla yang terus berlari,menghindari amukan Rita.Mereka terus berlari-lari hingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.


Nayla yang merasa lelah ingin menghentikan larinya.Namun ketika ia menoleh kebelakang.Terlihat Rita yang tengah berlari menyusulnya dengan penuh kemarahan.Dan mau tak mau Nayla terpaksa kembali berlari.Ia terus berlari dengan nafas ngos-ngosan.Lalu ia melihat sebuah pintu ruangan yang terbuka.Tanpa pikir panjang Nayla langsung masuk ke sana dan menutup pintunya.


"Haaahhh…Gila si Rita"


"Kagak capek apa ngejar-ngejar gue dari tadi"ucap Nayla dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Untung aja gue larinya kenceng"


"Kalo nggak…Bisa abis gue di tangan si Rita"gumam Nayla pada diri sendiri.


"Haaahhh…Capeknya…"

__ADS_1


"Mending gue ngaso dulu disini"ujar Nayla sambil mengipasi wajahnya menggunakan tangan.


Tak tak tak


Terdengar suara langkah kaki menuju ke arah ruangan tersebut.Nayla yang panik segera mencari tempat untuk bersembunyi.Ia lalu bersembunyi di bawah meja yang ada di ruangan itu.


Ceklek


Pintu terbuka lalu masuk seorang pria yang tak lain adalah Zain.Dan ya…Ruangan yang Nayla masuki adalah ruang dosen.


Dan sialnya lagi ternyata meja tempat Nayla bersembunyi adalah mejanya Zain.


Zain meletakkan tasnya ke atas mejanya.Dan ketika Zain hendak duduk ada seseorang yang menyapanya.


"Selamat pagi pak Zain"Sapa orang itu yang tak adalah seorang wanita.Ia adalah Devi salah satu dosen yang juga mengajar di sana.Devi di kenal sebagai dosen yang galak dan juga sombong.Namum ia juga terkenal centil dan suka menggoda pria manapun yang menarik perhatiannya dan salah satunya adalah Zain.


"Ya pagi"jawab Zain datar.


"Pak Zain habis ngajar nanti sibuk gak"


"Kalo gak sibuk,kita ngedate yuk Pak"ujar Devi dengan nada centil.Ia lalu mendekati Zain yang terlihat duduk dengan tenang sembari membuka map berisikan tugas para murid.


"Saya sibuk"jawab Zain datar tanpa menoleh ke arah Devi yang terlihat kesal.


"Ohh…Gitu ya…Gimana kalo lain hari"bujuk Devi sambil menyentuh tangan Zain.Mendapat perlakuan seperti itu,Zain spontan menghempas tangan Devi.


"Jangan sentuh saya"ujar Zain kepada Devi.Wajahnya terlihat dingin menatap Devi yang terlihat gemetar.


"Kalau tidak ada hal yang penting,lebih baik anda keluar"ujar Zain mengusir Devi


"Saya tidak suka membuang-buang waktu saya hanya untuk membahas sesuatu yang tidak penting"sambung Zain dengan wajah dingin dan datar.


Devi yang mendapatkan perlakuan sepertu itu.Menghentak-hentakan kakinya sembari keluar dari ruangan tersebut.Ia terus menggerutu kesal karena Zain yang menolaknya secara terang-terangan.Untung saja para dosen yang lain sedang tidak ada di ruangan itu.Kalau tidak ia bisa malu setengah mati.Namun ia tidak tahu saja, bahwa ada seseorang yang mendengarnya.


'Pffft emang enak'


'Makanya jangan kecentilan'gumam Nayla dalam hati.Ia berusaha untuk menahan tawanya.


"Dasar lampir"


"Berani-berani megang tangan saya"


"Harus cepet-cepet di bersihin nih"


"Nanti virusnya nyebar lagi"ujar Zain sembari bergidik.Ia mengambil handsanitizer dan menyemprotkannya pada kedua telapak tangannya.Nayla yang mendengar itu tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Bwahahaha…"pecah sudah tawa Nayla.


"Siapa itu"teriak Zain terkejut,ia lalu menilik ke bawah meja kerjanya.Dan terlihat Nayla yang berusaha menghentikan tawanya.Zain menarik Nayla keluar dengar menjewer telinga Nayla.


"Aduduh…Lepasin Pak sakit"ujar Nayla meringis.


"Ngapain kamu dibawah meja saya"tanya Zain tanpa melepas jewerannya dari telinga Nayla.


"Aduuh…Lepasin dulu Pak baru saya jawab"ujar Nayla sambil memelas.Dan membuat Zain melepaskan jewerannya.


Setelah terlepas.Bukannya menjawab pertanyaan Zain.Nayla langsung berlari keluar dari ruangan tersebut tanpa memperdulikan Zain yang terus memanggil-manggil namanya.


Nayla terus berlari hingga tanpa sadar menabrak seseorang di depannya.


"Disini lo ternyata"ujar Rita sambil melotot ke arah Nayla.Lalu menggelitiki Nayla tanpa ampun.

__ADS_1


"Whahaha…Ampuun Riit…Ampuunn…"Nayla terus tertawa karena merasa geli.Ia berusaha melepaskam diri dari Rita namun tidak berhasil.


__ADS_2