
Di dalam mobil Zain dan Nayla terlihat diam saja.Entah karena kejadian tadi pagi atau memang tak ada bahan untuk memulai obrolan.Membuat mereka berdua memilih untuk tak bersuara.Jika dilihat,mereka lebih seperti dua orang asing daripada sepasang suami istri.
Zain terlihat fokus mengemudikan mobilnya.Tanpa menoleh ke arah Nayla yang sedari tadi di landa kegelisahan.Nampak Nayla mengetuk dahinya berkali-kali seperti ada yang sedang ia pikirkan.
"Pak berenti…"teriakan Nayla membuat Zain menghentikan laju mobilnya.
Setelah menepikan mobilnya ketepi jalan.Zain menoleh ke arah Nayla dengan kening yang mengkerut
"Ada apa"tanya Zain datar.
"Saya turun disini aja Pak"ujar Nayla sambil menoleh ke arah Zain.Zain menaikan sebelah alisnya.Belum sempat ia bertanya,Nayla kembali berbicara.
"Ada yang mau saya urus"ujar Nayla cepat.Ia terlihat tersenyum ke arah Zain.
"Ya sudah,cepat kamu urus"
"Saya tunggu disini"ujar Zain kepada Nayla.Nayla menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah pak…"
"Bapak duluan aja"
"Saya takut kelamaan,yang ada nanti bapak telat lagi"tolak Nayla cepat.
"Lagian bapakkan dosen gak enak kalo telat"
"Nanti yang ada bapak bakal di anggap gak profesional kerja"
"Nah kalo saya yang telat paling cuma ditegor karena gak disiplin"
"Dan mentoknya paling cuma di hukum hehe…"sebisa mungkin Nayla mencari alasan agar Zain percaya.
"Apa gak masalah jika kamu saya tinggal disini"tanya Zain.Bagaimanapun juga Nayla adalah istri sekaligus mahasiswinya.Jadi sudah sewajarnya ia merasa khawatir meninggalkan Nayla sendirian di jalan.
"Gak papa kok pak"
"Lagian kampuskan gak jauh-jauh amat dari sini"
"Paling cuma 5 menit jalan kaki juga udah nyampe…"ujar Nayla sambil tersenyum.Terlihat Zain menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu…"
"Tapi kalau bisa kamu jangan sampai telat,paham"Nayla hanya mengangguk.
"Ini"Zain menyerahkan sebuah kartu Blackcard kepada Nayla.
"Ehh…Gak usah pak…"
__ADS_1
"Uang bulanan saya masih banyak kok"tolak Nayla cepat.
"Ambillah"
"Bagaimanapun juga kamu sudah jadi istri saya"
"Dan sudah kewajiban saya sebagai suami untuk memberi kamu nafkah"ujar Zain kepada Nayla.
"Tapi…"Nayla terlihat ragu untuk mengambilnya.
"Simpan saja dulu"ujar Zain sambil tersenyum ke arah Nayla.Nayla nampak tertegun ketika melihat Zain yang tersenyum.Sungguh pemandangan yang sangat langka.
"Makasih"Nayla mengambil kartu tersebut.Ia lalu mengulurkan tangannya kepada Zain.Zain terlihat mengkerutkan keningnya.
"Apa lagi,bukannya saya udah ngasih kamu itu"tunjuk Zain ke arah blackcard yang di pegang Nayla.
"Saya mau salim pak…"ujar Nayla sambil meraih tangan Zain dan menciumnya.Ia lalu keluar dari dalam mobil,meninggalkan Zain yang terlihat tertegun dengan apa yang di lakukan Nayla barusan.Terlihat Zain tersenyum sambil menatap tangannya.
Dan setelah Nayla keluar dari mobil.Zain pun menyalakan mobilnya pergi,meninggalkan Nayla sendiri di tepi jalan.
Nayla menghela nafas lega begitu melihat Zain yang sudah pergi.Ia lalu bergegas pergi menuju kampus dengan berjalan kaki.
