
Zain mengepalkan tangan ketika mengingat hal itu.Iya yakin bahwa Devi yang sudah membuat dirinya tak sadarkan diri.Tapi…Ia masih bingung kenapa Nayla bisa berada di sana.Dan kenapa Devi sampai menganiaya Nayla.Ia harus mencari tahu alasannya.
"Zain"Zain menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya.Terlihat Santi berlari dengan wajah yang cemas.
"Mama"Zain terkejut melihat kedatangan Santi.
"Zain apa yang terjadi?"
"Darah"
"Ini darah siapa Zain"Santi bertambah khawatir ketika melihat darah yang menempel di baju putranya.
"I-Ini…"Zain tidak tahu harus bilang apa.Ia tak ingin membuat mamanya khawatir jika tahu apa yang terjadi kepada Nayla.
"Jawab Zain"
"Apa kamu terluka"
"Di mana yang sakit"
"Kenapa kamu malah duduk di sini"
"Harusnya kamu itu di rawat nak…"
"Kemana semua dokter di sini"
"DOKTER…"
"Tolong anak saya…"Santi berteriak histeris memanggil para dokter.
"Ma…Dengerin Zain"
"Zain baik-baik aja"Santi langsung diam, ia lalu menoleh ke arah putranya dengan raut wajah bingung.
"Kalo kamu baik-baik aja"
"Terus ini darah siapa Zain"tanya Santi lagi.Wajahnya masih terlihat cemas.
"Ini…"Zain menghentikan ucapannya ketika mendengar suara pintu yang terbuka.Nampak seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Zain langsung menghampiri dokter tersebut dengan terburu-buru.
"Bagaimana kondisi istri saya dok"tanya Zain dengan raut wajah khawatir.Santi menutup mulutnya,ia sangat terkejut ketika mendengar bahwa Nayla lah yang terluka.
"Syukurlah karena anda membawanya tepat waktu"
"Kalau tidak,mungkin nyawanya tidak akan tertolong"
"Dia kehilangan banyak darah dan sempat mengalami kritis"
"Tapi itu sudah berlalu dan kondisinya cukup stabil sekarang"
"Mungkin nanti malam ia akan segera sadar"mendengar penjelasan dokter itu Zain dan Santi menghela napas lega.
"Syukurlah"Santi sangat bersyukur ketika mendengar menantunya baik-baik saja.
"Tapi,meskipun kami tidak menemukan cidera serius pada luka pasien"
"Kami tetap harus memantau kondisi selanjutnya"
"Di karena kan luka yang pasien alami di akibat kan karena sebuah benturan"
"Kami takut terjadi cidera di bagian dalam tengkorak"
"Kami hanya bisa melakukan pemeriksaan jika pasien sudah sadar nanti"
"Dan semoga saja tidak ada yang bermasalah"ucap dokter itu.
"Baik dokter"
"Terima kasih"Dokter itu hanya mengangguk lalu kembali masuk ke dalam.
Terlihat beberapa suster memindahkan Nayla ke ruangan lain.
"Zain…Sebenarnya apa yang sudah terjadi"
"Kenapa Nayla sampai terluka seperti itu"tanya Santi kepada putranya tersebut.Lalu Zain menceritakan apa yang terjadi.
"Astagfirullah…Ya Allah Nayla…"Santi terkejut mendengar penjelasan Zain.
"Apa kamu sudah lapor polisi Zain?"Zain menggeleng.
__ADS_1
"Belum ma"
"Zain terlalu panik pas liat Nayla berdarah"
"Pikiran Zain kacau waktu itu"jawab Zain jujur.
"Zain juga lupa buat ngabarin orangtuanya Nayla ma"timpal Zain kepada Santi.
"Hmm…Ya udah gakpapa"
"Biar mama yang urus itu"
"Lebih baik kamu pulang dan mandi"
"Biar mama yang jaga Nayla di sini"
"Nggak ma…"
"Zain gak mau pulang"
"Zain mau nungguin Nayla di sini"tolak Zain kepada Santi.
"Tapi Zain kamu harus mandi"
"Liat…Kamu itu kotor banget"
"Lagian dokter juga gak bakal ngijinin kamu buat jenguk Nayla,kalau kamu kotor begini"
"Tapi Ma…"
"Gak ada tapi-tapian"
"Kamu pulang dan mandi"ucap Santi tak mau di bantah.Zain cemberut mendengar perintah sang mama.
"Nggak mau"
"Ngapain harus pulang sih ma"
"Zain kan bisa mandi di sini"Zain kekeh tak ingin pulang.
