Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Eps 57


__ADS_3

Nayla begitu nyaman dalam tidurnya.Setelah semalam tidak bisa tidur karena memikirkan tentang Zain yang mengaku-ngaku sebagai suaminya membuat Nayla hampir tak bisa memejamkan matanya.Kalau saja para suster tidak memberinya obat tidur,mungkin ia masih terjaga sampai sekarang.


Nayla semakin mengeratkan pelukannya pada sebuah guling yang ada di sampingnya.Di bandingkan guling itu lebih mirip tubuh seseorang.Namun karena Nayla masih mengantuk ia tak sadar akan hal itu.Begitu juga dengan orang tersebut yang tak lain adalah Zain.


'Hmm…Gue baru tau guling rumah sakit senyaman ini'Nayla sedikit menggeliatkan tubuhnya hingga membuat Zain yang berada di sampingnya sedikit menjauhkan tubuhnya dari Nayla.


'Kok bisa gerak sih?'


'Eh…Bentar…Bentar…'


'SEJAK KAPAN RUMAH SAKIT ADA GULING'Nayla yang baru sadar akan hal itu langsung membuka matanya.


"Huuaaahhh…"


Brukk…


Nayla yang kaget langsung mendorong tubuh Zain hingga terjatuh tempat tidur.


"Akhh…"Zain yang belum siap akan kejadian itu hanya bisa meringis sambil mengelus pinggangnya yang sakit akibat terjatuh.


"Om ngapain ada di sini?"


"Kenapa om peluk-peluk saya"


"Dasar om cabul"Nayla yang marah langsung melempar buah-buahan yang ada di samping tempat tidur ke arah Zain.


Sedang Zain yang tak sempat menghindari serangan tersebut hanya bisa pasrah menerimanya.Ia tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi namun ia tak menyangka bahwa Nayla akan seganas ini.


Beberapa jam sebelumnya…


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Zain langsung kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nayla.Melihat Nayla yang tertidur membuat Zain juga merasa mengantuk dan ikut berbaring di samping istrinya itu.


Awalnya Zain hanya berniat berbaring sebentar di samping Nayla.Namun rasa lelah dan kantuk membuatnya tak tahan untuk tetap terjaga,dan pada akhirnya ia pun tertidur lelap sambil memeluk Nayla.


Serangan Nayla masih berlanjut.Bahkan bukan hanya buah-buahan,ia juga melepari Zain menggunakan bantal atau benda apapun yang ada di dekatnya.Ruang rawat yang awalnya terlihat bersih dan rapi seketika terlihat sangat berantakan.


Nayla meraba sekelilingnya.Benda-benda yang ada sudah habis ia lempar dan hal itu membuat Nayla kesal sekaligus cemas.Ia lalu menatap ke arah Zain yang terlihat berdiri dengan pakaian yang di penuhi oleh noda buah-buahan.Meskipun Zain tak memberi perlawanan kepadanya namun ia masih meraka takut.Terlebih Zain adalah orang asing baginya.Sedangkan Zain juga ia menatap ke arah Nayla.Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu dan menimbulkan sebuah desiran aneh di hati mereka.Dan Zain tahu bahwa itu adalah perasaan cinta.


Sedangkan Nayla ia terlihat terpaku di tempat ia berdiri.Ini kedua kalinya ia menatap mata Zain.Mata yang membuat Nayla terhipnotis karena tersirat sebuah ketulusan di dalamnya.


Ceklek…


Pintu yang terbuka membuat kontak mata di antara mereka terputus.Mereka berdua lalu menoleh ke arah pintu.Terlihat Santi memasuki ruangan di ikuti oleh Nathan di belakangnya


"Astagfirullah…Ada apa ini?"


"Kenapa semuanya berantakan"Santi begitu terkejut melihat seisi ruangan yang terlihat sangat berantakan.Begitu juga dengan Nathan ia bahkan langsung menghampiri sang adik yang terlihat kebingungan.


