
Nayla mempercepat langkahnya.Hari ini ia sedikit terlambat karena Zain tidak membangunkannya seperti biasa.Entah kenapa,ia merasa Zain seperti menghindarinya semenjak kejadian beberapa hari yang lalu.Namun ia tak ambil pusing.Mungkin Zain memang benar-benar sibuk hingga tidak sempat membangunkan dirinya.
Nayla sampai di kelasnya.Terlihat ruang kelas sudah mulah ramai.Ia merasa lega ternyata pelajaran di kelas belum di mulai.Ia lalu melangkah masuk dan duduk di kursinya.
Rita menoleh ke arah Nayla yang terlihat sedikit ngos-ngosan.
"Napa luh"
"Tumben jam segini baru sampe"tanya Rita kepada Nayla yang masih mencoba mengatur napasnya.
"Gue kesiangan coyy…"
"Alarm gue ngambek tadi pagi"ucap Nayla asal sembari menyandarnya tubuhnya pada bahu kursi.
Mendengar itu Rita mengerutkan keningnya.Namun belum sempat ia bertanya,seorang dosen masuk di ikuti oleh seseorang yang sangat mereka kenali.
Nayla dan Rita menutup mulutnya tak percaya.Baru kemarin mereka bertemu dengan Sheril.Sekarang,mereka harus bertemu dengan orang yang satunya.Dan ya,dialah Justin.Mantan sekaligus cinta pertama Nayla.
Bukan hanya mereka berdua yang kaget.Justin pun sama terkejutnya.Namun rasa terkejutnya langsung berubah menjadi perasaan bahagia.Bahagia karena ia bisa bertemu kembali dengan Nayla.
"Selamat pagi semuanya"sapa dosen tersebut.
"Pagi Pak"balas mereka serempak.
"Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru"
"Dia adalah mahasiswa pindahan dari universitas xxx"
"Dan kamu silahkan perkenalkan diri"tunjuk dosen tersebut kepada Justin.
"Halo semuanya"
"Perkenalkan nama saya Justin Geraldi Abraham"ucap Justin dengan senyum manis di bibirnya.Senyuman yang mampu melelehkan hati para wanita yang melihatnya.Bahkan hampir semua mahasiswi di kelas tersebut terpesona akan ketampanannya.Kecuali untuk Nayla dan Rita.Jika yang lain melihat Justin dengan tatapan memuja.Maka mereka berdua menatap Justin dengan tatapan benci sekaligus jijik.
Setelah memperkenalkan dirinya,Justin di persilahkan duduk oleh dosen.Ia duduk di salah satu kursi kosong yang berada di depan Nayla.
Justin menoleh ke belakang sambil tersenyum.Namun Nayla langsung membuang muka ke arah lain.Melihat reaksi Nayla yang seperti itu membuat Justin tersenyum kecut.Ia menghela napas panjang.Sepertinya Nayla masih sangat membenci dirinya.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Mata kuliah pertama telah usai.Nayla dan Rita bergegas keluar dari kelas guna menghindari Justin.Dan untung saja ada sekelompok mahasiswi yang menggerebungin Justin hingga membuat mereka bisa menghindar dengan tenang untuk sementara waktu.
"Wah gilak…"
"Baru kemarin ketemu Sheril"
"Hari ini malah ketemu si Justin"Rita menggelengkan kepala merasa pusing akan keadaan yang sahabatnya alami.Sedangkan Nayla hanya diam.Tatapannya terlihat kosong memandang ke depan.
Merasa tak ada sahutan sama sekali.Rita langsung menoleh ke arah Nayla.
"Nay…"panggil Rita kepada Nayla.Ia menepuk bahu Nayla hingga membuat empunya tersentak.
"Eh iya…"
"Lo ngomong apa tadi"Nayla tersadar dari lamunannya.
"Nay…Lo gak lagi mikirin Justin kan"tanya Rita dengan tatapan menyelidik.Nayla yang di tatap seperti itu langsung gelagapan.
"Eh…Ng-nggk kok"
"Siapa juga yang lagi mikirin dia"
"Orang gue lagi mikirin acara minggu depan kok"mendengar jawaban Nayla,Rita tidak percaya begitu saja.
