
"Langit,jagain bunda ya nak..." Ucap abidzar sambil memegang tangan langit. Langit mengangguk dan memeluk abidzar.
"Iya om,langit janji jagain bunda" Ucap langit tersenyum dan di angguki abidzar.
Tak sempat menghampiri refan,karena tiba-tiba kondisi abidzar kembali drop dan koma. Semua orang di minta untuk keluar dari ruangan. Dokter beserta rekan-rekannya menangani abidzar dengan sigap.
"Om kenapa?"
"Om abidzar kenapa?" Tanya langit cemas dan menangis. Jingga hanya bisa memeluk langit dan berusaha menenangkan langit.
Setelah melakukan pemeriksaan dan tindakannya, Dokter keluar dari ruangannya dan menatap semua yang hadir.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un_"
"Atas kuasa Allah,beliau bertahan selama ini dan permintaan terakhirnya terwujud"
"Semoga beliau meninggal dengan keadaan yang husnul khotimah" Ucap dokter. Jingga yang menahan tangisnya sedari tadi pun pecah dan badannya bergetar hebat. Badannya langsung meluncur jatuh dan membuat zefan spontan membantunya. Kejadian tersebut tak luput dari pandangan refan.
"Bundaa...." Ucap langit terkejut. Langit memeluk jingga yang menangis dan merasakan getaran badan yang hebat. Langit ikut menangis saat berada di pelukan jingga.
*****
"Je...."
"Makasih untuk semuanya" Ucap refan.
"Gue ikhlas loe sama ayahnya langit" Ucap refan menahan tangis.
"Dari sini gue yakin kalau gue bisa lupain loe,loe udah buat harapan gue ke loe hancur lebur dengan adanya pernikahan loe" Ucap refan menangis. Zefan hanya melihat refan dan enggan berkomentar.
"Bro,selamat" Ucap refan dan di angguki pelan oleh zefan.
"Jagain jingga ya bro" Ucap refan dan kembali di angguki zefan.
Setelah semua orang pergi dari kuburan abidzar,jingga dan zefan juga turut pergi. Akan tetapi,langit berlari menemui refan dan sedikit menjauh dari kerumunan orang.
"Maaf om" Ucap langit pelan. Refan cukup bingung dengan ucapan langit saat ini.
"Untuk apa?" Tanya refan pelan.
"Langit udah merebut bunda dari om" Ucap langit menangis pelan.
"Langit setiap waktu doa sama Allah supaya bunda jingga jadi bunda langit seutuhnya" Ucap langit terisak.
"Dan doa langit terwujud" Ucap langit.
"Langit terpaksa merebut bunda dari om"
"Karena langit butuh bunda" Ucap langit sambil menangis dan membuat jantung refan tertusuk tajam dengan ucapannya.
"Maafkan om langit"
"Om enggak tau kalau langit selalu mengharapkan bunda jingga"
"Dan om lebih lama mengharapkan bunda jingga di bandingkan langit"
" Tapi, Om udah terima kalau bunda jingga jadi milik langit dan ayah langit seutuhnya sekarang"
"Dan doa langit terwujud"
" Jadi jagain bundanya baik-baik ya"
"Doakan om bisa menghilangkan rasa ini buat bunda langit ya" Ucap refan dengan air mata yang terus mengalir dan pergi meninggalkan langit.
Refan berjalan menjauh dan berlari ke sembarang arah. Akhirnya ia sadar bahwa sekarang berada di sekitaran danau dan menangis sekuat-kuatnya.
"Akh....."
Refan menangis,menjerit dan memukul dadanya yang penuh sesak sekarang. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis untuk saat ini.
"Jejeee......" Teriaknya di bibir danau. Refan menangis dan meluapkan semua emosinya di sana sendiri.
"Gue kurang cepat datang"
"Gue lalai"
"Dan pada akhirnya loe bukan milik gue"
Refan menangis di bawah pohon dan menatap kosong danau yang berada tepat di depannya.
"Gue hancur....."
"Hancur....."
"Gue hancur je....."
"Penantian gue selama sebelas tahun sia-sia"
__ADS_1
Refan menjerit dan menjambak rambutnya. Dari ia duduk di sekolah menengah pertama,ia sudah jatuh hati kepada jingga. Refan Berjalan di sekitaran danau dengan perasaan frustasi di alaminya. Sedangkan di seberang sana,ada seorang ibu yang menangis melihat kehancuran hati anaknya dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Maafkan mama re"
"Mama harus melepas jeje" Mama terisak dari jauh sambil melihat hancurnya sang buah hati.
*****
"Zah...." Ucap langit sambil mengelus pelan pundak jingga. Jingga tersenyum saat langit memanggilnya dengan sebutan ustazah.
