
Hujan dan petir membuat suasana malam kian mencekam,namun hal itu tak membuat Zain gentar sedikit pun.Zain masih melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang terlihat basah karena hujan.
Zain terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.Terlihat mobil Zain berbelok ke arah hutan.
Rimbunnya pepohonan membuat hutan itu terlihat sangat menyeramkan,seandainya orang lain yang melewati jalur tersebut mungkin mereka akan sangat ketakutan.Namun berbeda halnya dengan Zain,ia seakan tak peduli dimana ia berada sekarang.Raut wajahnya tak sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Sekitar 15 menit Zain sampai ketempat yang di tuju.Terlihat sebuah bangunan vila berlantai dua yang cukup besar dan terlihat kokoh.Mungkin tak akan ada yang menyangka ada sebuah vila di tengah hutan yang lebat.Namun itu benar adanya,Vila tersebut adalah sebuah markas yang di buat oleh Zain untuk menghukum orang-orang yang sudah berani mengusik keluarganya.
Di depan Vila tersebut terlihat beberapa orang pria sedang berjaga-jaga.Mereka menatap waspada ke arah mobil Zain yang terlihat memasuki halaman Vila.Namun begitu mereka melihat bahwa Zain yang keluar dalam mobil,mereka langsung membungkuk hormat.Dan tanpa mempedulikan apa yang dilakukan oleh bawahannya itu,Zain langsung masuk ke dalam vila tersebut.
Zain melangkah masuk ke sebuah ruangan yang berada di lantai satu.Ia lalu menggeser salah lukisan yang ada di ruangan tersebut.Nampak dinding di sampingnya bergeser hingga terpampanglah sebuah tangga menuju ruang bawah tanah.
Tap…Tap…Tap…
Langkah Zain terdengar menggema di seluruh ruangan.
"Akkhhh…"
Sayup-sayup terdengar suara wanita menjerit kesakitan.Dan hal itu membuat Zain semakin tidak sabar untuk segera menyesaikan pekerjaannya.
Tak perlu waktu lama Zain sampai ke tempat penyiksaan.Terlihat seorang wanita meringkuk dengan tubuh yang di penuhi lebam biru.Di sekelilingnya terlihat beberapa orang berpakaikan serba hitam menatapnya dengan wajah datar.Lalu salah satu di antara mereka kembali menarik rambut wanita itu dan membenturkan kepalanya kedinding.Meski tak terlalu keras namun itu cukup membuat wanita itu menjerit kesakitan.
"Hiks…Hiks…"
"Kalian ini siapa?"
__ADS_1
"Kenapa kalian menyiksa saya?"
"Apa salah saya kepada kalian?"dengan sedikit menahan rasa sakit di kepalanya wanita itu mencoba menatap orang-orang yang sudah menyiksanya.Namun sayang ia tak bisa mengenali siapa pun karena orang-orang itu menggunakan topeng di wajah mereka.
"Masih tidak sadar juga?"
"Anda itu memang bodoh atau pura-pura bodoh haah…?"
"Setelah menganiaya nyonya kami"
"Masih berani bertanya apa kesalahan anda"
"Cih…Dasar tidak tahu malu"
Devi tertegun mendengar perkataan orang itu.Apa yang di maksud orang itu adalah Nayla.
Melihat Devi yang tertegun,Zain berjalan mendekat.Wajahnya terlihat datar namun di matanya terpancar amarah yang begitu besar.
Mendengar ada yang berjalan mendekat ke arahnya,Devi langsung mendongakkan kepala.Dan betapa terkejutnya ia begitu melihat siapa orang tersebut.
"P-pak Zain…"Suaranya terdengar bergetar karena merasa kaget dan juga takut.
"Jangan pernah berani menyebut nama saya dengan mulut kotor mu itu"amarah yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga.Zain menatap jijik ke arah wanita yang ada di hadapannya itu.
"Huhuhu…Pak Zain"
__ADS_1
"Salah tidak salah apa-apa"
"Semua yang bapak liat itu hanya salah paham"
"Dan saya melakukan semua itu karena saya mencintai bapak"
"Saya marah mendengar Nayla yang mengaku-ngaku sebagai istri bapak"
"Saya tidak suka mendengar itu dan karena itulah saya menghukumnya"tanpa merasa bersalah sedikit pun Devi masih mencoba memberi alasan kepada Zain.Ia masih berharap Zain akan mempertimbangkan perkataannya.Memang terdengar tidak masuk akal,namun Devi tidak peduli karena ia memang sudah kehilangan akal sehatnya.Namun ia tidak sadar bahwa perkataannya juatru membuat Zain semakin murka.
Tanpa peringatan Zain langsung mencekik Devi.Perbuatan Zain membuat Devi terbelalak.Ia mencoba melepaskan tangan Zain dari lehernya.Namun usahanya sia-sia karena tenaga Zain jauh lebih kuat dari dirinya.Perasaan takut kembali muncul di hatinya.Ia takut mati.
Melihat wajah Devi yang ketakutan membuat Zain merasa puas.Ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk smirk.
Devi yang masih setengah sadar kembali di buat terkejut dengan apa yang barusan ia lihat.Untuk pertama kalinya ia bisa melihat senyum melengkung di bibir Zain.Akan tetapi senyum itu bukan terlihat indah justru terlihat sangat mengerikan.Dan perlahan tapi pasti kesadarannya mulai menghilang.Samar-samar ia mendengar sebuah suara yang berkata"Matilah"sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
Zain menjatuhkan tubuh Devi yang sudah terlihat tak bernyawa.
"Singkirkan jasadnya dan buatlah seolah-olah ia baru saja mengalami kecelakaan"ucap Zain sambil menatap datar ke arah mayat Devi.
"Baik Tuan"jawab mereka serempak.
Setelah mengatakan hal itu Zain langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
......Maaf ya areaders author baru bisa up sekarang.Soalnya kemaren tempat author habis kebanjiran dan author terpaksa harus mengungsi.Dan di tempat pengungsian gak ada sinyal sama sekali jadi author gak bisa up.Dan sekarang pun auhor masih harus beberes rumah.Jadi harap maklum ya kali author jarang up.......
__ADS_1