"Inget ya Nay…"
"Dia udah nyakitin lo"
"Jangan pernah berpikir buat balikan sama dia"
"Apa lagi sekarang lo udah nikah"
"Lo mau di jadiin janda sama pak Zain"Perkataan Rita membuat Nayla terdiam.
Menjadi janda di usia yang masih muda serta masih perawan.Membayangkannya saja sudah membuat Nayla bergidik apalagi merasakannya sendiri.
"NGGAK"
"GUE GAK MAU JADI JANDA"teriak Nayla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
"Eh…Sue…"
"Kagak usah teriak-teriak napa"
"Lo mau satu kampus pada denger"Rita langsung membekap mulut Nayla.Ia lalu melirik kesekitarnya.Rita menghela napas lega karena tak ada yang mendengar teriakan Nayla.
"Ish…Untung masih sepi"Rita melepaskan tangannya dari mulut Nayla.
Nayla mengelus dadanya.
__ADS_1
"Hehe…Makasih ya Rit"Nayla hanya nyengir kuda ke arah Rita yang mendengus.
"Kalo aja lo itu bukan sahabat gue"
"Gue pastiin lo bakal di amuk sama Bu Devi sekarang"ucapan Rita membuat Nayla bingung.
"Haah…Maksud lo?"tanya Nayla kepada Rita.
Rita memutar bola matanya malas.
"Ck…Lo gak tau apa gosip tentang pernikahan lo sama Pak Zain udah nyebar satu kampus"
"Haah…Kok bisa sih"
"Perasaan yang tau pernikahan ini cuma keluarga gue, keluarga pak Zain sama elo deh"
"Kok bisa nyebar gini"Nayla langsung panik seketika.Ia tak menyangka kabar pernikahannya akan tersebar secepat ini.
"Ck…Gue belum selesai ngomong"
"Pernikahan kalian emang udah kesebar"
"Tapi gak ada yang tau kalo istrinya pas Zain itu elo"
"Mereka cuma tau pak Zain udah nikah"
"Itu doang"ucapan Rita membuat Nayla merasa lega.
"Syukur deh kalo gitu"
"Eh…Tapi apa hubungannya sama Bu Devi yang mau ngamuk ke gue"perkataan Nayla membuat Rita menepuk dahinya.Entah karena kapasitas otak Nayla yang memang lemot hingga membuatnya tidak bisa mengartikan perkataan Rita.
"Gue tanya deh sama lo"
"Apa alasan yang bikin elo nyembunyiin pernikahan ini dari anak kampus?"
"Biar gue gak di gangguin sama fansnya pak Zain"jawab Nayla enteng.
Rita menjentikkan jarinya.
"Tepat banget"
"Lo tau kan bu Devi itu demen banget sama pak Zain"
"Nah…Pas bu Devi tau kalo pak Zain udah nikah"
"Dia itu langsung ngamuk Nay"
"Parahnya lagi,dia ngancem bakal nyari siapa istrinya pak Zain"
"Dan lo mau tau apa yang bakal dia lakuin sama elo"Nayla mengangguk antusias.
"Apa"tanya Nayla tidak sabar.
"Dia bilang bakal bikin hidup lo dan Pak Zain gak tenang"Nayla menelan salivanya susah payah.Dia sangat kenal seperti apa bu Devi,ia tak pernah main-main dengan ucapannya.
Nayla mengusap wajahnya kasar.Pertemuan dirinya dengan orang-orang di masa lalu dan di tambah ancaman bu Devi, membuat Nayla merasa frustasi.Entah cobaan apa lagi yang akan menimpanya nanti.
"Ya Allah…"
"Ngenes amat sih idup gue"
"Pertama Sheril"
"Habis itu Justin"
"Dan sekarang bu Devi"
"Akhhh…Bisa gak sih mereka ilang dari idup gue"Nayla mengacak-acak rambutnya.Sedang Rita hanya bisa mengelus pundak Nayla mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Sabar Nay"
"Namanya juga hidup"
"Pasti banyak cobaan"
"Kalo saweran namanya dangdutan hehe…"Dalam kedaan seperti sekarang masih sempat-sempatnya Rita bercanda.
