Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 6


__ADS_3

"Hah...." Langit selesai mengunyah makanannya dan terkejut dengan makanan yang baru saja ia makan.


"Kenapa?" Ucap jingga cemas.


"Kok enak?!" Langit terkejut dan membuat jingga tertawa.


"Enak dong,kan ustazah yang bikin" Ucap jingga.


"Yuk di makan lagi" Ucap jingga dan di angguki langit.


Selama di suapi oleh jingga,langit menatap jingga dengan lekat. Langit mulai merasakan kenyamanan bersama guru nya yang terkenal cerewet.


*****


Sudah hampir sebulan langit pergi mengaji dengan jingga. Akan tetapi jingga tak pernah melihat siapa nenek dan orang tua dari langit. Langit akan pergi ke rumah jingga menggunakan sepeda atau di antarkan oleh pak Cipto.


"Langit...."


"Makan dulu nak..." Ucap nenek.


"Nanti aja nek,langit udah nggak sabar pergi ngaji" Ucap langit pergi menggunakan sepedanya. Nenek menggelengkan kepalanya setelah melihat perilaku langit yang mulai berubah akhir-akhir ini.


"Eh langit...." Ucap segerombolan anak-anak yang usianya tak jauh berbeda dari langit.


"Kenapa?" Ucap langit tak suka.


"Kenapa loe kayak gitu kalau setiap di bawa ngomong?" Ucapnya membentak langit.


"Apa-apaan sih,gue kan nggak salah apa-apa" Ucap langit tak kalah ngotot.


"Kata emak gue,prilaku loe buruk itu karena loe nggak di didik bener sama keluarga loe"


"Apalagi ibu loe dah ninggal"


"Udah nggak dapat kasih sayang,terus ibu loe meninggal gara-gara ngelahirin elo"


"Kasihan..." Ucap nya meledek langit. Tangan langit memanas saat mendengarkan ucapannya tersebut. Langit pun mengejar temannya dan melayangkan kepalan tangan kepada temannya.


"Kenapa loe marah? ibu loe kan emang udah nggak ada? Udah meninggal" Ucapnya dan membuat langit semakin marah. Saat langit melayangkan tinjunya tak lupa pula pembalasan dari temannya datang. Tak sampai di situ,langit di dorong dengan kuat sehingga jatuh tersungkur.


"Dafa....." Teriak langit murka menyebut nama temannya. Langit berdiri dan menendang perut temannya dengan keras dan membuat temannya tersungkur.

__ADS_1


"Langitttt......."


Bukannya berhenti,langit malah semakin meninju teman yang usianya lebih besar dari langit. Akhirnya jingga menarik tangan langit dan menatap semua gerombolan anak yang membuat langit marah dengan hebatnya.


"Pergi kalian semua" Ucap jingga dengan wajah setannya.


"Pergi!" Bentak jingga. Semua teman yang menindas langit tadi berlari pergi meninggalkan jingga dan langit.


Langit sibuk membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya. Tiba-tiba,tanpa berbicara apapun,jingga langsung menggandeng tangan langit untuk pulang ke rumahnya.


"Lutut langit sakit ustazah" Keluhnya saat sudah sampai di rumah. Jingga langsung membantu langit membersihkan luka di badannya.


"Buka mulut langit nak" Ucap jingga lembut. Langit membuka mulutnya dengan pelan.


"Gigi langit ada yang goyang nih,gara-gara di tonjok tadi" Jingga melihat gigi langit yang goyang karena di pukuli oleh temannya.


"Ustazah cabut ya?" Ucap jingga.


"Nggak sakit kan zah?" Tanya langit.


"Sakit dikit nak,tapi tahan ya" Ucap jingga dan di angguki langit. Jingga menarik gigi langit yang goyang,alhasil banyak darah yang keluar.


"Langit jangan takut,bentar lagi darahnya berhenti" Ucap jingga menenangkan saat menempelkan kapas pada gusi langit.


