Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Penjelasan


__ADS_3

Sementara itu…


"Aaggrhhh…"


"Gini amat sih idup gue"


"Perasaan gue kagak pernah deh mimpi nikah dadakan kek gini"


"Mana dapet suami kek gitu lagi"mendengar kata suami Nayla jadi teringat Zain.


"Ini semua gara-gara dia…"


"Coba aja dia gak bawa gua kesana…"


"Pasti gak bakal gini jadinya…"


"Dasar bule kamprett…Somplak…Kesel…Gue kesel…"


"Mati aja sana…"Nayla terus mengumpat Zain.


"Uhuk uhuk"Zain tersedak.Ia lalu menoleh ke arah kamar Nayla.Terlihat ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baby…"


Nathan yang telah sampai langsung mencari keberadaan Nayla.Ia masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Rita di belakangnya.


Nathan yang telah berada di dalam langsung menoleh kesana kemari.Hingga matanya tertuju pada sosok Zain yang terlihat memandangnya dengan wajah datar.


"Dia di kamar"ujar Zain dengan datar.Ia terlihat menyerut kopi yang di buatkan oleh bi sumi sebelumnya.


"Rita kamu temui Nayla"


"Abang mau ngomong dulu sama Zain"Rita mengangguk lalu pergi kekamar Nayla.


"Kenapa Nayla sampai nangis seperti itu"


"Sebenarnya kalian darimana"Nathan menatap tajam ke arah Zain.


Zain hanya diam.Ia meletakkan kopinya lalu balas menatap Nathan dengan tenang.


"Kami menikah"


"Haahh…"jawaban Zain membuat Nathan terperangah.Ia terbengong beberapa saat.


"Bentar-bentar coba di ulang lagi"tanya Nathan, kali ini ia menatap Zain dengan serius.


"Kami menikah"ulang Zain masih dengan ekpresi yang sama.Nathan menggelengkan kepalanya.


"Tapi bagaimana bisa"tanya Nathan.Lalu Zain menceritakan apa yang terjadi.


Setelah mendengar penjelasan dari Zain.Nathan mengusap wajahnya dengan kasar.Ia lalu menoleh ke arah kamar Nayla dan menghela nafas.


"Jadi,bagaimana sekarang"Nathan kembali menatap Zain.Ia bingung harus bagaimana.Ini di luar perkiraannya.


"Saya akan membawa Nayla ke kediaman saya"


"Walaupun ini hanya pernikahan siri,tetap saja Nayla sudah menjadi istri saya"Nathan mengangguk.

__ADS_1


"Tapi…Nayla…"


Prang…


Ucapannya terpotong.Terdengar suara benda pecah dari kamar Nayla.


"Bang Nathan…Nayla bang…"teriak Rita sambil menuruni tangga.


"Ada apa"tanya Nathan khawatir.Ia melihat ke arah Rita yang terlihat panik.


"Rita gak tau bang…"


"Pas Rita kesana, Rita denger suara Nayla yang nangis sama suara barang jatoh"


"Rita udah coba buat masuk,tapi pintunya di kunci dari dalem"ujar Rita dengan panik.


Nathan yang mendengar itu langsung berlari ke atas.Namun baru beberapa langkah suara bariton seseorang membuat ia berhenti.


"Tunggu"Nathan menatap ke arah Zain.


"Dia baik-baik saja"jawaban Zain membuat Nathan kesal.


"Bagaimana bisa dia baik-baik aja…"


"Ini semua gara-gara lo…"


"Nayla gak bakal begini jika lo gak bawa dia kesana…"Nathan mencengkeram kerah baju Zain.Sedangkan Zain ia terlihat diam saja.Ia menatap datar ke arah iparnya itu.Rita hanya bisa menggigit jarinya melihat pertengkaran Nathan dan Zain tanpa berani melerai.Ia sendiri belum tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Liat saja sendiri"jawab Zain singkat.Nathan mengendurkan cengkeramannya.Ia mendengus kesal.


