
"Nayla…"
"Hari ini kan hari minggu"
"Gimana kalo kita pergi shopping"ajak Santi kepada Nayla.Nayla tampak berpikir sebentar,lalu mengangguk setuju.
"Boleh deh Ma…Nayla juga udah lama gak shopping"
"Yaudah ayo kita berangkat sekarang"
"Mumpung belum terlalu siang ini"Santi menarik tangan Nayla agar mengikuti langkahnya.Terlihat ia sedang menuju ruang kerja sang putra.Pintu ruangan yang tidak di kunci memudahkan ia untuk langsung masuk.
"Zain…Zain…"teriakan Santi membuat Zain menoleh.
"Ada apa Ma…"tanya Zain halus.Ia menoleh sekilas ke arah Santi.Lalu kembali fokus menatap layar komputer yang ada hadapannya.
"Zain ayo anterin Mama sama Nayla ke Mall."
"Udah lama Mama gak shopping nih"
"Mumpung hari ini Nayla libur kuliah"Zain kembali menatap sekilas ke arah sang Mama.Lalu ia menoleh ke arah Nayla yang terlihat membuang mukanya ke arah lain.
Bukan tanpa sebab kenapa Nayla melakukan itu.Entah kenapa Nayla merasa sangat gugup ketika ia bersitatap dengan mata Zain yang terkesan sangat dingin itu.
Zain menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Zain sibuk Ma"ucapan Zain membuat Santi mendengus.Namun lain halnya dengan Nayla.Ia terlihat menarik napas lega.
"Kamu itu selalu aja sibuk"
"Gak bisa apa sehari aja kamu gak tatap-tatapan sama dokumen kamu itu"
"Ini hari minggu loh Zain…Waktunya libur…"Zain hanya diam mendengarkan perkataan Santi.Matanya masih terlihat fokus menatap pekerjaannya.
"ZAIN…Kamu denger gak sih dari tadi Mama ngomong"Santi menatap kesal putranya itu.
"Hmm…"
"Kan ada supir yang bisa anterin Mama…"jawaban Zain membuat Santi semakin kesal saja.
"ANAK MAMA ITU KAMU ATAU SUPIR…"
"Mama maunya kamu yang anterin kita…"Santi berkacak pinggang dihadapan sang putra,ia juga terlihat melotot.Sedangkan Nayla ia hanya bisa diam melihat perdebatan antara suami dan mertuanya itu.Ia bingung harus melakukan apa.Ingin menjadi penengah mereka,Nayla merasa tidak yakin.Perbedaan suhu di antara keduanya sangat terasa.Santi yang membara seperti api sedangkan Zain yang sedingin es itu.Membuat Nayla harus berpikir beberapa kali untuk ikut campur.
"Haiiss…Yaudah nanti Zain anterin…"
"Tapi tunggu Zain selesaiin ini dulu"Zain akhirnya mengalah.
"Gak ada nanti-nanti"
"Mama maunya SEKARANG"
"Tanggung Ma…Lagian tinggal sedikit kok ini…"
"ZAIN…"suara Santi terdengar naik satu oktaf hingga membuat Nayla yang berada di belakangnya menjadi terkejut.Bukan hanya terkejut karena suara menggelegar sang mertua tapi juga terkejut saat ia melihat sendiri sifat Santi yang tadinya halus kini berubah layaknya emak-emak barbar.
"Iyaa…Ma…Kita pergi sekarang…"Zain lebih memilih mengalah.Sampai kapan pun juga ia tidak akan pernah menang jika sudah berdebat dengan sang mama.Kalaupun ia menang,Zain tidak yakin apakah dmia akan selamat dari amukan Santi.Membayangkannya saja sudah membuat ia bergidik ngeri.
"Nah gitu dong…"
"Jadi anak itu harus nurut apa kata orangtua"
"Jangan ngebantah terus…"suara Santi berubah lembut seketika.Hingga membuat Nayla terperangah.Astaga…Sebenarnya ia memiliki mertua yang seperti apa.
"Ayo Nayla kita kebawah…"ajak Santi kepada Nayla yang terlihat terbengong,begitu melihat sendiri bagaimana sang mertua menaklukkan Zain yang dikenak dingin itu.
"Ehh…Iya Ma…"Nayla yang tersadar langsung mengikuti langkah Santi keluar dari ruangan tersebut.Meninggalkan Zain yang terlihat mendengus.
Sesampainya di mall…
Santi tidak melepaskan Zain begitu saja.Ia menyuruh Zain untuk mengikuti mereka berbelanja.Zain hanya bisa pasrah menerima perintah dari Santi.
