Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 34


__ADS_3

"Gila"


"Gila"


"Gue gila" Ucap jingga.


"Jingga,jingga pe'ak" Upatnya kepada dirinya sendiri. Jingga menatap cermin dan melihat wajahnya yang sudah memerah.


"Kok bisa-bisanya gue dengan pd ngomong kayak gitu" Ucap jingga panik.


"Akhh....." Jingga teriak di balik bantal dan membenamkan wajahnya karena malu. Jingga cukup malu saat mengingat masalah honey moon yang ia jelaskan kepada langit di depan semua penghuni rumah.


"Apa kata mertua gue nanti?"


"Astaghfirullah"


"Malu gue" Jingga mengacak-acak rambutnya dan bolak-balik di sekitaran ranjang. Tiba-tiba suara ketukan terdengar dan membuyarkan kegalauan jingga.


"Bunda"


"ini langit..."


"Boleh masuk?" Tanya langit. Jingga membuka pintu dan tersenyum ke arah langit dan mengizinkan langit masuk.


"Langit sore ini muroja'ah sama bunda ya" Ucap jingga.


"Nanti malam baru setoran hafalan sama ayah dan bunda,oke?!" Ucap jingga dan di acungi jempol oleh langit.


"Oke bunda ku tersayang" Ucap langit bahagia. Langit muroja'ah bersama jingga dan di saksikan oleh nenek dan kejauhan. Nenek tersenyum bahagia saat melihat interaksi mereka yang begitu membuat nenek terharu.


"Langit bertemu bunda sambung yang tepat" Ucap nenek dari kejauhan dan dapat di dengar oleh mbok iti dan ita.


"Kurang panjang tajwidnya nak"


"Coba jelaskan sedikit lagi hurufnya" Ucap jingga mengoreksi hafalan langit.


"Langit..."


"Huruf nya enggak panjang nak,hati-hati" Ucap jingga.


"Eit,Kok dengungnya tanggung-tanggung? Jelaskan bunyi dengungnya nak" Ucap jingga lagi. Hari ini,hafalan langit cukup banyak di koreksi dan membuat langit menunduk diam.


"Bunda"


"Maafin langit ya"


"Langit janji bakal konsentrasi dan terus meningkatkan hafalan langit" Ucap langit bersedih. Langit tidur di atas paha jingga dan jingga hanya bisa mengelus dan menenangkan anaknya tersebut.


"Untuk kali ini bunda maafkan"


"Nanti malam,kalau waktu setoran masih aja banyak yang salah,bunda kasih hukuman!" Ucap jingga dan di angguki langit.


"Baiklah bunda..." Ucapnya penuh pasrah. Jingga melihat cuaca sore ini yang tak terlalu panas dan berniat melakukan sesuatu.


"Langit"


"Mau ikut nggak?" Tanya jingga. Langit mengangguk dan mengikuti jingga saat masuk ke rumah.


"Satu,dua,tiga" Ucap jingga yang langsung membuat langit melompat ke dalam kolam berenang. Jingga pun menyambut langit di dalam air. Jingga membawa langit berenang di kolam belakang rumah.


"Seru bunda..." Ucap langit menampakkan senyumannya.


"Karena langit bisa berenang,gimana kalau kita lomba?" Tanya jingga.


"Oke,langit pasti menang!" Ucap langit yakin.


"Kalahin bunda kalau bisa" Tantang jingga. Mereka pun berenang dari ujung kolam ke ujung kolam yang lain.


"Brr...." Semprotan air keluar dari mulut jingga.


"Yey...."


"Bunda menang" Ucap jingga bahagia. Langit pun meminta pertandingan di ulang kembali. Berulang kali mereka melakukan lomba,akan tetapi kecepatan sang bunda tak kunjung terkalahkan.


"Kok bunda bisa cepat banget sih?" Tanya langit penasaran.


"Mungkin karena bunda sering banget berenang" Ucap jingga.


"Pokoknya suatu saat pasti langit bisa lebih cepat dari bunda!" Ucap langit dengan semangat membara.


"Harus dong!" Ucap jingga sambil menggenggam tangan langit. Di sela-sela acara berenang ibu dan anak tersebut,mereka berdua makan nasi dan sup ayam yang telah jingga masak tadi. mereka pun makan di tepi kolam renang.


"Habisin ya nak" Ucap jingga dan di acungi jempol oleh langit.

__ADS_1


"Enak?" Tanya jingga.


"Enak dong,kan bunda langit yang masak" Ucap langit memuji masakan sang ibunda. Jingga tersenyum bahagia dengan tanggapan anaknya tersebut.


"Oh iya bunda,kapan kita buat kue sama es krim?" Tanya langit.


"Soalnya,waktu itu bunda pernah ngajakin langit buat itu" Ucap langit.


"Emm..."


"Gimana kalau nanti malam?" Ucap jingga.


