
Sudah beberapa hari jingga di rumah sakit. Sekarang jingga berbaring lemas di atas bangkar rumah sakit setelah darahnya di ambil untuk di donorkan kepada kakaknya.
"Ya ampun,handphone gue tinggal di rumah..." Ucap jingga. Jingga memilih untuk beristirahat dan menenangkan pikirannya.
"Astaghfirullah,gue lupa izin sama guru-guru di sekolah" Ucap jingga.
"Bentar lagi aja deh gue pulang..." Ucap jingga. Jingga pergi ke kamar kakaknya dan tampaklah senyum yang mengembang dari wajah sang kakak.
"Gila ya loe bang,kenapa enggak kasih tau gue?" Tanya jingga murka.
"Males gue dek,loe sewot soalnya" Ucap abang jingga santai.
"Terus nunggu loe mati dulu baru telepon gue,iya?" Tanya jingga kesal. Bukannya marah,abang jingga tertawa dan membuat jingga kesal.
"Parah banget sih loe bang" Ucap jingga kesal.
"Gue mau keluar,beli makanan,loe mau ikut nggak?" Tanya jingga dan di gelengi oleh sang kakak.
"Gue titip kue aja deh,kue low sugar sama low fat" Ucap abang.
"Ye...mana ada makanan kayak gitu di kantin rumah sakit" Ucap jingga.
"Terserah deh mau beliin apa,yang penting bisa gue makan" Ucap abang. Jingga keluar kamar dan berjalan ke kantin. Saat melihat seorang anak laki-laki,jingga langsung teringat akan seseorang.
*****
"Langit...."
"Ayo dong nak,makan...." Ucap nenek. Langit menggelengkan kepalanya dan menutupi dirinya dengan selimut.
"Langit enggak selera makan nek!" Seru langit. Tiba-tiba ayah datang dan menghampiri langit.
"Langit akhir-akhir ini kenapa nak? " Tanya ayah lembut. perlahan langit membuka selimutnya dan melihat ayah.
"Langit cuma enggak selera makan aja ayah..." Ucap langit. Zefan menatap pelan mata langit dan menggendong langit.
"Ayah tau langit rindu sama ustazah langit,iya kan?" Ucap zefan. Langit diam seribu bahasa jika ia mengingat tentang jingga.
"Setiap hari langit ke rumah ustazah jingga ayah tau kok"
"Setiap malam langit ke masjid dan duduk di tempat abang jual sate cuma untuk nungguin ustazah jingga ayah juga tau kok" Ucap ayah lembut sambil mengelus kepala langit.
"Dan ayah juga tau kok kalau langit sering telpon zah jingga pakai telepon rumah sama handphone ayah diam-diam"
Flash back on
"Zah jingga...."
"Zah jingga... Assalamualaikum..." Jerit langit dari luar pagar.
"Ustazah pergi dari malam tadi langit,enggak tau kapan pulangnya" Ucap tetangga jingga.
__ADS_1
"Zah jingga pergi ke mana bu?" Tanya langit.
"Wah,kalau itu mah ibu enggak tau langit" Ucap si ibu.
"Oke bu,makasih ya..." Ucap langit.
Malamnya....
"Ustazah nya mana dek? Kok enggak kelihatan?" Ucap si abang sate.
"Langit juga enggak tau bang di mana ustazah sekarang" Ucap langit yang masih saja celingukan.
"Ya senang dong,enggak di omelin lagi" Ucap si abang sate. Langit hanya makan sate sendiri saat itu,sedangkan ayah dan pak cipto mengobrol dengan warga yang baru saja selesai menyelesaikan sholat.
Setibanya di rumah,langit langsung menelpon jingga. Kali ini ia menggunakan handphone zefan. Langit celingukan dan memantau sekitar kamar zefan,supaya tak ketahuan zefan bahwa dirinya menelepon jingga. Berkali-kali langit menelepon jingga,akan tetapi nomor jingga tak kunjung aktif. Setiap gerak-gerik langit pun di lihat dengan jelas oleh zefan.
Kejadian ini pun berulang-ulang kali terjadi dan sudah terjadi selama empat hari berturut-turut.
Flashback off
"Langit sayang banget ya sama zah jingga?" Tanya ayah,namun langit enggan menjawab dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak apa-apa kalau langit enggak mau jawab sekarang,tapi langit harus makan ya nak..." Ucap ayah. Lagi-lagi langit masih saja menggelengkan kepalanya.
"Dikit aja nak,nanti langit tambah sakit..." Ucap ayah. Kondisi langit beberapa hari ini cukup tak sehat. Karena langit enggan makan apapun semenjak jingga pergi.
