
"Hati gue kok kosong banget ya...." Ucap jingga sambil menatap lurus danau di depannya.
"Hah..."
"Saking banyaknya ya gue pikirin" Ucap Jingga. Wajah refan yang ingin menikahinya pun melintas di otaknya.
Jingga berjalan di sekeliling danau tanpa henti. Akhirnya jingga memilih untuk berbaring di tepi danau. Untungnya kawasan danau ini cukup sepi.
"Hah...." Jingga berbaring dan memejamkan matanya.
Dari seberang jalan,anak laki-laki bersepeda melihat ke arah tepi danau.
"Orang itu ngapain?" Tanya bocah tersebut. Anak tersebut mendekati perempuan yang tengah terbaring sambil memejamkan matanya. Bocah tersebut bukannya membangunkan jingga,ia malah memperhatikan jingga yang tengah tertidur. Ia menatap jingga dan mengembangkan senyum lebarnya.
"Cantik banget..." Pujinya sambil ikutan berbaring di samping jingga. Jingga yang mendengarkan suara orang di sampingnya pun memilih untuk membuka matanya. Betapa terkejutnya bahwa di sampingnya adalah langit.
"Langit..." Ucap jingga terkejut. Langit hanya mengembangkan senyumnya dan melihat danau.
"Enak ya zah tidur-tiduran di dekat danau" Ucap langit.
"Langit kok ada di sini?"
"Kan ini jauh dari rumah?" Ucap jingga.
"Langit pergi ke rumah saudara langit zah,di sana" Langit menunjuk rumah di seberang danau.
"Ustazah kirain langit naik sepeda dari rumah ke sini" Ucap jingga. Langit menggelengkan kepalanya dan menggapai tangan jingga dan menggenggam tangan jingga erat.
"Langit ngapain?" Tanya jingga.
"Mau transfer energi" Ucap langit tersenyum.
"Langit tau ustazah capek"
"Makanya langit kasih sebagian energi langit buat ustazah" Ucapnya manis. Jingga tersenyum bahagia mendengarkan kata-kata manis tersebut.
"Siapa sih yang ngajarin hal-hal manis kayak gini?" Tanya jingga sambil mencolek pipi langit.
"Enggak ada yang ngajarin,langit ngelakuin ini tulus dari hati langit" Ucap langit. Lagi-lagi jingga mengembangkan senyumnya setelah mendengarkan kata manis dari langit.
"Gimana zah? Udah cukup belum energinya?" Tanya langit.
"Belum,belum cukup" Ucap jingga. Jingga membentangkan tangannya dan membuat langit masuk ke dalam pelukannya.
"Peluk ustazah erat-erat langit,biar energi langit masuk ke tubuh ustazah" Ucap jingga.
"Oke...." Ucap langit riang. Mereka berdua berpelukan di bibir danau dan saling tertawa bahagia. Sedangkan di seberang jalan sana,terdapat zefan yang memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Zefan bersembunyi di balik pohon dan memotret kebahagian yang sedang terjadi di antara guru dan murid tersebut.
"Langit sayang zah jingga" Ucap langit sambil menatap jingga. Kata yang kerap kali ia ucapkan kepada jingga.
"Ustazah lebih sayang langit" Ucap jingga sambil merapikan anak rambut langit.
"Enggak,sayangnya langit buat zah jingga lebih besar dari pada yang zah jingga kasih ke langit" Ucap langit.
"Enak aja,ustazah lebih sayang sama langit pokoknya" Ucap jingga tak mau kalah. Langit dan jingga pun berdebat tentang rasa sayang mereka. Akhirnya mereka berdua gelitikkan dan tertawa bahagia di bawah langit senja.
"Warna langitnya jingga"
"Cantik"
"Kaya ustazah jingga" Ucap polos langit dan membuat jingga tersenyum lebar.
"Ih,ustazah jadi malu" Ucap jingga tertawa kecil.
"Beneran zah,ustazah itu cantik banget"
"Cocok banget jadi istri ayah..." Ucap langit spontan. Jingga membulatkan matanya dan berusaha untuk menormalkan perasaannya.
"Foto yuk langit" Ucap jingga dan di angguki langit. Langit dan jingga berfoto di tepi danau dan di temani sunset yang indah.
__ADS_1
"Nanti malam jangan lupa setor hafalan sama ustazah"
"Kita video call aja,soalnya ustazah masih tidur di rumah sakit" Ucap jingga.
"Oke zah" Ucap langit bersemangat.
"Udah sore langit,Ustazah mau pulang" Ucap jingga berdiri dan di tolong langit. Langit sangat bahagia saat jingga menerima bantuannya. Dengan cepat langit menyambar tangan jingga dan menggandeng tangan jingga erat.
"Pokoknya aku sayang zah jingga"
"Aku sayang zah jingga"
"Aku anaknya zah jingga dan aku lebih sayang sama zah jingga" Ucap langit berceloteh sepanjang jalan dan membuat jingga tertawa.
*****
"Je,gue udah bilang kak abidzar"
"Dia restu-in hubungan kita dan berharap kita cepat nikah" Ucap refan. Jingga hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Cocok banget jadi istri ayah..." Ucapan langit tadi sore terlintas di pikiran jingga dan menggema di telinga jingga. Jingga menggelengkan kepalanya dan spontan refan menepuk pundak jingga.
"Kenapa je?"
"Loe mikirin apa?" Tanya refan.