"Kamu kan gak bawa baju ganti Zain"
"Emang kamu mau pake baju itu lagi"ucap Santi sambil menunjuk baju Zain yang penuh noda darah.
"Mana hp mama Zain pinjem bentar"
"Buat apa?"tanya Santi sambil menyerahkan ponselnya kepada Zain.
Tanpa menjawab pertanyaan dari mamanya.Zain langsung mengambil ponsel tersebut dan menelpon seseorang.
"Halo Liam"
"Bawakan baju saya ke rumah sakit kota SEKARANG"
"Gak pake lama"setelah mengatakan itu Zain langsung menutup sambungan telpon tanpa menjelaskan alasannya.Sedangkan di seberang telpon, Liam nampak bingung mendengar perintah tersebut.Namun belum sempat ia bertanya,Zain sudah menutup telponnya.Akhirnya Liam hanya bisa menuruti perintah tersebut meski dirinya sangat penasaran.
"Sudah"
"Masalah teratasi"ucap Zain sambil menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Santi.
"Yaudah Zain masuk dulu"
"Kalau Liam sudah sampai"
"Suruh dia anter barangnya ke dalam"ucap Zain santai sambil berjalan pergi ke dalam ruangan di mana Nayla berada.
Sedangkan Santi hanya melongo melihat tingkah putranya tersebut.
"Ya ampun anak siapa sih dia"
"keras kepala banget"ucap Santi sambil geleng-geleng kepala.
"Ya anak Mama lah"jawab Zain santai.
"Eh…Kamu ngapain keluar lagi"
"Katanya mau mandi"Santi menoleh ke arah Zain dengan sedikit terkejut.
"Ck…Kalo Zain gak keluar pasti Mama bakal ngata-ngatain Zain kan"
"Gak baik lo Ma ngatain anak sendiri"
__ADS_1
"Cih…"
"Mama itu gak ngatain tapi berbicara fakta"
"Mama heran kamu itu sebenarnya mirip siapa sih"
"Perasaan Papa kamu dulu gak keras kepala kayak kamu deh"ejek Santi kepada Zain.
Zain memutar bola matanya malas mendengar perkataan Santi.
"Emang orangtua Zain itu cuma papa"
"Kalo Zain gak mirip papa berarti Zain itu mirip sama Mama"
"Jadi Mama gak perlu nanya sifat Zain ini turunan dari siapa"
"Jadi maksud kamu"
"Mama ini keras kepala gitu"Santi berkacak pinggang di hadapan Zain dengan mata yang melotot.
"Zain gak ngomong gitu loh"
"Mama sendiri yang bilang"jawab Zain sambil mengedikkan bahunya.
"Oohh…Kamu udah berani ya sekarang"
"Berani kamu ngatain Mama"Santi langsung menjewer telinga Zain.
"Aduduh…Zain gak ngatain Ma"
"Zain cuma berbicara fakta"Zain meringis kesakitan mendapat perlakuan dari mamanya itu.
"Masih berani kamu ngejek Mama"Santi mengencangkan jewerannya hingga membuat Zain menjerit.
"Akkhhh…Ampun Ma…Sakit…"Zain menjerit kesakitan.
"Lepasin dong Ma…Malu di liat orang"ucap Zain sambil melirik sekitar takut jika ada yang melihat.
"Biarin"
"Makanya jangan suka ngeledek orangtua"ucap Santi sambil melepaskan jewerannya.Sedangkan Zain nampak cemberut mendengar perkataan Santi.
"Mama kebangetan banget sih"
"Telinga Zain sampe merah nih"
"Untung cuma merah kalo telinga Zain putus gimana"ucap Zain sembari mengelus telinganya yang memerah.
"Lebaayy…"
"Badan doang yang gede"
"Baru di jewer dikit udah kesakitan"
"Payah banget kamu Zain"Zain semakin cemberut mendengar Santi yang meremehkannya.
"Lagian siapa suruh kamu ngeledek Mama"
"Udah deh daripada Mama tambah marah mending kamu masuk lagi"
"Iya ma…"Zain memilih menurut daripada kena jewer lagi pikirnya.
Namun baru beberapa saat Zain masuk,ia kembali keluar.
"Apa lagi"
"Nggak"
"Zain cuma mau bilang"
"Tolong Mama telpon Liam lagi"
"Suruh dia bawa makanan sekalian"
"Zain laper"
"Ck…Kirain apaan tadi"
"Udah sana kamu pergi mandi"perintah Santi kepada Zain.
"Iyo Ndoro ratu"
__ADS_1
"ZAIN…"Santi langsung melotot mendengar panggilan Zain kepada dirinya.Sedangkan Zain langsung kabur menyelamatkan diri sebelum mamanya mengamuk.