
Sudah delapan hari zefan di jepang,meninggalkan langit dan jingga karena pekerjaannya. Namun,setiap harinya selalu memberi kabar kepada sang istri dan anak bahwa dirinya baik-baik saja.
"Hari libur ini kita ngapain ya nak?" Tanya jingga.
"Langit mau belajar masak bunda" Ucap langit dan membuat jingga terkejut.
"Seriusan?" Tanya jingga dan di angguki langit.
"Mau masak apa?" Tanya jingga.
"Masak apa aja,yang penting bunda yang ngajarin" Ucap langit. Jingga mengangguk dan menggandeng tangan langit menuju dapur.
"Untung bunda udah beli tangga pendek ini untuk langit" Jingga mengeluarkan tangga kecil dan meletakkannya di lantai. Tangga kecil tersebut berfungsi untuk menolong langit agar tak kesusahan dalam mengambil piring ataupun cuci tangan di wastafel dapur.
"Cuci tangan dulu nak" Ucap jingga dan di angguki langit.
"Bunda ajarin dari hal yang paling mudah dulu ya ..." Ucap jingga dan di angguki langit.
"Okey,masak apa itu bunda? " Ucap langit.
"Masak nasi dan air hangat" Ucap jingga. Langit terlihat antusias dan bersemangat.
"Takar nasinya biar lebih mudah pake jari sayang" Ucap jingga. Jingga mengajarkan langit menggunakan teknik tradisional. Langit terlihat kebingungan dengan maksud jingga,belum sempat langit bertanya jingga pun menjelaskan kepada langit.
"Takarnya kayak gini nak"
"Terus gini...." Ucap jingga mengajarkan langit secara rinci dan mempraktekannya di depan mata langit.
"Kalau airnya kurang,nanti nasinya enggak keras"
"Kalau airnya kebanyakan,nanti nasinya jadi lembek"
"Jadi langit harus sesuaikan takarannya dengan cara yang kayak bunda ajarin tadi...." Ucap jingga.
"Oke bunda,langit paham" Ucap langit. Jingga pun membuang air beras tadi dan meminta langit melakukan seperti yang jingga ajarkan. Jingga melihat langit melakukannya dengan sangat detail dan membuat jingga tersenyum lebar.
"Aaaa,pintar banget anak ganteng bunda" Ucap jingga . Langit yang di puji pun menampakkan semua deretan giginya dan mengucapkan
"Makasih bunda" .
Lanjut jingga mengajarkan langit memasak air panas,meskipun di rumah mereka menggunakan mesin pendingin dan penghangat air otomatis.
"Kalau merebus air,langit harus hati-hati,karena kita pakai kompor dan yang pastinya ada api"
"Kayak gini cara pakai kompor" Ucap jingga. Jingga kembali menjelaskannya dan langsung di praktekan di tempat.
"Sekarang bunda mau lihat langit hidupkan dan matikan kompor" Ucap jingga. Langit mengangguk dan melakukannya secara perlahan.
"Aaaa,good job boy" Puji jingga sambil mencium pipi langit.
"Kalau langit mau masak,panggil bunda"
"Meskipun langit udah bisa nantinya,kompor ini bahaya nak dan air yang di rebus pun bisa tumpah dan kena badan"
"Jadi kalau masak harus hati-hati..." Ucap jingga di angguki langit.
"Kalau enggak hati-hati?" Tanya langit.
"Tangan langit bisa terbakar dan melepuh" Ucap jingga sambil memperlihatkan tangan seseorang yang terkena luka bakar.
"iiiii langit takut...." Ucap langit mulai takut. Jingga menyetarakan tingginya dan langit. Jingga memegang bahu langit dan menatap wajah mungil langit.
"Maka dari itu langit harus....." Ucap jingga yang sengaja di potong.
"Hati-hati..." Ucap langit dan di angguki jingga.
"Emm,selagi nungguin nasinya masak,langit mau bunda ajarin masak sayur nggak?" Tanya jingga.
"Mauuuu" Teriak langit sambil melompat kegirangan dan membuat jingga gemas dan mengacak-acak rambut langit.
Jingga dan langit menguarkan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas.
"Sayang,tolong cuci sayurnya sampai bersih,boleh?" Tanya jingga.
"Of course bunda" Langit mengambil semua sayur dan mencucinya hingga bersih.
"Kayak gini bunda?" Tanya langit dan di angguki jingga.
"Good job langit" Ucap jingga. Jingga mengajari langit memotong sayur dan memilah sayur yang bagus dan yang sudah usang.
