
"Nayla, kamu jangan becanda"
"Saya Zain suami kamu"Zain menggoncang tubuh Nayla.Ia sangat terkejut mendengar perkataan Nayla yang tidak mengenalinya.
Nayla menyentak tangan Zain dari bahunya.
"Maaf ya…"
"Saya gak kenal sama om"
"Lagian saya ini masih SMA"
"Mana mungkin saya udah nikah"ucap Nayla dengan nada tak suka.Sedangkan Zain ia semakin terkejut mendengarnya.
"Kamu ngomong apa sih Nay"
"Kamu itu sudah kuliah"
"Kamu bukan anak SMA lagi"Zain terus mencoba menjelaskan semuanya kepada Nayla.Namun Nayla tak mau percaya.
"Denger ya om…"
"Saya ini belum nikah"
"Mungkin om salah orang"jawab Nayla santai meskipun sebenarnya hatinya merasa sedikit aneh seperti ada yang mengganjal.
Zain menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
"Gak Nay"
"Kamu itu istri saya"
"Kalo kamu mau bukti saya bisa menunjukkannya sama kamu"
"Liat…Ini foto kita waktu menikah" ucap Zain sambil memperlihatkan potret pernikahan mereka kepada Nayla.Nayla memperhatikan potret tersebut dengan seksama.
"Waah…Muka ceweknya mirip banget sama gue"
"Haiiss…Apa muka gue sepasaran itu yah"
"Sampe ada yang mirip banget ama gue"Zain menepuk dahinya mendengar perkataan Nayla.
"Itu bukannya mirip Nayla…"
"Tapi itu emang bener-bener kamu"Zain tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Nayla.Sepertinya gadis itu mengalami amnesia akibat benturan tersebut.Bila itu memang benar, bagaimana dengan nasib dan hubungan mereka kedepan nanti.Padahal Zain sudah berencana untuk mempererat hubungan mereka.Tapi tanpa di duga Nayla justru mengalami hilang ingatan.
"Masa sih itu saya"
"Kalo emang bener,kenapa saya gak bisa ingat apa pun tentang foto ini"tanya Nayla kepada Zain.
Namun belum sempat Zain menjelaskan terlihat seorang dokter dan suster masuk ke ruang rawat Nayla.
Zain dan Nayla langsung menoleh seketika.
"Permisi saya mau memeriksa pasien dulu"ucap dokter tersebut meminta ijin kepada Zain.Zain langsung menggeser tubuhnya agar dokter itu bisa memeriksa Nayla.Ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Nayla.
__ADS_1
Dokter tersebut terlihat memeriksa Nayla dengan serius.Mulai dari luka,detak jantung dan tekanan darah tak luput dari pemeriksaan.
"Apa kepala kamu masih terasa sakit?"tanya dokter tersebut kepada Nayla.Nayla nampak mengangguk.
"Iya Dok tapi sekarang udah mendingan"
"Tapi saya masih punya sedikit masalah dok?"Dokter itu terlihat mengerutkan keningnya.
"Benarkah?"
"Ada masalah apa?"tanya dokter itu bingung.
"Itu dok"tunjuk Nayla ke arah Zain sedari tadi hanya diam.Dokter itu mengikuti arah tunjuk Nayla.
"Dia dari tadi ngaku-ngaku jadi suami saya dok"
"Padahal saya gak kenal sama dia"
"Lagian saya kan masih SMA mana mungkin saya udah nikah"Dokter itu terlihat terkejut mendengar perkataan Nayla.Sedangkan Zain hanya bisa geleng-geleng kepala.Ia merasa frustasi dengan apa yang barusan di katakan oleh Nayla.
"Nayla…Kamu gak inget sama dia?"tunjuk dokter itu kepada Zain.Nayla terlihat mengangguk.
"Nayla…Kamu ingat gak ini tahun berapa?"tanya dokter tersebut.Ia hanya ingin memastikan sesuatu.
"Ingat…Ini tahun 2013"jawab Nayla dengan nada yakin.Mendengar jawaban Nayla.Dokter tersebut terlihat menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu"
"Sebaiknya kamu makan dulu lalu minum obat"
"Tapi gimana sama om itu dok?"
"Saya takut dia macem-macem sama saya"Zain sedikit kesal mendengar perkataan Nayla.Namun ia mencoba tetap sabar.
"Tenang saja"
"Saya akan membawa dia keluar"
"Makasih dokter ganteng"ucap Nayla sambil tersenyum manis.Bukan tanpa alasan ia memuji dokter itu.Karena memang dokter itu memiliki wajah yang cukup tampan dan terlihat masih muda.Meskipun wajahnya tak setampan Zain,namun wajahnya sangat enak untuk di pandang.
