Bunda Jingga

Bunda Jingga
Episode 18


__ADS_3

Malam ini dengan terpaksa jingga harus menginap di rumah langit. Jingga bercerita tentang pentingnya menjaga tubuh dari penyakit. Langit menyimak cerita jingga dengan baik dan seksama.


"Oh iya,udah lama ya langit enggak setor hafalan!" Ucap jingga dan di angguki langit.


"Em,ustazah mau denger lima ayat aja deh dari mulut langit,mau?" Ucap jingga dan di angguki langit.


"Masya Allah,yuk Ta'awudz dulu" Ucap jingga. Langit memulai bacaan qur'annya dan di simak dengan baik oleh jingga.


*****


"Mama percaya sama ustazahnya langit?" Tanya zefan.


"Bukan apa-apa ma,kita belum lama kenal sama dia" Ucap zefan yang merasa khawatir.


"Itu namanya buruk sangka sama orang lain zee" Ucap nenek.


"Enggak gitu ma,cuma zee khawatir aja setiap ngelihat langit lengket banget sama ustazah nya" Ucap zefan.


"Khawatir? Yakin?" Ucap nenek.


"Bukannya senang ya kalau ada orang yang perhatian dan sayang sama langit?" Ucap nenek. Zefan hanya diam dan tak menjawab ucapan nenek.


"Kalau kurang yakin,coba aja intip langit di kamarnya" Saran nenek.


"Enggak ah ma,kurang kerjaan banget" Ucap zefan.


Zefan melangkahkan kakinya menuju kamar pribadi miliknya,akan tetapi ia mendengarkan suara langit mengaji.


"Bagus! Langit hebat"


"Ustazah bangga sama langit" Ucap jingga. Langit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya dong,siapa dulu...." Ucap langit.


"Ini kan anak ustazah jingga" Ucap langit sambil menampakkan semua deretan giginya.


Zefan mengintip pergerakan kedua orang yang berbeda usia tersebut dan menyimak semua obrolan mereka. Tak hanya sampai situ,zefan melihat dengan jelas sikap langit yang sungguh manja di hadapan jingga. Mereka tertawa dan berpelukan tanpa beban dan tak ada canggung sedikitpun.


"Tapi ayah masih sayang sama ibu nak..." Ucap zefan pelan. Tiba-tiba pundak zefan di tepuk oleh seseorang dari belakang.


Zefan terkejut bukan main dan ternyata pelakunya adalah mama.


"Katanya tadi enggak mau ngintip" Ucap mama.


"Zee sekalian mau ke kamar kok ma" Elak zefan. Mama hanya tersenyum tipis mendengarkan alasan zefan.


"Zee...." Ucap mama.


"Ikut mama" Ajak mama ke kamarnya.


"Mama tau kamu masih sayang sama vanila,tapi apa selama ini kamu enggak pernah memikirkan tentang langit?"


"Langit yang tumbuh tanpa seorang ibu?" Ucap mama setelah tiba di kamar.


"Ma..."


"Zee kurang apa sih?" Tanya zefan.

__ADS_1


"Zee masih sanggup ma berperan sebagai orang tua yang lengkap bagi langit" Ucap zefan.


"Zee juga merasa kalau selama ini langit fine-fine aja kok" Ucap zefan.


"Yakin kamu kalau langit selama ini fine-fine aja?" Tanya mama.


"Yakin dong ma" Ucap zefan.


"Kamu lupa dia sakit karena rindu sama siapa?"


" Waktu dia sakit nama siapa yang selalu di sebut?"


" Sampai-sampai langit enggak tau waktu dan nangis hanya untuk meminta jingga datang ke rumah temani dia tidur!"


"Padahal kita berdua udah jelasin loh zee,kalau sekarang sudah malam" Ucap mama.


"Selama sakit dia enggak pernah mau makan,di saat jingga buka suara dan meminta langit makan,langit langsung mangut nurut" Ucap mama mengingatkan segala kejadian.


"Ma,kalau seandainya vanila masih ada langit juga enggak kayak gini ma!" Ucap zefan yang mulai stress dengan ucapan mama.


"Mama pikir zee mau vanila ninggalin zee? Enggak ma!" Ucap zefan frustasi.


"Zee...."


"Kita semua enggak ada yang pernah menyangka kalau di hari itu vanila di panggil sama yang maha kuasa!"


"Dan kita enggak bisa menyalahkan takdir itu nak!" Ucap mama.


"Zee"


"Mama tegaskan ucapan mama kalau kamu harus nikah dengan orang lain"


"Kalau masalah perasaan antara dia ke kamu,itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu!" Ucap mama.


"Ma..."


"Mama pernah ngertiin zee nggak sih?" Ucap zee.