"Baju langit kotor banget,nggak bisa di bawa sholat" Sambung jingga. Langit hanya pasrah saat di perlakukan oleh jingga. Setiap gerak-gerik jingga di perhatikan secara seksama oleh langit.


"Nanti langit mau cerita boleh zah?" Tanya langit dan di angguki jingga.


"Sekarang juga boleh kok sayang" Ucap jingga. sambil mengelus pelan kepala langit.


"Nanti aja,dari rumah tadi langit udah nggak sabar buat setor hafalan sama ustazah" Ucap langit.


"Ya udah kalau gitu" Ucap jingga.


*****


"Pak cipto,anterin saya ke rumah ustazahnya langit" Ucap nenek.


"Oke nek" Jawab pak cipto santai.


"Ma,Zefan juga ikut..." Ucap ayah langit.

__ADS_1


Mereka pun tiba di rumah jingga. Sedari tadi mereka mengucapkan salam dari luar pagar akan tetapi tak ada yang menjawab. Nenek pun masuk ke dalam pekarangan rumah dan berdiri di depan pintu,tiba-tiba....


*****


Langit dengan penuh konsentrasi dan usahanya ia menyetor hafalan al-qur'annya kepada jingga. Setelah menyelesaikan tugasnya,langit tiba-tiba duduk di samping jingga dan menyandarkan tubuhnya ke tubuh jingga.


"Emangnya salah ya zah kalau ibu langit udah meninggal?" Tanya langit tiba-tiba. Jingga yang sebenarnya baru tahu fakta ini,saat mendengar ucapan teman langit tadi dan jingga pun cukup merasa sedih hati dan merasakan apa yang langit rasakan.


"Apa semuanya salah langit? karena langit lahir di dunia, ibu jadi pergi meninggalkan dunia?" Ucapnya menangis sambil memeluk sebelah lengan jingga. Jingga memeluk bocah gengsinya tersebut dan ikut menangis.


"Bukan salah langit nak,bukan salah langit" Ucap jingga mengeratkan pelukannya.


"Langit enggak tau kenapa dia enggak suka sama langit"


"Dia sering banget ngomongin tentang langit yang nggak punya ibu dan nggak dapat kasih sayang dari ibu" Ucap langit.


"Langit salah apa Ya Allah...." Ucapnya terisak dan membuat tubuhnya bergetar hebat.


"Sayang,langit anak ustazah juga"


"Anak zah jingga" Ucap jingga.


"Jadi langit nggak boleh sedih lagi kalau di ledekin kayak gitu" Ucap jingga.


"Langit juga nggak boleh berantem kayak tadi lagi. Nanti kalau ayah langit sama nenek langit tau,mereka pasti sedih" Ucap jingga seraya membawa langit kedalam dekapannya. Langit masih saja terisak.


"Sayang,langit anak ustazah juga"


"Anak zah jingga" Ucap jingga.


"Jadi langit nggak boleh sedih lagi kalau di ledekin kayak gitu" Ucap jingga.


"Langit juga nggak boleh berantem kayak tadi lagi. Nanti kalau ayah langit sama nenek langit tau,mereka pasti sedih" Ucap jingga seraya membawa langit kedalam dekapannya. Langit masih saja terisak dalam dekapan jingga.


"Emangnya iya langit kurang kasih sayang?" Tanya langit.


"Siapa bilang? Ustazah sayang banget kok sama langit"


"Langit bukan kurang kasih sayang,tapi berlimpah kasih sayang" Ucap jingga.


"Dari ustazah,dari ayah,nenek,pak cipto dan semua keluarga langit" Ucap jingga.

__ADS_1


"Tapi kenapa ibu tinggalin langit?" Tanyanya sedih. Jingga melihat kesedihan yang cukup dalam dari sorot mata langit.


"Gimana cara jawabnya ya?" Batin jingga.


__ADS_2