Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 23


__ADS_3

"Loe tau kan gue suka sama loe dari SMP?"


"Dan gue biarin loe punya hubungan sama orang lain!"


"Meskipun pada akhirnya loe mengalami luka yang hebat karena dia" Ucap refan.


"Je,gue enggak bisa hilangin rasa gue ke loe" Ucap refan jujur.


"Gue suka sama loe je"


"Gue cinta..." Ucap refan tulus. Jingga diam termenung saat mendengarkan kata-kata refan.


"Gue hargai rasa sayang loe fan" Ucap jingga dan membuat refan mengembangkan senyum.


"Tapi hati gue belum bisa ngebuka buat loe!" Ucap jingga.


"Bisa je,asalkan loe yakin sama gue" Ucap refan.


"Gue berharap bisa nikah sama loe je" Ucap refan sungguh-sungguh.


"Kalau seandainya loe belum nikah,gue juga belum bisa nikah"


"Tapi seandainya loe nanti enggak nikah sama gue,please buat gue patah hati,supaya gue bisa lupain loe" Ucap refan yang teramat dalam.


Sedari tadi langit hanya menguping obrolan jingga dan refan. Langit bingung dengan semua perkataan yang di ucapkan refan.


"Bunda mau nikah?" Ucap langit sedikit kecewa.


"Kalau nikah sama om refan,berarti bunda enggak tinggal sama langit dan ayah dong" Ucap langit termenung.


Langit yang awalnya berniat untuk memanggil jingga pun akhirnya memilih untuk diam dan menyimak obrolan jingga.


"Langit tau ini enggak sopan"


"Tapi langit penasaran..." Batin langit. Langit berdiri di sudut dan mengintip jingga dari jauh.


"Gue enggak bisa milih sekarang" Ucap jingga


"Kalau suatu saat gue nikah sama loe,gue bakal ngelakuin apa yang seharusnya gue lakuin"


"Dan gue pun harus kasih apa yang harus gue kasih"


"Termasuk kasih sayang dan cinta"


"Kalau percintaan gue berlabuh ke loe" Ucap jingga sambil tersenyum. Refan pun turut tersenyum saat jingga berkata demikian.


"Berarti loe bakal buka hati loe kan je?" Tanya refan.


"Iya,sesudah gue nikah"


"Dan untuk sekarang,gue bakal kosongin dan bakal ngasih hati gue dan seluruh hidup gue buat orang yang tepat dan pantas buat gue" Ucap jingga.


"Gue harus pantas buat loe" Ucap refan yakin. Jingga tersenyum dan melihat sembarang arah. Terlihat langit berdiri tegap di ujung sana dengan ekspresi tak suka.


"Langit!" Ucap jingga terkejut. Langit berjalan dengan amarah yang memuncak saat mendengarkan obrolan jingga dan refan.


"Anterin langit ke toilet"


"Langit mau pipis" Ucap langit marah. Jingga terkejut saat melihat langit yang tiba-tiba marah. Langit langsung menarik tangan jingga dan melihat refan sinis.


"Om siapanya bunda?" Tanya langit tegas.


"Bunda?" Tanya refan.

__ADS_1


"Dia murid yang paling dekat sama gue" Bisik jingga.


"Oh gitu...."


"Om temennya bunda jingga" Ucap refan tersenyum. Langit menatap refan dari atas ke bawah. Refan pun merasa bingung dengan tatapan langit.


"Ayo zah,ke toilet" Ucap langit kesal. Jingga menemani langit dan meninggalkan refan.


"Enak aja ambil bunda dari aku" Batin langit. Sepanjang jalan,langit memeluk lengan jingga erat dan membuat jingga kebingungan.


"Zah"


"Enggak jadi deh ke toilet"


"Langsung ke kamar om abidzar aja" Ucap langit dan di angguki jingga. Langit berlari masuk ke dalam dan menaiki bankar milik abidzar.


"Ustazah ke tempat om refan bentar ya nak" Ucap jingga dan di angguki langit.


"Kok om refan deket banget sih sama bunda?"


"Langit enggak suka"


"Langit takut om refan ambil bunda dari hidup langit" Ucap langit sambil menunduk sedih.


"Om refan itu teman bunda langit dari kecil,jadi wajar mereka dekat" Ucap putri.


"Ya,dia juga suka banget sih sama jingga" Ucap putra terang-terangan. Spontan putri memukul lengan putra dengan sangat kuat.


"Auu...stt,sakit put" Ucap putra sambil mengelus pelan lengannya.


"Langit takut aja dia bakal ngambil bunda dari hidup langit" Ucap langit.


"Enggak ada yang bakal berani ngambil bunda dari langit kok,percaya deh sama om" Ucap abidzar.


"Beneran dong" Ucap abidzar.


"Om nggak capek apa tiduran terus?" Tanya langit. Abidzar tersenyum dengan ucapan polos langit.


