
Ceklek…
Santi langsung menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka.Terlihat Zain memasuki ruangan tersebut.
Melihat kedatangan Zain Santi langsung menghampiri putranya itu.
"Zain"
"Syukurlah kamu udah kembali"
"Kamu dari mana aja sih nak"
"Mama tuh khawatir sama kamu"
"Mama takut kamu berbuat hal yang nekat"Santi langsung memeluk putranya itu.
"Tenang Ma…"
"Mama gak usah khawatir"
"Zain gak kemana-mana kok"
"Tadi Zain cuma ke depan rumah sakit buat nenangin pikiran"Santi melonggarkan pelukannya.Ia lalu menatap putranya itu.
"Apa bener kamu cuma pergi nenangin pikiran"
"Kamu gak nyembunyiin sesuatu dari Mama kan"tanya Santi dengan tatapan menyelidik.Meski alasan Zain terdengar masuk akal tapi ia merasa bahwa Zain sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Bener Ma…"
"Zain cuma nenangin pikiran doang kok"meskipun ia terlihat tenang ketika mengucapkannya.Sebenarnya hatinya merasa sangat risau.Zain tak ingin mamanya sampai tahu tentang rencana yang akan ia lakukan.
"Ya sudah kalo begitu"
"Yang terpenting kamu udah kembali sekarang"Santi menepuk pundak Zain.Ia lalu berbalik mengambil tasnya.
"Mama pulang dulu ya Nak"pamit Santi kepada putranya itu.Zain hanya mengangguk.Ia menatap kepergian sang Mama dengan raut wajah lega.
__ADS_1
"Huuh…Untung aja Mama gak nanya-nanya lagi"Zain menghela napas lega.Ia lalu menoleh ke arah Nayla dan menghampirinya.
Zain duduk di samping pembaringan.Melihat Nayla yang terbaring tak berdaya seperti sekarang membuat dirinya sangat terluka.
"Kapan kamu sadar Nayla…"
"Saya sangat merindukan kamu"ucap Zain dengan nada lirih.Ia terlihat menggenggam tangan Nayla.
"Kamu bilang jika kamu di beri kesempatan untuk tetap hidup"
"Maka kamu akan mencintai dan hidup bahagia bersama saya"
"Kamu sudah di berikan kesempatan itu"
"Jadi,cepatlah sadar Nayla"
"Saya sedang menunggu kamu"ucap Zain dengan raut wajah sendu.
Setelah sekian lama akhirnya Zain bisa merasakan yang namanya jatuh cinta.Namun ketika ia sudah menyadari tentang perasaannya itu.Ia malah tak bisa melindungi orang yang ia cintai.
Seandainya saja dirinya lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan.Maka Nayla tidak akan terbaring seperti sekarang ini.
Eugghh….
Suara lenguhan terdengar dari bibir Nayla dan membuat Zain langsung menoleh.Matanya terlihat berbinar begitu melihat Nayla yang telah siuman.
Nayla membuka matanya perlahan.Sinar lampu ruangan tersebut membuat pandangan matanya silau.Hingga membuat Nayla spontan memejamkan matanya.
Dalam keadaan mata yang masih terpejam.Samar-samar ia mendengar suara seseorang menyebut namanya.Suara itu terdengar tidak asing di telinganya namun ia tidak dapat mengingat siapa pemilik suara itu.
"Nayla kamu sudah sadar?"
"Apa kamu memerlukan sesuatu"
"Katakan apa ada yang masih sakit"terdengar dari nada bicaranya sepertinya orang tersebut sangat mengkhawatirkan dirinya.
Nayla mencoba bangun namun rasa sakit di kepalanya membuat ia menghentikan pergerakannya.
__ADS_1
"Kamu jangan banyak bergerak dulu Nay…"suara orang itu membuat Nayla sangat penasaran.Dengan perlahan ia mencoba membuka kelopak matanya.Kali ini cahaya lampu tidak sesilau sebelumnya hingga membuat Nayla bisa membuka matanya dengan mudah.
Ketika matanya terbuka hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria tampan sedang menatap cemas dirinya.Wajahnya terlihat asing bagi Nayla.Ia mencoba mengingat siapa pria tersebut.Namun di saat ia mencoba mengingatnya kepala terasa sangat sakit.
"Nayla…Kamu baik-baik sajakan"
"Apa ada yang sakit?"melihat Nayla yang kesakitan membuat Zain semakin cemas.
"Sebentar…Saya akan memanggil dokter"Zain memencet sebuat tombol yang berada di dinding dekat ranjang rawat Nayla.
"Dokter…Tolong cepat kesini"raut kecemasan sangat terlihat di wajah tampan Zain.
"Tahan sebentar ya sayang"Nayla mengernyitkan keningnya mendengar panggilan tersebut.Namun rasa sakit di kepalanya membuat Nayla tak bisa berpikir jauh.
Tak berapa lama sakit kepalanya mulai mereda.Nayla yang masih merasa penasaran mencoba menatap kesekitar.Dari yang ia lihat sudah jelas bahwa ia sedang berada di rumah sakit.Tapi yang membuat ia bingung.Bagaimana bisa ia berada di rumah sakit dan siapa sebenarnya pria ini.
Nayla mencoba mengingat kejadian sebelumnya.Ia tersentak begitu mengingat bahwa ia mencoba bunuh diri dengan cara mengiris nadinya.
Mengingat hal itu Nayla spontan menyentuh pergelangan tangannya.Tapi aneh,ia tak menemukan adanya luka di pergelangan tangannya.Dan justru kepalanya lah yang di perban.
"Ada apa Nay?"Zain yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Nayla akhirnya bertanya.
"Eh…Enggak kok"
"Gak ada apa-apa"Nayla langsung menggeleng sambil tersenyum kaku.
Mendengar jawaban Nayla membuat Zain sedikit tidak senang.Ia lalu meraih tangan Nayla dan menggenggamnya.Zain menatap intens ke arah Nayla yang terlihat sedikit salah tingkah.
Bagaimana tidak.Ini adalah pertama kalinya Nayla bersentuhan dengan pria lain selain ayah dan kakaknya.
Nayla sedikit bingung dengan dirinya sendiri.Biasanya ia akan langsung menolak sentuhan dari pria lain.Tapi sekarang…Tubuhnya seakan tak sejalan dengan otaknya.Terlebih ketika ia menatap mata pria tersebut.Mata yang memancarkan sebuah ketulusan hingga membuat Nayla enggan untuk berpaling.
"Sayang…Jika kamu punya masalah katakan saja langsung"
"Kamu jangan menutupi apapun dari saya"
"Karena saya sangat tidak suka itu"ucap Zain dengan lembut.Ia lalu mencoba menyentuh pipi istrinya itu,namun Nayla langsung menghindar.
__ADS_1
Nayla menarik tangannya dari tangan Zain.Ia lalu menatap Zain dengan raut wajah bingung.
"Anda ini siapa?"