Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Pengejaran


__ADS_3

"Kak!"


"Kenapa kakak bilang sama mereka tentang kepergian Tante"


"Bukannya Tante Devi udah ngasih tau kita"


" Kalo ada yang nanya Tante Devi di mana,kita harus bilang gak tau"Sheril menatap kesal ke arah sang kakak yang hanya diam saja.


"Kakak kenapa diem aja?"


"Pasti kakak nyesel kan karena udah gak patuh sama perintah dari Tante Devi"


"Iya kan…"Sheril terus berbicara tanpa menyadari perubahan raut pada wajah Sherly.


Sherly menghentikan langkahnya.Ia lalu menatap sang adik dengan raut wajah datar.


"Ada saatnya di mana kita harus patuh atau nggak ril"


"Apa yang kakak bilang sama mereka itu gak salah"


"Kakak juga gak ngelanggar apa yang Tante Devi bilang sama kita kan"Sheril berdecak mendengar perkataan sang kakak.


"Tapi kakak ngasih tau waktu kepergiaan Tante"


"Gimana kalo mereka bisa nyusul terus nangkep Tante Devi"


"Aku gak mau kehilangan orangtua lagi"


"Setelah Papi Mami meninggal,cuma Tante Devi yang kita punya"


"Kalo Tante Devi masuk penjara"


"Siapa yang bakal jagain kita Kak"Sherly tertegun sejenak lalu memeluk sang adik yang terlihat menangis.


"Kamu tenang aja"


"Kalo Tante Devi gak bersalah mereka gak bakal penjarain dia"


"Dan jika Tante Devi emang bersalah"


"Maka dia harus menanggung semua perbuatannya dan menjalani hukuman"


"Kamu gak perlu khawatir, masih ada kakak yang bakal jaga kamu"ia mengelus pucuk kepala sang adik.Sheril melepas pelukan tersebut.Ia lalu menatap sang Kakak dengan wajah yang sendu.


"Tapi aku yakin kalo ini semua cuma fitnah kak…"


"Mereka pasti mau ngejebak Tante Devi"


"Gak mungkin orang sebaik Tante ngelakuin hal sejahat itu"


"Aku gak percaya"


"Kakak juga gak percaya Dek"

__ADS_1


"Kalau memang benar ini cuma fitnah"


"Maka kakak bakal jadi orang pertama yang akan pasang badan buat ngebela Tante Devi"ucap Sherly bersungguh-sungguh.


"Udah…Mending sekarang kamu ke kamar terus tidur"


"Kamu gak usah mikirin soal Tante Devi"


"Kamu fokus aja sama kuliah kamu"


"Untuk masalah Tante Devi biar Kakak yang urus"Sheril menyeka air matanya kemudian mengangguk.


"Udah sana kamu tidur"


"Kamu kan besok harus bangun pagi"


"Katanya pengen jenguk Justin"mendengar nama Justin di sebut membuat mood Sheril langsung membaik.


"Iya kak"


"Aku ke kamar dulu"ucap Sheril sambil berjalan pergi menuju kamarnya.Sherly menatap kepergiaan sang adik dengan raut wajah yang sulit di artikan.Ia lalu merogoh ponselnya kemudian menekan nomer seseorang.


Terdengar suara nada tersambung dari ponselnya.


"Hallo dok"


"Ada yang mau saya tanyakan"


"Ini tentang Tante Devi"ketika mengucapkan hal itu wajahnya berubah serius.Namun dokter tersebut menolak untuk mengatakan apapun kepada Sherly.


~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~


"Zain…Kamu gak tidur"


"Ini udah malam nak"Santi menatap ke arah Zain yang masih setia di samping Nayla.


"Nggak Ma"


"Zain mau nungguin Nayla bangun"


"Lagian Zain juga belum ngantuk"ucapnya tanpa menoleh ke arah Santi.Matanya tetap setia menatap Nayla yang berbaring.


"Ya udah"


"Mama pulang dulu"


"Besok mama kesini lagi buat gantiin kamu jaga Nayla"Zain hanya mengangguk.Santi lalu berjalan menuju pintu.


Namun sebelum Santi pergi tiba-tiba ponselnya berdering.Tanpa melihat siapa yang menelpon ia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo"


"Halo…Bisa bicara dengan Bu Santi Robert"

__ADS_1


"Ini dari kepolisian"


"Ohh iya dengan saya sendiri"


"Ada apa ya pak?"


"Begini saya ingin memberi tahu ibu" "kalau pelaku penganiayaan terhadap nyonya Nayla sudah melarikan diri dari kediamannya"


"APA"Teriakan Santi membuat Zain menoleh.


"Tapi kenapa dia bisa kabur?"mendengar perkataan Santi membuat Zain langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Mamanya tersebut.


"Sepertinya dia sudah tau kalau kami akan datang"


"Tapi tenang saja…Kami sudah mengarahkan personil kami untuk segera menemukan pelaku dan menangkapnya"


"Baiklah kami serahkan semuanya kepada pihak kepolisian"


"Tapi pastikan perempuan itu harus segera di tangkap"


"Saya tidak ingin penjahat itu tetap berkeliaran bebas di luar sana"


"Setelah apa yang sudah dia lakukan kepada anak dan menantu saya"ucap Santi dengan amarah yang menggebu.


"Baik Bu"


"Kami akan terus melakukan pencarian sampai pelaku di temukan"


"Baiklah kalo begitu"


"Saya tunggu kabar selanjutnya"usai mengatakan hal itu Santi langsung menutup sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari polisi tersebut.Meski terlihat tidak sopan namun Santi tak peduli.Karena ia sedang sangat kesal sekarang.


"Ada apa Ma?"tanya Zain yang sedari tadi hanya diam.


"Perempuan itu kabur Zain"


"Dan sekarang polisi sedang mencoba mengejarnya"ucap Santi sambil menoleh ke arah Zain.


Raut wajah Zain langsung berubah merah padam mendengar perkataan sang mama.Dan tanpa berbicara ia langsung pergi dari ruang rawat Nayla.Santi mencoba menghentikan Zain dengan memanggil-manggil putranya itu.Namun semuanya sia-sia,Zain terus berjalan pergi dengan penuh amarah .


Zain masuk ke dalam mobilnya.Ia lalu mengambil sebuah ponsel yang ada di dalam laci mobil dan menekan nomer seseorang.


"Romi cari semua data tentang Devika Munaf di semua bandara"


"Dan kerahkan anak-anak untuk membawanya ke tempat pengasingan"


"Lalu pastikan polisi tidak tahu apa yang kita lakukan kepada wanita itu"


"Mengerti"Zain langsung mematikan sambungan telpon tersebut.Matanya menatap lurus ke arah depan dengan senyum di bibirnya.Namun senyuman itu bukanlah senyuman hangat yang biasa ia tunjukkan kepada Nayla atau pun Santi.Melainkan senyum sinis yang terlihat sangat mengerikan.


"Ingin mencoba kabur heeh…"


"Jangan harap"ucap Zain sambil mencengkeram erat kemudi mobil untuk meluapkan emosinya.

__ADS_1


Setelah selesai meluapkan semua amarahnya.Zain lalu keluar dari mobil dan kembali ke rumah sakit.Raut wajahnya langsung berubah datar kembali seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya.


__ADS_2