Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Menyerahkan Keputusan


__ADS_3

Rania sedang bercermin, Arya mendekatinya lalu memeluk dirinya dari belakang. Arya mengalungkan tangannya di perut dan meletakkan dagunya di bahu sang istri. "Kau cantik sekali!" pujinya.


Rania membalikkan badannya dan menatap wajah suaminya. "Ayo, tidur!" ajaknya.


"Bolehkah kita mengulang yang semalam?" pinta Arya.


Rania mendorong pelan suaminya, "Kenapa kau jadi ketagihan?"


Arya terkekeh mendengar pertanyaan istrinya itu. "Ayo, kita tidur!" Ia menarik tangan Rania ke ranjang, lalu mengecup puncak kepala istrinya.


Rania merebahkan dirinya dan melihat ke arah suaminya yang juga terbaring. "Arya!" panggilnya.


"Ya." Arya memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.


"Aku belum pernah memiliki hubungan spesial dengan seorang pria," ucap Rania. "Kau pria yang baru ku kenal, tapi sudah berani mengikatku. Jangan pernah tinggalkan aku!" lanjutnya lagi.


Arya menerbitkan senyumnya, "Kenapa kalau aku meninggalkanmu?"


"Berarti kau jahat!" jawab Rania.


"Memang ada orang jahat setampan diriku," ucap Arya percaya diri.


"Banyak sekali," ujar Rania. "Banyak pria yang mengandalkan ketampanannya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya," lanjutnya lagi.


"Ya, kau benar. Tapi, aku tidak seburuk itu. Sudah, jangan mengobrol lagi. Ayo, tidur!" Arya memejamkan matanya.


......................


Seperti biasa setelah mengantar Rania ke kantor, Arya akan memantau usaha milik keluarga istrinya yang lain.


Saat akan menaiki lift, seorang pria memanggil Rania dan wanita itu menoleh ke asal suara. "Kak Aryo, ada apa?"

__ADS_1


"Aku kemari ingin menawarkan kerja sama?" tawar kakak iparnya.


"Mari kita bicara di ruanganku," ucap Rania dan Aryo menyetujuinya.


Sesampainya di ruangan kantor Rania. "Silahkan bicara, Kak!" titahnya setelah mempersilakan Aryo duduk.


"Apa benar HK Grup akan mempromosikan properti yang ada di kota L?" tanya Aryo.


"Ya benar, kami ingin mempromosikannya. Tapi aku tidak turun langsung dalam hal ini," jelas Rania.


"Lalu siapa?"


"Aku serahkan pada suamiku," jawabnya.


"Arya? Kenapa tidak Paman Reno?"


"Ayah tak boleh terlalu lelah, jadi aku serahkan saja pada suamiku," jelas Rania lagi.


"Hampir tiap hari aku bertemu dengannya dan saling mengobrol, aku rasa dia bukan orang asing," jawab Rania terpercaya.


"Ya, tapi Arya tak mengerti dalam hal bidang ini," ujar Aryo.


"Aku percaya padanya, dia pria yang pintar. Jadi aku rasa Arya mampu memberikan keputusan mau bekerja sama dengan Aksa Grup atau tidak," tutur Rania.


"Baiklah, jika itu memang keputusanmu," ucap Aryo pasrah.


"Aku akan menyuruh Arya mengabarinya lagi, jika ia benar setuju menggunakan jasa Aksa Grup untuk properti milik kami," ujar Rania.


"Baiklah, aku akan menunggu kabar dari kalian. Ku harap kita bisa menjalin kerja sama ini," Aryo berharap.


"Ya," jawab Rania singkat dan santai.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku permisi," pamit Aryo.


-


Kini Rania berada di dalam mobil bersama suaminya, untuk makan siang bersama di restoran Mischa milik ibunya.


"Tadi Kak Aryo ke kantor," Rania mengambil lauk dan meletakkannya di piring berisi nasi.


"Mau apa dia ke kantor?" Arya mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Dia ingin menawarkan kerja sama untuk mempromosikan properti di Kota L," jawab Rania.


"Lalu kau menerimanya?"


"Tidak, biasanya kami bekerja sama dengan perusahaan Tante Mayang," jawab Rania lagi.


"Ya, tinggal bilang saja kalau sudah ada," ujar Aryo.


"Tapi aku ingin yang menangani kerja sama ini kau," ucap Rania.


"Aku?" tunjuk Arya pada diri sendiri.


"Kenapa aku?"


"Kau yang bisa memberikan keputusan."


"Bosnya kan dirimu, kenapa harus aku?"


"Aku percaya padamu!" jawab Rania penuh harap suaminya mau mengurus masalah ini.


"Baiklah, aku akan bertemu dengan Aksa Grup dan memberikan keputusan," tutur Arya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Rania tersenyum.


__ADS_2