"Sekarang jangan panggil ustazah lagi ya nak" Ucap jingga sambil membelai wajah langit.
"Panggil bunda "
"selamanya dan sesuka hati langit" Ucap jingga tersenyum dan mencium pipi langit.
"Boleh?"
"Selama-lamanya?"
"Di depan ayah?" Tanya langit dan di angguki jingga. Langit memeluk jingga dengan pelan dan membuat hati jingga merasakan hangat.
"Bunda jangan sedih lagi ya"
"Langit sama ayah zee selalu ada buat bunda" Ucap langit. Zefan memperhatikan keduanya dan berusaha mendekat. Situasi sekarang cukup canggung bagi zefan dan jingga. Namun,zefan dengan santainya mengelus pelan punggung badan jingga dan tersenyum ke arah jingga.
Badan jingga mematung kaku dan merasa canggung saat ingin bergerak.
"Kak zee" Ucap putra.
"Ya?" Saut zefan.
"Jingga malam ini tidur di rumah kak zee ya" Ucap putra sambil melihat ke arah jingga. Jingga membulatkan bola matanya. sempurna karena terkejut.
"Iya,mulai malam ini dan seterusnya" Ucap zefan sambil melihat jingga. Sedangkan jingga yang di tatap pun menundukkan pandangannya.
"Putra sama putri tidur di sini aja"
"Biar besok-besok enggak susah mau kemana pun" Ucap zefan.
"Kita di rumah jingga yang lama aja deh kak" Ucap putri.
"Soalnya kita nggak mau gangguin orang yang lagi pdkt" Sambung putri.
"Semoga lancar ya pdkt nya" Ucap putra dan putri kompak. Jingga melihat ke arah mereka dan menatap dua adiknya tersebut. Jingga cukup geram dengan ucapan yang baru saja lolos dari mulut adiknya tersebut.
"Langit mau tidur sama bunda,boleh ayah?" Tanya langit. Zefan menganggukkan kepalanya dan membuat langit girang.
"Di mana tidurnya?" Tanya langit.
"Di kamar ayah sama bunda dong" Ucap zefan tersenyum.
"Berarti sekarang bunda udah boleh tidur di kamar ayah? Sama langit juga?" Tanya langit girang dan di angguki zefan.
"Boleh nak,boleh..." Ucap zefan. Langit memeluk jingga penuh bahagia dan menghujani jingga dengan ciuman.
"Tapi jangan sering-sering,entar kamu lama punya adek" Ucap putra. Kali ini tak jingga biarkan,jingga melempar bantal sofa ke wajah putra dan menatap horor putra.
"Langit mau kan punya adek?" Tanya putra dan di angguki antusias oleh langit. Bukannya takut,putra makin membuat topik obrolan yang semakin jauh.
"Mau"
"Mau...." Jerit langit bahagia.
"Ya doakan aja ya cepat ada dedek di perut bunda langit" Ucap putra.
"Dah, Sekarang om mau pulang sama anti putri..." Ucap putra. Putra dan putri berpamitan ke mama zefan. Dan tak lupa berpamitan kepada pasutri baru tersebut.
Setelah perginya putra dan putri,jingga cukup canggung berada di rumah suaminya. Jingga menatap sekitar ruangan saat suaminya ke dapur sejenak.
"Udah mandi nak?" Tanya mama zefan.
"Eh belum nek" Ucap jingga. Mama pun memanyunkan bibir dan mengelus pundak jingga pelan.
"Kok masih nek?" Tanya mama zefan.
"Panggil mama" Ucap mama.
"Eh,iya ma" Ucap jingga dan di angguki mama.
"Jingga masih canggung banget ma" Ucap jingga. Mama tertawa kecil dengan ucapan jingga.
"Besok-besok terbiasa..." Ucap mama dan di angguki pelan oleh jingga. Saat zefan dan langit sudah kembali dari dapur,zefan menatap jingga dan berdiri di sebelah jingga. Yang pasti,perasaan jingga cukup kikuk saat di lihat oleh zefan.
"Yuk zah,ke atas" Ucap zefan.
"Oke pak" Ucap jingga pelan. Mama menggelengkan kepala dan menarik tangan jingga dan tangan zefan.
__ADS_1
"Enggak ada ustazah dan enggak ada orang tua wali!"
"Sekarang kalian itu suami istri!"
"Mama enggak mau dengar kata- kata tadi terucap kembali" Ucap mama mengancam. Zefan dan jingga cukup mengangguk dan pergi ke kamar atas,di mana kamar zefan berada.
Selagi jingga membersihkan diri,zefan membawa langit untuk sholat sunnah di kamar langit. Jingga sudah menolak,karena ia baru saja mendapatkan tamu bulanannya.