"By kamu gak kenapa-kenapa kan?"tanpa menjawab pertanyaan dari Nathan Nayla langsung memeluk abangnya itu dengan sangat erat.


"Abang…Nay kangen…"ucap Nayla dengan nada manja.


Sedangkan Santi ia menghampiri Zain yang terlihat menatap ke arah Nathan dan Nayla yang berpelukan.Jujur saja Zain merasa sangat cemburu melihat hal itu.Ia tak suka melihat Nayla memeluk pria lain meskipun itu adalah Nathan.


"Zain"mendengar sang mama yang memanggil ia langsung menoleh sekilas ke arah Santi.


"Iya Ma ada apa?"jawab Zain singkat ia lalu kembali menoleh ke arah Nayla.


"Ini kenapa bisa berantakan gini"ucap Santi sambil menunjuk benda-benda yang terlihat berserakan.


Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Ia bingung harus mengatakan apa kepada mamanya itu.


"Ini…"ucapan Zain terpotong oleh Nathan.


"Zain kenapa Nayla bisa seperti ini"


"Bukannya kamu udah janji bakal selalu jagain Nayla"ucap Nathan dengan nada marah.Wajar saja jika ia marah karena Nathan sangat menyayangi Nayla.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicarakan ini di luar saja"ajak Zain kepada Nathan.Ia tak ingin pembicaraannya dengan Nathan membuat Nayla syok dan membuat kondisinya semakin parah.Namun ajakannya tersebut di tolak oleh Nathan.


"Kamu sudah janji sama saya Zain"


"Kamu bakal jagain Nayla"


"Tapi apa sekarang"ucapan Nathan membuat Nayla kebingungan.Sedangkan Zain ia hanya bisa terdiam mendengar semua perkataan dari iparnya tersebut.


"Maaf"hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.


Nathan terlihat berdecak.


"Kalau sampai Nayla terluka lagi"


"Saya akan membawa Nayla kembali ke rumah"ucapan Nathan bukan hanya sekedar ancaman.Ia akan benar-benar melakukannya jika Zain tidak bisa menepati janjinya lagi.


"Nathan…Tolong kamu jangan ngomong gitu"


"Tante janji hal ini gak akan pernah terjadi lagi"Santi yang sedari tadi hanya diam langsung berbicara ketika mendengar perkataan Nathan.Ia tak ingin Nayla pergi karena Nayla adalah kunci kebahagian putranya.Apalagi ia sudah menganggap Nayla seperti putrinya sendiri.Ia tak rela jika harus di pisahkan dari menantunya tersebut.


Nathan yang melihat Santi bersedih menjadi tidak enak.Ia menghela nafas panjang.


"Maaf Tante"


"Nathan gak bermaksud bikin Tante sedih"


"Nathan cuma khawatir sama Nayla"ucap Nathan kepada Santi.


"Iya…Tante ngerti kok"Santi mengusap air matanya yang sempat menetes.Ia lalu menghampiri Nayla yang sedari tadi hanya diam.


"Nayla…Mama kangen sama kamu"ucap Santi sambil memeluk menantunya itu.Sedangkan Nayla ia semakin di buat kebingungan oleh tindakan dan perkataan Santi.


Merasa tak ada sahutan sama sekali.Santi lalu melepaskan pelukannya.Ia menatap Nayla dengan wajah bingung.


"Nay…Kamu kenapa diam aja"


"Tante ini siapa?"perkataan Nayla membuat Santi dan Nathan menjadi sangat terkejut.Berbeda dengan Zain, ia justru menjadi semakin khawatir.


"Nay…Kamu ngomong apa sih?"


"Masa kamu gak kenal sama mertua kamu sendiri"ucap Nathan dengan nada bingung.


"Nay gak ngerti maksud abang apa?"


"Nay udah nikah gitu?"


"Abang ngaco deh"ucap Nayla dengan sambil tertawa garing.


"Nay…"ucapan Santi terpotong oleh Zain.


