Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 21


__ADS_3

Langit sudah masuk ke sekolah karena kondisinya yang sudah membaik. Namun,jingga masih saja sibuk mengurus kakaknya di rumah sakit.


"Kamu setiap hari di anterin terus ya sama mama dan papa kamu?" Tanya langit saat tadi pagi melihat temannya di depan gerbang sekolah bersama orang tuanya.


"Iya,pokoknya kemana pun aku pergi,harus ada mama dan papa!" Ucap dafa temannya langit.


"Kamu sayang sama mama kamu atau papa kamu?" Ucap langit.


"Aku lebih sayang ke mama sih"


"Soalnya,setiap hari mama selalu dengerin cerita aku,terus masak-masak bareng aku dan waktu aku sakit pun dia yang jagain aku" Ucap dafa.


"Sama dong,aku juga di gituin sama bunda aku" Ucap langit antusias.


"Bunda? Bunda mana? Bukannya langit enggak punya bunda?" Tanya dafa dan membuat langit sedikit sedih.


"Aku ada orang tua yang sayang sama aku,meskipun aku dan bunda enggak tinggal satu rumah" Ucap langit.


"Bunda aku juga sama kayak mama kamu,dia yang dengerin semua cerita aku,masak makanan enak buat aku dan ayah dan bunda juga yang ngerawat aku selama sakit kemarin" Ucap langit berbinar bahagia. Langit tak mengada-adakan cerita,jingga memang pernah memasak untuk langit dan ayah sewaktu langit sakit.


"Oh ya,setiap malam aku di bacain cerita loh sama mama aku"


"Cerita tentang para nabi,kadang-kadang tentang kelinci dan kura-kura" Ucap dafa ceria.


"Kamu ada di bacain kayak gitu sama bunda kamu?" Tanya dafa dan di gelengi langit.


"Yah... Enggak seru dong " Ucap dafa dan membuat langit sedih.


"Suruh aja bunda kamu pindah ke rumah kamu,biar setiap malamnya kamu dibacain cerita" Saran dafa.


"Enak nggak punya mama?" Tanya langit.


"Enak dong,aku di sayang,di manja terus aku sering tidur sambil di peluk mama"


"Pelukan mama itu yang buat aku semakin hari semakin sayang sama mama" Ucap dafa. Dafa menceritakan semua aktifitas yang ia lakukan bersama mama. Sedangkan langit hanya bisa terdiam dan merenung sambil mendengar cerita dafa.


"Sebahagia itu ya punya ibu?" Batin langit dalam hati.


"Kamu enggak dekat sama papa kamu?" Tanya langit.


"Enggak! Papa kurang asik!"


"Papa sibuk terus" Ucap dafa sedikit kesal.


"Kalau langit gimana? Dekat sama ayah?" Tanya dafa dan di angguki langit.


"Dekat! Soalnya dari langit bayi,ayah yang ngurusin"


"Dan meskipun ayah sibuk,ayah selalu ngajakin langit main walaupun sebentar" Ucap langit.


"Ayah kamu pernah marahin kamu?" Tanya dafa.


"Pernah!" Ucap langit.


"Kenapa?" Tanya dafa lagi.


"Karena langit malas pergi ke masjid dan langit jarang makan" Ucap langit.


"Di pukul?" Tanya dafa dan di gelengi.


"Di omelin,tapi lama banget" Ucap langit.


"Kalau ayah sudah selesai ngomel,ayah selalu peluk langit dan cium kening langit" Ucap langit.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya dafa dan di gelengi langit.


"Enggak tau" Ucap langit cuek.


"Enak ya langit dekat sama ayah langit!" Ucap dafa tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya langit.


"Dafa punya papa,tapi enggak dekat banget sama papa"


"Papa sering banget sih marah-marahin dafa,makanya dafa enggak suka sama papa!" Ucap dafa.


"Dafa iri sama langit!" Ucap dafa yang membuat langit terkejut.


"Kenapa iri?" Tanya langit.


"Dafa kan punya orang tua lengkap yang setiap hari tinggal satu rumah" Ucap langit.


"Langit enggak iri sama dafa yang punya mama,tapi langit bersyukur punya bunda yang sayang sama langit,meskipun bunda enggak satu rumah sama langit" Ucap langit.


"Kenapa dafa harus bersyukur? Kan papa dafa pemarah!" Ucap dafa.


"Kalau kata ayah langit 'Di luar sana masih banyak anak sebesar kita tapi enggak punya ibu dan ayah,bahkan enggak punya rumah" Ucap langit.


"Terus ayah juga bilang 'Kalau langit harus bersyukur dengan apapun yang langit punya' " Langit menjelaskan ucapan ayahnya kepada dafa.


"Bersyukur itu apa?" Ucap dafa. Langit tampak berpikir sebentar dan teringat dengan ucapan jingga.


"Kalau kata bunda langit,bersyukur itu bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang ini"


"Dan langit merasakan apa itu bersyukur seperti yang bunda katakan" Ucap langit termenung dan tersenyum sambil membayangkan wajah jingga.