"Nanti malam kita buat es krim dulu,baru deh besoknya kita buat kue,gimana?" Tanya jingga.


"Setujuuuuu" Ucap langit girang. Jingga dan langit membersihkan diri setelah berenang. Tak lupa jingga mengoleskan minyak angin ke tubuh langit agar langit senantiasa merasa hangat.


"Punggung sama perut harus di oles minyak kayu putih setiap sudah mandi,supaya anak bunda enggak masuk angin" Ucap jingga sambil mengolesi minyak tersebut ke tubuh langit.


"Sudah siap!"


"Anak bunda udah mandi"


"Udah bersih dan tambah wangi..." Ucap jingga tersenyum manis.


"Sini peluk bunda dong" Ucap jingga merentangkan tangannya. Langit menyambutnya dengan baik dan mendekap dalam pelukan jingga.


"Kita ke bawah yuk nak,tungguin ayah pulang kerja!" Ucap jingga.


"Ayo bunda..." Ucap langit. Langit dan jingga menunggu kehadiran zefan di ruang televisi.


"Bunda" Panggil langit.


"Iya nak?" Jingga menatap langit dan tampak ada sesuatu ada yang ingin langit katakan.


"Langit tadi cerita sama dafa kalau bunda adalah bunda langit" Ucap langit.


"Em,bunda marah enggak?" Tanya langit. Jingga mengerutkan jidatnya dan menggeleng.


"Enggak dong,kenapa bunda marah? bunda kan memang bundanya langit" Ucap jingga.


"Langit takut aja bunda malu punya anak kayak langit" Ucap langit sedih.


"Kok malu?"


"Dan bunda enggak pernah marah sama langit kalau langit kasih tau orang lain kalau bunda adalah bundanya langit" Ucap jingga.


"Terus langit cerita apa aja tadi?" Tanya jingga penasaran.


"Langit cerita kalau setiap mau tidur,langit juga di temenin sama bunda sama ayah,terus kepala langit di elus dan langit di peluk bunda,sama kayak yang dafa dapatkan setiap hari" Ucap langit.


"Langit juga bilang kalau langit bahagia bisa ngerasain apa yang dafa rasakan selama ini" Ucap langit bercerita sambil tiduran di paha bunda nya.


"Dan langit mau selamanya ngerasain hal kayak gini" Ucap langit dengan mata berbinar.


"Terus dafa bilang 'kalau sering-sering nanti bosan!' "


"Langit langsung geleng kepala dong,soalnya langit enggak setuju sama ucapan dafa"


"Yang ada kalau langit selalu dekat bunda,perasaan sayang langit lebih bertambah, bukan menjadi bosan" Ucap langit tersenyum.


"Makanya langit takut kalau bunda pergi jauh dari langit"


"Langit takut kehilangan bunda lagi" Ucap langit.


"Langit udah dua kali kehilangan bunda" Ucap langit sedih.


"Kok dua kali?" Ucap jingga. Langit duduk dan menangkup pipi jingga menggunakan kedua tangan kecilnya.


"Pertama kali langit kehilangan bunda waktu bunda sakit dan hilang tujuh hari"


"Yang kedua bunda hilang dan susah di cari sampai ayah juga pergi buat cari bunda"


"Dan yang terakhir...." Ucap langit menahan air matanya.


"Langit enggak mau kehilangan bunda kayak langit kehilangan bunda vani" Ucapnya dengan tangan bergemetaran.


"Berjanjilah bunda untuk hidup lebih lama untuk kami" Ucap langit lembut dan penuh kepasrahan yang menyentuh relung hati jingga. Jingga membawa langit ke pelukannya dan menciumi pipi langit.


"Insya Allah sayang"


"Bunda janji..." Ucap jingga dan di angguki langit. Lagi-lagi momen ini di lihat langsung oleh mama dan zefan. Zefan sedari tadi hanya menyimak obrolan kedua orang tersebut dan enggan bergabung ke sana karena paham akan kondisi dan situasi pembicaraan ini yang cukup sensitif bagi langit. Pasalnya langit jarang sekali menceritakan kesedihannya kepada zefan dan kepada jingga lah semuanya ia ungkapkan secara jujur.


*****

__ADS_1


Sesuai permintaan langit,malam ini mereka membuat es krim dan juga kue. Langit sangat bersemangat saat melihat semua bahan masakan.


"Ayo mulaiiii" Teriak langit dan jingga girang. Mereka melakukannya berdua di dapur. Sedangkan nenek dan zefan? Mereka hanya menyaksikan kehebohan yang di buat oleh kedua orang tersebut.


"Langit coba aduk nak!" Ucap jingga sambil menyerahkan mangkuk yang berisi bahan pembuatan es krim. Langit mengangguk semangat dan mengaduknya dengan bahagia.


