
Setelah kepergian Santi.Tinggallah Nayla bersama kedua orangtuanya di ruangan tersebut.Wira lalu menatap kearah Nayla yang sedari tadi hanya menunduk.
"Nayla…"mendengar namanya di panggil.Nayla mendongakkan kepalanya menatap sang ayah.
"Iya Yah"sahut Nayla.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"Nayla tertegun mendengar pertanyaan sang ayah.Jika ia boleh jujur,tentu saja ia tidak bahagia.Namun tidak mungkin kan ia mengatakan yang sebenarnya.Lagi pula pernikahannya sudah terjadi,meski belum sah secara negara.
Melihat Nayla yang diam saja.Membuat Wira semakin merasa bersalah.
"Nayla belum tau Yah"Nayla menundukkan pandangannya.Matanya terlihat sendu.Wira menghela nafas panjang begitu mendengar jawaban Nayla.
Suasana sunyi menyelimuti ketiganya.Nayla memutuskan untuk pulang.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya.Nayla langsung pergi menuju kediaman Robert dengan menaiki motornya.
Hari mulai sore.Nayla menaikan kecepatan motornya.Matanya terlihat fokus menatap kedepan.Jalanan yang sedikit macet,membuat Nayla harus ekstra hati-hati membawa motornya.
Nayla menghentikan motornya di pinggir jalan.Mata tertuju pada sosok yang begitu ia kenali.Nampak orang tersebut terlihat bingung sambil menatap mobilnya.Nayla memutuskan untuk menghampiri orang tersebut.
"Mobilnya kenapa pak?"tanya Nayla.Orang itu terlihat menoleh ke arah Nayla dengan kening yang mengkerut.
"Sedang apa kamu di sini"terdengar nada dingin dari cara bicaranya.Siapa lagi kalo bukan Zain si Dosen kulkas.
"Yee…Bapak mah gitu…"
"Di tanya bukannya di jawab malah balik nanya"Nayla ikut menilik ke arah mobil.
"Mogok ya pak?"tanya Nayla lagi.
"Ck…Menurut kamu"Zain berdecak mendengar pertanyaan dari Nayla.
"Terus bapak udah telpon orang buat benerin belum?"Zain nampak mengangguk.
"Sudah,tapi sampai sekarang mereka belum datang"
"Padahal sudah hampir satu jam saya nunggu di sini"Zain menghela nafasnya lalu menoleh ke arah Nayla yang terlihat manggut-manggut.
"Kalo udah selama itu,mending di cansel aja pak"
"Saya punya langganan bengkel deket sini"
"Kalo bapak mau saya telponin nih"
"Di jamin tokcer deh pak"Nayla mengacungkan jempolnya ke arah Zain.
"Boleh deh kalo gitu"
"Okeyy…Bentar ya Pak"setelah mendapat persetujuan Zain.Nayla langsung mengambil ponsel dan menelpon bengkel langganannya.
Sepuluh menit kemudian datang seorang montir pria berusia kurang lebih 25 tahun.
"Mogok kenapa lagi nih"
"Bukannya kemaren udah di servis"nampak pria tersebut mengerutkan keningnya ke arah Nayla.
"Bukan gue Bang Jek…"
"Si Jennifer mah masih aman"Nayla menepuk jok motornya.
"Mobilnya dia nih yang ada masalah"tunjuk Nayla ke arah mobil Zain.Orang yang dipanggil Bang Jek itu pun langsung mengecek mobil Zain.
"Ini sih harus nginep Nay…"
"Kagak bisa di betulin disini"ujar Bang Jek kepada Nayla.
"Gimana Pak,mau gak?"Nayla menoleh ke arah Zain.
"Hmm ya sudah"
"Ini kuncinya"Zain menyerahkan kunci mobilnya kepada Bang Jek.
"Okey…Nanti alamatnya biar gue yang kirim"ujar Nayla kepada Bang Jek.
"Ya udah kalo gitu gue mau ngambil mobil dereknya dulu…"
"Misi Pak…Nay"pamit Jek kepada Zain dan juga Nayla.
"Sekarang apa?"tanya Nayla sambil menoleh ke arah Zain.
"Ck…Ya pulanglah,mau ngapain lagi emangnya"Zain memutar bola matanya malas.
"Bapak pulangnya naik apa?"tanya Nayla lagi.Terlihat ia memiringkan kepalanya ke arah Zain.
"Ya pake taksi umum lah atau gak,taksi online juga bisa"Zain terlihat mengotak-atik ponselnya.
