
Nayla dan Zain di boyong ke rumah kepala desa setempat.Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka berdua setelah tiba disana.
Jarak yang di tempuh lumayan jauh yaitu sekitar 400 meter dari tempat mobil Zain terparkir.Mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki.
Awalnya Zain mengusulkan mereka untuk menaiki mobilnya.Namun usulannya tersebut di tolak.Mereka khawatir Zain dan Nayla mencoba untuk kabur.
Karena tak ingin menambah masalah,mereka berdua hanya bisa setuju.Terpaksa Zain harus meninggalkan mobilnya dan mengikuti keinginan dari orang-orang tersebut.
Di sepanjang perjalanan,Nayla hanya diam saja.Ia terlihat menunduk dengan wajah yang terlihat khawatir.Sedangkan Zain yang berada di sampingnya hanya menampakkan wajah datar seperti biasanya.Ia terlihat sangat tenang, seakan-akan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.
Hingga sampailah mereka di sebuah rumah.Pak Salim mengetuk pintu rumah tersebut.
"Assalamualaikum"tak ada sahutan.Pak Salim kembali mengetuk sambil mengucap salam hingga beberapa kali.
"Waalaikumsalam"sahut seseorang dari balik pintu.Pintu rumah itu pun terbuka.Nampak seorang bapak baruh baya yang terlihat sedang membenarkan posisi kacamatanya.Raut wajahnya terlihat bingung menatap kedatangan Pak Salim bersama beberapa orang lainya.
"Ada apa pak Haji…Kenapa pada rame begini"Matanya terlihat menatap ke arah Zain dan juga Nayla.
"Begini Pak kades,kami tidak sengaja memergoki sepasang muda-mudi ini tengah berduaan di dalam mobil"ujarnya sambil menunjuk ke arah Zain dan juga Nayla.
"Kami curiga,mereka sedang berbuat tidak senonoh"sambungnya.Pak kades terlihat menatap ke arah Zain dan juga Nayla yang sedari tadi hanya diam saja.Ia menghela nafasnya.
"Sebaiknya kita bicarakan didalam saja"ajak pak Kades.Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
Zain dan Nayla sedang introgasi.Berbagai pertanyaan di lontarkan kepada mereka.Dengan tenang Zain menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.Dengan tegas ia membantah telah melakukan tindakan tidak senonoh bersama Nayla.Sedangkan Nayla,ia hanya diam membiarkan Zain menjelaskan semuanya.Baginya memang sudah sepatutnya Zain yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah tersebut.Rasa kesalnya kepada Zain semakin bertambah saja.Kalau saja Zain tidak membawanya ketempat itu.Maka hal ini tidak akan pernah terjadi.
Pak kades mendengarkan penjelasan Zain dengan seksama.Ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar apa yang di tuturkan oleh Zain.
"Nak…Walaupun semua yang kamu katakan itu benar,tapi saya tidak bisa membantu kalian"
"Di tempat kami,kami begitu menjunjung nilai agama"
"Kami tidak bisa memaklumi kalian yang berduaan di dalam mobil walaupun tidak melakukan tindakan senonoh"
"Apa lagi kalian sedang berada di wilayah kami"
"Sesuai tradisi di sini"
"Jika sepasang pria dan wanita ketahuan berduaan tanpa memiliki hubungan suami istri,maka mereka harus di nikahkan"ujar pak kades dengan nada yang tegas.
Nayla terkejut mendengar apa yang di tuturkan oleh pak kades.
"Jadi maksudnya kami harus menikah"tanya Nayla.Nayla berharap ia hanya salah dengar.
"Iya Nak,kalian harus kami nikahkan untuk menghindari fitnah"jawab pak kades.
"Saya gak mau"Nayla menolak dengan cepat.Ia menoleh ke arah Zain yang juga terlihat menoleh ke arahnya.Zain mengkode Nayla untuk tenang.Nayla pun menurut.
"Maaf pak,tapi kami tidak bisa"
"Kami memang ada rencana untuk menikah tapi nanti"
__ADS_1
"Semua yang terjadi ini hanya salah paham"
"Saya harap bapak-bapak semua mau melepaskan kami berdua"ucap Zain sedikit memohon.
"Ohh jadi begitu…Lalu apa salahnya jika kalian menikah sekarang"
"Bukankah nanti akan sama saja"ujar pak kades sambil menatap Zain.
"Benar pak,tapi menikah tidak segampang itu"
"Kami harus mempersiapkan banyak hal"
"Banyak dokumen yang harus di urus"
"Apa lagi ini sudah malam,semua kantor KUA pasti sudah tutup"jawab Zain dengan polos.Pak kades terkekeh mendengar jawaban Zain.Ternyata itu yang di khawatirkannya.
"Kalian bisa menikah secara agama dulu"
"Asalkan ada mahar serta wali dari pihak perempuan"
"Untuk urusan dokumen pernikahan bisa di susul nanti"ujar pak kades menjelaskan.Nayla menggeleng cepat.Ia belum mau menikah.
Nayla masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah bertunangan dengan Zain.Dan kini ia harus menikah secara tiba-tiba.Tentu saja ia tidak akan mau.Ia belum siap.
"Saya tidak setuju pak,saya belum siap"Nayla menundukkan pandangannya.Wajahnya terlihat sedih.Zain mengusap kepala Nayla untuk menenangkannya.
