Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 24


__ADS_3

"Jangan takut,tante temannya ayah langit" Ucapnya sambil mendekati langit. Langit menggelengkan kepalanya dan masih saja bersembunyi di balik badan jingga.


"Bunda...."


"Langit takut...." Ucap langit terdengar jelas. Langit menggapai tangan jingga dan menggenggam erat. Si wanita tadi pun memperhatikan gerak-gerik langit dan langsung merubah ekspresi nya.


"Bunda?"


"Siapa nih cewek?" Batin si wanita tadi sambil melihat jingga dengan sinis.


"Yuk bareng tante masuk ke dalam!" Ajak wanita tersebut. Langit mengeratkan genggamannya dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan takut sayang,tante ini kan tadi bilang kalau dia temen ayah langit" Ucap jingga berusaha menyetarakan tingginya dan tinggi langit.


"Tante ini pun enggak bakal apa-apain langit kok,percaya deh" Ucap jingga. Langit pun menatap mata jingga. Jingga hanya menganggukkan kepalanya untuk meyakini langit bahwa akan aman-aman saja bila langit bersama wanita tersebut.


"Bunda..."


"Tolong anterin langit ke dalam ya" Ucap langit yang ketakutan. Jingga menghembuskan nafasnya pelan dan melihat ke arah wanita tadi. Wanita tadi hanya tersenyum kecut dan mengangguk.


"Duluan aja,enggak apa-apa" Ucap wanita tersebut. Jingga hanya mengangguk dan masuk mendahului perempuan tadi.


"Nenek..." Jerit langit masuk ke dalam rumah. Nenek turut menyambut langit dengan pelukan hangatnya.


"Nek" Ucap jingga menyalami tangan nenek. Nenek mengelus pelan kepala jingga dan menatap jingga.


"Makasih ya zah udah anterin langit" Ucap nenek.


"Iya sama-sama nek" Ucap jingga.


"Kalau gitu jingga pamit ya nek,udah sore soalnya" Ucap jingga dan di angguki nenek.


"Lang...." Sapa zefan terputus.


"Bundaa...." Ucap langit berlari sambil memeluk kaki jingga.


"Aku sayang bunda..." Ucapnya lagi. Zefan mematung di tempat dan hanya bisa menyaksikan drama yang tengah terjadi di depannya.


"Bunda juga sayang sama langit..." Ucap jingga yang langsung membawa langit ke dalam dekapannya.


"Bunda pulangnya hati-hati ya..." Ucap langit saat berada di pelukan jingga. Jingga mengangguk dan mengelus pelan kepala anak laki-laki tersebut.


"Da da langit...." Ucap jingga dan di balas oleh langit.


"Langit sayang bunda jingga....." Teriaknya di dalam rumah. Jingga tersenyum manis saat mendengarkan ucapan langit.


"Pak zefan, mbak,saya pamit pulang" Ucap jingga dan di angguki zefan dan wanita tadi.


Zefan masih saja mematung di tempat bersama dengan wanita yang ingin membawa langit tadi.


"Ayah...." Panggil langit.


"Kok ayah melamun?" Ucap langit. Zefan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan ke arah langit.


"Langit ke mana aja hari ini?" Tanya zefan sambil menggendong langit.

__ADS_1


"Langit tadi ke rumah sakit,terus ketemu sama saudaranya zah jingga,terus......" Langit berceloteh dengan mulut cerewetnya dan menceritakan hal yang menyenangkan bersama jingga.


"Oh iya,ini teman ayah nak" Ucap zefan sambil melihat ke arah temannya.


"Namanya tante bella" Ucap zefan.


"Langit takut ya sama tante bella?" Tanya zefan dan di angguki langit.


"Langit belum terbiasa sama tante bella,suatu saat pasti langit bakal terbiasa sama tante bella" Ucap zefan.


"Oh iya,gimana kalau kita pergi makan ke restoran" Ucap bella.


"Langit mau kan sayang?" Tanya bella. Langit terdiam sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya dan di balas senyum oleh bella.


"Langit enggak capek?" Tanya nenek. Langit hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ya udah,baik-baik di jalan ya nak" Ucap nenek dan di angguki langit.


"Bella pamit ya nek,izin bawa langit bentar" Ucap bella dan di angguki nenek.


*****


"Langit mau makan es krim boleh ayah?" Tanya langit.


