
"Huuhh…Panas Rit…"Nayla mengipasi wajahnya berkali-kali menggunakan tangannya.Cuaca saat itu memang sangat terik karena memang sedang memasuki musim kemarau.
Rita memutar bola matanya malas mendengar perkataan Nayla.
"Ck…Kan gue udah bilang di luar lagi panas"
"Tapi tetep aja lo ngeyel mau keluar"Nayla hanya cengingiran mendengar omelan Rita.
Mereka berdua memang sedang berada di luar,lebih tepatnya di taman rumah sakit.Nayla yang merasa bosan akhirnya meminta Rita untuk mengajaknya keluar untuk mencari udara segar.Awalnya permintaannya itu di tolak oleh Rita dengan alasan sudah terlalu siang dan cuaca di luar sedang panas-panasnya.Namun Nayla tetap kekeh dengan kemauannya.Ia bahkan sampai merengek-rengek seperti anak kecil kepada Rita.Karena hal itu, Rita pun akhirnya setuju dengan syarat mereka harus meminta izin dulu kepada dokter.
Dan di sinilah mereka sekarang.Sedang panas-panasan di taman rumah sakit.
"Hehe iya deh gue salah"
"Kita neduh yuk Rit"ujar Nayla sembari menunjuk bangku taman yang ada di bawah pohon.Rita hanya mengangguk, lalu mendorong kursi roda Nayla menuju tempat tersebut.
"Huaahh…Gilak panas banget"ucap Nayla sembari menyenderkan tubuhnya pada bangku taman tersebut di ikuti oleh Rita di sampingnya.
"Hooh…Apalagi kita keluarnya pas siang hari gini"sahut Rita.
"Eh gue mau nyari minum nih"
"Lo mau gak?"tawar Rita kepada Nayla.
"Boleh deh"
"Teh pochi rasa apel satu"
"Kalo bisa sekalian ama cemilannya"ujar Nayla sambil menoleh ke arah Rita.
"Yee…Lo mah gitu"
"Gue cuma nawarin minuman lo malah nambah cemilan"
"Yaudah tunggu sini"
"Jangan kemana-mana"
"Entar lo ilang gue yang susah"ucap Rita sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Iyoo mbak e…Yaudah buruan beli sana"
"Jangan lama-lama"Rita hanya berdecak mendengarnya,sedangkan Nayla terlihat kembali menyenderkan tubuhnya pada bangku taman.
Belum lima Rita pergi tiba-tiba ada yang menyentuh pundak Nayla.
__ADS_1
"Eh busyet cepet amat lo"ucap Nayla sambil menoleh.Wajahnya langsung berubah seketika saat melihat siapa yang datang.
"Justin"Nayla langsung beranjak dari tempat duduknya.Ia menatap tajam ke arah Justin yang tersenyum ke arahnya.Tangannya terkepal sangat kuat karena menahan amarah di hatinya.
"Nay…"
"MAU APA LO KESINI…"mata Nayla terlihat melotot seperti hendak keluar dari sarangnya.Ia menatap Justin dengan penuh kebenciaan.Padahal ia sudah mencoba berbagai cara untuk bisa melupakan kenangannya bersama Justin.Namun sepertinya itu sangat sulit karena Justin terus-terusan menemuinya.Entah karena memang Justin tak memiliki rasa malu,hingga ia bisa menampakkan batang hidungnya di hadapan Nayla dengan tidak tahu dirinya.
"Ak-aku hanya kebetulan lewat karena emang aku juga di rawat di sini"
"Kamu liat aja sendiri "ucap Justin sambil menunjukkan luka dan memar yang ada di tubuhnya.
"Gue gak peduli alasan lo ada di sini"
"Gue cuma gak mau lo nemuin gue lagi"
"Di mana pun dan kapan pun itu"
"Kalo bisa gue pengen lo ilang dari kehidupan gue"
"Gue muak liat muka lo Justin"
"Lo itu cowok paling brengsek yang pernah gue kenal"ucap Nayla dengan penuh amarah.Ia lalu meninggalkan Justin yang terlihat tertegun mendengar perkataan Nayla.Ini kedua kalinya Justin melihat Nayla marah.
"Tunggu Nay"
"Aku masih sayang sama kamu Nay…"ucapan Justin membuat langkah Nayla terhenti.Ia lalu menoleh ke arah Justin dengan senyum sinis.
"Heeh…Apa lo bilang?"
"Kesempatan lagi?"Nayla mencebik bibirnya.
"Dari awal gue gak pernah ngasih kesempatan sama lo"
"Dan gak akan pernah ada"
"Lagian gue juga gak akan pernah mau balikan sama lo"
"Karena sebentar lagi gue mau nikah"ucap Nayla santai.Sebenarnya ia hanya asal bicara supaya Justin berhenti mengganggunya.
🏵️
Sedangkan di sisi lain,nampak Zain,Nathan dan Santi yang baru saja sampai dari kantor polisi.Mereka terlihat sangat serius memikirkan masalah yang sedang terjadi.
"Bagaimana sekarang?"
__ADS_1
"Bukti kejahatan dari wanita itu sudah tidak ada"
"Dan sekarang kita malah di tuntut oleh keluarga pelaku"
"Satu-satunya saksi kunci kita cuma Nayla"
"Tapi,dia sedang amnesia sekarang"Nathan mengacak rambutnya frustasi karena masalah yang barusan terjadi.
"Tante juga bingung harus apa?"
"Ternyata wanita itu lebih licik dari yang kita duga"Sahut Santi.
"Bagaimana Zain"
"Apa Romi bisa mengembalikan rekaman itu seperti semula?"Zain terlihat menggelengkan kepalanya.
"Dia gak bisa ngembaliin rekaman yang sudah di hapus"
"Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa"
"Zaman sekarang cukup sulit mencari orang yang bisa meretas sistem"
"Kita juga gak punya waktu untuk mencari orang berkemampuan seperti itu"
"Karena kita cuma punya waktu seminggu untuk menyerahkan bukti kepengadilan"ucap Zain dengan yang wajah lesu.Ini tak seperti perkiraan awalnya.Ternyata wanita itu lebih licik dari yang ia kira.
"Jadi kita harus apa sekarang?"tanya Nathan kemudian.
"Entahlah…Kita hanya bisa berharap semoga Romi bisa menemukan orang itu"ucap Zain pasrah.Untuk pertama kalinya Zain merasakan kegagalan setelah apa yang sudah ia rencanakan.
"Sudahlah kita lupakan saja dulu"
"Lebih baik sekarang kita temui Nayla dan jelaskan semua tentang kondisinya"ujar Santi kepada Zain dan Nathan.
"Tapi Ma…"Zain merasa ragu untuk melakukan hal itu,ia takut kondisi Nayla semakin memburuk jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya.
"Tenanglah Zain"
"Percaya deh sama Mama"
"Nayla gak bakal kenapa-kenapa"Santi mencoba meyakinkan putranya itu.
"Benar"
"Lebih baik kita beritahu Nayla sekarang"
__ADS_1
"Meskipun cukup beresiko tapi itu lebih baik daripada dia tidak tahu kalau dia sudah menikah"sahut Nathan.
"Baiklah terserah kalian saja"Zain hanya bisa mengiyakan keinginan dari Mama dan juga iparnya itu.Walau sebenarnya hatinya sangat keberatan akan hal itu.