
Di ruang perawatan
Terlihat Zain sedang duduk di samping pembaringan sambil menatap nanar ke arah Nayla yang masih belum sadarkan diri.
Santi berjalan menghampiri Zain.Ia lalu menyentuh pundak putranya itu.
"Zain"Zain langsung menoleh ke arah Santi.
"Mama sudah buat laporan ke kantor polisi"
"Mereka sedang melakukan penangkapan kepada wanita itu"
"Dan besok kamu harus pergi kesana untuk bersaksi"Zain hanya mengangguk mendengar penjelasan sang Mama.Matanya masih setia menatap ke arah sang istri.
"Mama juga udah ngasih tau mertua kamu tentang kondisi Nayla"
"Mereka bilang kalau mereka belum bisa datang kesini"
"Ada urusan yang harus di selesaikan"Zain tertegun mendengar hal itu.Tanpa menoleh ke arah Santi.Ia lalu berkata dengan nada dingin.
"Sesibuk itu kah mereka sampai tidak bisa datang kesini"
"Putri mereka sedang sakit sekarang"
"Apa urusan mereka itu lebih penting daripada nyawa putri mereka sendiri"Zain tak habis pikir dengan kedua orangtua Nayla.Bagaimana bisa mereka lebih mementingkan pekerjaan dari pada anak mereka sendiri.
Santi menghela napas mendengar perkataan sang putra.Ia sangat ingin memberi tahu hal yang sebenarnya tentang kedua orang tua Nayla.Namun Wira dan Melly sudah membuatnya berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun terutama Nayla.
"Sudahlah Zain…"
"Mungkin mereka benar-benar sibuk"Zain hanya berdecak malas.
"Bagaimana dengan Nathan?"
"Apa dia juga tidak bisa datang?"Zain sangat tahu bahwa Nayla sangat dekat dengan sang kakak.Jika mertuanya tidak bisa datang,setidaknya iparnya itu yang harus datang.Ia tidak ingin melihat Nayla sedih ketika tahu bahwa keluarganya tidak ada di saat ia siuman nanti.
"Nathan sedang berada di luar kota"
"Tapi dia bilang akan datang secepatnya"ucap Santi sambil menatap ke arah menantunya.Zain hanya berdeham ia lalu kembali menatap ke arah Nayla.
Sedangkan di tempat lain.
Devi sedang mengemasi barang-barangnya.Ia mencoba kabur dari kejaran polisi.Sebelum itu,ia sudah menghapus rekaman cctv untuk menghilangkan bukti kejahatannya.
"Aku harus cepet pergi dari sini"Devi langsung menyeret kopernya keluar dari kamar.
Namun di saat Devi keluar ia tak sengaja berpapasan dengan keponakannya Sherly.
"Tante mau kemana malam-malam gini"tanya gadis berpenampilan culun itu.Ia menatap sang tante yang terlihat terburu-buru.
"Emm…Ta-tante mau pergi keluar kota sayang"
"Ada temen Tante yang sakit"
"Jadi…Tante mau jengukin dia"sebisa mungkin ia memberi alasan kepada keponakannnya itu.Ia tak ingin Sherly tahu tentang kejahatan yang sudah ia lakukan.
"Emang harus pergi malam-malam gini ya Tante?"
"Ini udah malam banget,kenapa gak besok aja sih Tan?"tanya Sherly lagi ia lalu melirik ke arah koper besar yang Devi pegang.
"Iya sayang"
"Soalnya penerbangan kesana cuma ada malam ini"
"Jadi terpaksa Tante harus pergi malam ini"Devi melirik ke arah jam dengan gelisah.Ia ingin cepat-cepat pergi sebelum polisi datang menangkapnya.Devi sedikit jengkel dengan keponakannya itu.Namun ia mencoba tetap tenang agar Sherly tidak curiga.
"Ohh…Tante kesana lama ya…"
"Bawaannya banyak banget"ucap Sherly sambil menunjuk ke arah koper Devi.
"Iya Sher…Sekalian liburan"Sherly hanya ber oh ria mendengar jawaban dari tantenya itu.
