
Sudah seminggu kepergian abidzar dan setiap waktu doa senantiasa tercurah. Sekarang, jingga sudah menetap tinggal di kediaman suaminya.
"Mas bangun...." Jingga menggoyang-goyangkan badan zefan dan membuat si empunya menggeliat.
"Sholat subuh ke masjid mas..." Ucap jingga dan di angguki zefan. Zefan duduk sebentar dan berjalan ke kamar mandi. Sedangkan jingga pergi menyiapkan keperluan suaminya.
"Mas pergi dulu ya sayang" Ucap zefan dan di angguki jingga. Jingga menyalami tangan suaminya dan di balas oleh ciuman di keningnya. Selepas perginya zefan ke masjid,sekarang jingga pergi ke kamar langit. Selama seminggu,baru malam tadi langit tidur di kamarnya sendiri. Meskipun cukup susah memintanya untuk tidur sendiri karena ia selalu ingin di sisi bundanya.
Karena menangis semalaman karena tak ingin pisah tidur dengan bundanya,alhasil pagi ini langit susah untuk bangun dan tak sholat ke masjid bersama ayah dan pak cipto.
"Langit...." Ucap jingga menggoyang-goyangkan kaki langit. Langit hanya bisa menggeliat dan melihat ke arah bunda nya. Langit mengembangkan senyum dan merentangkan tangannya. Jingga yang paham maksud langit pun membawa langit ke dalam pelukannya dan mengusap kepala langit.
"Anak ganteng sholeh bunda,sholat subuh yuk..." Ucap jingga. Langit mengeratkan pelukannya dan mengangguk.
"Sebentar lagi ya bunda"
"Langit masih pengen peluk bunda" Ucapnya parau dan masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Jingga menganggukkan kepala sambil merapikan rambut langit menggunakan sela-sela jarinya.
"Langit sayang bunda..." Ucap langit yang masih memejamkan matanya.
"Bunda lebih sayang langit..." Ucap jingga lembut.
"Enggak,enggak ada orang yang lebih sayang sama bunda kecuali langit" Sambung langit membantah ucapan jingga. Jingga mencium gemas pipi anak laki-lakinya tersebut dan membuat langit terjaga dan menatap bundanya.
"Bunda pasti belum mandi kan?" Tanya langit dan di angguki jingga.
"Kenapa emangnya nak?" Tanya jingga.
"Aduh gimana nih...." Ucap langit yang membuat jingga panik.
"Apanya yang aduh gimana?" Tanya jingga khawatir.
"Bunda belum mandi aja cantik banget,apalagi kalau udah mandi" Ucapnya menggombal. Jingga tersenyum malu dan menggelitik perut langit dan membuat langit cekikikan .
"Udah ah gombal-in bunda"
"Ayo sholat" Ucap jingga dan di angguki langit. Seusai melaksanakan sholat,sekarang saatnya langit menunggu zefan pulang dari masjid dan mengaji bersama.
"Langit,sambung hafalannya"
"Nanti malam setor hafalan qur'an sama bunda" Ucap jingga.
"Okee bunda" Jawabnya anteng dan menurut. Langit mengaji bersama zefan di ruang keluarga. Sedangkan jingga,jingga memasak di dapur dan membersihkan rumah.
"Bunda..." Panggil zefan. Jingga menghadap ke belakang dan menemukan zefan yang sudah selesai mengaji. Sedangkan langit,langit di biarkan sendiri untuk menghafal.
"Ada yang bisa ayah tolong?" Tanya zefan. Jingga tersenyum dan menggeleng.
"Sekarang ayah mandi aja,siap-siap pergi kerja..." Ucap jingga.
"Beneran nih?" Tanya zefan dan di angguki jingga.
"Beneran,udah mandi sana!" Ucap jingga dan di acungi jempol dan kedipan mata oleh zefan. Zefan berjalan mendekati langit dan mengelus kepala langit.
"Semangat menghafalnya nak" Zefan memberikan semangat kepada langit dan di angguki langit.
"Okee ayah" Ucap langit semangat.
Seusai makan pagi bersama,sekarang waktunya zefan pergi ke kantor sendiri. Biasanya,ia akan pergi bersama langit,akan tetapi langit akan pergi bersama jingga dan membiarkan zefan berangkat sendiri pagi ini.
"Hati-hati di jalan ya ayah" Ucap jingga dan di angguki zefan.
"Iya,bunda sama langit juga hati-hati ke sekolah nanti" Ucap zefan.