Nayla menoleh ke arah Zain.Terlihat wajah Zain yang datar.Namun bukan itu yang menjadi fokusnya.Ia melihat tatapan Zain yang hangat tidak seperti biasanya.Hati Nayla menghangat,tanpa sadar ia tersenyum ke arah Zain.
"Baiklah begini saja"
"Kamu telpon kedua orangtua kamu"
"Jika mereka setuju,maka kalian akan kami nikahkan"
"Jika tidak,kami akan melepaskan kalian"ujar pak kades akhirnya.Semuanya pun setuju kecuali Nayla.Ia terlihat ragu.
"Bagaimana nak,kamu setuju"pak kades menatap Nayla yang terlihat sedang berpikir.
Cukup lama Nayla terdiam.Ia pun mengangguk setuju.Ia hanya berharap kedua orangtuanya tidak setuju jika ia menikah sekarang.Walau kecil kemungkinannya,terlebih lagi hubungannya bersama Zain adalah hasil perjodohan kedua orangtuanya.
"Ya sudah coba kamu telpon orangtua kamu"Nayla mengambil ponselnya.
"Hp saya lowbat pak"
"Saya juga gak hapal nomer orangtua saya"sambung Nayla dengan cepat.Untuk pertama kalinya Nayla sangat bersyukur ponselnya mati di waktu yang pas.
"Pake hp saya saja,saya punya nomer om Wira"Zain menyerahkan ponselnya kepada Nayla.
'Dasar kampret…'
'Udah bagus tadi hp gue mati'
__ADS_1
'Napa lu jadi ngasih hp lo ke gue sih'umpat Nayla.Ia menerima ponselnya Zain dengan wajah yang kesal.Sedangkan Zain terlihat acuh di tatap demikian oleh Nayla.
Nayla mengotak-atik ponsel Zain.Ia lalu menekan nomer bertuliskan nama ayahnya.Terdengar nada ponsel yang tersambung.
Di tempat Wira
"Mas…Hp kamu bunyi tuh"teriak Melly kepada Wira yang terlihat sibuk dengan laptopnya.Mereka berdua sedang berada di luar kota.
Tak ada sahutan.Akhirnya Melly mendekati Wira sambil membawa ponsel sang suami.
"Angkat dulu Mas,siapa tau penting"Melly menyerahkan ponsel tersebut kepada Wira yang terlihat memengok ke arahnya.Wira menerimanya.Ia terlihat membenarkan posisi kacamatanya sambil menatap pada layar ponsel.
"Tumben Zain nelpon,ada apa ya…"tanya Wira pada diri sendiri.
"Haahh…Zain yang telpon"
"Coba angkat Yah siapa tau ada yang penting"
"Di loudspeaker Yah,Bunda juga mau denger"Wira mengangkat telpon dari Zain tidak lupa ia juga meloadspeaker ponselnya seperti permintaan Melly.
"Hallo…Ada apa Zain"tanya Wira.
"Ayaahh…Ini Nayla…"
"Loh Nayla…Kenapa ponsel Zain ada sama kamu"terdengar suara Nayla yang menangis.
"Apa yang terjadi Nak"tanya Wira dengan nada khawatir.Begitu juga dengan Melly.
"Biar saya yang ngomong ke Ayah kamu"ujar Pak Kades kepada Nayla yang terlihat menangis.Nayla menyerahkan ponsel Zain.
"Halo…Nayla…Kamu masih di sana nak…"Cukup lama tak ada sahutan dari Nayla.Membuat Wira dan Melly semakin panik.
"Halo…Maaf sudah membuat kalian khawatir…Anak kalian Nayla sedang baik-baik saja"ujar pak kades.Ia juga memperkenalkan dirinya kepada Wira.Terdengar helaan nafas lega dari sebrang telpon.
"Syukurlah saya kira anak saya kenapa-kenapa"
"Tapi sebenarnya apa yang terjadi"
"Kenapa anak saya bisa ada disana"tanya Wira.Lalu pak kades pun menceritakan kejadian awalnya.
Wira terkejut mendengar apa yang di katakan oleh pak kades.Begitu juga dengan Melly,ia terlihat menutup mulutnya tak menyangka.
"Begitulah kejadiannya pak,dan tujuan kami menghubungi anda adalah untuk meminta restu menikahkan mereka berdua"ujar pak kades kepada Wira.
Wira terlihat sedang berpikir.Ia menoleh ke arah Melly.Terlihat sang istri menganggukkan kepalanya sambil terseyum.
"Hmm…Sepertinya anak-anak kami sudah tidak sabar"ujar Wira dengan nada sedih.Padahal dalam hati ia sedang bersorak kegirangan.
"Baiklah saya setuju,saya serahkan perwalian saya kepada bapak"sambung Wira dengan nada pasrah.
"Enggak Yaahh…Nayla gak mau"ia terkejut mendengar perkataan sang ayah.Ia merengek-rengek sambil menangis.Berharap ayahnya mengubah keputusannya.Namun Wira tetap teguh pada keputusannya.
__ADS_1
Dan pada akhirnya Zain dan Nayla di nikahkan pada malam itu juga.Nayla hanya bisa pasrah menerima nasibnya.Ia tak menyangka statusnya kini telah berubah menjadi seorang istri.