Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Siapa?


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain terlihat Zain yang sedang melamun.Ia kembali teringat kejadian kemarin malam.Bayangan wajah Nayla terlintas begitu saja di kepalanya.Dan hal itu membuat jantungnya berdegup sangat kencang.


Zain mengambil ponselnya lalu menekan fitur galeri.Ia lalu menggeser foto demi foto dan terpampanglah sebuah potret sepasang pengantin.


Di dalam foto tersebut.Nampak si wanita menampilkan wajah yang cemberut.Matanya terlihat sedikit membengkak karena menangis.Sedangkan di sampingnya, terlihat si pria berwajah datar sedang menyambut tangan seorang penghulu.Dan ya…Itu adalah potret Zain dan Nayla saat mereka berdua menikah.Zain sengaja meminta seseorang untuk mengambil momen tersebut sebagai bukti untuk orangtuanya.Namun tanpa bukti itu ternyata Santi langsung percaya dan menyetujuinya.


Zain menatap foto tersebut.Ia terkekeh geli begitu melihat ekspresi Nayla yang menurutnya sangat lucu.Ia mengakui bahwa dirinya memang sudah tertarik dengan Nayla saat pertama kali ia bertemu.Menurutnya Nayla adalah gadis yang unik.Bagaimana tidak,dari sekian banyaknya perempuan yang ia temui,hanya Nayla yang menolak dirinya.Dan bahkan terkesan sering menjauhinya ketika di kampus.


Bukan hanya itu alasan ia tertarik kepada Nayla.Sikap Nayla yang bebas dan terkesan bar-bar menjadi daya tarik tersendiri bagi Zain.Apa lagi ketika Nayla sedang marah atau cemberut,ia akan terlihat sangat menggemaskan.Di tambah pipi Nayla yang chubby semakin menambah daya keimutannya.


Liam menatap Zain dengan wajah bingung.Sedari tadi ia selalu memperhatikan tingkah tuannya itu.Terkadang Zain terlihat melamun,kadang tersenyum bahkan tertawa.Dan hal itu membuat ia merasa sangat aneh.Tidak biasanya tuannya itu bersikap seperti itu.Ingin ia bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.Namun mengingat posisinya yang hanya seorang asisten,ia pun lebih memilih diam.


"Tuan"panggil Liam kepada Zain.Namun yang di panggil hanya diam saja.Zain terlihat masih asik dalam lamunannya.


Liam menggelengkan kepalanya.Ia lalu menepuk pundak Zain.


Tepukan Liam membuat Zain tersentak.Ia lalu menoleh ke arah asistennya itu dengan wajah kesal.


"Ada apa"Zain menatap Liam dengan sorot mata yang tajam.Karena di tatap sedemikin rupa oleh Zain membuat Liam menelan salivanya kasar.


"A-anu Tuan"


"Lima menit lagi kita harus pergi ke ruang rapat"Sebisa mungkin Liam mencoba untuk tidak gugup.Meskipun ia sudah menjadi asisten Zain selama bertahun-tahun.Tapi tetap saja ia masih bisa merasakan gugup ketika di tatap seperti itu oleh Zain.


"Ck…"Zain berdecak kesal.Ia bangun dari duduknya dan berjalan begitu saja meninggalkan Liam.Liam mengikuti langkah bosnya itu dengan sedikit terburu-buru.


"Tuan"


"Setelah rapat nanti kita harus bertemu klein di restoran xx"


"Hmm"Zain hanya berdeham singkat.Meskipun begitu ada nada tidak suka dari cara bicaranya.Dan hal itu di sadari oleh Liam.Liam hanya menghela nafas,sepertinya ia sudah membuat tuannya itu kesal.

__ADS_1


Sedangkan di tempat Nayla berada.Terlihat wajah Rita yang masih cemberut.


"Yok naik"Nayla memasang helmnya.Ia lalu memberikan helm lain kepada Rita.Rita menerima helm tersebut dengan wajah lesu.Setelah memakainya Rita langsung duduk di jok bagian belakang.Nayla menoleh ke arah Rita yang terlihat kurang bersemangat.Ia terkekeh geli melihat wajah sahabatnya itu.Setelah di rasa siap,Nayla menyalakan motornya dan pergi dari sana.


Sekitar 20 menit,mereka pun ketempat yang mereka tuju.Setelah memarkirkan motornya.Nayla langsung turun di ikuti oleh Rita.Rita menatap bingung ke arah restoran yang ada di depannya.


"Kita ngapain kesini?"tanya Rita kepada Nayla.


"Mau dangdutan"


"Ya mau makanlah"


"Katanya pengen di traktir"jawab Nayla enteng.


"Lah tadi kata lo mau traktir gue cilok"tanya Rita memastikan.Ia tidak ingin berharap lebih, takut Nayla hanya mengerjainya.


"Yaelah gue cuma becanda kali Rit"


"Emang lo mau kena usus buntu gara-gara kebanyakan makan cilok"


"Udah ah gak usah banyak ngemeng"Nayla menarik tangan Rita untuk masuk.


Sesampainya di dalam.Nayla melirik sebuah meja kosong di dekat jendela dan duduk di sana.


"Nih pesen sendiri"Nayla menyerahkan sebuah buku menu kepada Rita.Rita membuka buku menu.Namun nominal harga dalam menu tersebut membuat ia terbelalak.


"Waaahh gilak"


"Mahal amat"Rita menutup mulutnya.Meskipun ia berasal dari keluarga kaya.Tetap saja Rita bukan tipe orang yang suka pergi ke restoran mahal.Ia lebih suka pergi ke lesehan di pinggir jalan,karena menurutnya,makanan di sana bukan hanya murah tapi sangat pas dengan lidahnya.


"Kenapa lo"

__ADS_1


"Kek gak pernah makan di restoran aja?"Nayla mengangkat alisnya.


"Emang sih gue juga sering ke restoran kek gini"


"Tapi itu kan bareng bokap"


"Terus yang bayar juga bukan gue"Rita kembali melihat buku menu.


"Ini nasi goreng aja harganya 50 rb"


"Kalo di lesahan mah paling cuma 15 rb plus minumannya lagi" mendengar perkataan Rita,Nayla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Udah ah kagak usah di liat lagi harganya"


"Mending lo pesen makanan yang lo mau"


"Gue yang traktir"Nayla menepuk dadanya.


"Beneran"


"Wah kalo gitu mah"


"Gue kagak usah ragu lagi"Rita membolak-balik buku menu dengan semangat.Sedangkan Nayla hanya memutar bola matanya malas.


Setelah selesai memesan.Nayla dan Rita hanya duduk sambil sesekali bercanda gurau.Mereka terlihat asik tertawa, tanpa peduli orang-orang di sekitar yang tengah menatap mereka dengan tatapan tidak suka.Mereka merasa terganggu dengan keberadaan Nayla dan juga Rita.


Namun bukan Nayla dan Rita namanya kalau mereka peduli.Mereka berdua terlihat santai menanggapi tatapan sinis orang-orang kepada mereka.


Dan apa yang di lakukan oleh mereka berdua tidak luput dari pandangan seseorang.Orang tersebut nampak memandang remeh ke arah Nayla dan juga Rita.Ia lalu berjalan mendekat ke arah meja Nayla dengan senyum sinis.


"Hey kalian"

__ADS_1


"Apa kabar?"Saapan orang tersebut membuat Nayla dan Rita menoleh.Nayla mengepalkan tangannya begitu melihat siapa orang tersebut.


__ADS_2