"Minyaknya sudah panas,sekarang waktunya langit masukan bawang merah,bawang putih,seledri sama daun bawang yang udah langit potong tadi" Ucap jingga. Langit memasukkannya dengan hati-hati karena masih takut saat melihat api menyala.
"Tumis sampai wangi nak" Jingga memberikan arahan kepada langit.
"Sekarang waktunya masukan sayur bayam yang sudah langit cuci tadi" Ucap jingga. Langit memasukkannya dan terkejut karena sayur yang ia cuci masih terdapat air dan menimbulkan cipratan minyak.
"Enggak apa-apa nak,kalau minyak kena air memang gitu" Ucap jingga. Langit yang masih terkejut hanya melihat pan tersebut dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Enggak bakal meletus kan bunda?" Tanya langit yang masih saja melihat pan tersebut.
"Apanya?" Tanya jingga seraya memotong bahan masakan.
"kompornya bund...." Ucap langit polos. Mbak ita dan mbok iti serta jingga tertawa saat mendengar ucapan langit.
"Enggak nak,insya Alllah" Ucap jingga.
"Cuma langit harus hati-hati takutnya cipratan minyaknya kena ke kulit langit" Ucap jingga.
"Bakal melepuh juga kulit kita bunda?" Tanya langit dan di angguki jingga.
"Makanya bunda berharap langit harus berhati-hati saat memasak" Ucap jingga.
"Baiklah bunda,langit paham" Ucap langit.
__ADS_1
"sayurnya di aduk-aduk nak,kasih garam sedikit sudah itu masukan air" Ucap jingga.
"Udah deh,tunggu air sayurnya mendidih,udah jadi deh sayurnya" Ucap jingga.
Nasi sudah matang dan semua masakan sudah di hidangkan. Jingga juga memasak beberapa menu lainnya yang ia masak bersama langit.
Jingga makan bersama langit,mbok ita dan iti serta pak cipto di halaman belakang rumah.
"Pak cip,cicip deh sayurnya" Ucap langit sembari memasukkan sayur ke dalam piring pak cipto. Pak cipto memakan sayur tersebut dan melahapnya dengan semangat.
"Gimana?" Tanya langit.
"Seperti biasa,selalu enak" Ucap pak cip sambil melahap sayur.
"Wah,seriusan pak cip?" Tanya langit girang dan di angguki pak cipto.
"Itu langit yang buat loh" Bangga nya. Pak cipto terkejut dan melihat jingga. Jingga pun menganggukkan kepalanya dan membuat pak cipto terkejut.
"Sejak kapan den bisa masak?" Tanya pak cipto.
"Masak sayur lagi!"
"Yang dulunya nggak suka sayur,malah bisa masak sayur"
"Hebat banget loh den!" Puji pak cipto sambil mengacungi jempolnya.
"aaaa,makasih pak cip" Ucap langit tersenyum bahagia.
"Den langit hebat bisa masak sekarang" Ucap bik iti dan bik ita. Langit tersenyum sembari menampakan deretan giginya.
Sesudah makan,langit membantu bundanya membereskan piring serta gelas. Jingga pun melarang bik ita dan bik iti untuk menolongnya di karena kan ingin mengajarkan langit cara mencuci piring dengan benar.
"Kalau sudah di tumpuk kayak gini piringnya mau di cuci-kan bunda?!" Ucap langit dan di angguki jingga.
"Oke deh,dada bundaa..." Ucap langit berlenggang pergi. Baru saja turun dari tangga kecil,baju langit langsung di tarik dari belakang oleh jingga.
"Ehhh..." Ucap langit terkejut.
"Huuu,enak aja main pergi-pergi" Ucap jingga.
"Pelajaran selanjutnya belum selesai!" Ucap jingga.
"Hah? bukannya kita sudah selesai masak ya bunda?"
"Kalau gitu udah selesai dong pelajaran memasak nya?" Ucap langit manyun. Jingga masih merasakan vibes nya saat menjadi guru langit saat ia menjahili langit dan mengomeli langit.
"Sudah masak itu harus cuci piring" Ucap jingga.
"Biar semuanya sempurna"
"Langit udah ganteng,sholeh,baik,pintar masak,bisa cuci piring lagi" Ucap jingga cengengesan.
"Langit nggak mau bunda ajarin cuci piring? Terus kalau sampai besar nggak cuci piring? memangnya langit mau tinggal di tempat yang piringnya bertumpuk terus bau? Emangnya...." Ucap jingga terputus.
"Bunda mulai cerewet lagi" Ucap langit manyun.
"Tapi langit suka..." Sambungnya dan mendapat ciuman di pipi dari jingga. Jingga mengajari langit mencuci gelas dan piring dengan baik.