"Kurang pengertian apa lagi mama zee? Mama membiarkan kamu hampir lima tahun sendiri loh!"


"Dari dulu mama suruh cari pengganti vanila,tapi kamu selalu aja mengelak" Ucap mama.


"Di sini kamu pikir perasaan mama enggak terlibatkan?"


"Kamu pikir mama bakal setujui kamu dengan sembarang orang untuk menikah?"


"Enggak zee,mama enggak se aneh itu" Ucap mama.


"Coba sesekali kamu perhatikan dengan seksama dan gunakan hati kamu saat ngelihat langit main dan tertawa bersama jingga"


"Apa kamu enggak ingin langit merasakan keluarga yang utuh?" Ucap mama yang membuat zefan tersentak sadar. Ulu hati zefan terasa nyeri setelah mendengar kata terakhir mama.


"Ma,keluarga langit sudah utuh ma,zee yakin kok langit merasa kayak gitu?" Ucap zefan.


"Merasa kayak apa? Merasa bahwa dia punya keluarga utuh? Yakin?" Tanya nenek dan di angguki pelan oleh zefan.


"Yang keluarganya utuh itu kamu zee,bukan langit!"

__ADS_1


"Dan kamu enggak pernah tahu apa isi perasaan langit karena kamu enggak pernah di posisi dia waktu kecil!" Ucap nenek tegas dan membuat zefan terdiam.


"Jangan lupakan tragedi langit di olok sama teman-temannya karena dia enggak punya ibu zee..."


"Langit sampai sekarang enggak pernah cerita sama kita dan dia lebih memilih untuk cerita sama jingga karena dia yakin dan percaya sama jingga" Ucap mama.


"Langit adalah anak yang susah di tebak zee,dengan keadaan apapun dia bakal tersenyum,agar kita enggak khawatir sama dia"


"Berbeda dengan di jingga,dia bisa mengeluarkan seluruh bentuk emosinya di hadapan jingga" Ucap nenek.


"Mulai dari senang,sedih,marah dan kecewa pun bisa dia tunjukkan secara langsung" Ucap nenek. Zefan termenung dengan ucapan mama yang menurutnya seperti memaksakan dirinya untuk menikah lagi.


"Tapi,vanila ma..." Ucap zefan memelas.


"Vanila pasti ikhlas dengan apa yang kamu putuskan selama ini..." Ucap mama.


"Oh iya,satu lagi..."


"Beberapa waktu ini mama sering banget dengerin langit manggil jingga dengan panggilan 'Bunda'"


"Hal spontan namun membuat hati mama bergetar hebat saat mendengarkan langit mengucapkan kalimat tersebut"


*****


Zefan termenung di kamarnya dan menatap atap kamarnya dengan banyak pikiran yang terlintas.


"Semua ucapan mama kayak pisau yang nusuk ke sini" Ucap zefan sambil memegang dadanya.


"Betul semua apa yang di ucapkan mama" Ucap zefan. Zefan membuka ponselnya dan melihat foto langit semasa kecilnya.


"Anak ayah udah besar,maaf ya nak ayah selama ini enggak terlalu perhatian sama langit" Ucap zefan sambil melihat foto langit yang mencium dirinya.


*****


Jingga sudah pulang ke rumah nya dan karena si abang masih sakit,sampai sekarang mengambil izin untuk mengajar.


"Jingga" Panggil seorang laki-laki saat jingga sudah pulang dari menjenguk sang abang. Jingga melihat laki-laki itu sekilas dan berjalan tanpa memperdulikan panggilan orang tersebut.


"Jingga...." Panggilnya lagi seraya berlari ke arah jingga. Jingga yang malas menanggapi ucapannya pun mengabaikannya. Namun,pergelangan jingga di cekal olehnya dan membuat jingga berhenti.


"Apa? Loe mau apa?" Ucap jingga sinis.


"Gue mau ngomong sama loe,tapi enggak di sini" Ucap fajar. Fajar membawa jingga menuju cafe yang cukup sepi,agar obrolan mereka tak mengganggu orang lain.


"Apa kabar je?" Ucap fajar sambil memanggil jingga dengan panggilan jeje. Semasa sekolah,jingga akrab dengan nama panggilan 'Jeje'.


"Kayak yang loe lihat,gue baik-baik aja" Ucap jingga santai namun sinis.


"Syukur deh" Ucap fajar.


"Jangan banyak basa-basi fajar! to the point aja" Ucap jingga.


"Gue sama bini gue udah pisah je" Ucap fajar dan di senyum sinis kan oleh jingga.


"Terus?" Ucap jingga sambil menarik sebelah alisnya.


"Gue mau minta maaf atas kejadian yang dulu pernah terjadi" Ucap fajar dan membuat jingga tertawa sinis.

__ADS_1


"Minta maaf?"


__ADS_2