"Itu sih kelamaan pak"
"Mending naik motor bareng saya aja"
"Lagian juga kita kan satu arah,satu rumah lagi"Zain nampak berpikir mendengar tawaran Nayla.
"Ya sudah,tapi kamu yang bawa ya…"
"Saya gak bisa bawa motor soalnya"Zain langsung duduk di jok motor Nayla.
"Hahaha…Masa sih orang seperti bapak gak bisa bawa motor"
__ADS_1
"Berarti bapak kalah dong sama bocil zaman sekarang"
"Mereka yang baru lulus sd aja udah bisa bawa motor"
"Lah bapak udah menjabat CEO tapi gak bisa bawa motor"
"Sungguh WARBIASAAH"Nayla tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.Ia bahkan tidak menyadari tatapan tajam Zain yang sudah siap menghunusnya.
"Aw aw aw"Nayla menjerit kesakitan.Terlihat Zain yang menjewer telinga Nayla.
"Sudah puas kamu ngejek saya"
"Cepetan jalan atau saya jewer lagi"ancam Zain kepada Nayla.Nayla memanyunkan bibirnya.
"Jangan galal-galak dong pak"
"Nanti istrinya kabur loh…"Zain melotot mendengar perkataan Nayla.
"Eh lupa…Istri bapak kan saya hehe…"Nayla hanya cengesan.Ia lalu mengambil sebuah helm yang ada di dalam jok motornya.
"Nih pak di pake dulu helmnya"
"Selalu utamakan keselematan baru kecepatan"Nayla menyerahkan sebuah helm berwarna pink ke arah Zain.
"Kamu mau saya pakai itu?"tanya Zain sambil menunjuk ke arah helm yang di pegang Nayla.
"Ya iya dong pak"
"Kalo naik motorkan wajib pake helm"
"Bukan cuma sekadar menghindari razia tapi juga untuk menjaga keselamatan"
"Kita kan gak tau musibah apa yang bakal menimpa kita nantinya"ucap Nayla panjang lebar.
"Tapi…"Zain masih nampak ragu.
"Udah sih pak"
"Cuma perkara helm warna pink doang"
"Kagak bakal bikin ganteng bapak berkurang mah"
"Paling cuma malu dikit doang hehe…"ujar Nayla sambil terkekeh.Dan dengan terpaksa Zain memakai helm tersebut.
"Udah siap pak"Zain hanya mengangguk.Ia masih merasa jengkel harus memakai helm berwarna pink.
"Okey…Berangkaaat"Nayla menepuk bagian depan motornya sambil menirukan gaya bicara salah satu pemeran dari Sitkom ojek yang biasa ia tonton bersama bi Sumi.
Nayla membawa motornya dengan kecepatan tinggi.Hingga membuat Zain yang berada di belakangnya merasa ketakutan.
"APA PAK SAYA GAK DENGER"
"PELAN-PELAN AJA…"Teriak Zain lagi.
"HAAH…TERLALU PELAN…"
"BENTAR PAK…SAYA TAMBAH LAGI…"Nayla lalu menaikan kecepatan motornya dan membuat Zain semakin takut.Mau tak mau ia memeluk pinggang Nayla dengan sangat erat karena takut terjatuh.Sedangkan Nayla nampak tertawa puas melihat raut wajah Zain yang ketakutan.Ia hanya berpura-pura tidak mendengar perkataan Zain.
Nayla menghentikan motornya tepat di sebuah warung lesehan yang berdiri di pinggir jalan.Nampak Zain masih memeluk Nayla yang terlihat sudah melepas helmnya.
"Pak…Udah napa meluknya…"
"Betah amat…"
"Itu takut apa modus"Nayla menepuk tangan Zain agar melepaskan pelukannya.
"Siapa juga yang betah meluk kamu"
"Saya itu gak takut ya cuma ngeri aja"
"Lagian kamu bawa motor kayak mau ngajak mati aja"
"Lain kali kalo mau reunian sama malaikat Izrail,jangan ngajak-ngajak saya"Zain mendengus kesal ke arah Nayla.Sedangkan Nayla hanya cengengesan mendengar perkataan Zain.
"Ini lagi"
"Ngapain kamu bawa saya kesini"
"Bukannya langsung pulang ke rumah"nampak Zain berkacak pinggang ke arah Nayla.
"Hehe…Saya laper Pak"
"Kalo nunggu sampe rumah takut keburu lemes"
"Emang bapak mau kita kecelakaan gara-gara saya pingsan ditengah jalan"ujar Nayla sambil menatap ke arah Zain.
