
Setelah berhasil kabur dari Rita.Nayla memutuskan untuk pulang ke rumah.Ia langsung merebahkan tubuhnya begitu saja ke atas ranjang.Nayla menghela nafasnya.Tubuhnya terasa lelah begitu juga dengan otaknya.
Di sepanjang perjalanan pulang.Nayla tidak henti-hentinya memikirkan perkataan Rita sebelumnya mengenai ketidaknormalan Zain.Ia sendiri bingung harus bagaimana.Hanya ada satu cara untuk membuktikan kebenarannya,ia harus melakukan tes kepada Zain seperti yang dikatakan oleh Rita.
Namun Nayla merasa sedikit ragu.
Bagaimana jika yang dikatakan Rita itu benar.Bahwa Zain itu seorang yang impoten atau g*y.Nayla tidak bisa membayangkan harus hidup bersama pria seperti itu.
Namun,bagaimana ternyata itu semua tidak benar dan Zain adalah pria yang normal.Bukankah akan berbahaya untuknya jika Zain sampai menyentuhnya.Walaupun ia dan Zain sudah sah menjadi sepasang suami istri.Tetap saja Nayla belum siap melakukan hubungan sejauh itu tanpa ada cinta di antara mereka.Jangan sampai hanya karena rasa penasarannya membuat ia kehilangan keper*wanannya.
Di perusahaan
Terlihat Zain sedang sibuk berkutat dengan laptop yang ada di hadapannya.Terkadang ia juga terlihat membolak-balik map yang terlihat menumpuk.
Zain menghentikan sejenak pekerjaannya lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya itu.Terlihat Zain memijat pelipisnya, merasa pusing dengan banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan.Entah itu pekerjaan di kantor atau di kampus semua terasa berat bagi Zain.Apalagi kini bebannya bertambah satu,yaitu harus memberi sang mama seorang cucu.
Tadi pagi Zain di buat pusing oleh permintaan dari Santi yang memintanya untuk segera memiliki anak.Dan tentu saja Zain langsung menolak.Bukan karena ia tidak mampu tapi karena hal itu terlalu cepat menurutnya.Terlebih ia dan Nayla masih belum saling mengenal.Namun karena Santi yang terus merengek dan mengancamnya dengan berbagai ancaman.Akhirnya Zain hanya bisa mengiyakan itu semua.Untunglah saat itu Nayla sudah berangkat ke kampus.Ia tak bisa membayangkan ekspresi Nayla jika mendengar sendiri permintaan dari Santi.
Malam hari
Setelah berpikir masak-masak,Nayla memutuskan untuk melakukan apa yang di katakan oleh Rita untuk mengetes Zain.Pada akhirnya, ketakutannya mampu di kalahkan oleh rasa penasarannya.
Nayla menatap dirinya di cermin.Terlihat ia memakai kembali lingerie yang pernah ia pakai sebelumnya.Tubuhnya terekspos sempurna di balik lingerie tersebut.Namun bedanya,kali ini Nayla memakai bh dan juga cd berwarna senada.
"Oke Nayla…Lo harus yakin…"
"Jangan gugup…"
"Tarik nafas…Hembus…"Nayla menarik nafasnya berulang-ulang.Meyakinkan diri sendiri untuk tidak gugup.
Setelah di rasa cukup.Nayla lalu duduk di sofa untuk menunggu Zain pulang.Namun sudah dua jam lebih ia menunggu.Tak ada sama sekali tanda-tanda Zain akan pulang.Nayla melirik ke arah jam dinding.Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Apa dia lembur ya?"tanya Nayla pada diri sendiri.Ia beranjak dari sofa dan mengambil ponselnya.
"Apa gue telpon aja ya"Nayla mengotak-atik ponselnya.
"Eh…Gue kan gak punya nomernya"Nayla menepuk dahinya sendiri.Ia baru ingat bahwa ia tidak memiliki nomer Zain.