"Zefan enggak ke kantor deh ma,zefan mau jagain langit hari ini" Ucap zefan sambil menggendong langit
"Sekretaris zefan ada ma,meeting pun di wakilkan hari ini" Ucap zefan.
"Biar mama aja deh ngurus langit,kamu ke kantor aja" Ucap nenek.
"Enggak apa-apa ma,biar zefan aja..." Ucap zefan. Mama zefan menganggukkan kepalanya dan mengelus kepala langit.
"Badan langit kok nambah hangat sih nak?" Tanya zefan saat di kamar. Dengan sigap duda beranak satu ini mengambil baskom air untuk mengompres badan langit.
"Dari siang kemarin badan langit hangat..."
"Udah di bawa dokter masih aja kayak gini..." Batin zefan. Setelah minum obat,langit pun tertidur di dalam gendongan sang ayah.
"Mah,kok panas badan langit enggak turun-turun ya?" Tanya zefan khawatir.
"Ini enggak demam berdarah atau typus kan ma?" Tanya zefan.
"Kita tunggu sampai nanti sore ya nak,kalau belum turun juga demamnya, langit kita bawa ke rumah sakit..." Ucap mama. Mama melihat langit yang tidur dengan gelisah sedari tadi.
"Ze...Kayaknya udah saatnya deh langit punya ibu..." Ucap mama tanpa basa-basi. Zefan terdiam dan menatap mama.
"Kenapa ma?" Tanya zefan.
"Zefan enggak butuh kok istri baru,zefan masih bisa jagain langit sendiri"
__ADS_1
"Lagi pun langit baik-bain aja kok selama ini..." Ucap zefan.
"Bukan kamu yang butuh ze,tapi langit..."
"Langit butuh seorang ibu..." Ucap nenek.
"Kamu enggak ingat di mana kejadian langit curhat sama ustazahnya?"
"Apa yang dia ceritain ke ustazahnya,hal yang enggak pernah kita ketahui" Ucap nenek mengingat kejadian tempo waktu yang lalu,disaat nenek,ayah dan pak cipto menguping obrolan langit.
"Langit sangat butuh sentuhan kasih sayang dari seorang ibu" Ucap nenek.
"Enggak ma,langit enggak butuh. Apa aku kurang untuk langit?" Tanya zefan.
"Dari mana kamu tau kalau langit enggak butuh? emangnya kamu pernah tanya? pernah di posisi langit?" Tanya mama. Zefan terdiam dan menatap langit yang tengah tertidur di atas kasur.
"Tapi zee masih cinta sama vanila ma..." Ucap zefan mengenang sang istri.
"Fan,vanila pun pasti ngerti dan vanila pun pasti paham dengan keadaan kamu sekarang ini..." Ucap mama.
"Otak dan pikiran aku di penuhi vanila setiap waktu ma,meskipun vanila udah enggak ada..." Ucap zefan sungguh-sungguh.
"Hati kamu zee..."
"Selama ini kamu terlalu menutup hati kepada siapapun..."
"Jangan sampai kamu menyesal kalau langit tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu karena tindakan kamu yang terus menutup hati..." Ucap mama zefan tegas.
"Terus zefan harus gimana ma? Zefan takut untuk membuka hati karena takut di tinggal lagi..." Zefan kembali teringat di saat ia mendapatkan kebahagiaan sekaligus mendapatkan kesedihan.
*****
Di hari langit lahir,ia mendapatkan buah cintanya dengan vanila,sang istri tercinta.
"Mas,jagain anak kita ya... Aku sayang mas dan langit " Ucap Vanila.
"Semoga mas menemukan kebahagiaan yang lebih setelah aku pergi..." Ucap vanila sambil menahan sakitnya.
"Mas,vanila pamit ya,love you sayang,jaga buah cinta kita..." Ucapan terakhir vanila sebelum ia pergi meninggalkan langit dan dirinya. Vanila menutup matanya dengan tenang setelah menyampaikan pesan terakhir untuk suaminya.
"Sayang,bangun sayang...." Zefan menangis setelah melihat wajah vanila yang semakin pucat pasi dan dingin.
*****
"Astaghfirullah...." Ucap zefan sambil melupakan kejadian menyakitkan yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.
Zefan menatap fotonya dengan ibu kandung langit di laptopnya. Di sana terdapat raut kebahagiaan yang terukir dalam momen tersebut.
"Kenapa kamu ninggalin mas dan langit sayang?" Ucap zefan sambil mengelus pipi sang istri di laptopnya.
"Kita pernah janji bakal didik langit sampai besar,kenapa kamu ingkar janji sayang?" Tanya zefan sambil menatap kembali foto vanila.
__ADS_1
"Vanila,kamu tetap di hati mas dan di hati langit selamanya...." Ucap zefan yang telah meneteskan air mata.