Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Jatuh cinta


__ADS_3

Nayla terus berjalan pergi meninggal Justin yang terus memanggilnya.


Sudah cukup.Ia tidak ingin mendengar apa-apa lagi.Hatinya sudah terlalu sakit jika terus mendengar apa yang Justin katakan.


Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk bisa mengobati luka di hatinya.Dan kini luka itu kembali terbuka lebar tanpa di minta.


Tak ada lagi cinta yang tersisa untuk Justin semenjak kejadian kelam itu.Yang ada hanya kebencian dan rasa jijik di hati Nayla.


Nayla terus berjalan menyusuri koridor yang sudah terlihat sepi.Pandang matanya terlihat kosong menatap ke arah depan.


Dan di waktu yang sama Zain sedang berjalan sedikit terburu-buru.Bukan karena ia sibuk,tapi guna menghindari bu Devi yang sedari pagi terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.Bahkan sampai sekarang pun bu Devi terus mengikutinya.Dan hal itu membuat dirinya sangat tidak nyaman.


Bruk…


Karena terlalu terburu-buru Zain tak memperhatikan jalan.Hingga membuat dirinya tanpa sengaja menabrak seseorang sampai terjatuh.


"Maaf saya tidak sengaja"Zain mengulurkan tangannya kepada orang tersebut.Namun matanya mengarah kebelakang khawatir jika bu Devi menyusulnya.


Namun orang tersebut tak bergeming sama sekali.Ia terlihat terduduk pasrah tanpa berniat sama sekali untuk menyambut tangan Zain.


Merasa tak ada yang menyambut tangannya.Zain langsung menoleh ke bawah.Ia begitu terkejut begitu melihat orang yang ia tabrak ternyata adalah Nayla.


"Nayla…"Mendengar ada yang menyebut namanya,Nayla langsung mendongakkan kepalanya.Terlihat wajah tampan Zain menatap khawatir dirinya.Tatapan mata Nayla yang tadinya kosong langsung berubah sayu seperti ingin menangis.


Melihat reaksi wajah Nayla,. membuat Zain bingung.Ia lalu memapah Nayla agar berdiri.


"Kenapa?"


"Apa ada yang sakit?"


"Katakan di mana yang sakit?"Zain memutar tubuh Nayla,khawatir jika gadis itu terluka.Nayla hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Zain.


"Ada apa"tanya Zain lagi.Melihat dari raut wajah Nayla,ia tahu bahwa Nayla sedang tidak baik-baik saja.


Huaaa…


Nayla langsung memeluk Zain.Ia tak peduli sedang di mana dia sekarang.Yang ia pikirkan adalah ia sangat membutuhkan pelukan seseorang sekarang juga.


Zain terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Nayla.Meski begitu ia tak berniat sama sekali untuk melepas pelukan tersebut.Ia membiarkan Nayla memeluknya hingga gadis itu merasa tenang.


Hiks hiks…


Nayla terisak di dalam pelukan Zain.Ia bahkan sudah tak peduli jika ada yang melihat mereka berdua.Zain mengelus kepala Nayla dengan lembut.Entah apa yang telah terjadi kepada Nayla hingga membuat gadis itu menangis.Hatinya ikut merasakan sakit ketika melihat Nayla yang menangis seperti sekarang.


'Tidak…'


'Nayla tidak boleh menangis seperti ini lagi'


'Dia harus selalu tersenyum'

__ADS_1


'Tidak boleh ada air mata lagi'Zain mengepalkan tangannya.Dalam hati ia bertekat tak akan membiarkan Nayla menangis seperti ini lagi.


Sedangkan disisi lain,nampak Rita yang sedang celingak-celinguk mencari keberadaan Nayla.Setelah selesai menghajar Justin dan meninggalkannya lelaki itu begitu saja di dalam gudang dalam keadaan babak belur.Rita langsung pergi mencari sahabatnya itu.Ia sangat mengkhawatirkan Nayla.Ia takut Nayla akan berbuat nekat seperti dulu.


"Aduh Nay…"


"Lo kemana sih?"


"Semoga lo gak berbuat nekat lagi"Rita sangat cemas akan keadaan Nayla.Ia terus berjalan menyusuri koridor dan sampailah Rita ke tempat Nayla dan juga Zain berada.


"Eh?"Rita menutup mulutnya sambil menatap takjub pada pemandangan di depannya.