"Tunggu lagi aja deh"
"Siapa tau bentar lagi pulang"ujar Nayla sembari duduk kembali di sofa.
30 menit kemudian…
"Duh…Kok belum dateng juga sih"
"Udah hampir tengah malam juga"
"Mana perut gue laper lagi"Gerutu Nayla sambil mengelus perutnya yang berbunyi.
"Bodo amat ah…"
"Mau dia g*y atau bukan gue gak peduli"
"Mending gue makan"Nayla beranjak dari duduknya dan pergi ke ruang ganti.
Setelah mengganti pakaiannya Nayla lalu pergi menuju dapur.Suasana dapur yang gelap dan sunyi membuat Nayla sedikit merinding.Namun karena perutnya yang lapar membuat ia mengesampingkan rasa takutnya.
Nayla mulai memasak.Karena sudah terlalu malam,ia memutuskan untuk memasak mie instan.Namun bukan Nayla namanya jika makan dengan porsi orang normal.Tentu saja ia memasak dua porsi sekaligus di tambah telur dan sosis sebagai toppingnya.
"Beeuuhh…Emang ya yang namanya makan emang paling the best lah…"Nayla memakan mie buatannya dengan lahap.Namun baru beberepa suapan,tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ruang tamu.Suara tersebut membuat Nayla menhentikan makannya sejenak.
"Apaan tuh yang jatoh?"Nayla beranjak dari duduknya dan menilik sebentar ke arah ruang tamu.
__ADS_1
Terlihat sebuah bayangan seseorang yang terlihat mengendap-ngendap.Nayla memicingkan matanya.Ruangan yang gelap membuat Nayla susah untuk melihat dengan jelas siapa orang tersebut.
"Siapa tuh?"
"Apa pak Zain ya"
"Tapi,masa iya pak Zain jalannya ngendap-ngendap gitu"
"Kayak maling aja"
"Eh…Atau jangan-jangan bener-bener maling lagi"
"Waahh…Gak bisa di biarin nih"
"Gue harus bertindak"Nayla kembali ke dapur.Terlihat ia seperti mencari sesuatu.
"Sipp…Pake ini aja"
"Biar mampus tuh maling"Nayla mengambil sebuah teplon dan pergi menuju ruang tamu.Ia berjalan mengendap-endap mendekati orang tersebut dari arah belakang.
Setelah di rasa cukup dekat,Nayla mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mencoba memukul orang tersebut menggunakan teplon yang ia bawa.
"Hiyaatt…Rasain nih…"Nayla mengayunkan teplon di tangannya.Namun siapa sangka orang tersebut mampu menghindarinya,bahkan terlihat ia mencengkeram tangan Nayla.
Perbuatan orang tersebut membuat Nayla kaget.Ia mencoba meronta sekuat tenaga agar terbebas dari cengkraman orang tersebut.
"Lepasin gak…"
"Dasar maling gak ada akhlak…"
"Kalau mau kerja cari yang halal dong"
"Orang lain capek-capek kerja"
"Lo mau enaknya aja ngambilin harta orang"Nayla berdumel sembari terus mencoba melepaskan dirinya cengkraman orang tersebut.Perkataan Nayla membuat orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya"
"Kamu mau bikin satu rumah pada bangun semua"ujar orang tersebut sambil menaruh telunjuknya di bibir Nayla.Nayla menghentikan tindakannya begitu mendengar suara orang yang ia kenal.
"Pak Zain…"
"Oalaah…Saya kira tadi maling"Nayla menghela napas lega.
"Ck…Mana ada maling bisa masuk ke sini"
"Kamu gak tau apa penjagaan di sini itu super ketat"
"Jangankan maling semut aja gak bakal bisa masuk"Zain memutar bola matanya malas.