"Ayah masih sibuk ngurusin masalah bunda kemarin,jadi doakan lancar-lancar aja ya" Ucap zefan dan di angguki jingga. Zefan mengurus semua masalah yang menimpa jingga seminggu yang lalu dan menyeret semua pelaku ke pihak yang berwajib.
"Langit...."
"It's time for take a bath" Ucap jingga sambil membawa handuk.
"Okee bunda" Ucap langit yang paham maksud jingga. Langit menggapai tangan jingga dan berjalan ke kamarnya untuk mandi. Jingga memandikan anaknya tersebut dan menyiapkan semua kebutuhan sekolah langit.
"Sekarang bunda mandi dulu,sudah itu kita langsung ke sekolah,oke?" Ucap jingga dan di angguki langit.
*****
"Jingga..." Panggil ami.
"Loe hutang penjelasan sama gue!" Ucap ami yang sangat di pahami jingga. Jingga mengangguk dan membawa ami ke kantin.
"Gue nikah sama ayahnya langit secara mendadak" Ucap jingga.
"Kok bisa? loe di ciduk? apa gimana?" Tanya ami. Jingga menepuk lengan ami dan membuat ami tertawa.
"Enggak lah,gila kali"
"Gue nikah sama ayah langit di akhir hidup kakak gue dan atas permintaan kakak gue" Ucap jingga.
"Wait...."
"Bukannya loe udah punya tunangan?" Tanya ami penasaran.
"Iya punya!"
"Dia kalah waktu aja sama ayah langit"
"Dia ikut nyariin gue,waktu gue hilang"
"Cuma karena lokasi dia cukup jauh,jadi dia sedikit terlambat buat nyusul gue ke rumah sakit"
"Dan setiba gue di rumah sakit,kakak gue sehat tiba-tiba dan drop tiba-tiba"
"Dari sanalah gue nikah sama ayah langit"
__ADS_1
"Karena nungguin refan enggak bakal cukup waktu buat kakak gue dan itu pun dia udah semaksimal mungkin untuk bertahan hidup" Ucap jingga.
"Pada akhirnya ya gue nikah sama ayah langit bukan karena sebuah kebetulan dan cepatnya dia ke rumah sakit aja bukan!"
"Ini tentang Qadarullah"
"Takdir yang sudah di siapkan oleh Allah" Ucap jingga menjelaskan semuanya secara singkat. Ami mengangguk paham dengan semua kejadian yang di alami jingga.
"Semoga loe jadi istri dan ibu yang baik ya ji" Ucap ami.
"Loe datang di saat seorang anak butuh ibu" Ucap ami sambil melihat ke arah kerumunan anak yang tengah bermain di lapangan. Di sana terdapat langit yang sedang lari-lari dengan temannya.
"Aamiin Allahumma Aamiin" Jawab jingga sambil tersenyum.
"Tuh lihat tuh,aura langit langsung berubah" Tunjuk ami ke arah langit.
"Yang biasanya diam,sekarang mulai berbaur sama teman-temannya yang lain"
Sekarang,bel pulang sudah berbunyi. Langit langsung berlari ke kantor bundanya dan mengintip dari pintu.
"Assalamu'alaikum...." Ucap langit dan membuat semua perhatian teralihkan kepada dirinya.
"Wa'alaikumsalam...." Jawab semua orang yang berada di sana.
"Langit,masuk aja nak" Ucap ibu kepala sekolah. Langit mengangguk dan masuk dengan mata mencari seseorang.
"Bunda langit lagi ke toilet,tunggu bentar ya" Ucap ibu kepala sekolah.
"Iya bu,makasih" Ucap langit. Langit duduk di sofa yang sudah tersedia. Tiba-tiba jingga datang dan merentangkan tangannya.
"Sini sayangnya bunda...." Langit berlari dan menghambur ke dalam pelukan jingga. Jingga menghujani langit dengan ciuman di wajah langit.
"Lama nungguin bunda nak?" Tanya jingga sambil menatap langit dan di gelengi langit.
"Namanya jodoh ya zah,enggak ada yang tau" Ucap ibu kepala sekolah sambil tersenyum ke arah langit dan jingga.
"Iya bu,itu semua rahasia Allah" Ucap jingga membalasnya dengan senyuman.
"Langit bertemu sama sosok yang tepat " Ucap ibu kepala sekolah dan membuat jingga tersenyum.
"Insya Allah buk,Aamiin" Ucap jingga tersenyum.
Sepanjang perjalanan pulang,langit menggenggam tangan jingga. Sedangkan pak cipto,hanya mengintip lewat cermin pantulan dari kursi depan.