Cukup lama mereka membuat kue dan es krim,hingga akhirnya semuanya selesai. Jingga melihat ke dapur dan tersenyum kecil. Pasalnya,dapur yang awalnya sangat bersih dan kinclong,berubah menjadi dapur yang sangat berantakan dan terdapat tepung di mana-mana.


"Gimana? senang?" Tanya jingga sambil menyuapi kue ke mulut langit. Langit mengangguk bahagia dan memeluk jingga.


"Nih anak physical touch banget" Ucap zefan sambil mengelus rambut langit.


"Apalagi sama bundanya" Ucap zefan dan di angguki jingga.


"Bentar lagi bapaknya yang physical touch!" Sindir mama. Zefan membulatkan matanya dan menggeleng.


"Yakin kamu enggak kayak langit?" Tanya mama.


"Sifat langit itu keturunan dari kamu loh!" Ucap mama dan membuat zefan diam.


"Enggak,zee nggak kayak gitu!" Ucap zefan membantah.


"Kita lihat aja nanti!" Ucap mama meledek. Zefan menatap mama dan memanyunkan bibirnya. Jingga hanya tertawa saat melihat tingkah suaminya tersebut.


"Es krimnya mana bunda?" Tanya langit.


"Es krimnya belum beku sayang,jadi besok siang baru bisa di makan" Ucap jingga.


*****


"Siap-siapkan tenaga ya sayang" Ucap zefan berbisik saat jingga melipat pakaian. Bola mata jingga membulat sempurna dan membuat jingga spontan membalikkan badannya.


Zefan memajukan wajahnya dan menatap jingga intens dan menatap bola mata jingga yang bulat.


"Besok pergi belanja beli dalaman" Ucap zefan dan membuat jingga blushing.


"Beli lingerie" Sambung zefan yang berbisik kecil di telinga jingga. Dari wajah hingga telinga,jingga merasakan suhu tubuhnya naik.


"Beli yang bagus,oke?" Ucap zefan sambil meletakkan kartu miliknya ke dompet jingga.


"Mas besok nggak pergi nganterin bunda ke mall,jadi kalau bunda mau pergi sendiri juga boleh"


"Langit di titip aja sama putra bentar,suruh aja putra sama putri tidur di sini selama kita honey moon" Ucap zefan dan hanya di angguki jingga. Zefan yang awalnya sudah akan keranjang,tiba-tiba balik badan dan kembali berdiri di hadapan jingga.


"Kok diam?"


"Paham kan sayang?" Tanya zefan tersenyum sambil merapikan poni jingga. Jingga mengangguk pelan dan tersenyum.


Zefan mendekatkan dirinya dan memegang pinggang jingga. Jingga hanya bisa menatap mata sang suami. Zefan mendekatkan wajahnya ke wajah jingga. Jingga hanya bisa memejamkan matanya dengan perasaan yang ketar-ketir. Zefan tersenyum saat melihat jingga yang sudah memejamkan mata.


"Sekarang?" Ucap zefan dan hanya di angguki jingga.


"Tok...tok...tok..."


"Bunda,ayah,langit mau bobo di sini...." Ucap langit dari luar kamar. Zefan menghembuskan nafasnya kesal dan menatap jingga. Jingga hanya tertawa kecil dan membukakan pintu untuk langit.


"Langit mau tidur di sini!" Ucap langit.


"Enggak boleh!" Ucap zefan.


"Kenapa?" Tanya langit tak suka.


"Ayah mau tidur di peluk bunda juga,emang langit doang yang mau?" Ucap zefan yang membuat langit kesal.


"Tapi..."


"Tapi kan besok ayah tidur sama bunda terus"


"Sedangkan langit? Cuma malam ini langit bisa tidur sebelum bunda sama ayah pergi" Ucap langit membela dirinya.


"Nih bocil pintar amat cari alasan" Ucap zefan sambil menggelengkan kepalanya.


"Yaudah,yuk sini ayah peluk" Ucap zefan sambil merentangkan tangannya.


"Enggak ah..."


"Langit sama bunda aja" Ucapnya sambil mencibir ke arah ayah. Jingga hanya bisa tersenyum dan membawa langit ke pelukannya.


"Langit sayang ayah" Ucap langit yang sudah memejamkan mata.


"Tapi langit lebih sayang bunda ,hehe" Ucapnya sambil menatap bundanya. Jingga menciumi kening anak tersebut dan memintanya untuk tidur.


"Awas aja bunda pulangnya lama!" Ucap langit kesal sambil melirik sinis ayah yang tepat berbaring di sampingnya. Zefan menciumi langit sampai langit tertawa cekikikan dan kesal sekaligus marah karena aksi sang ayah yang tak kunjung berhenti.

__ADS_1


"Ayah kok kamu ancam" Ucap zefan sambil mengigit pipi langit gemas.


__ADS_2