
"Assalamualaikum..." Jingga masuk ke dalam kamar langit dan melihat langit yang matanya sudah sembab.
"Bunda jingga....." Jeritnya sambil menangis. Jingga berjalan dan membawa langit ke dalam gendongannya. Langit memeluk jingga posesif dan enggan melepaskan pelukannya.
"Huuuu....."
"Huuuu....."
Langit menangis dengan mata yang tertutup dan memeluk erat tubuh jingga. Zefan hanya bisa mengelus pelan kepala anaknya dan termenung. Sedangkan jingga membiarkan langit menangis untuk menumpahkan semua emosi yang ia rasakan saat ini.
"Ustazah jingga udah ada di sini,ayo makan!" Ucap nenek. Langit menggelengkan kepalanya dan membuat nenek menghembuskan nafas pelan.
"Sayang,makan terus minum obat ya!" Ucap zefan lembut. Langit melihat sang ayah dan mengangguk pelan.
"Tapi langit mau makan makanan yang di buat zah jingga ya ayah!" Ucap langit.
"Kasihan ustazahnya nak,ustazah jingga capek,mau istirahat!" Ucap zefan. Jingga hanya tersenyum menanggapi.
"Kalau di suapin boleh?" Langit menatap mata ayah dengan mata yang penuh binar. Ayah pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Ayo makan!" Ajak jingga. Jingga memang merasa letih seharian ini dan syukurnya zefan mengerti dengan keadaannya.
Langit makan dengan di suapi jingga. Selama makan,langit hanya menatap wajah jingga dan membuat jingga kebingungan.
"Kenapa lihatin ustazah terus?" Tanya jingga jahil penuh selidik.
"Langit kangen sama ustazah" Ucapnya manyun.
"Ustazah juga kangen sama langit yang setiap hari selalu sewot sama ustazah" Ucap jingga.
"Makanya langit harus cepat sembuh" Ucap jingga sambil menyentil hidung langit.
"Gimana mau cepat sembuh,makan aja enggak mau zah" Ucap nenek bak mengadu.
"Wah,gitu ya nek!" Ucap jingga dan di angguki nenek.
"Langit kok malas makan?" Tanya jingga. Langit hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak selera" Ucap langit.
"Langit...."
"Kalau kita mau tetap sehat,kita harus jaga tubuh kita dari penyakit"
"Supaya tubuh tetap sehat dan enggak mudah sakit,kita harus makan dan minum vitamin biar enggak mudah sakit" Ucap jingga lembut sambil menatap mata langit. Langit pun melihat jingga dengan seksama.
"Udah habis makannya...."
"Yeyyy...."
"Langit hebat!" Puji jingga sambil tepuk tangan. Ayah dan nenek pun ikut bersorak gembira.
__ADS_1
"Makan obat ya nak,sudah itu istirahat di kamar" Ucap ayah dan di angguki langit.
"Tapi..."
"Langit mau ustazah tidur sama langit,boleh ayah?" Ucapnya memelas. Zefan pun mengangguki kepalanya dan membuat langit girang.
"Nak,maaf ya buat kamu repot terus..." Ucap nenek saat jingga ke dapur untuk mengupas buah.
"Enggak apa-apa kok nek"
"Wajar,anak kecil..." Ucap jingga tersenyum. Nenek mengelus pundak jingga lembut dan menatap mata jingga.
"Makasih ya nak udah sabar sama sikap langit" Sambung nenek.
"Iya nek,sama-sama" Ucap jingga melihat nenek sekilas dan kembali mengupas buah.
"Langit akhir-akhir ini bersikap lebih manja dari biasanya"
"Apa lagi setelah kenal sama zah jingga" Cerita nenek.
"Sesuatu yang belum pernah ia rasakan,bisa ia rasakan saat bersama zah jingga"
"Nenek pun memaklumi hal itu. Pasalnya langit belum pernah dekat dengan perempuan lain selain nenek"
"Ya...karena ibu langit sudah meninggal,jadi langit belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu" Ucap nenek sambil melihat langit yang sedang menonton televisi. Sedangkan zefan yang hendak mengambil minum pun menunda niatnya dan menyimak obrolan jingga dan nenek sedari tadi.