__ADS_1
Santi terlihat sangat bersemangat.Ia terus menarik Nayla kesana-kemari.Hampir sebagian toko di pusat perbelanjaan tersebut sudah mereka masuki.Nayla sedikit kewalahan mengikuti langkah Santi, yang seakan-akan tidak kelelahan sama sekali.
"Nayla…Coba kamu pake drees yang ini,kayaknya cocok deh sama kamu"Santi menyodorkan sebuah dress kepada Nayla.
"Tapi Ma…Punya Nayla udah banyak banget ini…"tolak Nayla halus, terlihat menenteng beberapa paperbag kehadapan Santi.
Sudah sepuluh pasang baju yang Nayla ambil atas perintah Santi.Walaupun Nayla sudah lama tidak berbelanja.Tapi ia tidak akan pernah sampai membeli baju sebanyak itu.Nayla bukan tipe perempuan yang suka menghambur-hamburkan uang.Apalagi untuk barang-barang yang menurut Nayla kurang penting.Nayla lebih suka membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang ia sukai misalnya makanan.
"Banyak darimana,itu baru sepuluh pasang baju"
"Kita aja belum beli sepatu sama tas…"ucap Santi tanpa menoleh ke arah Nayla.Ia masih terlihat sibuk memilih-milih dress yang akan ia belikan untuk Nayla.
"Tapi Ma…Nayla udah cape harus bawa barang sebanyak ini"Nayla memasang wajah memelas di depan Santi.Berharap mertuanya itu mau berhenti membelikannya barang-barang yang kurang ia butuhkan itu.
"Ya ampun sayang…"
"Kenapa kamu baru bilang…"
"Zain…Cepat bawa barangnya Nayla…"
"Kamu ini,istri kesusahan dari tadi bukannya di tolong malah di liatin aja"
"Kasian kan mantu Mama kecapean"Santi mengelus pucuk kepala Nayla.Sedangkan Nayla hanya bisa tersenyum kecut ke arah sang mertua.Bukan ini yang ia maksudkan…
Zain mengambil paperbag yang Nayla bawa tanpa berbicara satu kata pun.Perbuatan Zain membuat Nayla tersentak.
"Ehh…Gak usah Pak…"
"Saya bisa bawa sendiri…"Nayla mencoba merebut kembali paperbag yang berada di tangan Zain.Namun Santi menghentikan.
"Udah…Gak papa kok sayang…"
"Emang udah seharusnya seorang suami itu nolongin istrinya yang lagi kesusahan"
"Lagian Mama ngajak Zain emang buat di suruh bawa belanjaan"ujar sambil tertawa.Nayla hanya bisa tersenyum kecut.Ia kemudian menoleh ke arah Zain yang terlihat tidak peduli sama sekali.
Santi lalu kembali menarik Nayla ketoko lainnya.
"Ehh…Jeng Santi…"
"Kebetulan banget kita ketemu disini…"sapaan dari wanita tersebut membuat mereka menoleh,kecuali Zain.Ia nampak fokus menatap ponsel yang ada di tangan kanannya.
"Eh…Jeng Erin…"Santi membalas sapaan dari wanita yang bernama Erin tersebut dengan senyum yang dipaksakan.
"Jeng Santi lagi ngapain disini…"tanya nya sekadar basa-basi.
"Lagi belanja lah Jeng…"
"Masa lagi dangdutan"jawab Santi masih dengan senyum yang sama.
"Ah…Jeng Santi Mah suka becanda"
"Ini siapa Jeng…Keponakan kamu ya…"Erin menunjuk ke arah Nayla yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Ohh iya…Kenalin ini Nayla"
"Dia istrinya Zain"Santi memperkenalkan Nayla dengan bangga.Erin yang mendengar itu terkejut seketika.
"Dia menantu kamu"tanya Erin memastikan.Ia menelisik Nayla dari bawah sampai ke atas.Terlihat ia tersenyum sinis.Nayla yang di pandang seperti itu merasa tidak nyaman.
"Iya…Dia menantu aku…Gimana cantikkan"ujar Santi sambil tersenyum bangga.
"Hmm…Lumayan cantik sih…"
"Tapi…Kok kamu bisa sih nikahin anak kamu sama abg kayak dia"tunjuknya lagi ke arah Nayla yang terlihat tersenyum kecut.
"Siapa yang abg sih Jeng…"
"Nayla ini udah 23 tahun…"Santi mengusap pundak Nayla.Khawatir kalau menantunya itu merasa tersinggung.
"Haah…Masa sih Jeng…"
__ADS_1
"Aku kira dia masih abg,soalnya penampilannya kekanak-kanakan banget sih"ujarnya sambil tersenyum remeh.