"Yaudah Tante berangkat dulu ya"Devi memeluk ponakannya itu.
"Jaga diri kamu baik-baik"
"Kamu juga harus jagain adik kamu"
"Jangan sering berantem sama Sheril"
"Sebagai kakak kamu harus ngalah sama adik"
"Ngerti"ucap Devi sambil melonggarkan pelukannya.
"Iyaa…Tante…"
"Tante bawel banget deh…"ejek Sherly kepada tantenya itu.
"Kamu tuh ya…"
__ADS_1
"Tante bawel gini juga demi kebaikan kalian"Devi berkacak pinggang di hadapan Sherly.
"Hehe…Becanda Tan…"Sherly mengangkat dua jarinya hingga membentuk huruf v sambil cengengesan.
"Huuuh…Dasar"
"Yaudah Tante pergi sekarang"
"Kalo Sheril udah pulang bilangin kalo Tante pergi"Devi kembali menyeret kopernya dengan terburu-buru.
"Okey Tante"jawab Sherly sambil mengacungkan jempol ke arah sang Tante.
"Oh iya satu lagi"
"Kalau nanti ada yang nyariin Tante"
"Siapa pun itu"
"Bilang aja nggak tau"ucapnya sambil menoleh ke arah Sherly yang terlihat mengkerutkan keningnya.Ia sedikit bingung mendengar permintaan Devi yang terdengar sedikit aneh.Meskipun begitu Sherly hanya bisa menurut.Ia langsung mengangguk tanda menginyakan.
Sekitar 30 menit setelah kepergiaan Devi dari rumah.Terdengar suara sirine mobil polisi dari depan rumah.
Sherly yang awalnya sedang tertidur pulas di kamar langsung keluar begitu mendengar suara tersebut.Sherly lalu keluar dari kamarnya.Terlihat adiknya Sheril juga ikut keluar.
"Dek kamu juga denger suara itu"tanya Sherly kepada sang adik.Sheril langsung mengangguk.
"Iya Kak"
"Aku juga denger"ucap Sheril sambil menatap ke arah sang kakak.
"Ada apa ya kak?"Sherly hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan sang adik.
Tok tok tok…
Mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu.
"Siapa yang ngetok Kak?"Sheril langsung menggandeng erat tangan sang kakak.Entah kenapa ia merasa sangat khawatir.
"Ck…Mana kakak tau"
"Emang kakak peramal apa"Sheril mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban kakaknya itu.
"Ihh…Aku serius tau kak…"Sheril menatap jengkel ke arah Sherly yang terlihat acuh.
Tok tok tok…
"Permisi…"
"Orangnya manggil tuh"
"Kakak bukain gih"Sheril mendorong tubuh sang kakak.
"Loh…Kok kakak sih"
"Kamu aja yang bukain sana"Sherly balik mendorong sang adik.
"Kakak kan lebih tua dari aku"
"Kakak dong yang bukain"
"Justru karena Kakak lebih tua makanya nyuruh kamu"
"Mana bisa gitu"
"Ayo dong Kak…"
"Yang tua harus ngalah sama yang muda"Sheril terus mendorong Kakaknya ke arah pintu.
"Justru yang muda harus nurut sama yang tua"Sherly juga tak mau kalah.Mereka saling mendorong satu sama lain hingga suara gedoran membuat mereka berhenti.
Brak brak brak…
"Jika tidak ada yang mau membuka pintu"
"Maka akan kami dobrak"ancam orang tersebut.
"Tuh kan Kak"
"Orangnya marah "Sheril langsung bersembunyi di belakang Sherly.
"Haiiss…Yaudah Kakak yang buka"Sherly memilih mengalah ia lalu berjalan ke arah pintu di ikuti oleh sang adik.
Sherly membuka pintu rumahnya. Setelah pintu terbuka,ia sangat terkejut begitu melihat beberapa orang polisi sedang berdiri di depan pintu.Tak hanya Sherly,Sheril pun sama terkejutnya.Ia langsung menggandeng tangan kakaknya dengan sangat erat karena merasa takut.