"Wajar nek,hal itu sangat wajar dan jingga merasakan hal yang sama dengan langit" Ucap jingga tersenyum.
"Ibu jingga pergi ninggalin jingga dan adik-adik karena mendua dari ayah" Ucap jingga.
"Selingkuh?" Tanya nenek dan di angguki jingga.
"Jingga masih kecil nek,jadi belum tau apa itu selingkuh dan lain-lain"
"Karena masih kecil,jadi jingga lupa sama kasih sayang yang pernah ibu berikan"
"Yang terlintas cuma cara dia ninggalin jingga dan pergi memilih selingkuhannya" Ucap jingga sambil tersenyum.
"Dan saat jingga tau ibu langit udah enggak ada,di sana lah hati jingga tergerak untuk mendekati langit"
"Setidaknya supaya hati langit enggak kosong dan bisa merasakan apa yang namanya sayang dari seorang perempuan meskipun bukan dari ibu kandungnya" Ucap jingga.
"Karena jingga punya mama angkat yang sayangnya tulus banget sama jingga" Ucap jingga. Mama angkat jingga adalah mama kandung refan,sahabat sekaligus saudara angkat jingga.
"Jingga hidup sama ayah bukannya aman damai malah sering di pukul nek"
"Dan bersyukurnya langit punya ayah yang penyayang" Ucap jingga santai.
"Hah? Kenapa di pukul?" Ucap nenek.
"Ya karena..." Cerita jingga terpotong.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya nenek potong nak,tapi kamu enggak apa-apa kalau cerita tentang ini?" Tanya nenek dan di gelengi jingga.
"Enggak apa-apa kok nek,jingga udah kebal,hehe" Cengir jingga.
"Semenjak ibu pergi ninggalin ayah,jingga jadi bahan pelampiasan amarah ayah setiap kali dia pulang dalam kondisi mabuk" Ucap jingga.
"Setiap dia mabuk,dia bakal meracau sambil mengumpat ibu jingga"
"Dan dia bakal mukulin jingga dengan alasan bahwa jingga anak perempuannya yang paling mirip dengan ibu"
"Padahal dulu ayah enggak kayak gitu loh nek!"
"Ayah memperlakukan kami dengan sangat baik"
"Tapi semenjak hari itu,ayah berubah seperti monster dan menjadi orang yang menorehkan luka terbesar di hati jingga" Ucap jingga tegar.
"Mulai dari mengumpat sampai melakukan kekerasan sudah jingga rasakan"
"Tapi jingga sudah memaafkan semua kesalahan ayah,dengan begitu ayah enggak susah di alam kubur" Ucap jingga. Nenek terkejut bahwa ayah jingga telah meninggal.
"Kalau ibu nak? masih ada?" Tanya nenek.
"Enggak tau nek"
"Semenjak kejadian hari itu sampai sekarang,jingga enggak pernah ketemu ibu" Ucap jingga.
"Pernah terbesit niat untuk enggak nikah enggak nak?" Tanya nenek dan langsung di angguki jingga.
"Ada! Justru sering nek"
"Ya alasan awalnya karena takut punya suami kayak ayah" Ucap jingga.
"Tapi abang jingga bilang,kalau enggak semua laki-laki sikapnya kayak ayah dan jingga percaya karena sikap abang yang sangat berbanding balik dengan sikap ayah" Ucap jingga.
"Terlebih setelah jingga di selingkuhi oleh pacar jingga dulu waktu SMA"
"Di situ titik di mana jingga sudah tidak percaya dengan laki-laki manapun kecuali abang" Ucap jingga.
"Dulu pacaran? Sekarang ada pacar?" Tanya nenek.
"Dulu khilaf nek,hehe"
"Nyesel banget pas dulu sia-siain waktu buat nabung dosa" Cengir jingga dan membuat nenek tersenyum.
"Dan sekarang Alhamdulilah enggak punya pacar,maunya langsung nikah aja!" Ucap jingga dan di angguki nenek.
"Semoga dapat imam yang tepat dan memenuhi kriteria ya nak..." Ucap nenek dan di aamiin kan oleh jingga.
"Bahaya juga nih hidupnya si jingga" Batin zefan.
"Maaf ya ustadzahnya langit,saya nguping..."
__ADS_1