"Untung aja,saya bisa hindarin serangan kamu"
"Kalo gak…Mungkin saya udah di rumah sakit sekarang"sambung Zain sambil menatap tajam ke arah Nayla.Yang di tatap hanya nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Hehe…Maaf pak"
"Saya mana tau kalo ternyata itu bapak"
"Habisnya bapak sih…"
"Jalannya ngendap-ngendap kayak maling gitu"ucap Nayla kepada Zain.
"Ck…Saya itu lagi nyari hp saya"
__ADS_1
"Tadi itu jatoh di sini"
"Makanya saya nunduk-nunduk dari tadi"Nayla hanya manggut-manggut mendengar perkataan Zain.
"Kamu juga"
"Kenapa jam segini belum tidur?"sambung Zain lagi.
"Hehe…Perut saya laper pak"
"Makanya saya ke dapur bentar tadi, mau nyari makan"ujar Nayla cengengesan.
"Ck…Dasar"Zain melengos begitu saja dari hadapan Nayla dan pergi menuju dapur.Terlihat Nayla mengikuti Zain dari belakang.
"Ngapain kamu ngikutin saya"
"Cepet tidur sana"usir Zain namun Nayla tidak bergeming sama sekali.
"Kenapa diem?"
"Kamu mau saya anterin ke kamar"
"Ck…Udah gede juga masa ke kamar aja pake di anterin segala"
"Dasar manja"Nayla mendengus kesal mendengar perkataan Zain.
"Ciiihh"
"Siapa juga yang ngikutin situ"
"Orang saya mau lanjut makan"Nayla melengos begitu saja dari hadapan Zain.Ia lalu duduk kembali dan memakan mienya.Zain terdiam mendengar perkataan Nayla.Ia meringis malu karena sudah salah mengira.
Nayla menoleh ke arah Zain yang terlihat diam saja.
"Kenapa diem?"
"Malu ya…"
"Hahaha…Makanya jadi orang jangan suka kegeer-an"
"Malu sendirikan jadinya"Nayla tertawa terbahak-bahak.Sedangkan Zain hanya memalingkan wajahnya karena malu.
Uhuk uhuk
Nayla tersedak seketika.Ia menepuk dadanya berkali-kali lalu meminum segelas air yang ada di sampingnya sampai tandas tak bersisa.Zain yang melihat itu spontan mengelus punggung Nayla.
"Ck…Makanya jangan suka ngeledek suami"
"Kualatkan jadinya"Zain terus mengelus punggung Nayla.Terlihat Nayla masih mengatur napasnya yang sempat ngos-ngosan.
Setelah di rasa lega.Ia lalu menoleh ke arah Zain dengan tatapan yang sulit di artikan.Entah kenapa setiap ia mendengar kata suami dari mulut Zain membuat hatinya sedikit terenyuh.
Zain juga membalas tatapan Nayla dengan wajah yang datar.Meskipun begitu tersirat sebuah kehangatan dimatanya.Tatapan mata tersebut mampu membuat Nayla larut dalam lamunan.Tanpa sadar Nayla mengulas senyum di bibirnya.
Melihat Nayla yang tersenyum.Membuat hati Zain terasa menghangat.Entah kenapa senyuman Nayla mampu membuat ia merasakan kedamaian.Zain mengelus pipi Nayla dan menatapnya dengan intens.Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla dan…
Cup
Sebuah ciuman mendarat mulus di bibir Nayla.
Walau hanya beberapa detik namun siapa sangka ciuman tersebut justru menjadi sebuah awal dari kisah cinta mereka.
...*Maaf ya readers author baru bisa up sekarang.Entah kenapa sinyal di tempat author sekarang ilang terus.Padahal dulu gak gitu.Kalo gak ada sinyal jangankan buat up mau masuk akun aja susahnya minta ampun😌...
__ADS_1
......Jadi harap maklum ya kalo author jarang up.Bukan karena gak mau tapi gak ada sinyal breeh…......
......Yaudah sampai di sini dulu ya…Author ngantuk mo bobo dulu.Nanti abis Dzuhur author up lagi.Kalo ada sinyal hehe😂*......