"Capek dong nak" Abidzar menatap mata langit dan mengelus rambut langit penuh sayang.


"Om mau di jemput aja,biar enggak ngerepotin orang lagi " Ucap abidzar.


"Di jemput sama siapa?" Tanya langit.


"Sama Allah" Ucap abidzar. Spontan putri menepuk lengan abidzar dan membuat abidzar tertawa.


"Bercanda..." Ucapnya akan tetapi masih saja membuat putri kesal.


"Jangan pergi dulu bang,katanya abang mau ngelihat jingga nikah" Ucap putra dan di angguki abidzar.


"Oh iya,kok temennya bunda yang duduk di sini tadi manggil bunda dengan panggilan jeje sih?" Tanya langit penasaran.


"Karena waktu kecil bunda kamu di panggil jeje"


"Dan dia enggak suka di panggil jingga" Ucap abidzar.


"Kenapa enggak suka nama jingga? Bukannya jingga itu nama warna kalau matahari mau turun?" Tanya langit.


"Dan kalau matahari mau turun,langit sama awannya jadi cantik" Ucap langit.


"Om juga kurang tau kenapa" Ucap abidzar. Langit menatap abidzar dan merapikan poni abidzar yang berantakan.


"Kenapa langit betah banget ya sama keluarga zah jingga?" Ucap langit menatap lurus mata abidzar.

__ADS_1


"Ya karena langit merasa nyaman di sini" Jawabnya sendiri. Langit melihat semua orang di sana dengan mata tajam yang ia miliki.


"Kalau langit ke sini bawa ayah langit,boleh kan om?" Tanya langit.


"Ayah langit mukanya emang judes sih,tapi dia penyayang kok!"


"Langit mau kenalin ayah langit yang super ganteng ke keluarga zah jingga" Ucap langit.


"Boleh,bawa aja ayah kamu ke sini" Ucap putra.


"Suruh bawa hantaran aja sekalian ya langit" Sambung putra. Langit bingung dengan apa yang di ucapkan putra dan melihat putri.


"Apa maksud om putra, anti?" Ucap langit. Putri menggelengkan kepala sambil tersenyum kepada langit.


"Anti enggak tau langit" Ucap putri tercengir. Putri mencubit lengan putra dengan keras dan membuat putra meringis kesakitan.


"Jangan asal ngomong loe put,ntar mulut loe di tonjok jingga!" Putri memberi peringatan kepada putra.


"Ya kali aja kan"


"Gue bingung mau cariin cowok buat jingga"


"Enggak pernah gue lihat dia suka sama orang akhir-akhir ini"


"Hadeh...."


"Semoga aja dia cepat nikah deh,sama siapa aja,asalkan dia baik dan tulus sama jingga" Ucap putra mengeluarkan keluh kesahnya. Langit hanya menyimak celotehan dari putra.


"Udah ah,langit mau pulang" Ucap langit berusaha turun dari bankar abidzar.


"Besok langit ke sini bareng nenek dan ayah,boleh kan om?" Tanya langit dan di angguki abidzar.


"Om tunggu ya nak!" Ucap abidzar dan di angguki langit. Langit keluar dari kamar dan melihat jingga yang masih saja berbicara dengan refan.


"Kalau nikah,gue mau secepatnya je!" Ucap refan.


"Zah...." Langit menghampiri jingga dan memeluk jingga. Refan dan jingga langsung menghadap ke arah langit.


"Apa nak? Langit lapar?" Tanya jingga dan di gelengi langit.


"Langit mau pulang!" Ucap langit. Jingga melihat ke arah refan dan di angguki refan.


"Enggak apa-apa je,nanti aja kita lanjutkan" Ucap refan tersenyum. Jingga menganggukkan kepalanya dan pergi mengantar langit pulang.


"Tapi langit mau foto dulu sama om abidzar " Ucap langit.


"Ayo kalau gitu" Ucap jingga. Langit kembali lari ke dalam kamar dan masuk ke dalam pelukan abidzar.


"Pasti mau foto kan?" Tanya abidzar dan di angguki langit.


"Kok om tau?" Tanya langit.


"Suara langit gede banget,kedengaran sampai dalam jadinya" Ucap abidzar. Awal mula nya langit foto bersama abidzar dan akhirnya langit membawa semua orang di dalam sana untuk berfoto.


"Udah,langit mau pulang dulu"


"Sehat-sehat ya om" Ucap langit dan di angguki abidzar.


"Iya nak,doain om terus ya" Ucap abidzar. Langit mengacungi jempolnya dan melambaikan tangan tanda berpamitan.


*****


"Ih,mobil siapa ini?" Ucap langit saat melihat mobil di halaman rumahnya.

__ADS_1


"Ini pasti langit kan?" Tanya perempuan cantik yang tiba-tiba muncul di hadapan langit dan jingga. Langit berjalan mundur dan berlindung di balik jingga.


__ADS_2