Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Bertemu dengan Orang Tua Rangga


__ADS_3

Hari ini Nadia akan bertemu dengan Rangga pemimpin Jaya Grup. Mereka membahas kerja sama yang telah disepakati oleh Tio.


Keduanya kini duduk di meja yang sama dan di dampingi dua stafnya. Para karyawannya mulai menjelaskan kerja sama yang akan mereka jalin.


Namun, Nadia hanya memainkan ponselnya dan Rangga sesekali melihat wanita yang ada di depannya.


Selesai rapat, karyawan meninggalkan ruangan. Kini tinggal mereka berdua. "Aku harap kerja sama ini kau tidak akan berbuat curang," sindir Rangga.


"Maksud anda apa?" Nadia menaikkan alis matanya.


"Kau tidak usah berpura-pura, aku tidak akan tertipu dengan wajah cantik dan hati sok baik dirimu," jawab Rangga.


"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu," Nadia bergegas pergi dari ruangan itu.


"Apa maksudmu mendekati Mama Sarah?" pertanyaan Rangga menghentikan langkah wanita itu.


Nadia membalikkan tubuhnya, "Aku tidak pernah mendekati siapapun kecuali keluarga Gunadi Aksa. Jadi, kau tenang saja!" ia membuka pintu dan berlalu.


Rangga berdecak kesal.


...----------------...


Seminggu kemudian....


Sarah dan suaminya mengajak Nadia untuk bertemu.


Mereka membuat janji di sebuah restoran tak jauh dari kediaman Tio.


Tepat pukul 1 siang, mereka bertemu. Nadia lebih dahulu sampai, ia beranjak dari kursinya menyambut kedua orang tua Rangga.

__ADS_1


"Maaf membuatmu menunggu," Sarah membuka obrolan sembari mencium pipi kanan dan kiri Nadia.


"Tidak masalah, Tante!" Nadia tersenyum.


Tak lama kemudian, Rangga datang ia terkejut saat melihat Nadia bersama dengan kedua orang tuanya.


"Rangga, mari duduk!" Sarah mempersilakan putranya.


Dengan terpaksa Rangga duduk di sebelah Nadia.


"Kenapa Mama menyuruhku ke sini?" Rangga tak sabar.


"Kami ingin berbicara pada kalian," jawab Sarah.


"Bicara apa?" Rangga bertanya lagi.


"Mama ingin menjodohkan kalian, apa Nadia bersedia?" Sarah menatap wanita yang ada disebelah putranya.


"Ma!" Rangga ingin protes tapi segera di potong wanita pilihan Sarah.


"Saya bersedia Tante, Paman!"


Dengan cepat Rangga menoleh ke arah Nadia.


"Syukurlah!" Sarah tersenyum senang.


"Mama tak bisa mengambil keputusan seperti ini," Rangga menolaknya.


"Pilihan Mama tidak salah, Rangga!" Tio mulai bersuara.

__ADS_1


"Aku perlu bicara berdua dengannya," ujar Rangga. "Ayo, ikut aku!" Ia memundurkan kursi dan berdiri, mengajak Nadia berbicara.


Wanita itu pun mengikuti langkah Rangga setelah meminta izin kepada Sarah dan suaminya. Mereka berbicara, di dalam mobil milik Nadia.


"Katakan tujuanmu menerima tawaran kedua orang tuaku?" Rangga menatap tajam wanita yang kini ada dihadapannya.


"Karena Tante Sarah menyukaiku," jawabnya singkat.


"Yang menikah itu aku bukan Mamaku," Rangga meninggikan suaranya.


"Turuti saja kemauan Tante Sarah," Nadia berbicara santai.


"Oh, apa kau menyukai ku?"


"Aku tidak memiliki orang tua lagi, mungkin perjodohan ini salah satu contoh bakti kita padanya," jawab Nadia. "Tapi kalau kau tidak mau, aku juga tak masalah," tuturnya lagi.


"Kenapa kau menerima tawaran ini?"


"Aku ingin membuat Tante Sarah senang," jawab Nadia.


"Aku tidak percaya, kau punya rasa kasihan dan peduli," Rangga memandang sinis.


"Terserah kau saja, silahkan turun dari mobil ku," Nadia membuka pintu begitu juga dengan Rangga.


Keduanya kembali menemui orang tua Rangga.


"Bagaimana apa kamu sudah mengambil keputusan, Rangga?" tanya Tio.


"Biarkan Rangga berpikir dahulu, Paman!" sahut Nadia.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, Papa harap kamu mau menerima perjodohan ini," Tio menatap putranya.


Rangga hanya menghela nafas pasrah.


__ADS_2