"Candaan lo garing tau gak"
"Dah lah mending gue ke kantin"
"Kalau gue udah emosi bawaannya pengen makan orang"Nayla beranjang dari tempat duduknya.Namun baru saja berbalik dirinya sudah di sambut oleh seseorang yang sedari tadi ia hindari.
Nampak Justin yang berdiri di hadapan Nayla dengan senyum mengembang.Sedangkan Nayla hanya menatap malas pada sosok di hadapannya sekarang ini.
"Aku udah nyariin kamu dari tadi"
"Ternyata kamu ada di sini"
__ADS_1
"Kamu apa kabar Nay?"tanya Justin kepada Nayla.Terlihat tatapan penuh kerinduaan di kedua belah matanya kepada Nayla.
Namun Nayla tidak peduli.Ia melewati Justin begitu saja tanpa mau membalas perkataan Justin.
"Tunggu Nay"
"Ada yang pengen aku omongin sama kamu"Justin menahan tangan Nayla.
Perbuatan Justin membuat Nayla marah.
"Lepasin"
"Jangan sentuh gue"Nayla menyentak tangannya dari tangan Justin.
"Pliss…Nay"
"Dengerin aku dulu"
"Aku gak bisa lupain kamu
"Aku masih sayang sama kamu"
"Dari dulu aku udah nyari kamu ke mana-mana Nay"
"Aku pengen jelasin semuanya sama kamu"
"Hubungan aku sama Sheril itu cuma sebatas saling membutuhkan"
"Aku gak pernah main perasaan sama dia"
"Dia cuma aku jadiin pelampian naf…"
Plak
Belum selesai Justin berbicara.Nayla langsung menamparnya.
"Dasar gak tau diri"
"Mau lo minta maaf kayak gimana pun"
"Gak akan pernah bisa ngubah apa yang udah terjadi"
"Entah itu penghianatan lo"
"Atau kebencian di hati gue"
"Dan sekarang ini lo itu cuma seonggok sampah di mata gue"
"Jadi…Jangan pernah berpikir buat muncul di hadapan gue lagi"
"Ngerti lo"ujar Nayla sembari meninggalkan tempat itu dengan amarah di dadanya.Sedangkan Justin langsung terdiam mendengar perkataan Nayla yang begitu menusuk.Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
"Tapi Nay…"
"Stop"
"Lo gak denger apa yang Nayla omongin tadi"
"Mending lo jauh-jauh dari dia atau gue bakal ngehajar lo"ancam Rita kepada Justin.Itu bukan hanya sekadar ancaman.Rita memang benar-benar akan menghajar Justin jika berani macam-macam dengan Nayla lagi.
Tapi sepertinya ancaman Rita hanya di anggap angin lalu oleh Justin.Ia tetap mencoba mengejar Nayla namun langsung di hentikan oleh Rita.
Rita menarik tangan Justin dan menyeretnya ke tempat yang lebih sepi.
"Lepasin gue"
"Gue mau ngomong sama Nayla"Justin mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Rita.Namun usahanya sia-sia karena tenaga Rita ternyata lebih kuat dari dirinya.
Rita membawa Justin ke dalam gudang lalu menghempaskan tubuh lelaki itu hingga tersungkur.Ia lalu mengunci pintu gudang dari dalam.Justin memperhatikan apa yang Rita lakukan dengan kening yang mengkerut.
"Mau apa lo"Justin menatap Rita dengan tajam.
"Ya mau ngehajar lo lah"
"Lo pikir perkataan gue cuma ancaman doang"ucap Rita sembari melenturkan otot-ototnya.
"Cih…"
"Emang cewe lemah kayak lo bisa apa haah…"
"Lo itu cuma cewek tengil yang selalu ada di belakang Nayla"
"Dan apa lo bilang tadi"
"Mau ngehajar gue"
"Cuiiih…Mimpi"perkataan Justin membuat Rita naik pitam.Ia lalu mendekat ke arah Justin dan…
Akkhhh…
__ADS_1
Terdengar teriakan memilukan dari dalam gudang.Entah apa yang sedang terjadi di dalam,hanya Rita,Justin dan author yang tau😂 hehe…