Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Firasat Buruk


__ADS_3

"Iih…Si Rita menyebelin banget sih"


"Temen sendiri malah di kata-katain"


"Untung sahabat,kalo nggak"


"Udah gue tabok tuh bocah"Nayla terus menggerutu.Ia masih merasa kesal kepada sahabatnya itu.


Nayla memasang helm dan menyalakan starter motornya.Namun belum sempat ia menancap gas.Ponselnya tiba-tiba berdering.Ia mengambil ponselnya yang berada di saku jaket.Ternyata sebuah panggilan telpon dari mertuanya Santi.


"Hallo Ma"Nayla mengangkat panggilan tersebut.


"Nayla …"


"Kamu udah selesai kuliah kan"


"Kalo bisa kamu langsung kesini ya Nay"


"Ajak Zain juga"


"Dari tadi mama udah telpon dia"


"Tapi gak di jawab"terdengar suara lembut Santi dari seberang telpon.


"Iya Ma Nayla lagi di parkiran nih"


"Kayaknya Kak Zain lagi sibuk di ruangannya Ma"


"Makanya gak sempet angkat telpon Mama"


"Tapi Mama gak usah khawatir"


"Nanti Nayla sampein sama Kak Zain"ucap Nayla kepada Santi.


"Iya Nay"


"Pastiin Zain harus ke butik"


"Kalo dia gak mau,kamu tinggal seret aja dia"


"Hehe…Iya Ma"Nayla hanya mengiyakan permintaan Santi.


"Yaudah"


"Mama tutup dulu ya Nay"


"Inget…Hati-hati di jalan"


"Iya Ma"sambungan telpon pun terputus.


"Huuhh…"


"Kalau aja gak di suruh sama Mama"


"Gue mana mau nyaperin pak Zain"


"Kenapa juga kemaren gue nyium dia"


"Jadi canggung begini kan "


"Okey Nayla"


"Tarik napas…Hembuuss…"


"Anggap gak pernah terjadi apa pun kemaren"Nayla mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak gugup.Kemudian Nayla pun berjalan menuju ruang dosen tempat di mana Zain berada.


Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Chika and the genk.


"Hay Nay"


"Mau kemana nih"

__ADS_1


"Tumben jam segini belum pulang"tanya Chika sambil tersenyum manis.


Nayla membalas senyuman Chika dengan kaku.


"Ini…Mau ke ruang dosen"


"Ada tugas yang harus di kumpul"ucap Nayla masih dengan senyum yang sama.Ia sengaja berbohong.Tak mungkin kan kalau ia mengatakan alasan sebenarnya.


"Ohh…Gitu"


"Eh…Tapi kamu harus hati-hati loh Nay"


"Tadi kita ada denger bu Devi lagi ngamuk di sana"


"Kayaknya gara-gara denger gosip pak Zain udah nikah deh"mendengar itu wajah Nayla berubah pias.


"Ohh gitu ya…"


"Makasih infonya"


"Gue pergi dulu bye…"Nayla langsung berlari meninggalkan Chika dan teman-temannya.Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan firasat buruk akan terjadi.


Dan benar saja.Sesampainya di sana ia melihat Zain berjalan sempoyongan dan sedang di papah oleh Devi masuk ke dalam sebuah ruangan.Nayla menatap curiga kepada bu Devi yang terlihat tersenyum penuh arti.


Dengan langkah perlahan Nayla mengikuti Devi masuk ke dalam ruangan tersebut.Ia bersembunyi di samping lemari dan memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Devi.Tak lupa ia juga menyiapkan kamera di ponselnya sebagai bukti jika ternyata bu Devi ingin berbuat jahat kepada Zain.


Devi meletakkan Zain yang hampir tak sadarkan diri ke sebuah sofa di ruangan tersebut.Nayla sendiri bingung bagaimana bisa ada sebuah ruangan seperti itu di dalam ruang dosen.Namun ia tak ingin ambil pusing.Yang ia pikirkan adalah cara menyelamatkan Zain dari tangan bu Devi.


Setelah meletakkan Zain di sofa tersebut.Ia mencoba membuka jas yang Zain kenakan.Perbuatan Devi membuat Nayla kaget dan spontan berteriak.


"IBU MAU NGAPAIN"teriakan Nayla membuat Devi terkejut.


"Sedang apa kamu di sini"


"Bagaimana kamu bisa masuk kesini"Devi nampak gelagapan melihat Nayla yang memergokinya.


"Harusnya saya yang tanya sama ibu"


"Dan apa yang udah ibu lakuin sama pak Zain"


"Kenapa pak Zain gak sadar kek gini"


"Pak Zain…"


"Bangun Pak…"Nayla mencoba membangunkan Zain dengan menepuk-nepuk pipinya.Tapi usahanya sia-sia.Sepertinya Zain telah di bius hingga membuatnya tidak sadarkan diri.


