
Nadia sengaja menemui Sasha di kampus. Wanita itu mengajak adiknya Aryo ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana, Kak?"
"Temani Kakak bertemu dengan seorang teman," jawab Nadia.
"Tapi tidak lama, kan?"
"Hanya sebentar saja."
Setengah jam kemudian mereka tiba sebuah hotel, Nadia bertemu seseorang di dalam kamar bersama dengan Sasha.
"Kenapa kita di sini?"
"Teman kakak ingin bertemu di sini. Sha, tunggulah sebentar. Kakak nanti kembali lagi."
"Jangan lama-lama, Kak."
"Iya," Nadia meninggalkan Sasha seorang diri di kamar lalu ia mengirimkan pesan kepada Aryo.
Aryo yang mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal bahwa adiknya itu sedang berada di kamar hotel berduaan dengan lelaki.
Mendapatkan kabar itu Aryo segera menuju hotel yang dimaksud, ia mencoba menghubungi Sasha namun tak aktif.
Ia juga menghubungi nomor yang mengirimkan pesan juga tak aktif. Ia pun menelepon Rita untuk bertanya tentang Sasha dan mamanya juga mengatakan kalau adiknya itu belum pulang.
Sesampainya di hotel, Aryo bertanya kepada resepsionis dengan menunjukkan foto Sasha dan karyawan tersebut mengatakan kalau adiknya dan seorang wanita muda baru saja meninggalkan hotel.
Notifikasi pesan baru saja masuk yang isinya, 'Apa kau begitu khawatir?'
Ya, Aryo memang benar khawatir. Satu pesan kembali masuk yang mengatakan kalau ini baru awal.
"Siapa dia?" gumam Aryo.
Sementara itu, Rania yang berada di rumah mendapatkan informasi dari anak buahnya jika ada seseorang dengan sengaja merusak mobil Arya.
__ADS_1
Rania memang sengaja menyuruh seseorang untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa suaminya beberapa bulan yang lalu.
"Kira-kira siapa pelakunya?"
"Kemungkinan besar, pelaku utamanya adalah Tuan Gunadi Aksa."
"Kalian yakin dia?"
"Ini hanya kemungkinan, Nona!"
"Ya, sudah. Terima kasih informasinya," ucap Rania.
Pria itu pun pergi meninggalkan kediaman rumah Reno.
"Pantas saja mereka menutup kasus Arya," gumamnya.
"Siapa yang datang sayang?" Arya menghampiri istrinya.
"Orang suruhanku," jawabnya.
"Kemungkinan Papa Gunadi."
"Papa? Kenapa dia melakukan itu?"
"Aku juga tidak tahu."
"Nanti aku akan bertemu dengannya, mari kita makan!" ajak Arya mengenggam tangan istrinya ke ruang makan.
Selesai makan malam, Arya mendatangi kediaman orang tuanya.
"Kamu ke sini sendiri, mana Rania?" tanya Rita.
"Iya, Ma. Aku ingin berbicara pada Papa," jawab Arya.
Rita mengantar putranya itu ke ruangan suaminya. Kini keduanya di ruang yang sama.
__ADS_1
"Ada apa kau ingin menemui ku?" tanya Gunadi.
"Kenapa Papa melakukan itu kepadaku?"
"Melakukan apa?"
"Papa yang menyuruh orang untuk merusak mobil ku, kan?"
"Omong kosong apa yang kau katakan itu?" Gunadi mulai marah.
Arya mencampakkan foto pelaku perusak mobilnya. "Apa perlu aku bertanya padanya?"
Gunadi tampak ketakutan.
"Aku akan memberi tahu Mama," ancam Arya.
"Jangan Arya!" Gunadi menahan langkah putra sambungnya.
"Kenapa? Takut jika Mama akan mengusir Papa," Arya tersenyum menyindir.
"Papa mengaku salah, Arya." Gunadi tertunduk lesu dihadapan anak laki-laki yang sudah ia rawat saat masih tiga bulan.
"Kenapa Papa melakukan itu, hah?" Arya meninggikan suaranya.
"Papa kecewa padamu karena memilih perusahaan lain yang bekerja sama dengan HK Grup dari pada perusahaan milik keluarga sendiri."
"Apa Papa pernah memikirkan perasaan ku juga?" Arya bertanya. "Perusahaan ini milik Ayah kandungku tapi Papa tak pernah memberikan aku kesempatan untuk menjabat posisi penting di perusahaan itu," ungkapnya.
"Kau tahu semuanya?" Gunadi gemetaran.
"Papa harus bertanggung jawab atas semua ini," Arya lalu menelepon seseorang. "Maafkan aku, Pa!" ucapnya lirih.
Beberapa orang dari pihak berwajib menangkap Gunadi.
"Arya, kenapa mereka membawa Papa?" Rita menangis suaminya di bawa.
__ADS_1
"Papa terlibat penipuan dan dia dalang dari kecelakaan yang aku alami," jelas Arya.