"Eh,ah..nggak ada kok,gue bengong aja" Ucap jingga tersenyum.
"Kapan kita adain acaranya?" Tanya zefan.
"Seminggu lagi?" Tanya zefan.
"Boleh juga" Usul jingga. Refan mengembangkan senyumnya dan merasakan hati yang berbunga-bunga. Sudah sepantasnya refan merasakan hal ini. Pasalnya semenjak ia SMP ia menaruh rasa kepada jingga,hingga saat ini.
"Kita persiapkan dari sekarang aja ya je,berangsur-angsur" Ucap refan dan di angguki jingga.
"Kita harus melihat situasi dan kondisi kak abidzar juga kan" Ucap refan.
*****
"Tante bella kenapa ke sini?" Tanya langit menemui bella.
"Tante mau ajakin langit ke mall,jalan-jalan"
"Mau kan?" Tanya bella. Langit langsung melihat ke arah nenek dan nenek hanya mengangguk pertanda mengizinkan langit.
"Ayah ikut kok" Ucap nenek.
"Ayah di mana?" Tanya langit mencari ayahnya.
"Ayah di dalam mobil,yuk pergi" Ajak bella menggapai tangan langit. Baru saja bella memegang tangan langit,langit sudah melepaskan tangan bella dengan sopan.
"Langit mau pergi ke mana?" Tanya bella.
"Langit mau ke rumah sakit,ke tempat bunda jingga boleh?" Tanya langit.
"Selain rumah sakit deh,tempat main yang langit mau di mana?" Tanya bella.
"Ke rumah zah jingga" Ucap langit datar. Bella hanya menghela nafasnya pelan dan berusaha menahan amarahnya.
"Rumah zah jingga nanti aja kita kunjungi ya nak,kita ke tempat main dulu"
"Sudah pulang dari main,baru kita ke sana" Ucap zefan. Langit menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
"Baiklah..."
"Kita ke mall aja deh,langit mau makan es krim" Ucap langit. Mereka menuruti kemauan langit sepanjang hari ini.
"Langit mau main itu"
__ADS_1
"Langit mau beli itu"
"Langit mau cobain itu"
"Langit mau dapetin itu"
Sepanjang hari ini mereka menuruti kemauan langit. Langit sengaja membuat bella kesusahan agar bella tak lagi mengunjunginya.
"Langit udah dapat semua yang langit mau,seru nggak?" Tanya bella antusias.
"Belum semua keinginan langit terwujud hari ini" Ucap langit.
"Apa itu?" Tanya bella.
"Langit mau ke rumah zah jingga" Ucap langit.
"Itu keinginan terbesar langit hari ini" Ucap langit.
"Jingga,jingga,jingga" Batin bella kesal.
"Seru nggak permainannya?" Tanya bella lagi.
"Seru sih,tapi kayaknya lebih seru sama zah jingga deh main di time zone" Ucap langit yang membuat hati bella kesal. Zefan hanya memperhatikan ekspresi bella yang berubah saat langit mengucapkan kata 'jingga' di setiap jawabannya.
"Main sama zah jingga tu memang seru banget"
"Zah jingga tu orangnya kece,asik,gaul" Ucap langit bahagia.
"Wih,bahasa nya langit udah berubah aja" Ucap ayah.
"Hehe,iya dong,kan di ajarin om putra,adiknya zah jingga yang cerewet itu loh ayah. Ayah ingat kan?" Ucap langit.
"Ingat kok,ingat" Ucap zefan.
"Oh iya,tante bella punya saudara nggak?" Tanya langit. Bella membulatkan bola matanya dan tak percaya bahwa langit melontarkan pertanyaan untuknya.
"Tante anak tunggal,jadi enggak punya saudara" Ucap bella.
"Yah,nggak seru dong"
"Masa tante kayak langit,enggak punya saudara"
"Ayah juga enggak punya saudara"
"Punya saudara kayak saudaranya zah jingga memang seru" Ucap langit lagi.
"Akh...nih anak cerita nya pasti ada zah jingga,zah jingga,zah jingga! Kesel gue!" Jerit bella dalam hati.
"Bell,gue ke toilet bentar,titip langit ya " Ucap zefan dan di angguki bella. Bella langsung menatap langit dengan tatapan mengintimidasi.
"Kenapa tante natap aku kayak gitu? tante nggak suka sama aku?" Tanya langit sinis.
"Kalau iya kenapa?" Ucap bella tak kalah sinis. Langit hanya mencebikkan bibirnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Enggak apa-apa sih,padahal aku udah berusaha buat belajar dekat dan suka sama tante"
"Tapi tante aja nggak suka sama aku" Ucap langit santai.
"Asal kamu tau,tante calon bunda kamu!" Ucap bella.
"Aku tau kok,tapi aku enggak mau" Jawab langit.
"Aku maunya cuma bunda jingga" Ucap langit menantang. Bella tak menyangka anak berusia lima tahun di depannya ini sangat pandai berdebat.
"Tante,tolong potongin daging ini dong,Susah nih..." Ucap langit. Bella hanya menatap sinis langit dan mengacuhkan omongan langit. Langit menghembuskan nafasnya pelan dan memutar bola matanya jengah.
"Kok ayah langit punya temen kayak gini sih?" Heran langit. Bella menepuk meja dengan keras dan membuat langit terkejut.
"Kamu kenapa?" Tanya zefan sambil melihat bella dengan tatapan tak suka.
__ADS_1