Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 8


__ADS_3

"Ustazah mau nanya nih sama langit,boleh?" Tanya jingga dan di angguki langit.


"Memangnya sejak kapan langit di gangguin?" Tanya jingga.


"Udah lama,tapi langit enggak pernah ngelawan" Ucap langit.


"Langit kesel sama mereka ustazah,makanya langit lawan"


"Langit tau kalau ayah pasti marah saat dia tau langit berkelahi..."


"Setiap di ledekin langit diem,tapi kalau yang tadi langit udah marah,dada langit sesak kalau denger dia ngomong..." Ucap langit.


"Udah pernah cerita sama ayah atau sama nenek?" Tanya jingga. Langit menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya jingga.


"Ayah sibuk ustazah dan sama kayak nenek. Udah hampir seminggu langit nggak ketemu ayah,karena ayah kerja keluar kota" Ucap langit.


"Maafkan ayah ya nak" Batin zefan saat mendengar ucapan langit.


"Langit dekat kan sama ayah?" Tanya jingga.


"Dekat" Jawab langit.


"Kalau ada masalah itu cerita sayang,obrolin sama ayah atau sama nenek. Bahkan sama pak cipto pun boleh kalau langit mau" Ucap jingga.


"Kalau sama zah jingga boleh?" Tanya langit sambil memanyunkan bibirnya.


"Boleh dong bocil gengsi nya ustazah" Ucap jingga dan membuat langit tertawa sambil memeluk jingga.


"Sisi manja langit yang pengen banget gue lihat,akhirnya terlihat" Batin jingga bahagia


"Langit boleh peluk ustazah kan? meskipun ustazah cerewet banget" Batin langit saat dalam pelukan jingga.


"Jadi gini ya rasanya punya ibu,bisa di peluk setiap hari" Ucap langit spontan.


"Kayak yang langit lihat setiap fia di peluk sama ibu-nya waktu di sekolah" Ucap langit kembali bersedih.


"eh,kok sedih lagi?"


"Kan ustazah ada setiap langit mau di peluk..." Ucap jingga.

__ADS_1


"Ibu sama ustazah enggak ada bedanya kok,kami berdua sama-sama orang yang sayang sama langit" Ucap jingga.


Hari ini tak henti-hentinya hati langit merasakan kesedihan karena membahas perkara ibu. Tapi untunglah jingga dengan pandai-nya menenangkan hati langit.


"Tapi kalau mau tidur minta di peluk gimana?" Tanya langit yang tak habis akal.


"Kan kita ketemuan terus setiap malam di masjid,sebelum pulang ke rumah,langit boleh kok meluk ustazah" Ucap jingga.


"Ustazah juga mau meluk langit dan ustazah juga tau langit sekarang kecanduan di peluk ustazah,iyakan..." Ucap jingga jahil sambil mencolek lengan langit.


"Ih,apaan sih ustazah" Ucapnya kembali dengan mode gengsinya.


"Hahaha,jujur aja...Ustazah tau kok" Ucap jingga yang sangat jahil. Wajah langit pun me-merah karena di jahili oleh jingga.


"Udah ah,langit mau pulang dulu"


"Assalamu'alaikum" Ucap langit berpamitan.


Nenek,zefan dan pak cipto pun berlari kacir bak pencuri saat mendengarkan langit ingin pamit. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan bersembunyi.


"Hati-hati ya sayang" Ucap jingga melambaikan tangan. Langit pun kembali memutar bola matanya jengah.


"Enggak usah lebay ya zah jingga,rumah aku sama rumah zah jingga itu deket banget" Ucap langit sewot.


"Oh ini orangnya!" Batin zefan.


"Eh,langit udah deket tuh..." Ucap nenek.


"Nunduk,sembunyi" Ucap nenek kepada dua pria dewasa di depannya.


Langit mengiri sepedanya dan menatap mobil hitam di sampingnya.


"Kayak mobil ayah" Ucap langit sambil meneliti sekeliling mobil. Langit berlari melihat kaca belakang mobilnya yang terdapat namanya sendiri.


"Nah kan,ini mobil ayah" Ucapnya.


Tak sampai di situ,langit berusaha mengintip kaca mobil tersebut,namun apalah daya,karena badannya pendek,langit tak bisa menjangkau kaca mobil.


"Kemana ayah?" Ucap langit.


"Ayah di sini nak,maafin ayah sembunyi dari langit" Ucap zefan pelan dan bisa di dengar oleh nenek dan pak cipto.

__ADS_1


"Yaudah deh,langit pulang aja duluan" Ucap langit yang mulai mengayuh sepeda. Saat langit sudah menjauh,semua penghuni mobil pun bernafas lega.


"Kita kemana lagi den?" Tanya pak cipto.


"Ikuti langit aja pak dari belakang" Ucap zefan. Pada akhirnya mereka hanya sanggup menguping pembicaraan jingga dan langit. Dan sekarang pulang ke rumah karena tujuan langit memang pulang ke rumah tanpa singgah kemana-mana.


"Assalamualaikum..." Ucap zefan riang. Langit yang baru saja duduk di kursi langsung berlari ke depan rumah.


"Ayah....." Teriak langit girang. Langit melompat dan memeluk kaki zefan dengan erat. Zefan menggendong langit dan menciumi anak kesayangannya tersebut.


"Salam ayah kok nggak di jawab?" Tanya zefan.


"Wa'alaikumsalam ayah" Ucap langit sambil tercengir.


"Kok ayah lama banget sih pulang?" Tanya langit cemberut.


"Maafin ayah ya sayang,ayah kerjanya jauh" Ucap zefan.


"Ya udah nggak apa-apa...." Ucap langit.


"Pak cipto,nanti malam kita ke masjid ya!" Ucap langit.


"Sippp lah..." Pak cipto memberikan dua jempolnya.


"Mau ngapain?" Tanya ayah.


"Mau sholat dong ayah..." Ucap langit.


"Sholat apa makan sate...." Sindir pak cipto jahil.


"Dua-duanya" Ucap langit sambil mencibir bahagia.


"Ayah boleh ikut?" Tanya zefan.


"Sejak kapan masjid nggak boleh ayah datangi?" Ucap langit bijak. Refan mengacak-acak rambut langit dengan gemas.


"Nanti malam tidur sama ayah ya" Ucap zefan dan di angguki langit.


"Okee ayah..." Ucap langit. Zefan menciumi pipi langit dan di balas oleh langit.


"Ayah kangen banget sama langit" Ucap zefan sambil memeluk langit.

__ADS_1


"Langit juga kangen sama ayah..." Ucap langit.


"Maafin ayah ya nak,ayah nggak tau kalau selama ini langit di ledekin sama teman langit karena nggak punya ibu" Batin zefan.


__ADS_2