"Saya akan menjemputnya nanti"


Nathan dan Rita pergi ke kamar Nayla.Sesampainya di sana Nathan mengetuk pintu kamar Nayla.Namun tak ada jawaban.


Hingga terdengar suara Nayla yang sedang tertawa.Hal itu membuat mereka berdua bingung.


"Kamu bilang Nayla tadi nangis"Nathan menatap Rita dengan wajah yang kesal.


"Sumpah bang…".


"Rita tadi denger Nayla nangis"jawab Rita yakin.


"Tapi buktinya Nayla lagi ketawa sekarang"Nathan terlihat merapatkan wajahnya di pintu kamar,begitu juga dengan Rita.


Hiks hiks


"Tuhkan bener yang Rita bilang tadi"


"Nayla itu lagi nangis bang…"Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Ia yakin bahwa yang ia dengar tadi suara orang tertawa.


Hahaha…


Suara tawa kembali terdengar.Kali ini terdengar lebih jelas.Nathan dan Rita saling melempar tatapan heran.


"Itu bener-bener suara Nayla"


"Tapi kenapa dia jadi gitu"

__ADS_1


"Sebentar ketawa sebentar nangis"Nathan menatap Rita yang juga terlihat bingung.


"Jangan-jangan Nayla kesambet hantu kunkun bang…"


"Makanya Nayla jadi gitu…"


"Iihh…Sereemm…"Rita bergidik ngeri.


Pletak…


"Aduuhhh…"Rita mengusap keningnya yang di sentil oleh Nathan.


"Kamu ini,sembarangan aja kalo ngomong"


"Mana ada yang namanya hantu"Nathan menatap kesal ke arah Rita yang terlihat mengerucutkan bibirnya.


Tok tok tok


"Baby…Buka pintunya…"Nathan mengetuk pintu kamar Nayla.Tapi ada sahutan sama sekali.


"Dobrak aja pintunya bang"Usul Rita.Nathan mengangguk lalu mencoba mendobrak pintu kamar tersebut dan…


Bruukk…


Pintu kamar tiba-tiba terbuka bertepatan dengan Nathan yang mau mendobrak pintu.Hal itu membuat Nathan terjatuh dengan cara yang tidak elit.


"Loh abang ngapain tiduran di lantai…"Nayla menatap Nathan yang terjatuh.Ia lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Nathan.


"Aduuhh…Siapa yang tiduran sih dek"


"Abang lagi jatoh ini"ujar Nathan sambil meringis kesakitan.


"Nay lo gak papakan kan…"Rita memutar tubuh Nayla takut kalau ada yang cedera.


"Iya Rit,gue gakpapa"jawaban Nayla membuat Rita bernafas lega.


"Beneran kamu gak papa dek"Nayla hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Syukur deh kalo gitu"Nathan mengheka nafas lega.


"Lo sebenarnya dari tadi ngapain sih Nay"


"Kita denger lo tadi nangis habis itu ketawa"


"Di ketok tapi gak nyaut-nyaut"


"kita tuh khawatir sama lo"Rita menatap Nayla dengan wajah khawatir begitu juga dengan Nathan.


"Iya dek,kata bibi semenjak kamu pulang dari sana,kamu nangis terus"


"Apa itu gara-gara kejadian tadi"Nathan menatap Nayla yang terlihat menggaruk-garuk kepalanya.


"Hehe…Nay emang sempet nangis gara-gara kejadian itu"


"Tapi gak lama kok bang"


"Dan masalah ketawa-ketawa itu sebenarnya Nay lagi nonton drakor hehe…"Nayla hanya nyengir kuda.

__ADS_1


"Astaga Nayla…"


"Jadi lo nangis gara-gara nonton drakor bukan karena masalah sama pak Zain"Nayla mengangguk sambil cengengesan.Nathan dan Rita menepuk dahi mereka.Ternyata kekhawatiran mereka sia-sia saja.


__ADS_2