*****


"Kak..."


"Kita bisa jagain abang di sini" Ucap adik jingga.


"Tapi loe berdua-kan sekolah" Ucap jingga.


"Kak,kita bisa izin"


"Dan kita juga bisa belajar online atas persetujuan ibu guru" Sambung adik jingga.


"Ya udah kalau gitu,gimana baiknya aja ..." Ucap jingga..


Jingga keluar dari kamar abang dan pulang ke rumah untuk membersihkan rumah dan mencuci semua baju kotor milik abang.


"Zah jingaa...." Teriak langit di luar rumah. Langit mengintip di sela-sela pagar rumah jingga. Langit berkali-kali memanggil jingga namun tak ada sautan sama sekali.


"Zah ji....." Ucapan langit terhenti saat melihat jingga yang baru saja tiba.


"Udah dari tadi neriakin nama ustazah ya nak?" Tanya jingga saat turun dari motor. Jingga menunjuk tetangga di samping rumahnya.


"Tuh,si ibu langsung tau kalau langit yang datang" Ucap jingga. Tetangga jingga pun tertawa kecil saat melihat aksi lucu langit yang tiap kali datang ke rumah jingga dan berteriak.


"Sehari aja kamu enggak ke rumah zah jingga gimana langit?" Tanya si ibu.


"Enggak bisa!"


"Langit takut zah jingga ntar hilang lagi" Ucapnya sambil memeluk kaki jingga. Si ibu pun tersenyum dan mengerti bahwa langit pernah mencari jingga selama jingga sakit. Si ibu pun tak tau bahwa jingga masuk rumah sakit. Jingga mengelus pelan kepala langit dan menggandeng tangan langit untuk masuk ke dalam rumah.


"Jagain ya ustazahnya..."

__ADS_1


"Nanti hilang lagi,eh demam lagi deh..." Goda si ibu.


"Pasti!"


"Langit pasti jagain ustazah..." Ucapnya penuh keyakinan. Jingga dan si ibu pun terkekeh kecil mendengar ucapan langit.


"Oh iya langit,besok ustazah udah masuk sekolah..." Ucap jingga bahagia.


"Wah...."


"Beneran zah?" Tanya langit antusias dan di angguki jingga.


"Yey....." Langit memeluk jingga dengan spontan dan di balas oleh jingga.


"Langit senang banget...." Ucap langit sambil membekap wajah jingga dengan tangan kecilnya. Jingga tersenyum manis saat melihat langit yang antusias.


"Oh iya,sudah ini ustazah mau kemana?" Tanya langit.


"Ustazah mau ke rumah sakit nak" Ucap jingga.


"Langit boleh ikut?" Tanya langit dengan nada bermohon.


"Boleh. Tapi tanyain sama nenek dan ayah dulu ya..." Ucap jingga dan di angguki langit. Langit langsung menghubungi nenek menggunakan handphone jingga.


"Boleh kata nenek zah" Ucap langit.


"Ayah gimana?" Tanya jingga.


"Sudah pasti di izinin zah,kan ada zah jingga" Ucap langit.


"Oke kalau gitu"


"Sekarang langit pulang dulu,sebentar lagi ustazah jemput,oke?!" Ucap jingga dan di angguki langit.


*****


Langit pergi bersama jingga ke rumah sakit. Tak lupa jingga menyarankan langit untuk menggunakan masker selama di perjalanan.


"Assalamualaikum...." Ucap langit saat membuka pintu kamar. Semua yang berada di sana menjawab dan kebingungan dengan kehadiran langit.


"Cari siapa dek?" Tanya adik perempuan jingga. Jingga langsung masuk dengan langit yang memeluknya dari belakang.


"Pasti nama kamu langit kan?!" Ucap adik perempuan jingga yang bernama putri. Langit menganggukkan kepalanya dan menatap semua orang dengan sedikit takut.


"Jangan takut nak,ini saudara ustazah semua..." Ucap jingga.


"Itu namanya kak putri" Tunjuk jingga kepada putri.


"Yang sedang sakit itu namanya om abizar" Ucap jingga. Abidzar melambaikan tangannya dan membuat langit tersenyum.


"Kak jingga...." Panggil seseorang anak laki-laki SMA dan memeluk jingga dari belakang.


"Ih... Kenapa meluk-meluk bunda aku?" Protes langit kesal. Anak laki-laki itu pun terkejut dan menatap tajam langit yang berada di kaki jingga.


"Kamu langit kan?" Tanya adik laki-laki jingga penuh selidik.


"Iya,aku langit" Ucap langit tegas.


"Kenalin,nama abang putra" Ucap putra sambil mengulur tangannya dan di sambut oleh langit.


"Kok semua orang di sini tau nama aku sih?" Tanya langit bingung.


"Karena ustazah kamu sering ceritain kamu" Ucap putra.

__ADS_1


"Oh ya?" Tanya langit.


"Cerita apa?" Tanya langit penasaran.


__ADS_2