Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 22


__ADS_3

"Cerita apa?" Tanya langit penasaran dan tak sabar mendengar cerita tersebut.


"Cerita kalau kamu suka ganggu ustazah kamu,kamu suka ikutin ustazah kamu kemana aja,terus cerita kalau kamu suka banget bikin repot ustazah kamu karena kamu suka masakan zah jingga" Ucap putra sembarangan.


Mata langit langsung berkaca-kaca setelah mendengarkan ucapan putra. Putri menepuk keras pundak putra dan membuat putra kesakitan.


"Gila ya loe? Dia masih kecil!" Ucap putri.


"Beneran ustazah ngomong kayak gitu?" Ucap langit terisak pelan.


"Langit percaya kalau ustazah pernah ngomong kayak gitu?" Tanya jingga dan langsung di gelengi langit.


"Kenapa enggak nangis kamu? Ayo nangis dong!" Seru putra.


"Kamu enggak kasihan apa sama ustazah kamu?" Ucap putra pura-pura marah. Putra tak menyangka ucapannya membuat langit menangis histeris.


Sedangkan abidzar menarik telinga putra dan membuat putra merintih kesakitan.


"Langit,ustazah jingga enggak pernah ngomong kayak gitu!" Ucap abidzar.


"Abang putra itu cemburu karena langit di sayang banget sama zah jingga" Jelas abidzar lagi. Langit menurunkan nada tangisnya dan menyapu air matanya dengan tangan.


"Beneran om?" Tanya langit dan di angguki abidzar.


"Om?" Ucap putra protes.


"Om yang ini kenapa sih? Kok ngomelin aku terus?" Ucap langit yang sudah mulai berani melawan.


"Wah...."


"Kamu mentang-mentang jadi kesayangannya jingga udah berani kamu ya..." Ucap putra. Putra menggendong langit dan menatap langit pekat. Putra mengigit pipi langit gemas dan membuat langit kembali menangis.


"Hei,gobl*k...." Putri menepuk jidat putra dengan keras.


"Pe'ak...." Sambung jingga yang turut menepuk jidat putra.


"Bunda...." Tangisnya sambil membentangkan tangan pertanda minta di peluk. Jingga menenangkan langit dan menatap putra.


"Loe gila ya dek?" Tanya jingga.


"Tau tuh,ya kali gigit pipi anak orang!" Sambung putri kesal. Putra tertawa cekikikan saat melihat langit menangis.


"Maafin om ya nak..." Ucap putra jahil. Langit menggelengkan kepalanya dan mempererat pelukannya kepada jingga.


"Tuh rasain loe!"


"Loe sih,nakal banget" Ucap putri.


Semua yang ada di sana mulai makan bersama. Sesudah jingga menyuapi abidzar makan kini saat nya ia menyuapi langit makan.


"Sini om suapi" Ucap putra.


"Nggak mau,om putra nakal...." Ucap langit kesal. Putra tertawa puas setelah melihat reaksi langit.


Abidzar melihat dengan seksama saat jingga menyuapi langit dengan perlahan.


"Pantesan dia demam dek waktu kamu pergi enggak ada kabar" Ucap abang abidzar.


"Kenapa?" Tanya jingga.


"Kamu kelihatan banget sayang sama dia,begitu pun juga dia" Ucap abidzar.


"Iya,wajar aja sampai sakit"


"Padahal baru kenal,tapi udah deket banget" Sambung putri. Jingga menatap langit yang tersenyum kepadanya.


"Langit sayang sama zah jingga?" Tanya abidzar.


"Sayang dong,sayaaaaaangggg banget....."


"Kan ustazah jingga,bundanya langit" Ucap langit penuh bangga saat mengucapkan kata 'bunda langit'.