"Boleh,tapi langit harus makan nasi dulu ya" Ucap ayah dan di angguki langit.


"Langit suka makan apa?" Tanya bella penasaran.


"Langit enggak suka makan sayur" Ucap langit.


"Oh iya ayah,besok kita ke rumah sakit ya" Ucap langit.


"Sama nenek juga,buat ngelihat om abidzar yang sakit" Ucap langit dan di angguki zefan.


"Tante bella boleh ikut nggak?" Tanya bella tiba-tiba dan membuat langit terdiam.


"Em,om abidzar cuma undang ayah sama nenek aja tante" Ucap langit datar.


"Langit juga lama di sana,nanti takutnya tante bella enggak betah" Ucap langit berusaha membuat bella tak nyaman. Bella memasang senyum kecutnya dan mengangguk.


"Ayah langit mau pipis" Ucap langit.


"Yuk ayah anterin" Ucap zefan. Langit menggeleng dan pergi ke toilet sendiri.


"Maaf ya bella,langit emang gitu kalau enggak kenal dekat sama orang" Ucap zefan dan di angguki bella.


"Enggak apa-apa kok zee" Ucap bella.


Makanan sudah di hidangkan dan siap di nikmati. Mereka menikmatinya dengan obrolan ringan. Langit yang di tanya terus oleh bella pun merasa tak nyaman.


"Ayah ke toilet bentar ya nak" Ucap zefan dan di angguki langit.


"Bella,titip langit ya" Ucap zefan dan di angguki bella.


"Langit,bunda jingga itu siapanya langit?" Tanya bella.

__ADS_1


"Bunda langit lah" Ucap langit tak suka dengan pertanyaan yang di lontari oleh bella.


"Padahal tante juga mau jadi bundanya langit" Ucap bella sambil menatap mata pekatnya langit.


"Coba aja kalau bisa" Jawab langit menantang.


"Yang harus tante lakuin adalah merebut hati langit,bukan hati ayah" Ucap langit santai. Bella tersenyum sinis dan tertawa kecil.


"Kamu anaknya ngeselin juga ya" Ucap bella.


"Sok dewasa padahal masih bocil" Sambungnya.


"Belum apa-apa ini tante" Ucap langit sinis.


"Umur kamu berapa sih?" Tanya bella. Langit mengacungi lima jarinya dan membuat bella terkejut.


"Cara bicara kamu kayak orang dewasa aja" Ucap bella. Langit hanya mengacuhkan ucapan bella dan melihat bella dari atas ke bawah.


"Tante enggak ada uang buat beli baju yang panjang?" Tanya langit. Pasalnya bella menggunakan dress dengan rok di bawah lutut.


"Dari baju yang tante pakai aja langit enggak suka" Ucap langit ceplas-ceplos.


"Pakai baju yang panjang dikit tante,biar lebih sopan" Ucap langit yang kali ini cukup membuat hati bella panas.


"Ayah,tante bella ini teman ayah dari kapan?" Tanya langit saat zefan sudah duduk di kursinya kembali.


"Dari ayah kuliah" Ucap zefan. Langit hanya menganggukkan kepalanya pelan dan lanjut makan.


"Yah,yuk pulang" Ucap langit.


Sepanjang perjalanan,langit duduk di bangku belakang bersama bella,sedangkan zefan mengemudi mobil.


"Tante bisa ngaji?" Tanya langit dan di angguki bella.


"Bisa dikit-dikit" Ucap bella.


"Kalau sholat gimana? " Tanya langit. Bella sontak terdiam dan melihat ke arah langit.


"Kok langit tanyain itu?" Tanya bella.


"Enggak ada,langit kepo" Ucap langit seadanya. Langit menatap luar jendela dan terlintas di kepalanya jingga yang keluar dari masjid menggunakan mukena putihnya dan duduk di tempat abang sate. Dan di saat itulah ia menyetorkan hafalannya.


"Makasih ya zee udah di anterin"


"Da da langit" Ucap bella sambil melambaikan tangannya. Langit hanya menatap bella dari dalam mobil dan malas merespond bella.


"kita pamit ya bell...." Ucap zefan.


"iya,hati-hati..." Ucap bella.


Selama di perjalanan,langit menatap luar jendela mobil dan termenung.


"Yah"


"Kenapa harus tante bella?"

__ADS_1


"Kenapa bukan zah jingga?"


__ADS_2