Dokter itu hanya bisa tersenyum kecut mendengat pujian Nayla kepadanya.Sedangkan Zain ia mengepalkan tangannya karena merasa cemburu.Wajahnya terlihat memerah mendengar Nayla memuji pria lain selain dirinya.Bahkan jika di ingat-ingat selama ini Nayla tak pernah memujinya sama sekali.Dan hal itu membuat Zain sangat geram.Namun ia tak bisa apa-apa.
'Sabar…'hanya kata itu yang mampu Zain ucapkan dalam hatinya.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
"Jadi bagaimana?"
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada istri saya"tanya Zain dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.Ia masih merasa kesal dengan kejadian sebelumnya di saat Nayla memuji dokter yang ada di hadapannya sekarang.
Dokter itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena di tatap sedemikian rupa oleh Zain.Tapi ia bisa memakluminya,karena memang ia sudah sangat sering mendapat perlakuan yang sama dari para suami pasien-pasien yang ia rawat entah itu tua atau pun muda.
"Begini…Setelah saya cermati sepertinya nona Nayla mengalami amnesia"
"Dan memorinya terkunci di waktu tujuh tahun yang lalu"
__ADS_1
"Jadi bisa di bilang ia tak ingat apapun setelah kejadian tujuh tahun itu"Zain mendengarkan semua penjelasan dokter itu dengan sangat serius.
"Apa ada obat untuk membuat Nayla bisa mengingat memorinya yang sekarang?"tanya Zain serius.Ia tak ingin sampai Nayla melupakan dirinya, terlebih kini ia sudah jatuh cinta kepada istri kecilnya itu.Mengingat ketika Nayla tak mengenalinya membuat hatinya sangat sakit.
Dokter itu terlihat mengangguk.
"Ada"
"Asalkan nona Nayla meminum obat yang kami berikan dengan teratur"
"Dan tidak mencoba mengingat memorinya yang hilang"
"Maka dalam waktu kurang dari setahun ia sudah bisa mengingat semuanya"ucapan dokter itu membuat Zain tertegun.
Satu tahun adalah waktu yang sangat lama bagi Zain.
"Apa ada cara lain agar istri saya bisa mengingat memorinya lebih cepat?"
"Saya akan membayar berapa pun asalkan istri saya bisa cepat sembuh"Zain sangat bersungguh-sungguh dengan perkataannya.Ia akan melakukan apapun agar Nayla bisa cepat sembuh.
Dokter itu terlihat menggeleng.
"Itu sudah metode tercepat kedokteran"
"Asalkan dia tidak mencoba untuk mengingat memorinya maka semuanya akan baik-baik saja"
"Tapi bukankah seharusnya kita membantu dia untuk mengingat memori tentang masa lalunya agar dia bisa cepat sembuh"Zain sedikit merasa aneh dengan pernyataan dokter tersebut.
Seakan sudah tahu Zain akan bertanya seperti itu,dokter itu terlihat tersenyum.
"Itu bisa saja di lakukan jika seandainya nona Nayla kehilangan semua memorinya"
"Sedangkan ia hanya kehilangan separuh ingatannya"
"Dan metode yang anda bicarakan cukup beresiko jika di terapkan"
"Karena bukan hanya membuat kondisinya semakin memburuk tapi bisa membuat pasien kehilangan ingatannya secara permanen"penjelasan dokter itu membuat Zain tertegun kembali.Itu artinya Nayla tak akan mengenalinya sampai ia benar-benar sembuh total.
"Baiklah"
"Terima kasih atas penjelasannya"
"Permisi"pamit Zain kepada dokter tersebut.Dokter itu hanya menatap kepergian Zain dengan wajah iba.
Zain melangkah gontai menuju ruang rawat Nayla.Ia terlihat mengusap wajahnya berkali-kali merasa frustasi dengan apa sedang terjadi.Ia tak menyangka nasib percintaannya akan serumit ini.
Sesampainya di depan ruang rawat, Zain hanya berdiri diam di depan pintu tanpa berniat masuk sama sekali.Mengingat penjelasan dokter tentang keadaan Nayla membuat Zain harus bersabar untuk bisa menemui istrinya itu.Meskipun hatinya sangat berat berada jauh dari Nayla namun hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang agar istrinya itu bisa cepat sembuh.Zain telah memutuskan untuk menjauhi Nayla untuk sementara waktu sampai Nayla bisa mengingat semua memorinya.
Drrtttt…
Ponselnya Zain terlihat bergetar di sakunya.Setelah melihat siapa yang menelpon ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa"wajah yang awalnya terlihat datar langsung berubah seketika.Senyum melengkung yang terlihat mengerikan terpatri di wajah Zain.
Setelah memutus sambungan telepon tersebut.Zain langsung pergi dari rumah sakit dan pergi ke tempat yang akan di tuju.
__ADS_1