__ADS_1


Semua keluarga jingga tau dengan jelas kedekatan jingga dengan langit. Maka tak heran,saat mereka semua tau bahwa bocah cilik yang di bawa jingga adalah langit. Pasalnya,jingga selalu membicarakan langit setiap pertemuan mereka. Mulai dari mengungkapkan rasa sayang,perkembangan langit,kesedihan dan kebahagiaan langit dan masih banyak lagi.


"Oh iya,suruh ayah kamu serepet nih ustazah" Ucap putra langsung.


"Entar di ambil re...." Ucap putra terputus. Saat terdengar ketukan pintu.


"Refan...."


"Masuk fan...." Ucap jingga.


"Re apa om?" Tanya langit penasaran. Putra menggelengkan kepalanya dan enggan melanjutkan ucapannya.


"Loe seharusnya ngomong kayak gitu sama bapak dia,dia mana paham!" Ucap putri.


Refan sedang asyik berbicara dengan abidzar,sedangkan jingga,putra,putri dan langit duduk di sofa bersama.


"Langit duduk sini" Ucap jingga sambil menepuk-nepuk paha nya. Langit langsung duduk di pangkuannya sambil memegang buah.


"Mau di kupasin?" Tanya putra. Langit langsung menggeleng kesal dan menatap putra sinis.


"Om putra itu sebenarnya baik nak,cuma memang gitu orangnya" Ucap jingga sambil mengusap kepala langit.


"Langit enggak suka"


"Om putra buat hati langit sakit!" Ucap langit menahan air matanya agar tak jatuh di hadapan jingga.


"Sayang,semua yang di bilangin om putra itu enggak benar"


"Semua yang di bilang itu adalah kebalikannya" Ucap jingga.


"Maksud ustazah?" Tanya langit.


"Kalau tadi dia bilang kalau langit itu suka nyusahin ustazah,berarti yang sebenarnya langit itu buat ustazah bahagia"


"Dan zah jingga suka kok di gangguin langit"


"Ustazah suka langit yang cerewet ketimbang langit yang pendiam" Ucap jingga sambil memeluk langit. Langit tersenyum lebar dan memeluk jingga erat. Langit membuka sedikit matanya dan melihat ke arah putra.


"Luek..." Cibir langit di dalam pelukan jingga. Putra langsung membulatkan matanya sempurna dan berusaha menarik langit dalam pelukan jingga.


"Mau gue buang ke tong sampah" Ucap putra kesal.


"Buang aja,langit enggak takut"


"Langit kan punya zah jingga" Ucapnya tak takut lagi pada putra. Merasa kesal dengan langit,putra kembali mengganggu langit yang masih dalam pelukan jingga.


"Anak kecil itu siapa bang?" Tanya refan saat seisi ruangan hanya terdengar perdebatan langit dengan putra.


"Muridnya jingga" Ucap abidzar.


"Tapi sayangnya minta ampun sama jingga" Ucap abidzar sambil mengembangkan senyumnya saat melihat pemandangan di depan matanya.


"Dek,tolong bantu kakak benerin posisi dong" Ucap abidzar kepada jingga. Jingga membantu abidzar memperbaiki posisi bankar.


"Zah...." Ucap langit sambil menarik pelan baju jingga.


"Apa nak?" Tanya jingga.


"Langit mau jajan...." Ucap langit. Jingga melihat putri dan putra sekilas.


"Sama om putra sama dan anti putri mau?" Tanya jingga.


"Anti? Atau aunty zah?" Ucap langit.


"Panggil anti aja,biar beda dari yang lain" Ucap jingga tersenyum.


"Kenapa enggak sama ustazah aja?" Tanya langit lagi.


"Ustazah mau tolongin om abidzar ganti baju dulu sayang" Ucap jingga.


"Kalau langit nungguin ustazah,entar lama lagi..." Ucap jingga lembut. Langit tampak berpikir sebentar dan melihat putra.

__ADS_1


Putra jalan ke arah langit sambil menunjukkan kelingkingnya.