"Gelasnya dulu di cuci nak,baru piring" Ucap jingga
"Kenapa bun?" Tanya langit.
"Karena kalau kita cuci piring dulu baru gelas,takutnya bau amis dari spons piring nempel ke gelas" Ucap jingga.
"Oh gituuu" Ucap langit seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Semua di lakukan dengan baik oleh langit,akan tetapi tiba-tiba
"Nak,hati-hati nanti piringnya...." Ucap jingga terputus.
"Prank....."
"Allahu Akbar...." Teriak jingga panik. Jingga berlari ke arah langit dan membawa langit menjauh dari serpihan kaca.
"Apa tuh bunda?" Tanya mbok iti dan ita berbarengan saat mendengar suara pecahan.
"Maaf bunda,tangan langit licin" Ucap langit dan di angguki cepat oleh jingga.
"Bunda nggak marah?" Tanya langit takut.
"Langit enggak apa-apa? Ada yang luka?" Tanya jingga panik. Bukannya menjawab ucapan langit,jingga malah terlihat khawatir dengan putranya tersebut.
"Langit baik-baik aja kok bunda..." Ucap langit.
"Bunda,di kaki bunda keluar darah" Ucap mbok ita panik. Jingga melihat kakinya dan ternyata benar,kakinya terkena pecahan piring kaca.
"Bunda...." Teriak langit khawatir. Jingga menepuk pelan pundak langit dan meminta langit mengambilkan obat merah.
"Bunda enggak apa-apa?" Tanya mbok iti dan di angguki jingga.
"Enggak apa-apa kok mbok,luka kecil ini mah" Ucap jingga sembari mengambil obatnya.
"Sini langit tolongin..." Ucap langit dan di angguki jingga.
"Piring pecahan tadi biar jingga aja yang bersihin ya mbok,mbok lanjut kerja aja" Ucap jingga.
"Udah mbok bersihkan loh bunda,Takutnya kaki bunda luka lagi" Ucap mbok ita.
"Makasih banyak kalau gitu mbok..." Ucap jingga dan di angguki mbok.
"Em..."
"bun..."
"maaf ya..." Ucap langit sembari duduk di depan lutut bundanya. Jingga menatap mata langit dan membuat langit sedikit menciut.
__ADS_1
"Yang bunda khawatirkan bukan piringnya,tapi anak bunda yang ganteng ini..."
"Bunda takut langit terluka nak..." Ucap jingga sembari menatap mata langit. Langit melihat jingga sebentar kemudian menunduk lagi.
"Padahal langit udah janji sama ayah buat jagain bunda" Ucap nya terisak.
"Sekarang bunda udah terluka,maafin langit ya bund...." Tangisnya pecah karena dirinya melanggar janji yang sudah ia buat dengan sang ayah untuk menjaga bundanya.
"Iya,bunda maafin kok..."
"Lagian ini cuma luka kecil nak,langit jangan takut ya ...." Ucap jingga.
"Untuk ke depannya hati-hati ya nak" Ucap jingga dan di angguki pelan oleh langit.
*****
Seharian ini langit selalu saja menempel kepada bundanya dan enggan beranjak dari sisi bundanya sedikitpun.
Sesudah menyetorkan hafalannya,langit tiduran di pangkuan sang bunda dan menonton cartoon bersama bunda.
"Ayah kapan pulang bund?" Tanya langit.
"Enggak tau sayang,kayaknya enggak lama lagi ayah pulang"
"Mau telponan sama ayah?" Tanya jingga dan di angguki langit.
"Mau bunda,mau...."
"Langit kangen banget" Ucap langit sembari bangkit dari tidurnya dan berlari mengambil handphone sang bunda.
"Halo Assalamu'alaikum ayah" Ucap langit saat wajah sang ayah sudah muncul di layar handphone.
"Wa'alaikumsalam sayang" Jawab zefan sembari keluar dari mobil.
"Ayah mau pergi ke mana? Itu ayah di mana?" Tanya langit kebingungan. Zefan tertawa dan sedikit berlari dan membuat langit kebingungan.
"Ayah kenapa lari?" Tanya langit.
"Ayah di manaaaa?" Tanya langit sedikit kesal.
"Ayah di sini" Ucap zefan di hadapan jingga dan langit. Ibu dan anak tersebut terkejut dan berlari ke arah zefan dan memeluk zefan.
"Aaaaa,Ayah....." Langit memeluk kaki zefan dengan erat. Zefan langsung menggendong langit dan menciumnya bertubi-tubi.
"Langit apa kabar nak?" Tanya zefan.
"Seperti yang ayah lihat,sehat dan tambah ganteng" Ucap langit percaya diri. Zefan terlalu gemas dengan tingkah langit dan menciumnya bertubi-tubi.
