Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 15


__ADS_3

"Eh iya,kok mau?" Ucap zefan spontan. Zefan terkejut saat menyadari langit makan sayur. Karena selama ini langit sangat enggak makan sayur apapun terutama sayur hijau.


"Langit cuma mau makan sayur buatan zah jingga" Ucap langit.


"Soalnya enak..." Ucap langit. Zefan pun mengakui rasa masakan jingga. Sungguh rasa yang luar biasa untuk di makan.


"Udah cocok nih jadi istri" Ucap pak cipto. Sudut mata pak cipto langsung mengarah ke zefan. Zefan pun mengerutkan keningnya kesal karena tau maksud ucapan pak cipto. Zefan menyenggol kaki pak cipto dan membuat pak cipto tertawa.


"Hahaha,Belum ada jodohnya pak cip..." Ucap jingga tersenyum ramah.


"Semoga aja jodoh sama pak zzzztt. ..." Ucapan pak cipto terputus karena zefan menginjak jempol kaki pak cipto.


"Sama orang yang tepat maksud saya neng jingga" Sambung pak cipto. Barulah zefan melepaskan kakinya dari jempol pak cipto.


"Langit kan sudah makan,minum obat ya nak..." Ucap zefan dan di gelengi langit.


"Enggak suka ayah..." Rengek nya manja.


"Pahit..."


"Enggak enak..." Langit menggelengkan kepalanya karena enggan meminum obat. Zefan langsung menggendong langit dan menatap langit.


"Katanya langit mau cepat sehat?" Ucap zefan.


"Mau cepat pergi ke sekolah bareng ustazah kan?" Tanya jingga berdiri di hadapan zefan dan langit. Langit masih diam tak merespon. Sedangkan zefan cukup terkejut saat melihat jingga yang sudah berdiri di hadapannya sambil memegang obat.


"Katanya mau buat kue sama ustazah..." Ucap jingga. Dengan spontan langit menganggukkan kepala dengan semangat.


"Mau minum obat kan sayang?" Tanya jingga.


"Mau..." Ucap langit bersorak sambil mengangkat tangannya ke udara.


"Astaghfirullah nak,tangan..." Ucap zefan mengingatkan bahwa di tangan langit terdapat infus.


"Eh iya,langit lupa ayah" Ucap langit. Langit meminum obatnya dalam posisi di gendong oleh zefan dan jingga yang menyuapi obat ke mulut langit. Pemandangan bak keluarga kecil itu pun tak luput dari mata pak cipto.


"Masya Allah...."


"Cocok nih" Ucap pak cipto pelan.


"Alhamdulillah..." Ucap jingga saat langit berhasil meminum obatnya.

__ADS_1


"em...pahit...." Langit memejamkan matanya karena merasa pahit dengan obat tersebut.


"Sekarang langit istirahat yuk..." Ucap jingga.


"Tapi ustazah temenin ya..." Ucap langit. Jingga melihat ke arah zefan sesaat dan di angguki oleh zefan sebagai persetujuan.


"Okee,tapi tunggu sebentar ya,ustazah ke rumah sakit dulu buat lepas infus" Ucap jingga.


"Kok di lepas zah?" Tanya langit.


"Infus ustazah udah hampir habis" Ucap jingga.


"Enggak mau,enggak mau..."


"Kelamaan...."


"Langit enggak mau ustazah pergi..." Rengek langit.


"Langit enggak boleh gitu nak,langit enggak kasihan lihat ustazah jingga?" Tanya zefan. Langit diam dan mengucutkan bibirnya sambil menahan air mata.


"Em,enggak apa-apa pak,nanti aja saya lepasnya kalau kayak gitu..." Ucap jingga.


"Eh? maaf ya zah jingga sebelumnya kalau hal ini sangat merepotkan zah jingga" Ucap zefan tak enak hati.


"Biar saya telepon dokter pribadi saya buat bantu lepasin infus zah jingga" Ucap zefan langsung mengeluarkan handphonenya dan menelepon dokter.


"Eh,nggak usah pak..." Ucap jingga.


"Udah,enggak apa-apa,tunggu sebentar ya..." Ucap zefan.


Tak membutuhkan waktu lama,akhirnya dokter tiba di rumah zefan dan memeriksa keadaan jingga sebelum melepas infus.


"Udah habis berapa botol infus bu?" Tanya dokter.


"Udah enam botol sama yang ini dok..." Ucap jingga santai. Mata zefan membulat sempurna saat mengetahui hal tersebut.


"Baiklah,ada keluhan lain?" Tanya dokter dan di gelengi jingga.


"Infusnya kita lepas ya..." Ucap dokter. Dokter memberikan nasehat bahwa jingga tidak boleh terlalu letih dengan pekerjaan maupun pikiran,agar kesehatannya tak terganggu.


"Yuk ustazah,tidur di kamar langit..." Ucap langit dan di angguki jingga. Sebelum langit tidur,jingga bercerita kesehariannya di rumah sakit sambil mengelus lembut kepala langit. Tak lama kemudian langit pun tertidur bersama jingga.

__ADS_1


*****


"Mama kok pulang cepat?" Ucap zefan terkejut saat melihat sang ibu.


"Katanya agak lama perginya?" Tanya zefan lagi.


"Mama alihkan untuk sementara,mama khawatir sama langit..." Ucap mama sambil berjalan menuju kamar langit.


"Mama enggak usah khawatir karena langit...." Ucap zefan terputus saat mama sudah masuk ke kamar.


"Wah...." Mama membuka mulutnya lebar dan terkejut saat melihat pemandangan di depan matanya.


"Stt...anak gadis siapa yang kamu bawa? Udah nakal ya kamu zee" Ucap mama sambil mencubit perut zefan.


"Astaghfirullah ma,itu ustazahnya langit..." Ucap zefan.


"Owh...Ustazah yang pernah dia telepon dulu?" Tanya mama dan di angguki zefan.


"Hemm,manis banget ya mereka" Ucap mama.


"Pantesan aja langit suka sama ustazahnya,cantik orangnya"


"Kayaknya penyayang banget deh..."


"Oh iya,mama juga ingat kalau langit pernah curhat sama ustazahnya sambil nangis waktu itu"


"Yang waktu kita menguping itu loh zee" Ucap mama.


"Cocok ya mereka..." Ucap mama sambil meneteskan air matanya.


"Mama kok nangis?" Tanya zefan terkejut dan khawatir.


"Eng...enggak,mama terharu aja lihat mereka"


"Kayak ibu dan anak" Ucap mama tersenyum. Mama pun pergi meninggalkan kamar langit dan tersisa zefan di sana.


"Mana meluknya serakah banget lagi" Ucap zefan saat melihat langit memeluk jingga dalam tidurnya.


"Can...." Ucap zefan saat melihat jingga yang sangat manis dan cantik namun langsung terputus.


"Astaghfirullah zee...."

__ADS_1


"Udah...udah..." Ucap zefan sambil menjambak rambutnya dan berbalik badan untuk meninggalkan jingga dan langit yang tertidur.


__ADS_2