
"Gimana kalau kita bahas soal pernikahan kita je?" Tanya refan lewat media pesan sebelum dirinya ke rumah sakit.
"Sekarang bukan saat yang tepat fan" Jawab jingga singkat. Refan hanya menganggukkan kepalanya dan tak menanyakan hal yang lain.
Refan pun pergi ke rumah sakit untuk melihat kembali keadaan abidzar.
"Eh,yang tadi ayahnya langit?" Tanya refan dan di angguki putra,adik jingga.
"Iya,ayahnya langit" Jawab putra. Tak lama langit pulang,refan pun memilih pulang karena ada panggilan mendesak dari kantornya.
*****
"Ayah...."
"Langit mau lihat foto bunda langit dong!" Ucap langit.
"Bunda mana nak?" Tanya zefan.
"Ayah enggak punya foto bunda kamu" Ucap zefan.
"Maksud langit ibu vanila ayah"
"Masa enggak ada sih?" Tanya langit.
"Oh,ibu vanila..."
"Ada dong,tunggu ayah cariin" Ucap zefan sambil mengambil handphonennya.
"Langit boleh panggil bunda kan ayah?" Tanya langit.
"Tentu saja sweet heart" Ucap zefan.
"Ini bunda vanila,cantik kan" Ucap ayah dan di angguki langit.
"Bunda cantik banget,pakai jilbab,sama kayak bunda jingga" Ucap langit sambil mengelus foto.
"Ini bunda waktu hamil langit ya ayah?" Tanya langit.
__ADS_1
"Iya,ini waktu langit di dalam perut bunda vanila"
"Setiap hari langit ngajinya bareng bunda vanila" Ucap zefan. Langit memerhatikan dengan seksama foto ibu kandungnya tersebut.
"Bunda vanila sayang nggak sama langit?" Tanya langit sambil menatap lurus foto di depannya.
"Kok nanyain itu?"
"Bunda vanila pasti sayang banget sama langit"
"Dia lebih sayang ke langit dari pada ke ayah" Ucap zefan.
"Tapi kalau bunda vanila sayang ke langit,kenapa tinggalin langit?" Tanya langit sedih.
"Bukannya itu sama aja enggak sayang sama langit" Ucap langit sambil meneteskan air matanya.
"Coba aja bunda vanila masih ada,pasti langit sama kayak temen-temen langit yang setiap hari di mandiin sama bundanya,terus waktu mau tidur pasti di temenin sama bundanya" Langit meneteskan air matanya dan terisak kecil. Zefan mengelus pelan pundak langit dan membiarkan langit mengeluarkan curhatan hatinya.
"Ayah tau?"
"Setiap hari kerjaan langit cuma iri sama temen langit yang di anterin sekolah sama ibu ayah mereka"
"Sedangkan langit? Perempuan yang bisa langit banggakan cuma zah jingga,zah jingga dan zah jingga"
"Dan temen-temen langit tau kalau langit enggak punya ibu dan berharap kasih sayang dari zah jingga" Ucapnya lagi tanpa ragu. Zefan cukup ternganga dengan semua ucapan yang keluar dari mulut langit. Di usianya yang masih kecil,langit sangat cerdas merangkai kata di dalam otaknya.
"Langit iri yah,langit iri......" Ucap langit sesegukkan dan meraung keras di kamar zefan. Sedangkan nenek sudah menangis di balik pintu kamar zefan.
"Langit mau kayak dafa"
"Di masakin sama ibunya"
"Di mandiin,di anterin ke sekolah,di temenin dan di ceritain sebelum tidur" Ucap langit terang-terangan. Zefan cukup terkejut dengan sikap langit sekarang sekaligus bahagia. Pasalnya dulu langit menutupi semua emosi yang ia rasakan. Dan semuanya berubah setelah langit pernah bercerita dengan jingga tentang dirinya yang di rundung karena tak punya ibu.
"Maafkan ayah ya nak,selama ini ayah kurang perhatian sama langit"
"Jarang bertanya apa yang langit butuhkan dan apa yang langit inginkan"
__ADS_1
"Ayah pikir kalau langit punya ayah aja udah cukup"
"Maafkan ayah ya nak" Ucap zefan menatap mata bulat langit. Langit masih sesegukkan dan membuat zefan meneteskan air matanya.
Di mana seorang ayah yang beranggapan bahwa dirinya bisa menjadi dua peran utama dalam satu tokoh cerita,namun hasil itu tak sesuai dengan keinginannya. Zefan merasakan rasa bersalah yang besar kepada langit dan merasa gagal untuk mengetahui kondisi hati langit yang sebenarnya. Anak yang di matanya selalu saja berceloteh ria,diam-diam menyimpan kisahnya sendiri dan enggan berbagi kepada dirinya dan memilih seorang lain untuk menjadi wadah penampung ceritanya.
"Langit"
"Makasih ya nak udah mau jujur tentang perasaan langit"
"Kedepannya ayah mau langit jujur dengan apa yang langit rasakan,apa yang langit kerjakan dan apa yang terjadi dengan langit" Ucap zefan sambil mengelus pelan pipi langit dan menatap mata bulat langit yang sangat mirip dengan vanila.
"Terus kenapa bunda vanila tinggalin langit?" Tanya langit yang menatap foto vanila di tangannya.
"Nak,bunda pergi bukan karena bunda mau"
"Ini yang di namakan takdir Allah"
"Ketentuan Allah"
"Jadi cuma Allah yang tau kenapa bunda vanila pergi cepat ninggalin kita berdua" Ucap zefan.
"Dan kenapa semua foto bunda vani di simpan semua yah?" Tanya langit. Zefan hanya tersenyum dan mengelus pelan kepala langit.
"Supaya ayah enggak berlarut-larut ingat bunda vani" Ucap zefan lembut. Langit tak paham dengan apa yang di ucapkan ayahnya. Ada maksud tersirat dari kata zefan yang belum bisa di pahami langit.
"Maksud ayah?" Tanya langit. Zefan hanya tersenyum sambil mengelus pelan pucuk kepala langit.
"Tunggu langit udah besar ntar langit tau sendiri maksudnya" Ucap zefan.
"Vanila..."
"Lihat sayang,langit udah tambah pintar"
"Tambah cerewet dan marah karena kamu udah tinggalin dia" Batin zefan.
"Matanya mata kamu banget vani..." Ucap zefan pelan.
__ADS_1
"Miss you so bad my lovely girls" Ucap zefan sambil mengelus wajah vanila.