"Om janji deh,nggak godain kamu lagi..." Ucap putra. Langit menautkan jarinya,akan tetapi matanya masih saja sinis melihat putra.


"Awas aja nakal sama aku lagi,aku bilangin entar sama bunda aku..." Ucap langit penuh ancam sambil mengeratkan pelukannya ke jingga.


"Bunda?" Ucap refan tiba-tiba. Jingga tak menghiraukan ucap refan dan kembali fokus kepada abidzar.


Semua keluarga jingga tau bahwa langit sangat manja dan sayang kepada jingga. Dan pastinya mereka juga sudah tau bahwa langit tidak mempunyai ibu lagi.


"Baik-baik di jalan nak..." Ucap abidzar tiba-tiba. Jingga terkejut dan berusaha mengontrol rasa tersebut.


"Baik juga anaknya"


"Meskipun cerewet..." Ucap abidzar sambil tertawa kecil.


*****


"Makasih ya antii put sama om put" Ucap langit. Langit mendapatkan ciuman dadakan dari putri.


"Pantesan jingga sayang sama kamu,anti yang baru ketemu kamu aja udah sayang" Ucap putri. Langit memasang senyum manisnya dan menggenggam tangan putri.


"Tapi kok kamu cerewet banget ya?" Ucap putra. Putra menangkup pipi langit dan hendak menggigit pipi langit kembali.


"Aku bilangin bunda loh nanti" Ucapnya pelan tapi mengancam. Putra mengurungkan niatnya dan mencium pipi langit gemas.


"Iww...."


"Air liur om putra nempel banyak banget..." Keluh langit sambil mengusap pipinya. Putra tertawa puas atas apa yang ia lakukan kepada langit. Langit mengoceh sepanjang jalan karena tak suka dengan tingkah putra yang terlalu jahil kepada dirinya.


"Om abidzar kapan pulang?" Tanya langit saat duduk di samping abidzar.


"Enggak tau nak,doakan secepatnya ya!" Ucap abidzar. Langit menempelkan telapak tangannya ke jidat abidzar.


"Enggak panas kok" Ucapnya polos. Abidzar pun tertawa saat melihat tingkah polos langit.


"Jagain bunda jingga ya nak kalau om pergi nanti" Ucap abidzar dengan jelas. Semua yang ada di ruangan pun terkejut.


"Iya om,langit juga jagain anti putri kok"


"Kalau om putra,langit pikirin dulu...." Ucap langit sambil melirik putra sinis. Abidzar tertawa dan mengelus pelan kepala langit.


"Kapan-kapan ajakin ayah langit ke sini ya" Ucap abidzar.


"Om mau lihat ayah langit sebelum om pergi jauh" Ucap abidzar penuh makna.


"Iya om,insya Allah..." Ucap langit.


"Katanya hafalan kamu udah lumayan banyak ya? Coba dong,kita mau dengerin" Ucap abidzar.


"Biar om put yang periksa tajwid nya!" Ucap putra. Langit menatap putra tak yakin.


"Om bisa ngaji juga langit,om sama kayak bunda kamu,ngajar ngaji juga..." Ucap putra.


"Dimana?" Tanya langit.


"Di dekat sekolah om putra" Jawab abidzar.


"Om put ini hebat loh ngaji nya!" Ucap abidzar. Karena langit percaya kepada abidzar,akhirnya ia mulai membaca hafalannya.


*****


"Je....." Panggil refan saat jingga keluar dari kantin rumah sakit.


"Apa fan?" Tanya jingga.


"Kapan loe mau nikah sih je?" Tanya refan.


"Kalau loe belum ada calon,tapi loe udah siap,gue siap je jadi suami loe!" Ucap refan.


"Ah,main-main aja loe..." Ucap jingga tertawa.

__ADS_1


"Gue serius je..." Ucap refan dengan wajah serius. Jingga terkejut saat mendengarkan ucapan refan.


"Loe tau kan gue suka sama loe dari SMP?"


__ADS_2