Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 2


__ADS_3

Sudah hampir sebulan jingga mengajar di taman kanak-kanak. Sungguh hal di luar dugaan bagi jingga bahwa ia bisa betah mengajar,karena ia memiliki sikap yang tak sabaran dan mudah terpancing emosi. Dan dulunya cita-cita jingga sangat ingin menjadi seorang dokter. akan tetapi ada hal yang membuat ia mengubur pahit impiannya tersebut.


"fia bawa apa?" Tanya jingga kepada murid perempuannya saat jam makan siang.


"Bawa nasi sayur sup ustazah" Ucap fia sambil memperlihatkan bekalnya. Jingga pun menanyai semua menu bekal yang muridnya bawa.


"Nah,kalau langit bawa apa?" Tanya jingga saat berdiri tepat di depan langit. Langit memperlihatkan isi kotak makannya dan termenung sejenak.


"Selama ustazah ngajar di sini,langit bekalnya daging-dagingan terus. Emangnya langit nggak suka sayur?" Tanya jingga. Langit menggelengkan kepalanya dan membuat jingga tersenyum.


"Mau cicip bekal ustazah?" Tanya jingga.


"Ustazah bawa apa?" Ucapnya. Sedari tadi jingga hanya ingin mendengar suara milik langit yang tak kunjung keluar. Namun pada akhirnya jingga mengembangkan senyum saat langit merespons ucapannya.


"Nih,cobain!"


Jingga membuka bekalnya yang berisi sayuran yang berwarna hijau. Langit langsung menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya.


"Nggak mau..."


"Nggak suka..." Ucap langit sambil menggelengkan kepalanya.


"Ustazah buat sendiri loh!" Ucap jingga meyakinkan.

__ADS_1


"Enak loh langit,cobain deh!" Seru jingga. Namun masih geleng kepala yang di peroleh jingga dari langit.


"Ustazah nggak maksa,cuma mau suruh langit cicip dikittt aja punya ustazah" Ucap jingga.


"Tetap aja itu namanya pemaksaan zah jingga" Ucap langit kesal. Jingga tertawa dan mengacak-acak rambut langit.


"Yaudah kalau nggak mau..."


"Tapi ustazah pastiin kalau suatu saat nanti sayur ustazah bakal jadi makanan favorit langit" Ucap jingga percaya diri. Langit hanya memutar bola matanya jengah dan mengedingkan bahunya karena mendengar penuturan ustazahnya yang memiliki percaya diri yang tinggi.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 dan saat ini jingga tengah mengaji di depan rumahnya seorang diri.


"Ya Allah,datangkan lah seseorang yang bisa mendampingi hamba"


"Kriterianya nggak banyak kok ya Allah,cukup kaya,ganteng,cerdas dalam aspek agama maupun umum dan duda anak satu juga nggak apa-apa kok Ya Rabb"


"Aamiin" Doa jingga sambil tercengir. Jingga kembali melanjutkan kegiatannya dan sesekali mengulang hafalan Qur'an nya.


"Kringg...." panggilan telepon dari saudara kandung jingga.


".... ....... ...."

__ADS_1


"Iya,boleh kok loe ke rumah temen,cuma inget waktu,jangan pulang sesudah magrib!"


"Ntar abis loe di gebukin sama bapak!" Ucap jingga kepada adiknya yang hendak meminta izin keluar rumah.


"....... ..... ....."


"Duit loe abis dek? sumpah?" Tanya jingga tak percaya.


"Baru gue kirim loh tiga hari yang lalu,kok bisa abis?" Omel jingga. Jingga pun menceramahi adiknya dengan kata-kata sakral karena perkara uang.


"Awas loe boros ya!" Ancam jingga. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan,adik jingga pun langsung memutuskan sambungan telepon.


Karena waktu ashar masih lama,jingga pun kembali mengulang-ulang hafalannya. Saat sedang asik-asiknya mengulang hafalan,tiba-tiba...


"Brakkk..."


"Aduhhhhhh....." Jerit seorang anak laki-laki yang menabrak pagar rumah jingga.


"Astaghfirullah"


jingga langsung berlari ke depan rumah dan membantu anak tersebut. Teman-teman anak tersebut pun sudah lebih duluan menolong sebelum jingga datang.


"Hah?"

__ADS_1


"Zah jingga!"


__ADS_2