"Ma…Sebainya kita keluar sekarang"


"Zain akan jelasin semuanya"


"Dan Nathan kamu juga ikut saya keluar"ajak Zain kepada Mama dan iparnya tersebut.


Dengan berat hati mereka menuruti perkataan Zain.


"Abang ngapain ikut sama mereka"


"Mending abang temenin Nay di sini"


"Nay takut om itu macem-macem lagi"tunjuk Nayla kepada Zain.Mendengar Nayla yang menyebut Zain dengat sebutan 'Om' membuat Nathan dan Santi yakin bahwa ada sesuatu yang belum mereka ketahui tentang kondisi Nayla.


"Mmm…Abang mau keluar bentar"


"Mau manggil cleaning servis buat bersihin ini"

__ADS_1


"Kalo soal mereka kamu tenang aja"Nathan mencoba membujuk Nayla agar membiarkannya keluar.


"Yaudah…Tapi jangan lama-lama ya bang"Nathan hanya mengangguk ia lalu keluar dari ruangan tersebut.


Nathan menghampiri Zain dan Santi yang terlihat berdiri di luar ruang rawat Nayla.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat lain"


"Jangan sampai Nayla mendengar pembicaraan kita"ucapan Zain di angguki oleh keduanya.Mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke cafe yang ada samping rumah sakit.


Sesampainya di sana,Zain langsung menceritakan keadaan Nayla kepada Nathan dan Santi.Ia juga bercerita tentang kejadian sebelumnya yang mengakibatkan Nayla terluka.Nathan mengepalkan tangannya mendengar cerita Zain.


"Jadi…Dimana wanita itu sekarang"


"Apa polisi sudah menangkapnya"Santi terlihat menggeleng.


"Dia kabur"mendengar itu tanpa sengaja Nathan menggebrak meja hingga menimbulkan suara yang keras.Untunglah saat itu kondisi cafe belum ramai hingga perbuatannya tersebut tidak di lihat oleh banyak orang.


"Para polisi sedang melakukan percarian"


"Menurut informasi dari keponakannya"


"Wanita itu mencoba kabur keluar kota"ucap Zain kepada Nathan.


"Kamu tau di mana kalo dia mau kabur keluar kota Zain"


"Perasaan kemarin Mama gak bilang seditail itu deh sama kamu"Santi mengernyitkan dahinya sambil menatap putranya itu.


"Kemarin pas Zain keluar dari rumah sakit"


"Zain sebenarnya keluar buat nelpon polisi"


"Zain nanya alamat dari wanita itu dan minta bantuan Romi untuk melacak keberadaannya"ucap Zain dengan wajah yang di buat setenang mungkin.


"Oh…Tapi kenapa kamu bilang ke Mama buat nenangin diri kemarin"


"Kenapa gak ngomong jujur aja dari awal"perkataan Santi membuat Zain terdiam.Ia baru ingat akan hal itu.Namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"Zain cuma gak mau bikin Mama khawatir"hanya kata itu yang terlintas di benaknya.Dan untung saja Santi percaya dan tidak bertanya lebih jauh lagi.


Triing…


Sebuah panggilan telpon masuk di ponsel Santi.Tanpa melihat si penelpon Santi langsung mengangkatnya.


"Halo"


"Maaf suaranya kurang jelas"


"Halo…Halo…"


"Oohh…Pak komandan"


"Sebentar saya cari sinyal dulu"


"Zain…Nathan…"


"Mama keluar dulu ya…"ucap Santi sambil melangkah keluar dari cafe tersebut,mereka berdua hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Setelah kepergian santi.Suasana di antara keduanya tidak setegang sebelumnya.Zain lalu menatap datar ke arah Nathan yang terlihat sangat khawatir.


"Tenang saja"


"Wanita itu akan segera di temukan secepaynya"Nathan mengeryitkan dahinya.Namun belum sempat ia bertanya lebih jauh, tiba-tiba Santi masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.


"Zain…Nathan…"


"Wanita itu sudah di temukan"

__ADS_1


__ADS_2