"Tapi kenapa harus disini"
"Emang gak ada tempat lain yang lebih higienis apa"Zain menatap sedikit jijik ke arah lesehan tersebut.
"Tenang aja pak"
"Disini itu udah seratus persen higienis"
"Walaupun letaknya dipinggir jalan"
"Tapi di jamin bersih deh pak"
__ADS_1
"Bahkan bukan cuma bersih tapi juga enak"
"Dan yang pasti harganya ramah di kantong"Nayla menarik Zain agar ikut masuk ke dalam.Zain hanya pasrah mengikuti langkah Nayla.
"Mang pecel lelenya dua porsi"
"Sama bebek gorengnya satu"
"Terus minumnya es jerus ya…"teriak Nayla kepada si penjual.
"Siap neng…"
"Nasinya kek biasa kan"tanya penjual itu kepada Nayla. Nayla hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
"Kalo bapak mau pesen apa?"tanya Nayla sambil menoleh ke arah Zain yang terlihat sedikit risih.
"Gak usah,kamu aja yang pesan"tolak Zain cepat.
"Yakin nih gak mau pesen"tanya Nayla memastikan.Zain hanya mengangguk.
Sepuluh menit kemudian pesanan Nayla pun sudah datang.Nayla menatap makanan tersebut dengan wajah yang berbinar.
"Silahkan di nikmati neng geuliss…"ujar penjual itu sambil tersenyum ramah ke arah Nayla.
"Uwaahh…Wanginya aja udah bikin ngiler…"
"Masakan Mang Jono emang paling the best lah"Nayla mengacungkan jempolnya ke arah Mang Jono.
"Ah sih eneng mah bisa aja"
"Siapa ini neng?"
"Tumben ngajak cowok kemari"
"Biasanya kan bareng sama neng Rita"
"Calonnya ya neng?"tanya Mang Jono sambil tersenyum ke arah Zain.
"Emm…Bisa di bilang gitu sih"ujar Nayla sedikit ragu.
"Saya suaminya"ucapan Zain yang tegas membuat Nayla menoleh ke arahnya.
"Wohh…Selamat ya neng atas pernikahannya"Nayla hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Ya sudah kalo begitu"
"Mamang tinggal kebelakang dulu ya…"
"Silahkan di nikmati"nampak Mang Jono pamit ke kepada mereka berdua.
Setelah kepergiaan Mang Jono,Nayla pun memakan makanannya dengan lahap.Sesekali ia melirik ke arah Zain yang menatapnya dengan wajah yang datar.
"Em…Enaknya…"
"Bapak yakin nih gak mau…"
"Ini enak lo Pak…"Nayla terlihat menyuap suwiran daging bebek ke dalam mulutnya.
"Gak,kamu aja yang makan"
"Saya gak lapar"
Kruuyuuk…
Lain di mulut lain pula yang di perut.
Nayla terkekeh mendengar perut Zain yang berbunyi.Sedangkan Zain hanya bisa meringis malu karena ketahuan berbohong.
"Aaa…"Nayla menyodorkan suapan daging lele dan nasi ke mulut Zain.Zain nampak enggak menerimanya.
Namun karena Nayla yang terus memaksa,membuat Zain menyerah dan menerima suapan dari Nayla.
Suapan demi suapan terus berlanjut.Hingga tanpa sadar Zain sudah menghabiskan satu porsi pecel lele yang Nayla pesan.
"Gimana Pak?"
"Enakkan"Zain hanya mengedikkan bahunya.
"Lumayan"jawab Zain tanpa menoleh ke arah Nayla.Nampak Zain kembali membuka mulutnya.
"Sudah abis Pak"jawaban Nayla membuat Zain menoleh ke arah makanan tersebut.Terlihat ia sedikit kecewa.
"Bapak masih mau?"
"Mau saya pesenin lagi?"tawar Nayla kepada Zain.Zain terlihat enggan.Bukan karena tak sudi tapi karena gengsi.
"Yaudah kalo gak mau"
"Kita pulang sekarang kalo gitu"
"Mang pecelnya 3 di bungkus"Zain yang mendengar itu langsung memasang raut wajah berbinar.Namun itu tak bertahan lama.Wajahnya langsung berubah datar ketika Nayla menoleh ke arahnya.
Setelah membayar semua makanan.Mereka berdua pun langsung pulang.Kali ini Nayla membawa motornya lebih pelan, karena sudah diperingat lebih dulu oleh Zain.
...*Sampai di sini dulu ya…...
...Babay*…...
__ADS_1