Sesampainya di kampus,Nayla langsung masuk ke dalam kelas.Terlihat Rita sedang memainkan ponselnya sambil tersenyum.
Nayla menghempas tasnya ke atas meja,hingga menimbulkan suara yang keras dan membuat Rita yang berapa di sampingnya terlonjak kaget.
"Eh…Ayam…Ayam…Ayam…"terdengar Rita yang latah dan membuat Nayla tertawa.
"Ngagetin gue aja"Rita mengelus dadanya berkali-kali sambil menatap tajam ke arah Nayla.Nayla yang ditatap seperti itu oleh Rita hanya menampilkan sederet giginya.
"Emang lagi liatin apa sih,ampe senyum-senyum gitu"
"Jangan-jangan lo liat video yang aneh-aneh lagi"
"Hayo lo ngaku…"
"Tobat woy…Tobat…""Inget…Lo itu belum nikah,nanti kalo lo kepe…hmmppp…"Rita membungkam mulut Nayla dengan tangannya.
"Fuihh…Asin…"Nayla menyentak tangan Rita dari mulutnya.
"Udah ngomongnya…"
"Tuh mulut nyerocos aja kek petasan"
"Lagian siapa juga yang liat video aneh-aneh"
"Orang gue lagi chettan juga"ujar Rita sembari menatap jengah ke arah Nayla yang terlihat cengengesan.
__ADS_1
"Hehe…Habisnya lo senyam-senyum aja dari tadi"
"Kirain lagi liat video indehoy…"ujar Nayla sambil tertawa.
"Ya nggaklah…Orang gue lagi chettan ama bebeb baru gue…"
"Liat nih…"ujar Rita sambil memperlihatkan chetnya kepada Nayla.
"Wuuiihh…Ada juga ya ternyata cowok yang mau sama lo hahaha…"ujar Nayla sambil tertawa.
"Sue lo"
"Ya pasti ada lah yang mau sama gue"
"Secara kan gue ini cantik"ujar Rita sembari menyentak rambutnya ke samping.
"Iyaa sih cantik…Kalo diliat pake mata batin whahaha…"
Bugh…
"Adu…Duh…Duh…Ampun Pritt…Ampun…"terdengar Nayla yang mengaduh karena dipukuli oleh Rita.
"Prit…Prit…Prit…Di kate gue jin ifrit…"Rita menghentikan pukulannya pada Nayla.
"Hehe…Nama lo kan Prita,gak salahkan kalo gue manggil lo Prit…"ujar Nayla sambil cengengesan.
"Sekali lagi lo manggil gue Prit"
"Gue tendang lo sampe ke ancol"ancam Rita kepada Nayla namun hanya di balas cengiran.
"Ululuh…Jangan galak-galak atuh neng…Nanti cepet tua loh…"ujar Nayla sambil mencolek dagu Rita.
"Ihh…Dont touch me…"ujar Rita dengan nada yang lebay.
"Ciihh…Sok inggris lo"Nayla menoyor kening Rita.
Rita memanyunkan bibirnya ke arah Nayla.Namun ekspresinya berubah sesaat melihat sebuah pesan masuk ke ponselnya.Senyum Rita terlihat mengembang setelah ia membaca isi pesan tersebut.Nayla yang penasaran mencoba melirik ke arah ponsel Rita.
"Eiits…Apa liat-liat…"Rita menyembunyikan ponselnya dari Nayla.
"Pelit amat sih lo…"
"Gue kan jadi kepo…"Nayla mencoba merebut ponsel Rita namun gagal,karena gerakan Rita yang lebih lincah dari dirinya.
"Ihh…Rita…Emang seganteng apa sih tuh cowok…Ampe segitunya lo gak mau gue tau"Nayla mengerucutkan bibirnya.
"Hehe…Ada deh pokoknya…Nanti lo juga bakalan tau…"ujar Rita sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Nayla.Sedangkan Nayla hanya memutar bola matanya malas.
__ADS_1
......Sampai disini dulu ya…......
......Babay…......