"Saya gak ngapa-ngapain dia kok"


"Saya cuma nolongin dia"


"Dia tadi mau pingsan"


"Makanya saya bawa di kemari"Devi mencoba mencari alasan yang tepat agar Nayla percaya.Jangan sampai ada orang yang tau kalau sebenarnya dia ingin mencelakai Zain.


Mendengar jawaban tersebut membuat Nayla menjadi marah.


"BOHONG…"


"Saya tau maksud ibu yang sebenarnya"


"Ibu mau jebak pak Zain kan"


"Ibu pasti udah rencanain semua ini"


"Dengan membuat pak Zain gak sadar"


"Ibu mau bikin seakan-akan kalian sedang berbuat tidak senonoh kan"Nayla menatap tajam ke arah Devi.Ia sudah tak peduli lagi dengan siapa ia berhadapan sekarang.


"Kamu jangan asal nuduh ya"


"Kamu bisa saya laporin ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik"Devi mencoba mengancam Nayla agar gadis itu takut.Namun bukannya merasa takut Nayla justru semakin berani.

__ADS_1


"Silahkan…"


"Silahkan kalo ibu mau laporin saya"


"Saya gak takut"


"Tapi inget ya Bu"


"Saya juga bisa ngelaporin ibu dengan tuduhan mencoba melakukan tindak kejahatan terhadap suami saya"Nayla sangat murka.Ia bahkan tanpa sadar mengakui Zain sebagai suaminya di hadapan bu Devi.


Mendengar perkataan Nayla,membuat Devi sangat terkejut.


"Apa kamu bilang"


"Zain suami kamu"ucap Devi dengan wajah yang kaget.Bukan hanya Devi,Nayla pun sama terkejutnya dengan apa yang barusan ia ucapkan.Ia merutuki dirinya sendiri karena sudah keceplosan.Namun Nayla sudah tak peduli.Lamban laun pernikahannya nanti akan tersebar juga.


"Nggak…Kamu bohong sama saya"


"Kamu bukan istrinya Zain"Devi menolak untuk percaya.


"Terserah jika ibu gak mau percaya"


"Namun itu adalah kebenaran"


"Saya dan pak Zain adalah suami istri"ucap Nayla dengan nada tegas.


"Nggak…Ini gak mungkin"


"Zain bukan suami kamu"


"Zain hanya bisa menjadi milik saya"Devi nampak menggila.Ia bahkan sampai berteriak karena tidak terima bahwa Zain adalah suami Nayla.Sedangkan Nayla hanya bisa menatap miris kearah Devi.


Nayla mencoba memapah Zain yang terlihat mulai sadar.Namun perlakuan Nayla di hentikan oleh Devi.Ia menarik rambut Nayla hingga membuat gadis tersebut terjatuh.


"Jangan sentuh dia"


"Zain hanya milik saya"Devi terus menarik rambut Nayla.Ia lalu membenturkan kepala Nayla ke meja beberapa kali.


Devi sudah kehilangan akal sehatnya.Ia tak peduli jika Nayla bisa kehilangan nyawanya akibat perbuatannya itu.Yang ia pikirkan adalah Zain harus menjadi miliknya.


Nayla hanya bisa pasrah mendapat perlakuan seperti itu.Ia ingin melawan,namun sakit di kepalanya membuat Nayla tak berdaya.Ia hanya bisa berdoa semoga ada yang menolongnya.


Sedangkan di sisi lain.Zain yang mulai sadar mencoba untuk bangkit.Ia belum sadar sepenuhnya dengan apa yang sedang terjadi.


Suara rintihan seseorang membuat Zain langsung tersadar.Ia lalu menoleh ke arah sumber suara.Betapa terkejutnya ia begitu melihat Nayla yang sedang di hajar habis-habisan oleh Devi.


"NAYLA…"Zain langsung berlari menolong Nayla.Ia mendorong Devi hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur.


"Nayla"Zain langsung mengangkat tubuh Nayla yang terlihat sangat lemah.Darah mengucur deras di kepalanya akibat benturan keras berkali-kali.


"Nayla…Bertahanlah"Zain menggendong Nayla keluar dari ruangan tersebut.Namun langkahnya terhenti karena Devi memeluk kakinya.


"Pak Zain…"


"Tolong dengerin penjelasan saya"


"Ini tidak seperti yang bapak pikirkan"mendengar perkataan Devi membuat Zain sangat murka.Terlihat kilat penuh amarah di wajahnya itu.


"Lepaskan"Zain menendang Devi hingga membuat wanita itu melepaskan pelukannya pada kaki Zain.


"Saya tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari anda"


"Dan ingat ini"


"Jika sampai terjadi sesuatu kepada Nayla"


"Saya pastikan anda akan membusuk di penjara"perkataan Zain membuat Devi sangat takut.Ia bahkan tak mampu berkata-kata lagi.Devi terduduk pasrah sambil menatap kepergiaan Zain dari ruangan tersebut.


...Okey…Sampai di sini dulu ya…Author mau rehat dulu…Kalo sempet,habis isya author bakal up lagi…...


...Babay semuanya…...

__ADS_1


__ADS_2