"Bunda sehat kan sayang?" Tanya zefan sembari mencium kening jingga lama dan menatap mata pujaan hatinya tersebut cukup lama.
"Alhamdulillah sehat mas" Ucap jingga sembari merangkul pinggang zefan. Para mbok pun terkejut karena zefan sudah pulang,begitu pula dengan pak ali,pak ali menghilang sejak tadi sore karena pergi menjemput zefan ke bandara dan terjebak macet yang cukup parah.
"Kok ayah pulang nggak bilang-bilang sih?" Tanya langit sembari memanyunkan bibirnya.
"Biar jadi kejutan...." Ucap zefan.
"Ayah banyak bawa oleh-oleh dari jepang,langit buka aja ya..." Ucap zefan dan di angguki langit.
"Ayah mau mandi dulu ya nak,bau badan ayah asam" Cengir zefan dan di angguki langit.
"Tapi malam ini langit masih bobok sama ayah dan bunda ya...." Ucap langit mengintimidasi.
"iya nak,iyaa boleh kok" Ucap zefan. Jingga membantu membawa semua barang zefan ke kamar mereka yang terletak di lantai dua.
"Mau langsung mandi mas?" Tanya jingga dan di angguki zefan. Dengan cepat,zefan menghilang dari peredaran dan masuk ke dalam kamar mandi. Jingga pun membongkar koper zefan untuk mengambil pakaian kotor. Baru saja ingin beranjak dari kamar,tiba-tiba pinggang jingga di peluk dari belakang dan terdapat lah bayi besar yang ingin di manja.
"Kangen sayang" Ucapnya dengan wajah imut dan manja. Jingga berbalik badan dan memeluk prianya tersebut.
"Sama sayang,ji juga kangen mas" Ucap jingga sembari mencium zefan. Zefan tersenyum bahagia dan langsung memasang tampang nakalnya.
"Udah ah mas,entar kepergok langit...." Ucap jingga menahan bibir suaminya dengan telapak tangannya.
"Bundaaa...." Jerit langit dari luar kamar. Zefan tertunduk lemas dan memanyunkan bibirnya. Ucapan jingga benar adanya,belum sampai beberapa detik,langit langsung menghampirinya ke kamar.
"Masuk sayang" Ucap jingga sembari membuka pintu kamarnya. Langit menggunakan piyama berwarna biru putih dengan motif animasi robot kesukaannya.
"Langit udah ngantuk,ayo tidur...." Ucapnya sambil menarik tangan jingga. Jingga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Udah cuci muka? sikat gigi?" Tanya jingga.
"Udah semua bunda,langit juga sudah wudhu kok" Ucap langit. Jingga menganggukkan kepalanya dan mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur. Langit langsung mendekap di tubuh sang bunda dan menatap sang bunda penuh arti.
"Bunda mau denger langit muroja'ah,dikit aja" Ucap jingga.
"Sambil tiduran di pelukan bunda boleh?" Tanya langit dan di angguki jingga. Langit mulai mengulang kembali hafalan yang telah ia setor kepada jingga pagi tadi. Sedangkan zefan,ia hanya menatap takjub dua orang yang tengah berbaring tersebut. Zefan belum berbaring di kasur,maka dari itu,zefan merekam momen manja si langit kepada sang bunda. Tertangkap momen di mana anak yang memeluk sang bunda penuh serakah dan sang bunda yang mengelus kepala sang anak penuh cinta. Tak jarang terlihat jingga menciumi kening putranya tersebut.
"Manjanya minta ampun" Ucap zefan pelan.
"Aaa,langit sayang banget sama bunda" Ucap langit yang mengikis jarak dirinya dengan si bunda. Langit menciumi pipi sang bunda dengan gemas.
"Bunda lebih sayang langit...." Balas jingga sambil tersenyum bahagia.
"Ayah lebih sayang kalian" Ucap zefan menimbrung dan menciumi langit dan jingga.
"Ihh,kok ayah ikut-ikutan? " Tanya langit kembali pada nada posesifnya.
"Lah,kan bunda istri ayah..." Ucap zefan ikut berbaring dan mencium pipi jingga dan memeluk jingga erat.
"Ih,kok gitu..." Ucap langit kesal sambil membersihkan pipi bunda menggunakan bajunya.
"Kok ayah videoin juga sih? " Ucap langit terkejut saat melihat handphone ayahnya merekam semua gerak-gerik dan suaranya.
"Biar jadi kenang-kenangan...." Ucap zefan yang memeluk jingga dan merekam momen singkat tersebut.
__ADS_1