Bule Ganteng Suamiku

Bule Ganteng Suamiku
Sebuah Rasa


__ADS_3

Perbuatan Zain mampu membuat Nayla tertegun seketika.Nayla menundukkan wajahnya sambil menyentuh dadanya yang berdegup kencang.Zain yang melihat ekspresi Nayla yang terkejut hanya tersenyum.Ia lalu kembali mengelus pipi Nayla yang chubby itu.


"Cepat habiskan makanan kamu"


"Setelah itu kamu pergi tidur"


"Besok kamu harus bangun pagi"


"Jangan sampai kesiangan atau kamu bakal telat ke kampus"ujar Zain sambil beranjak dari duduknya,lalu berjalan pergi menuju kamar, meninggalkan Nayla yang tengah menatap punggungnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Nayla masih terdiam.Ia bahkan tak menjawab perkataan dari Zain.Nayla masih mencoba mencerna apa yang telah terjadi.


Ia lalu menyentuh bibirnya.


'Ciuman pertama gue'ucap Nayla dalam hati.Tanpa sadar ia pun tersenyum.


Cukup lama Nayla berada di sana.Ia pun memutuskan untuk pergi tidur.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu.Nayla langsung masuk ke dalam kamar.Terlihat Zain tengah berbaring di atas ranjang.Matanya terpejam rapat,entah ia sudah tidur atau hanya sekadar menutup mata.


Nayla merasa ragu untuk ikut berbaring di samping Zain.Kejadian di dapur membuat ia merasa sedikit canggung.


"Kenapa masih berdiri disana"


"Cepat tidur"ucap Zain tanpa melirik ke arah Nayla.Matanya terlihat masih terpejam.Ia tahu bahwa Nayla sudah berada di dalam kamar.


"Eh…Iya"jawab Nayla sedikit gelagapan.Ia langsung berbaring di samping Zain.Dan seperti biasa selalu ada guling yang jadi pembatas di antara mereka.


Nayla menoleh ke arah Zain.Ia mengamati wajah tampan suaminya itu.Wajah Zain terlihat sangat tenang seperti tidak pernah terjadi apapun.Sangat berbeda dengan dirinya.Jantungnya bahkan masih berdegup kencang sampai sekarang.

__ADS_1


'Kenapa dia bisa setenang itu?'tanya Nayla dalam hati.


Nayla masih mengamati wajah suaminya itu dengan seksama.Kemudian matanya tertuju pada bibir Zain.Bibir yang sudah merenggut ciuman pertamanya.Mengingat hal itu Nayla spontan menutup wajahnya menggunakan selimut.Wajahnya terlihat memerah di balik selimut karena merasa malu.


Zain membuka matanya,Ia lalu menoleh ke arah Nayla yang terlihat masih menutup wajahnya menggunakan selimut.


Wajahnya nampak datar-datar saja.Namun siapa yang menyangka di balik wajah datarnya itu.Ia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang hati Nayla rasakan.Telinganya terlihat memerah ketika ia kembali mengingat kejadian di dapur.


Zain mengusap wajahnya kasar.Bagaimana bisa ia kehilangan kendali seperti itu.Walau hanya sebuah ciuman tetap saja ia seperti melanggar janjinya sendiri untuk tidak menyentuh Nayla sebelum ada cinta di antara mereka.Meskipun ia sudah mengakui,bahwa sudah muncul sebuah rasa kepada Nayla.Tapi Ia masih ragu apakah itu adalah sebuah perasaan cinta atau hanya sebatas suka.


Tidak heran jika Zain ragu akan perasaannya.Masalalunya yang kelam membuat ia selalu menghindar dari apa yang namanya jatuh cinta.Terlebih ia sama sekali tidak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali sang mama.Jika pun ada itu pun hanya sekedar rekan bisnis bagi Zain.


Nayla masih setia di balik selimutnya.Terlihat ia memejamkan matanya mencoba untuk tidur.


Sudah beberapa menit Nayla mencoba untuk tidur,ia bahkan sampai menghitung domba seperti yang biasa di lakukan tokoh-tokoh kartun yang pernah ia tonton sewaktu kecil.Namun sudah hitungan ke seratus,tak ada juga muncul rasa kantuk di matanya.Padahal tubuhnya sudah sangat lelah dari tadi.


Entah kenapa Nayla merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.Seperti ada yang kurang.


Zain yang masih terjaga kembali menoleh ke arah Nayla.Ia mengkerutkan keningnya melihat Nayla yang terlihat gelisah.Dan tanpa berpikir panjang Zain menyingkirkan guling pembatas dan langsung memeluk Nayla.


Nayla yang mendapat perlakuan mendadak dari Zain mencoba meronta.Namun perkataan Zain membuat Nayla menghentikan tindakannya.


"Sssttt…"


"Tidurlah…"Zain mengelus kepala Nayla dengan lembut.Hal itu membuat Nayla merasa nyaman.Ia bahkan semakin menyelusupkan kepalanya ke pelukan Zain.Debaran jantung Zain yang terdengar seperti alunan lagu pengantar tidur bagi Nayla.Dan kurang dari lima menit Nayla sudah tertidur pulas.


Zain melirik ke arah Nayla yang ternyata sudah tertidur pulas.Ia terlihat tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Nayla.


"Good Night"ucap Zain sembari ikut memejamkan matanya.

__ADS_1


Keesokan harinya


Nayla terbangun dari tidurnya.Ia melirik ke arah kiri.Tak terlihat Zain berada di sampingnya.


Nayla bangkit dari ranjang dan pergi menuju kamar mandi.Tak ingin mengulang kejadian sebelumnya.Nayla pun mengetuk pintu lebih dulu.


Karena tak ada jawaban sama sekali,membuat Nayla yakin tak ada Zain di dalam sana.Ia lalu masuk dan membersihkan seluruh tubuhnya.


Selesai mandi Nayla langsung bersiap-siap ke kampus.Sebenarnya Nayla sedikit heran kenapa Zain tidak membangunkan dirinya seperti biasa.Namun ia tak ingin memusingkan itu.Mungkin Zain merasa malu dengan kejadian tadi malam.Hingga membuat Zain menghindari dirinya seperti sekarang.Membayangkan itu membuat Nayla merasa senang.Rasa benci di hatinya pada Zain berangsur hilang dan tergantikan oleh rasa suka.Ia sudah memutuskan untuk mencoba mencintai Zain sepenuh hatinya.


Nayla berjalan menuju ruang makan.Hanya ada sang mertua di sana.


"Pagi Ma"sapa Nayla sambil tersenyum manis.


"Pagi juga"balas Santi dengan senyum tak kalas manis.


Nayla lalu duduk di tempat biasa.Ia lalu menoleh ke arah kursi di sampingnya.


"Kak Zain udah berangkat Ma?"tanya Nayla kepada Santi.Ia sudah mengubah panggilannya pada Zain meski itu hanya ia lakukan di hadapan Santi.


"Sudah dari tadi"


"Katanya hari ini ada rapat penting"


"Makanya harus datang pagi-pagi"jawab Santi dengan nada lembut.Terlihat ia sedang mengolesi selai pada roti lalu meletakkannya ke piring Nayla.


Mendengar jawaban dari Santi,Nayla hanya manggut-manggut,ia lalu memakan sarapannya dengan lahap.


Selesai sarapan Nayla langsung berangkat ke kampus dengan menaiki motor kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2