"Mommy…"mereka menoleh ke arah sumber suara.Terlihat seorang gadis berpakaian modis terlihat berlenggak-lenggok bak seorang foto model.
"Mommy…Dari tadi aku cariin juga"gadis itu melepas kacamata hitamnya.Ia lalu menatap ke arah Zain yang sedari tadi hanya fokus pada ponselnya.Wajahnya nampak bersemu merah.Ia begitu terpesona akan ketampanan Zain.
"Eh…Sayang…"
"Ini nih,Mommy lagi ngobrol sama temennya Mommy"
"Jeng Santi…Kenalin ini Siska anak aku"ujarnya sambil memperkenalkan sang putri kepada Santi.
"Siska…"ujar gadis tersebut sambil mengulurkan tangannya kepada Santi dan juga Nayla.Mereka berdua menyambut tangan gadis tersebut dengan senyum yang di paksakan.Kemudian gadis itu mengulurkan tangannya kepada Zain.Namun Zain tidak peduli.
"Zain"jawabnya singkat tanpa menoleh atau menyambut tangan gadis tersebut.Siska nampak tersenyum kecut.Baru kali ini ada laki-laki yang tidak terpesona padanya.Bahkan terkesan tidak peduli.Ia menarik kembali tangannya.Santi dan Nayla yang melihat itu mencoba untuk menahan tawanya ketika melihat raut wajah Siska yang berubah masam.
"Anak aku cantikkan Jeng"
"Liat aja penampilnya"
"Modis dan elegan"
"Gak kayak menantu kamu ini"
"Udah gak modis,gak elegan,gak keliatan dewasa sama sekali"
"Seharusnya kamu tuh nyari menantu kayak anak aku ini"
"Cantik dan keliatan dewasa"
"Cocok banget deh kalo dipasangin sama Zain"ujarnya sambil tersenyum bangga.Siska tersenyum mendengar mommynya begitu memuji-muji dirinya di hadapan mereka.Ia kembali menatap ke arah Zain yang sama sekali tidak peduli.
Santi yang mendengar itu mencoba untuk membalas perkataan dari Erin yang menurutnya sudah keterlaluan itu.Namun belum sempat ia berbicara,Nayla terlihat memegang tangannya.Santi menatap wajah Nayla yang terlihat menatapnya dengan senyum lembut.Nayla mengedipkan sebelah matanya kepada Santi mengisyaratkan bahwa ia bisa mengatasinya.
"Masa sih Tante aku keliatan kayak anak abg"tunjuk Nayla pada diri sendiri.Ia terlihat memasang wajah terkejut.Erin mengangguk sambil tersenyum sinis.
"Bagus dong…Berarti aku awet muda"ujar Nayla dengan bangga.Erin tersenyum kecut mendengar jawaban Nayla.Ia mengira Nayla akan marah saat mendengar dirinya yang mengatainya seperti abg.
"Ohh iya…Mbak Siska umurnya berapa"tanya Nayla sambil tersenyum ke arah Siska.
Siska yang mendengar Nayla yang memanggilnya dengan sebutan"Mbak"nampak tersenyum kecut.
"Ehh…Jangan panggil aku mbak…Aku masih muda loh…"
"Umur aku baru 21 kok"jawabnya sambil tersenyum masam ke arah Nayla.Nayla menutup mulutnya pura-pura terkejut.
"Haah…Masa sih baru 21"
"Aku kira kamu udah 30 tahun ke atas loh…"
"Bahkan tadi aku sempet ngira kamu itu adeknya tante Erin"ucapan Nayla membuat raut wajah Siska semakin masam.
"Habisnya dandanan kamu itu udah kayak tante-tante"
"Aku kan jadi pangling"tambah Nayla masih dengan wajah yang pura-pura terkejut.
"Heeh…Apa maksud kamu ngomong gitu sama anak saya"Erin tidak terima mendengar ucapan Nayla yang mengatai anaknya seperti tante-tante.
"Maksud kamu anak saya udah tua gitu…"Erin melotot ke arah Nayla.
"Gak kok Tante saya gak bilang gitu"
"Saya cuma bilang kalau dandan anak Tante itu bikin saya pangling"ucap Nayla dengan nada polos.Erin semakin emosi.Ia ingin membalas perkataan Nayla.Namun Siska menghalanginya.
"Udah Mom…Gak usah di balas lagi"
"Mending kita pergi dari sini…"
"Jangan bikin aku tambah malu"ujarnya setengah berbisik kepada sang Mommy.Ia benar-benar malu mendengar perkataan Nayla yang mengatai penampilannya.
Mendengar perkataan dari sang putri.Erin mendengus kesal.Ia lalu berbalik pergi meninggalkan Nayla dan lainnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
...Sampai disini dulu ya…...