"Syukur deh Nayla gak kenapa-kenapa"Rita menghela napas lega.Ia lalu kembali menoleh ke arah Nayla dan Zain yang terlihat masih berpelukan.


"Momen langka kek gini harus di abadiin hehe…"Rita mengambil ponsel di sakunya lalu memotret Nayla dan juga Zain.


"Mantap"


"Hehe…Mending gue cabut aja"


"Lagian di sini juga sepi"


"Gak bakal ada anak kampus yang bakal ngeliat mereka berdua"Rita melangkah pergi meninggalkan dua sejoli yang masih terlihat berpelukan.


Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu.Nayla juga sudah terlihat lebih tenang.Namun,pelukan Zain terasa sangat nyaman untuknya,hingga membuat ia enggan untuk melepaskan pelukan itu.


Bukan hanya Nayla yang merasa begitu.Zain pun merasakan hal yang sama.Ada rasa tidak rela di hatinya jika pelukan itu harus berakhir.


Bunyi bel pertanda masuk kelas pun berbunyi hingga membuat Nayla tersadar.Ia langsung melepas pelukannya pada Zain.


"Eh…Maaf pak…Saya gak bermaksud…"Nayla langsung gelagapan begitu sadar akan perbuatannya.


"Tidak apa-apa"


"Saya paham kamu pasti sedang sedih sekarang"


"Kamu bisa cerita sama saya"


"Mungkin saya bisa membantu masalah kamu"ucap Zain menawarkan diri.Ia berharap Nayla mau menceritakan masalah yang sedang menimpanya.


Mendengar itu,Nayla langsung menggelengkan kepalanya.


"Gak kok pak…"


"Saya bisa ngatasin sendiri"


"Lagian ini cuma masalah kecil kok"


"Gak ada yang perlu di bantu hehe…"Nayla langsung menolak tawaran Zain.Dia tidak ingin Zain sampai tau masalah yang ia hadapi.Lagi pula ini adalah urusannya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan Zain.

__ADS_1


"Hmm…Baiklah"


"Tapi jika kamu gak bisa mengatasinya sendiri"


"Kamu bisa minta bantuan saya"Zain sedikit kecewa karena Nayla tidak mau menerima bantuannya.Tetapi ia menghargai keputusan Nayla dan memilih diam.


"Iya pak"jawab Nayla sambil tersenyum.Dalam hati ia merasa senang karena Zain menjadi perhatian sekarang.


"Ya sudah"


"Kamu masuk ke kelas sekarang"perintah Zain kepada.


Nayla mengangguk antusias.


"Baik bos"Nayla langsung berbalik, begitu juga dengan Zain.Namun baru beberapa langkah Nayla berjalan,ia kembali menoleh.


"Pak tunggu"mendengar Nayla yang memanggilnya.Zain langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nayla.


Nayla langsung bergegas menghampiri Zain kembali.


"Ada apa"tanya Zain begitu Nayla sudah sampai di hadapannya.


"Bapak bisa nunduk dikit gak"


"Ada yang mau saya bisikin sama bapak"


"Penting"ujar Nayla kepada Zain.


"Ngomong langsung kan bisa"


"Kenapa harus bisik-bisik segala"


"Lagi pula gak bakal ada yang denger"Zain mengernyitkan dahinya bingung mendengar permintaan Nayla.


"Ish…Nurut aja napa pak"


"Gak lama kok"pinta Nayla sedikit memaksa.


Zain menghela napas dan menuruti keinginan Nayla,ia lebih memilih menurut daripada harus terlambat masuk kelas pikirnya.


Melihat Zain yang menunduk.Nayla langsung mendekat dan…


Cup


"Makasih"setelah mengucapkan itu,Nayla langsung berlari menuju kelas meninggalkan Zain yang terpaku akan tindakan Nayla.Zain menyentuh pipinya yang baru saja di cium oleh Nayla.Seulas senyum mengembang di wajahnya yang tampan.


"Dasar gadis kecil"


"Sudah berani mencuri kesempatan dalam kesempitan rupanya"Zain menatap kepergiaan Nayla dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu hanya akan jadi milik saya Nayla"


"Entah kamu cinta ataupun tidak"ucap Zain sembari berbalik pergi dari sana.Ia sudah bertekat menjadikan Nayla miliknya.Karena Zain sadar bahwa dirinya sudah jatuh cinta kepada Nayla.


__ADS_2