"Kok masih pakai jilbab?" Tanya zefan saat jingga keluar dari kamar mandi.
"Buka aja" Saran zefan. Jingga tersenyum kikuk dan mengangguk.
"Bentar lagi aja mas" Ucap jingga yang masih malu memperlihatkan auratnya tersebut. Zefan tersenyum mendengarkan panggilan yang di berikan oleh jingga.
"Langit kemana mas?" Tanya jingga saat tak menemukan langit.
"Ngantuk katanya,enggak tau deh mau tidur di sini atau di kamarnya" Ucap zefan. Jingga cukup mengangguk pelan.
Zefan membersihkan badannya sebelum tidur,sedangkan di kamar samping jingga sedang membantu langit memasang baju piyamanya.
"Bunda ke kamar dulu sebentar ya nak..." Ucap jingga.
"Kenapa?" Tanya langit.
"Mau siapin baju ayah" Ucap jingga dan hanya di angguki langit. Jingga sudah menyiapkan baju milik zefan dan meletakkannya di atas kasur. Karena merasa aman-aman saja dan tak ada zefan,perlahan jingga membuka jilbabnya dan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Bunda..." Ucap zefan dari belakang dan membuat jingga terkejut luar biasa.
"Huh,astaghfirullah..." Jingga segera memasang jilbabnya kembali,akan tetapi langsung di tahan oleh zefan.
"Eh,iya mas?" Ucap jingga kikuk
"Sini mas tolongin" Ucap zefan sambil menggapai pergelangan jingga dan merebut handuk yang di genggam jingga. Jingga pun di bawa ke kursi tepat di depan meja rias.
Zefan mengeringkan rambut jingga perlahan dan membuat jingga cukup jantungan. Terlebih saat zefan memanggilnya dengan sebutan 'Bunda'.
"Wangi banget nih bini gue" Batin zefan saat mengeringkan rambut jingga.
"Ayah,bunda..." Langit mengejutkan orang tuanya dan membuyarkan pikiran orang tuanya.
"Langit...." Ucap jingga terkejut.
"Iya bunda..." Ucapnya menyahut manja.
"Bunda mau menyampaikan sesuatu,boleh?" Tanya jingga.
"Hem,boleh bunda" Ucap langit mengangguk.
"Lain kali,kalau mau masuk kamar ayah sama kamar bunda,langit harus ketuk pintu ya nak" Ucap jingga memberitahu.
"Kenapa?" Tanya langit penasaran.
"Itu salah satu etika sopan santun nak" Ucap jingga lembut.
"Kalau langit udah besar,pasti nanti bakal tau maksud bunda" Ucap jingga sambil membelai pelan wajah langit.
"Jadi langit harus ketuk pintu,terus bilang kayak gini 'Ayah dan bunda langit mau masuk,boleh?' "
"Terus kalau ayah atau bunda bilang 'Boleh' baru deh langit masuk" Ucap jingga sambil mempraktikkan.
"Gimana? Langit paham kan?" Tanya jingga dan di angguki langit.
"Oke bunda,ayah,lain kali kalau langit masuk ke kamar harus ketuk pintu dulu" Ucap langit tersenyum dan di angguki zefan dan jingga.
Zefan membantu jingga menyisir rambut panjang jingga. Sedangkan langit menatap wajah cantik jingga yang tak menggunakan hijab.
"Bunda cantik banget" Puji langit sambil manyun.
"Udah dulu sisiran-nya ayah!"
"Langit mau bobo"
"Udah ngantuk banget nih!"
"Langit mau di peluk bunda" Ucap langit.
Langit tidur di antara ayah dan bundanya. Langit langsung memeluk jingga posesif dan menaikan kakinya ke atas badan jingga dan menjadikan jingga sebagai guling.
"Bunda enggak bakal hilang lagi kan?" Tanya langit yang sudah memejamkan matanya.
"Enggak sayang,bunda bakal di sini sama langit" Ucap jingga.
"Sama ayah?" Tanya langit.
"Sama langit dan ayah nak,bunda bakal di sini sama kalian terus" Ucap jingga sambil mengelus kepala langit. Karena ke-enakan saat di elus, alhasil langit cepat tertidur dan membuat jingga tersenyum.
"Tumben enggak banyak celoteh" Jingga menciumi pipi langit dan membuat lengkungan besar di bibir zefan.
__ADS_1
"Doa langit enggak pernah salah" Batin zefan.
Saat hendak memperbaiki posisi kepalanya,tiba-tiba pandangan jingga dan zefan beradu. Mereka pun menatap dalam diam. Zefan mendekatkan wajahnya ke arah jingga dan.....