"Pak cip udah makan?" Tanya jingga.
"Belum zah,eh buk..." Ucap pak cipto.
"Panggil ustazah aja boleh kok pak cip"
"Senyaman pak cipto aja..." Ucap jingga dan di angguki pak cipto. Setelah sampai di rumah,pak cipto langsung pergi menjemput zefan ke kantor dan akan membawa zefan kembali ke rumah untuk makan siang.
"Mama..." Ucap jingga saat melihat kehadiran mertuanya. Jingga menyalami mama dan membawa mama masuk ke dalam.
"Dari tadi mama nungguin?" Tanya jingga.
"Nenek ada bawa kue?" Tanya langit.
"Ada dong..." Ucap mama. Mama menyerahkan bungkusan besar dan membuat langit kewalahan membawanya.
"Zee masih di kantor nak?" Tanya mama.
"Iya ma,lagi di jemput sama pak cipto buat makan siang di rumah" Ucap jingga.
Zefan datang dengan pak cipto dan dua orang wanita yang sudah cukup berumur. Zefan mencium tangan sang ibunda dan mencium kening jingga dan yang terakhir menggendong dan mencium langit.
"Mbok itii..."
"Mbok ita...." Jerit langit girang. Kedua wanita tersebut pun melambaikan tangannya ke arah langit.
"Sayang...." Ucap zefan sambil merangkul jingga.
"Ini mbok yang bakal bantuin kita di rumah"
"Sebenarnya mbok udah lama banget kerja,cuma sudah setengah tahun ini libur dan sekarang ingin melanjutkan kerja mereka lagi" Ucap zefan.
"Jingga mbok" Ucap jingga menyalami kedua wanita paruh baya tersebut. Mbok enggan menerima salaman jingga karena merasa tak pantas, namun jingga tetap saja menyalami tangan kedua wanita tersebut.
"Mbok iti sama mbok ita" Ucap mbok iti.
"Mereka berdua saudara sekampung,namanya aja yang mirip" Ucap zefan.
"Selamat kembali ya mbok" Ucap jingga dan di angguki para mbok.
"Mbok iti sama mbok ita sehat kan?" Tanya langit.
"Alhamdulillah sehat nduk"
"Langit sendiri gimana? Sehat?" Tanya mbok ita.
"Sehat dong,langit sekarang udah punya bunda" Ucap langit sambil melihat ke arah jingga dan memamerkan jingga kepada para mbok.
"Alhamdulillah,mbok bahagia dengarnya" Ucap mbok tersenyum.
"Langit mau punya dedek nggak?" Tanya mama. Zefan dan jingga langsung melihat ke arah mama. Mama hanya pura-pura tidak tau dan hanya menatap ke arah langit.
"Mau dong...."
"Langit mau punya adek kayak fia...." Ucap langit bersemangat. Pasalnya fia,teman sekolah langit acap kali memamerkan adiknya kepada langit.
"Nah,pas...." Ucap mama tersenyum menyeringai.
"Kita makan sama-sama yuk..." Ucap mama. Semua penghuni rumah turut makan bersama,termasuk pak cipto,mbok ita dan mbok iti.
__ADS_1
"Kode mama bahaya banget" Bisik zefan di telinga jingga. Jingga blushing dan jalan mendahului refan karena malu.
"Masih sibuk zee?" Tanya mama.
"Enggak terlalu ma"
"Kasus bundanya langit hampir selesai,Semua udah di serahkan ke pihak yang berwajib" Ucap zefan.
"Alhamdulillah" Ucap mama.
"Jingga gimana nak? Di sekolah ada masalah?" Tanya mama dan di gelengi jingga.
"Alhamdulillah lancar ma" Ucap jingga. Mama tersenyum sambil menatap jingga dan memberikan sebuah kado.
"Buka" Pinta mama sambil tersenyum. Jingga membuka hadiah dari mama dan menemukan tiket pesawat atas namanya dan sang suami.
"Buat apa ma?" Tanya jingga bingung.
"Honey moon" Ucap mama. Jingga terkejut sedangkan zefan langsung tersedak saat mendengarkan ucapan mama.
"Ayah hati-hati" Ucap langit. Langit makan dengan di suapi jingga dan tak paham dengan obrolan semua orang di sana.
"Honey moon itu apa bunda?" Tanya langit dengan tatapan polosnya sambil melihat bundanya.
"Honey moon itu pergi kerja sayang" Ucap jingga tersenyum penuh arti.
"Siapa yang pergi kerja? ayah? Bukannya ayah setiap hari kerja?" Tanya langit.