"Selamat malam"
"Malam pak"jawab Sherly sedikit gugup.Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan polisi.
"Apa benar ini kediaman Munaf"tanya polisi itu lagi.
__ADS_1
Sherly menggangguk.
"Be-Benar pak…"
"Ada yang bisa saya bantu"tanya Sherly.Jantungnya berdebar sangat kencang karena merasa gugup.
"Begini"
"Kami mendapat perintah dari atasan kami untuk melakukan penangkapan kepada Ibu Devika Munaf"
"Dan ini surat penangkapannya"ujar polisi itu sambil menyerahkan surat tersebut kepada Sherly.Sherly menerimanya dengan tangan yang gemetar.
Tubuhnya langsung kaku seketika begitu melihat nama sang Tante tertera jelas di surat tersebut.
'Apakah ini alasan sebenarnya kenapa Tante Devi pergi'tanya Sherly pada diri sendiri.
"Tapi atas dasar apa kalian ingin menangkap Tante saya"Sheril yang sedari tadi hanya diam langsung berbicara.Ia sangat emosi begitu mendengar mereka ingin menangkap sang Tante.Sedangkan Sherly ia terlihat mematung di tempat.Ia masih sangat syok.
"Kami mendapat laporan kalau Bu Devika telah melakukan penganiayaan terhadap salah satu mahasiswi di kampusnya"
"Bukan hanya itu,ia juga di tuduh telah membius seorang dosen yang tak lain adalah suami dari mahasiswi tersebut"ujar polisi itu panjang lebar.
"Nggak…Itu gak mungkin"
"Ini pasti cuma fitnah"Sheril menolak untuk percaya.Tidak mungkin tantenya akan melakukan hal seperti itu.
"Kami hanya menjalankan tugas"
"Untuk masalah benar atau salah itu akan di tentukan oleh pengadilan"
"Jadi kami minta pada kalian"
"Tolong kerja samanya"ucap polisi tersebut.
"Tante saya tidak ada di rumah"
"Jadi silahkan kalian pergi dari sini"usir Sheril kepada para polisi tersebut.
"Kalau begitu bisa beri tahu kami di mana Bu Devika sekarang"tanya polisi itu lagi.
"Kami gak tau"jawab Sheril dengan nada ketus.
"Mending kalian pergi dari sini sebelum saya ngamuk"ancam Sheril sambil mencoba mengusir para polisi itu.Dan perbuatan Sheril membuat mereka sangat jengkel.
"Maaf nona kami hanya menjalankan tugas"
"Jadi katakan yang sejujurnya di mana Bu Devika"polisi itu meninggikan suaranya.
Bukannya takut Sheril justru semakin berani.
"Saya bilang gak tau"
"Apa kuping bapak budeg sampai gak bisa denger omongan saya"Sheril berkacak pinggang di hadapan polisi itu.
"KAMU…"
"Tolong hentikan"Sherly yang sedari tadi diam mematung langsung tersadar.
"Maaf atas perilaku adik saya yang kurang sopan"
"Tapi adik saya sudak berkata jujur"
"Kami memang tidak tau di mana keberadaan Tante Devi"
"Tapi…"Sherly menjeda ucapannya.Ia sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Tante kami baru pergi sekitar 30 menit yang lalu"
"Dia bilang ingin keluar kota untuk menjenguk temannya yang sakit"Sheril menatap tak percaya ke arah sang kakak.Bagaimana bisa kakaknya itu memberi tahu kepergiaan sang tantr.Padahal Devi sudah mewanti-wanti mereka untuk tidak mengatakan apapun.
"Apa kalian tahu siapa temannya"Sherly menggelengkan kepalanya.
"Tidak"jawab Sherly singkat.
"Baiklah"
"Terima kasih atas informasinya"
"Maaf sudah mengganggu kalian"
"Selamat malam"Sherly hanya mengangguk.
Setelah para polisi itu pergi.Sherly lalu mengajak adiknya untuk masuk.
Bonus visual
Sheril Jelita Munaf
__ADS_1
Justin Geraldi Abraham