"Yang kerja ayah sama bunda nak,kerjanya jauh" Ucap zefan.
"Terus langit?" Tanya langit.
"Langit tinggal di sini sama nenek sama om putra sama anti putri" Ucap zefan yang membuat langit langsung cemberut.
"Kalau ayah pergi kerja sama bunda boleh kan nak?" Tanya zefan dan di gelengi langsung oleh langit. Langit memeluk jingga dan menggelengkan kepalanya sambil menatap sinis zefan.
"Enggak boleh"
"Pokoknya enggak boleh!" Ucap langit sinis.
"Enak aja bawa pergi bunda langit" Sambung langit.
"Bunda enggak pergi kan?" Tanya langit menatap jingga penuh binar. Jingga tersenyum dan mengelus pelan kepala langit. Jingga langsung menatap zefan dan mama. Kedua orang tersebut mengangguk dan meminta jingga untuk pergi.
"Sayang..."
"Bunda boleh ngomong?" Tanya jingga dan di angguki langit.
"Janji jangan marah ya" Ucap jingga dan di angguki oleh langit.
"Bunda harus pergi nak sama ayah" Ucap jingga yang membuat mama dan zefan mengembangkan senyum. Tak lupa pak cipto dan para mbok tersenyum bahagia.
"Kenapaaaa?" Tanya langit sambil menggoyang-goyangkan lengan jingga dan manyun.
"Soalnya bunda harus kerjain tugas ini,kalau nggak di kerjain entar langit enggak punya dedek bayi" Ucap jingga sambil mengelus kepala langit.
"Bunda kerja sambil beli dedek?" Ucap langit polos.
"Bukan beli nak,tapi buat" Ucap zefan yang langsung mendapatkan cubitan dari jingga.
"Bunda kapan perginyaaaa?" Tanya langit manja.
"Dua hari lagi" Ucap ayah bersemangat.
"Kok ayah senang sih?" Tunjuk langit ke arah zefan. Zefan terkejut dan mengangkat tangannya.
"Enggak,ayah biasa aja" Ucap zefan yang sangat jelas berbohong. Zefan mengedipkan matanya ke arah jingga dan membuat jingga menggelengkan kepalanya.
"Ayo dong bundaa"
"Jangan pergi" Ucap langit manja. Jingga hanya bisa tersenyum dan membuat langit pasrah. Langit turun dari pangkuan jingga dan pergi ke ruang televisi dan duduk sendiri. Jingga dan semua orang tau bahwa langit merajuk saat ini. Yang hanya bisa membuat langit luluh hanya satu,bundanya.
Jingga menyusul langit dan duduk di sebelah langit. Jingga mengelus pelan punggung badan langit dan menciumi pipi langit.
"Katanya langit mau dedek bayi?" Tanya jingga dan membuat semua orang yang berada di sana terkejut,apalagi zefan.
"Iya langit mau"
"Mau banget...." Ucap langit manyun dan duduk di pangkuan bundanya.
"Kalau langit mau,bunda sama ayah harus pergi sebentar buat kerja" Ucap zefan.
"Kerjanya ayah sama bunda adalah menghadirkan adek,supaya bisa ada adek langit di perut bunda" Ucap zefan yang sekarang duduk di depan langit.
"Adiknya langsung ada kan?" Tanya langit girang.
"Adiknya bertumbuh sayang,awalnya kecil dulu,nanti lama-lama membesar" Ucap jingga.
"Dan setelah adek membesar di perut bunda,baru deh dedeknya lahir" Ucap jingga sambil melihat langit.
"Lama enggak dedeknya keluar bunda?" Tanya langit.
"Lumayan lama sayang,tapi kalau langit bersabar,mau nungguin adek,adeknya bakal keluar dan bahagia punya kakak yang baik kayak langit" Ucap jingga tersenyum.
"Baiklah,langit bakal bersabar nungguin dedek" Ucap langit.
"Sekarang udah ada dedeknya ayah?" Sekarang giliran langit menatap sang ayah.
"Belum sayang,doain dedeknya cepat hadir" Ucap zefan dan di angguki langit.
"Baiklah,cepat hadir ya dedek di perut bunda" Ucap langit sambil mengelus perut bunda. Jingga tersenyum dan menciumi kening langit.
*****
__ADS_1
"Siap-siapkan tenaga ya sayang" Ucap zefan berbisik saat jingga melipat pakaian. Bola mata jingga membulat sempurna dan membuat jingga spontan membalikkan badannya.
Zefan memajukan wajahnya dan menatap jingga intens dan....